Gagasan Implementasi Model Pembelajaran Seperti Alpha School untuk Pendidikan di Indonesia


Perkembangan teknologi dan perubahan karakter generasi muda menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi secara fundamental. Model pendidikan konvensional yang berfokus pada jam belajar panjang, penyampaian materi seragam, serta penilaian berbasis angka semakin menunjukkan keterbatasannya dalam menjawab tantangan abad ke-21. Dalam konteks inilah, model pembelajaran yang dikembangkan oleh Alpha School menarik untuk dikaji sebagai inspirasi pengembangan pendidikan di Indonesia.

Alpha School memperkenalkan pendekatan yang menantang paradigma lama: pembelajaran akademik inti diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat melalui personalisasi berbasis teknologi, sementara sebagian besar waktu siswa digunakan untuk pengembangan keterampilan hidup, proyek nyata, dan eksplorasi minat. Model ini berangkat dari asumsi bahwa belajar efektif tidak identik dengan belajar lama, serta bahwa setiap anak memiliki ritme dan cara belajar yang berbeda.

Namun, implementasi gagasan serupa di Indonesia tidak dapat dilakukan secara mentah. Sistem pendidikan nasional Indonesia memiliki kerangka regulasi, kurikulum, serta konteks sosial-budaya yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan yang relevan bukanlah menyalin model Alpha School, melainkan mengadaptasi prinsip-prinsip intinya ke dalam realitas pendidikan Indonesia.

Prinsip pertama yang dapat diadopsi adalah pembelajaran yang dipersonalisasi. Di banyak sekolah Indonesia, satu kelas dengan puluhan siswa masih diperlakukan sebagai satu unit homogen. Akibatnya, siswa yang cepat belajar merasa terhambat, sementara siswa yang membutuhkan waktu lebih lama tertinggal dan kehilangan kepercayaan diri. Model Alpha menunjukkan bahwa dengan asesmen diagnostik dan pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu, sekolah dapat memfasilitasi jalur belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Dalam konteks Indonesia, personalisasi ini dapat dimulai secara sederhana melalui pemetaan kemampuan, pengelompokan fleksibel, dan diferensiasi tugas tanpa harus bergantung pada teknologi canggih.

Prinsip kedua adalah pemadatan waktu akademik. Banyak jam pelajaran di sekolah dihabiskan untuk aktivitas yang kurang efektif, seperti pengulangan materi tanpa pendalaman, administrasi kelas, atau metode ceramah satu arah. Model Alpha menantang asumsi bahwa semakin lama anak berada di kelas, semakin banyak yang mereka pelajari. Untuk Indonesia, pemadatan ini dapat diwujudkan dengan fokus pada kompetensi inti, penguatan literasi dan numerasi, serta pengurangan beban konten yang bersifat hafalan. Dengan demikian, waktu yang tersedia dapat dialihkan untuk aktivitas pembelajaran yang lebih bermakna.

Prinsip ketiga adalah pergeseran peran guru. Dalam model Alpha, guru tidak lagi berfungsi sebagai pusat penyampai pengetahuan, melainkan sebagai pendamping atau guide yang membantu siswa memahami proses belajarnya sendiri. Implementasi di Indonesia tentu membutuhkan transformasi besar dalam budaya dan pelatihan guru. Namun, perubahan ini justru sejalan dengan kebutuhan mendesak untuk mengurangi beban administratif guru dan mengembalikan peran mereka sebagai pendidik yang membimbing, bukan sekadar mengajar untuk ujian.

Prinsip keempat yang sangat relevan adalah pembelajaran berbasis proyek dan kehidupan nyata. Banyak siswa Indonesia merasa terasing dari materi yang mereka pelajari karena tidak melihat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Model seperti Alpha memberi ruang luas bagi proyek kolaboratif, pemecahan masalah nyata, serta pengembangan keterampilan sosial, emosional, dan kreatif. Di Indonesia, pendekatan ini dapat dikontekstualisasikan dengan isu lokal seperti lingkungan, budaya, kewirausahaan sosial, dan teknologi tepat guna, sehingga sekolah menjadi bagian dari ekosistem masyarakat, bukan institusi yang terpisah darinya.

