Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

#13 : Tentang Puisi

Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya

Wayan Sunarta

Doa Agar Disukai Semua Orang

assalamualaikum
dadaku nabi Adam
suaraku nabi Daud
tampangku nabi Yusuf
tubuhku nabi Muhammad
lailahailallah
siapa memandang siapa menatap
cinta dan sayang kepadaku
kubaca aji Asmara Rembulan
matahari mantap
manusia sayang
cinta tunduk
bayi merah orang sejagad
menyerahkan sayang
tunduk kepada bayi merahku
atas kehendak Allah

(SDD)

Ibunda Airmata

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan airmata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan.
Menangislah banyak-banyak untuk ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun ibumu menangis karenamu
Kecuali engkau punya keberanian untuk membuat Tuhan
naik pitam kepada hidupmu
Kalau ibundamu menangis, para Malaikat menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
membuat para Malaikat itu silau dan marah
kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu

Yogya, 1992
(Emha Ainun Nadjib)


Selamat hari Emak.
Baktiku seumur hidupku, takkan bisa membalas setitikpun kebaikanmu padaku.

belum merdesa


Kusesali nenek-kakekku mengusir Belanda.
Walaupun sudah Merdeka dari Belanda.
Indonesia belum MERDESA.
Belum cukup sandang-pangan, patut, utuh, sopan-santun, dan berPERADABan.
Sebab kembali diJAJAH sesama-BANGSA.

- kang Dadang Ismawan (Presiden Jaringan Kafir Liberal)

ah..


ah, aku jatuh cinta pada benda ini..
bentuk proporsional antara satu garis dengan garis yang lain.
lekuk yang sempurna
aeordinamis
kertas tipis membalut mengindahi semuanya
benang melawan angin

ah, aku suka layang-layang,
karena dibalik layang-layang
ada langit sore
indah,
indah sekali.

"Jangan ragu ragu
Mengejar yang kau mau
Masih banyak waktu
Untuk cita-citamu"

(Hilmy Nugraha, Juli di Bong China)

flying carpet

sajadah
yang sudah semakin tipis ini,
belum mampu jua,
menerbangkanku,
menuju istana-Mu

Tak Tergenggam

Cinta, ditaburkan dari langit
Pria dan Wanita menengadahkan tangan
Berebut-rebut menangkapnya
Banyak yang mendapat seangkam
Banyak yang mendapat segenggam
Semakin banyak
Semakin tak tergenggam

-- andrea hirata

Oseng Mercon

Untuk M

Oseng-oseng mercon itu terasa panas.
Berdiri dihadapanku kawan-kawan sepermainan.
Merasakan osen mercon cuma sampai ke mulut,
paling jauh ya tenggorokan hingga lambung,
tapi tidak aku.
Sampai ke hati.

Kabar berita begitu cepat,
diawal berbahagia juga aku,
lama tak dengar suara plus kabar darimu,
diakhiri dengan kabar yang komplikasi
dilematis, kontroversi, dan apalah namanya

kau menikah, akhir bulan ini.

Oseng-oseng mercon, meledak seketika, di mulut, lambung, otak hingga ke hati.

7 Juni 2011
Menanggapi bulan lalu, yang, membahagiakan, ya?

Ibu -Zawawi Imron



kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.

#15 : Pernikahan Kata

Seketika juga aku menulis. Kata-kata itu mengalir saja dari jariku, hingga aku tak kuasa untuk membendungnya. Dari jari lalu menghilir ke arah tuts keyboard laptopku. Muncullah di layar LCD.

Aku tidak menganyam kata. Kata itu sendirilah yang membelah diri, menciptakan dirinya sendiri, hingga bersatu dengan yang lain, menjadi kalimat.

Makna itu datang kemudian. Sendiri pula. Keterkaitan antara kata menjadikan kalimat itu indah. Pada waktunya. Tulisan indah. Bermakna.

Jadi, kadang aku sendiri tak tahu apa yang terjadi. Mereka terus saja berlari-lari kecil di layarku. Membentuk barisan satu-persatu. Dibatasi spasi, koma bahkan titik.

Menciptakan tarian-tarian makna. Sebegitu indah. Ya, aku menyaksikan pernikahan antar kata. Menyulam arti. Merajut niat.

13 Mei 2011
18:41
Sejatinya, kata itu siapa?

#13 : Tentang Puisi

Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya

Wayan Sunarta

#12 : Sajak Entah

Dan kupingit malam,
mematri bayangmu dalam do’a-do’a panjangku
mentasbihkan namamu di tiap serpihan kata,
membiarkanmu merebahkan diri dalam dzikirku,
menghalau galau yang menawan jiwamu,
agar kilau,
senantiasa terpendar di beningnya matamu

Pebi Purwo Suseno

#11 : Pertanyaanku Malam Ini

Di 2014,
Binatang apalagi
yang hendak menjadi presiden berikutnya
?