Meski demikian, tantangan implementasi tidak dapat diabaikan. Regulasi pendidikan, kesiapan guru, infrastruktur teknologi, serta ekspektasi orang tua menjadi faktor penentu keberhasilan. Oleh karena itu, langkah paling realistis adalah menerapkan model ini secara bertahap melalui sekolah swasta progresif, sekolah alternatif, atau program percontohan di dalam sekolah formal yang sudah ada. Pendekatan eksperimental ini memungkinkan evaluasi berkelanjutan tanpa mengorbankan stabilitas sistem pendidikan secara keseluruhan.

Pada akhirnya, gagasan implementasi model pembelajaran seperti Alpha School di Indonesia bukanlah tentang mengejar tren global atau mengagungkan teknologi. Esensinya terletak pada upaya memanusiakan kembali pendidikan: melihat anak sebagai subjek belajar yang utuh, menghargai keberagaman potensi, dan mempersiapkan generasi muda bukan hanya untuk lulus ujian, tetapi untuk hidup secara sadar dan bermakna di dunia yang terus berubah.

Pendidikan Indonesia tidak kekurangan kurikulum atau kebijakan, tetapi sering kekurangan keberanian untuk berubah secara mendasar. Model seperti Alpha School memberi cermin bahwa perubahan itu mungkin — asalkan disesuaikan dengan konteks, nilai, dan realitas bangsa sendiri.

Memanusiakan Kembali Pendidikan: Peluang dan Tantangan Mengadopsi Prinsip Alpha School di Indonesia

 

Sekolah terlalu lama tidak menjamin anak benar-benar belajar.
Itu fakta.

Kita masih memuja durasi seolah waktu selalu berbuah pemahaman. Jam pelajaran menumpuk dari pagi hingga sore. Anak duduk rapi, mencatat, menghafal. Nilai dikejar mati-matian. Rasa ingin tahu justru mengering perlahan. Sunyi.

Perubahan zaman melesat seperti kereta tanpa rem. Teknologi mengubah cara manusia berpikir dan bekerja. Generasi muda hidup dalam arus informasi deras. Sekolah sering tertinggal beberapa langkah. Jaraknya terasa.

Di tengah kondisi itu, model seperti Alpha School memantik diskusi serius. Pendekatannya sederhana namun mengguncang kebiasaan lama. Akademik inti diselesaikan lebih singkat melalui personalisasi berbasis teknologi. Waktu selebihnya dipakai untuk proyek nyata dan eksplorasi minat. Pesannya tegas. Belajar efektif tidak harus lama.

Gagasan ini terasa mengusik kenyamanan sistem kita. Kita terbiasa mengukur mutu lewat panjangnya jam sekolah. Seolah durasi identik dengan kedalaman pemahaman. Padahal tidak selalu begitu. Kenyataannya berbeda.

Di banyak sekolah Indonesia, satu kelas diperlakukan sebagai unit homogen. Semua siswa bergerak dalam ritme sama. Yang cepat merasa bosan dan terhambat. Yang lambat tertinggal dan kehilangan percaya diri. Sistem ini tampak rapi, namun rapuh di dalam. Seperti tembok bercat cerah yang retak.

Prinsip personalisasi menjadi tawaran penting. Setiap anak dipetakan melalui asesmen diagnostik yang jujur. Jalur belajar disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Teknologi membantu mempercepat proses tersebut. Namun esensinya bukan pada perangkat canggih. Intinya ada pada kesediaan memahami perbedaan.

Indonesia tidak harus menunggu fasilitas sempurna. Personalisasi bisa dimulai dari langkah sederhana. Pemetaan kemampuan dasar sudah memberi dampak berarti. Pengelompokan fleksibel membuka ruang belajar lebih adil. Diferensiasi tugas membuat kelas terasa lebih hidup. Perlahan tapi nyata.

Soal waktu belajar, kita sering terjebak asumsi lama. Semakin lama di kelas, semakin banyak yang dipelajari. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak jam habis untuk ceramah satu arah. Pengulangan dilakukan tanpa pendalaman bermakna. Waktu bocor seperti keran rusak. Pelan namun pasti.

Model seperti Alpha menantang pola tersebut dengan fokus tajam. Kompetensi inti diprioritaskan tanpa beban hafalan berlebihan. Literasi dan numerasi diperkuat secara mendalam. Konten yang kurang relevan dipangkas dengan berani. Hasilnya bukan sekadar efisiensi waktu. Yang muncul adalah kejernihan arah.

Waktu yang tersisa menjadi ruang strategis.
Di situlah transformasi terjadi.

Proyek kolaboratif memberi pengalaman belajar yang kontekstual. Siswa memecahkan masalah nyata di lingkungan mereka. Kreativitas tumbuh lewat tantangan yang konkret. Keterampilan sosial terasah melalui kerja tim. Sekolah berubah menjadi laboratorium kehidupan. Bukan sekadar pabrik nilai ujian.

Dalam konteks Indonesia, isu lokal dapat menjadi sumber belajar kaya. Lingkungan, budaya, kewirausahaan sosial, dan teknologi tepat guna memberi relevansi kuat. Materi tidak lagi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Siswa melihat hubungan nyata antara teori dan praktik. Pembelajaran terasa bermakna dan membumi.

Perubahan ini tentu menyentuh peran guru.
Dan itu sensitif.

Guru selama ini diposisikan sebagai pusat pengetahuan. Kini informasi tersedia luas dan mudah diakses. Peran guru bergeser menjadi pendamping proses belajar. Transformasi ini menuntut pelatihan serius dan perubahan budaya. Namun justru di sinilah martabat profesi dapat dipulihkan. Lebih manusiawi.

Tantangan implementasi tidak bisa diabaikan begitu saja. Regulasi pendidikan memiliki batasan struktural. Infrastruktur teknologi belum merata di berbagai daerah. Ekspektasi orang tua masih terikat pada angka dan ranking. Realitas ini nyata dan kompleks. Tidak sederhana.

Karena itu, langkah bertahap menjadi pilihan rasional. Sekolah progresif dapat menjadi ruang uji coba. Program percontohan memungkinkan evaluasi berkelanjutan. Pendekatan eksperimental memberi ruang koreksi tanpa mengguncang sistem. Strategi ini lebih bijak dan terukur. Perubahan butuh proses.

Pada akhirnya, gagasan seperti Alpha School bukan soal tren global. Ini bukan tentang gengsi atau sekadar modernitas. Esensinya terletak pada keberanian memanusiakan pendidikan kembali. Anak dipandang sebagai subjek utuh dengan potensi beragam. Bukan angka statistik di laporan tahunan.

Indonesia tidak kekurangan kurikulum dan kebijakan.
Yang sering kurang adalah keberanian berubah.

Model seperti Alpha School hanyalah cermin kemungkinan. Ia menunjukkan alternatif yang mungkin diwujudkan. Adaptasi tetap harus selaras dengan nilai dan konteks bangsa. Pertanyaannya kini sederhana namun mendesak.

Apakah kita cukup berani untuk memulai?

Bahagia Menanam


Kebahagiaan sering disalahtafsirkan sebagai sesuatu yang datang dari hasil semata. Semua orang ingin memetik buah tanpa menunggu prosesnya. Kita mengejar kepuasan instan, berharap kebahagiaan bisa muncul tanpa usaha. Tapi, benarkah hasil itu yang paling memuaskan? Seringkali, kebahagiaan yang sesungguhnya justru muncul ketika kita menanam, ketika kita mau menghadapi proses panjang, dan belajar menikmati setiap langkah yang kadang lambat dan penuh tantangan. Ada sesuatu yang lebih dalam ketika kita benar-benar melibatkan diri dalam proses itu.

Menanam bukan sekadar meletakkan benih di tanah. Menanam adalah simbol dari kesungguhan, ketekunan, dan waktu yang kita habiskan untuk diri sendiri. Setiap tindakan kecil, seperti menanam pikiran positif, membiasakan disiplin, atau sekadar mencoba hal baru, membentuk karakter kita meski hasilnya belum terlihat langsung. Kita belajar bahwa proses itu sendiri sudah berarti, dan setiap upaya, sekecil apa pun, menambah kedalaman pada diri. Menanam mengajarkan kita tentang kesabaran, tentang harapan, dan tentang menghargai perjalanan yang kadang tidak mudah.

Proses itu sendiri mengajarkan ketekunan yang tak bisa digantikan oleh hasil instan. Saat kita menanam, kita belajar menunggu, bersabar, dan menghadapi ketidakpastian. Tidak semua benih tumbuh sebagaimana harapan kita, dan tidak semua usaha langsung membuahkan hasil. Namun, setiap kegagalan membawa pelajaran berharga yang akan tetap melekat. Dalam proses itu, kita menempa diri, mengasah kemampuan, dan memperluas pemahaman tentang kehidupan yang kompleks dan penuh warna.