#8 : Gusti Allah ora Sare

Jika kau terus dilanda kesulitan, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau sudah pol dengan usahamu, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau didzalimi orang lain, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau selalu merasa menderita dalam hidup, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau merasa tidak pernah bahagia, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau tertindas oleh penguasa, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau sedikit percaya bahwa ini tak ada ujungnya, yakinlah Gusti Allah ora Sare

yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare

16 April 2011
06:27
Badai Pasti Berlalu, boi!

#3 : Sajak Rindu

Aku rindu berdiskusi denganmu,
tentang nasionalisme, bukan saja kulit, tapi masuk kedalam sumsum tulang.
Apa beda antara negara dengan bangsa, hingga ketidaksetujuanmu
atas kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini.

Aku rindu berinteraksi denganmu,
kami mengeja satu persatu bahasa, kemudian diartikan bersama
menterjemahkan satu persatu makna hidup dan kehidupan.
Apa arti 'ini', apa arti 'itu'?

Aku rindu berdebat dengamu,
akan karya sastra siapa yang terbaik?
Pram? Ahmad Tohari? Leo Tolstoy? Eiji Yoshikawa? Ernest Hemmingway?
Akan siapa peraih nobel sastra selanjutnya.

Aku rindu mengigau denganmu,
tentang musik apa yang kali ini kau sukai.
Apa itu Jazz? Bossa? Blues? Slow Ritme?
Apakah ST 12 akan menjadi pembuka Iron Maiden?

Aku rindu berbantah-bantahan denganmu,
akan perjalanan mana saja yang sudah masing-masing lalui,
sudah kemana? Dapat apa? Bertemu siapa? Pengalaman unik apa?
Lalu, hendak kemana kami selanjutnya.

Aku rindu meracau denganmu,
melupakan masa-masa lalu, meski tak bisa,
mencintai hari ini, saat ini, tempat ini, pertemuan ini,
dan, memimpikan masa depan, akan menjadi apa kelak.

Aku rindu mengacau denganmu,
kejahilan-kejahilan anak muda,
keusilan spontan, kenakalan yang naif,
dari yang membuat emosi, hingga yang menciptakan gelak tawa.

Aku rindu bertemu denganmu.
Membicarakan apapun, denganmu, tak pernah tak indah.

10 Mei 2011
10:05
Menanti Keajaiban - Padi
Hingga saat ini, entahlah. Mbuh ah!
setiap orang
ibarat bulan
memiliki sisi
kelam,
yang tak pernah
ingin ia tunjukkan pada siapapun.
Pun sungguh cukup
bagi kita,
Memandang
sejuknya permukaan bulan,
Pada sisi yang
menghadap ke bumi.
“…kemudian
apabila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah, sebab mungkin kalian
tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(annisaa:19)
Tuhan,
apa untuk mengingat-Mu
aku harus sakit dulu….
Bagi mereka yang
mengupayakan cinta
Hanya ada iklim
hangat dan iklim sejuk
Meski ada goda
aurora pada pelangi khatulistiwa

Bagi mereka yang
mengupayakan cinta
Setiap musim
membagi cinderamata
Kristal salju,
kuntum bunga, pasir pantai, serasah hangat juga payung dan layang-layang.

Bagi mereka yang
mengupayakan cinta
Ditiap cuaca
cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat,
Hujan menyanyi
rizqi, badai mengeratkan peluk
Dan tiba-tiba,
surga mengetuk pintu rumah

O Muhammad, Puisi Cinta Untuk Nabi

Bila Nabi Muhammad mengunjungimu
barang sehari atau dua
bila ia datang tak disangka-sangka
aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan?

Oh, aku tahu kau akan menyediakan
ruangan terbaik
bagi seseorang tamu yang begitu terhormat

Dan semua makanan yang akan kau
hidangkan padanya
adalah makanan yang terlezat
dan kau akan terus meyakinkannya,
bahwa kau senang dikunjunginya,
bahwa melayaninya di rumahmu sendiri
adalah suatu kebahagiaan tiada
bandingannya

Tetapi... apabila kau melihatnya datang,
akankah kau menemuinya di pintu
dengan tangan terulur menyambut
tamumu nan surgawi?

Atau...
akankah kau mengganti pakaianmu
sebelum kau menyilakannya masuk?
atau menyembunyikan majalah-majalah
dan mengedepankan Al-Quran?
Masih akankah kau menonton
film-film tak senonoh
yang ditayangkan pesawat TV-mu?
Dan membaca buku-buku yang kau baca?
Dan membiarkannya
mengetahui segala sesuatu
yang mengisi pikiran dan semangatmu?

Akankah kau mengajak Nabi bersamamu,
kemana pun kau pergi?
Atau, akankah kau, mungkin,
mengubah rencanamu
untuk berangkat sehari dua?

Akankah kau gembira memperkenalkannya
kepada kawan-kawan karibmu?
Atau akankah kau berharap
mereka menjauh
sampai kunjungannya usai?

Akankah kau senang
bila ia tinggal denganmu
untuk selama-lamanya?
Atau, akankah kau merasa lega dengan
kelegaan yang lapang,
apabila akhirnya ia pergi?

Barangkali menarik juga mengetahui
segala apa yang akan kau lakukan
bila Nabi Muhammad datang secara pribadi
untuk menghabiskan beberapa saat
bersamamu!

Miftah F Rakhmat 1991