Belajar adalah bagian dari menanam yang tidak bisa diabaikan. Menimba ilmu, mencoba hal baru, dan menghadapi kegagalan adalah bentuk menanam pengalaman dalam diri. Setiap pelajaran yang kita terima mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tapi perlahan-lahan membentuk kedewasaan, membuat kita lebih bijak dalam mengambil keputusan, dan lebih siap menghadapi berbagai situasi. Belajar melalui proses menanam membuat kita sadar bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tujuan akhir, tapi perjalanan yang kita jalani setiap hari.

Kesabaran dan konsistensi adalah pupuk kehidupan yang menjaga setiap benih tetap tumbuh. Tanpa dua hal ini, usaha dan niat baik akan mudah layu sebelum sempat berkembang. Mereka yang terburu-buru sering melewatkan pelajaran penting yang hanya muncul melalui waktu dan pengalaman. Dengan sabar dan konsisten, kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk tumbuh, untuk menemukan potensi yang sebelumnya tersembunyi, dan untuk menikmati momen kecil yang sebenarnya sarat makna dalam kehidupan.

Sementara memetik memberi kepuasan yang cepat dan sesaat, menanam justru memberi kedalaman dan kepuasan batin yang lebih lama. Memetik mungkin membuat kita senang untuk sementara, tapi menanam membuat kita utuh dan kuat. Ada rasa puas yang datang bukan karena hasil yang instan, tapi karena kesadaran bahwa setiap usaha kita membawa dampak, sekecil apa pun. Menanam mengajarkan kita arti tanggung jawab, komitmen, dan kesadaran akan proses hidup yang tidak bisa dihindari.

Menanam membentuk karakter manusia lebih dari sekadar memetik hasil. Kesadaran akan usaha, tanggung jawab atas proses, kemampuan menahan diri, dan konsistensi adalah harta yang tak ternilai. Karakter ini muncul dalam sikap sehari-hari, dalam cara kita menghadapi tantangan, dan dalam cara kita merayakan keberhasilan orang lain. Orang yang terbiasa menanam cenderung lebih bijak, lebih reflektif, dan lebih peka terhadap makna hidup, karena mereka memahami bahwa setiap hasil lahir dari proses yang panjang dan penuh usaha.

Akhirnya, kebahagiaan sejati muncul dari menanam. Dari setiap usaha, dari setiap belajar, dari setiap kesabaran, kita menemukan makna yang lebih dalam. Menanam lebih dari sekadar menunggu hasil; ia membuat kita hidup penuh arti dan refleksi. Dengan menanam, kita belajar menghargai proses, menemukan kebahagiaan dalam setiap langkah, dan membentuk diri menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Kebahagiaan sejati bukan hadiah yang tiba-tiba muncul, tapi buah dari proses yang terus kita jalani dengan kesadaran dan cinta pada diri sendiri.


Sekolah Bukan Mesin

 

Sekolah kadang terasa seperti pabrik. Semua orang sibuk mengukur angka, dokumen, dan sertifikat. Tapi di balik itu, apakah murid benar-benar belajar? Atau kita hanya memoles mesin tanpa memperhatikan isinya?

Maiyah mengajarkan satu hal sederhana tapi mendasar: bedakan antara Ghayah dan Wasilah. Ghayah adalah tujuan. Wasilah adalah alat. Nilai dasar pendidikan—kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan, dan ilmu—adalah Ghayah. Gedung megah, kurikulum rapi, akreditasi, gaji, dan pangkat hanyalah Wasilah.

Tragedi terjadi ketika guru sibuk mengejar Wasilah seolah itu Ghayah. Rapor akreditasi dipoles, dokumen kurikulum dihias rapi, laporan administratif dikerjakan hingga larut malam. Tapi murid tetap bingung saat diajarkan berpikir kritis. Kebijaksanaan tak sampai. Empati tidak tumbuh. Rasa ingin tahu tertahan di balik tumpukan dokumen.

Maiyah mengajak guru untuk kembali Zuhud. Zuhud bukan miskin atau menolak dunia. Zuhud berarti menaruh dunia—administrasi, uang, pangkat—di tangan, bukan di hati. Alat tetap alat. Tujuan tetap tujuan. Ketika guru memahami Ghayah, transfer kebijaksanaan menjadi inti. Murid belajar, bukan sekadar meniru, tapi merasakan ilmu mengalir dalam hidupnya.

Bayangkan guru yang hadir sepenuh hati. Ia tidak terganggu oleh angka atau dokumen. Ia menatap murid, mendengar pertanyaan mereka, mendorong mereka berpikir. Gedung sekolah sederhana. Kurikulum seadanya. Tapi ilmu, empati, dan kebijaksanaan hidup di ruang kelas itu. Sekolah seperti ini bukan mesin. Ia seperti taman yang dirawat dengan cinta.

Tragedi pendidikan modern bukan hanya soal sistem atau kebijakan. Ia soal kesadaran manusia. Guru, murid, dan orang tua harus bertanya: apakah kita mengejar tujuan atau terjebak oleh alat? Saat Wasilah diperlakukan sebagai Ghayah, pendidikan kehilangan jiwanya.

Kesadaran sederhana dari Maiyah ini adalah kunci: dunia harus di tangan, bukan di hati. Gedung, kurikulum, akreditasi hanyalah sarana. Kebijaksanaan, kemanusiaan, keadilan, dan ilmu adalah tujuan sejati. Ketika Ghayah ditempatkan di depan, semua Wasilah menjadi bermakna. Pendidikan hidup. Murid tidak hanya menerima informasi, tapi merasakan kebijaksanaan yang membentuk karakter dan masa depan mereka.

Di akhir hari, pendidikan bukan soal angka atau dokumen. Pendidikan adalah tentang manusia yang hadir, belajar, dan tumbuh. Alat boleh banyak, tapi hati dan tujuan tidak tergantikan. Zuhud bukan pengorbanan, tapi seni menempatkan yang penting di depan, dan yang sementara di tangan. Itu Maiyah. Itu pendidikan yang hidup.


Dampak Global

 

Harga bensin naik lagi. Harga beras, telur, dan bahkan kopi pun ikut merangkak. Kita merasa bingung, marah, atau pasrah. Tapi siapa yang sebenarnya membuat keputusan ini? Jawabannya sering kali bukan pemerintah lokal saja, tapi kebijakan negara-negara besar yang tampak jauh dari kehidupan kita.

Negara besar tidak seperti kita yang bisa menegosiasikan masalah sehari-hari dengan mudah. Mereka punya cara sendiri untuk mendapatkan keuntungan, mempertahankan kekuasaan, atau melindungi teknologi. Dan meski kita tidak ikut campur, keputusan mereka masuk ke kehidupan kita lewat harga barang, pekerjaan, hingga akses teknologi.

Contohnya, perang dagang. Negara besar memutuskan tarif atau pembatasan impor. Akibatnya, barang yang biasanya murah mendadak mahal. Sebuah toko kecil harus menaikkan harga, pekerja menghadapi upah stagnan, dan konsumen seperti kita jadi terdampak langsung. Terkadang efek ini terasa lama, bahkan ketika konflik itu sendiri sudah mereda.

Perang teknologi juga tidak kalah terasa. Negara-negara memutuskan teknologi mana yang boleh dibagikan, mana yang harus dijaga ketat. Itu artinya, akses ke gadget baru, software, atau internet cepat bisa terbatas. Kita mungkin mengeluh karena harga laptop naik, padahal sebenarnya keputusan itu dibuat ribuan kilometer jauhnya, demi keamanan nasional mereka.

Sanksi dan perang modal juga punya efek nyata. Ketika akses uang atau kredit dibatasi, perusahaan lokal kesulitan membayar pekerja atau membeli bahan baku. Kita yang biasa membeli barang sehari-hari melihat harganya melonjak. Kita yang ingin menabung atau berinvestasi merasakan kesempatan terbatas. Sekali lagi, keputusan global terasa di dompet kita.

Meski perang militer terdengar jauh dan dramatis, dampaknya juga masuk ke kehidupan masyarakat biasa. Berita konflik memengaruhi pasar global, harga minyak, dan bahkan keamanan. Bagi sebagian orang, ini bisa berarti takut untuk bepergian, atau memikirkan masa depan anak-anak mereka di tengah ketidakpastian.

Intinya, meski dunia internasional tampak seperti panggung yang jauh, dampaknya sangat nyata. Kita mungkin bukan pengambil keputusan di tingkat global, tapi kita menanggung efeknya. Memahami hubungan antara kebijakan negara besar dan kehidupan sehari-hari membuat kita lebih siap, lebih sadar, dan lebih kritis.

Di era global seperti sekarang, kesadaran menjadi senjata sederhana tapi kuat. Kita mungkin tidak bisa menghentikan perang dagang, sanksi, atau pembatasan teknologi, tapi kita bisa menyesuaikan diri, membuat pilihan cerdas, dan tetap bertahan. Dunia memang keras, tapi dengan memahami jalannya, kita bisa bertahan dan bahkan menemukan peluang di tengah ketidakpastian.

Menuju Usia Profetik: Catatan Seorang 38 Tahun

 

Tiga puluh delapan terasa berbeda dari angka sebelumnya. Ia bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Ada semacam lorong sunyi yang mulai terbuka di depan. Aku berdiri di ambang itu dengan napas lebih pelan. Tenang. Seolah waktu memberi isyarat bahwa babak berikutnya bukan lagi tentang mencoba, melainkan tentang menunaikan.

Di usia ini, jarak antara masa muda dan kedewasaan terlihat jelas. Dulu aku berlari mengejar banyak kemungkinan. Ambisi terasa seperti bahan bakar utama kehidupan. Kini langkahku lebih terukur dan tidak tergesa. Bukan karena lelah. Tetapi karena mulai paham arah.

Usia empat puluh sering disebut sebagai usia profetik. Nabi Muhammad menerima wahyu pada usia itu. Namun makna profetik bukan milik para nabi saja. Ia adalah jenjang kesadaran yang harus dilalui setiap manusia. Bukan tentang menjadi suci. Melainkan tentang menjadi jelas.

Profetik berarti menyampaikan dan memikul amanah. Ada tanggung jawab moral yang tidak bisa lagi ditunda. Jika di usia muda kita sibuk membentuk diri, maka mendekati empat puluh kita diuji untuk memberi diri. Hidup tidak lagi sekadar tentang pencapaian pribadi. Ia berubah menjadi ruang pengabdian.

Aku mulai merasakan pergeseran orientasi itu. Target materi tidak lagi memikat seperti dulu. Pengakuan publik terasa semakin biasa. Yang justru menguat adalah pertanyaan tentang makna. Untuk apa aku ada. Untuk siapa aku bekerja. Sunyi. Pertanyaan itu datang tanpa suara keras, tetapi menetap.

Tanggung jawab pun terasa makin konkret. Keluarga, pekerjaan, lingkungan, bahkan generasi setelah kita. Semua menuntut ketegasan sikap dan kejernihan nilai. Tidak cukup hanya pintar. Tidak cukup hanya berhasil. Kita dituntut matang.

Ada ketenangan yang lahir dari penerimaan proses. Aku tidak lagi ingin menjadi siapa-siapa selain menjadi versi terbaik diriku. Kegagalan masa lalu berubah menjadi guru yang setia. Kesalahan menjadi pengingat agar tidak gegabah. Pelan. Semua terasa lebih utuh.

Mungkin banyak dari kita yang seusia merasakan hal serupa. Ada kegelisahan kecil, tetapi bukan panik. Ada kesadaran bahwa waktu tidak lagi panjang tanpa batas. Namun itu tidak menakutkan. Justru memurnikan niat.

Menuju empat puluh bukan tentang angka keramat. Ini tentang kesiapan memikul peran dengan sadar. Tentang keberanian menyampaikan kebenaran yang diyakini. Tentang kesediaan menjadi penopang bagi yang lebih muda. Jika usia ini benar adalah gerbang profetik, maka aku ingin melangkah masuk dengan tenang, jernih, dan siap menunaikan apa yang menjadi tugasku di dunia.

Pertukaran Peran dan Hancurnya Nurani Publik

 

Yang sedang retak dalam bangsa ini bukan sekadar ekonomi atau politik. Yang retak adalah kesadaran fungsi manusia. Kita menyaksikan banyak orang berada di posisi tinggi, tetapi kehilangan pijakan batin. Sistem tampak berjalan, namun arah terasa kabur. Di sinilah krisis sesungguhnya bersembunyi. Sunyi. Kita jarang membahasnya secara jujur.

Dalam tradisi leluhur, dikenal istilah Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Ini bukan pembagian kasta feodal yang kaku. Ini adalah kategori fungsi dan kesadaran, semacam perangkat lunak sosial. Kita mempelajarinya sebagai sistem peran, bukan hierarki martabat. Semua setara dalam nilai kemanusiaan. Namun berbeda dalam tanggung jawab.

Brahmana adalah penjaga nilai dan kebijaksanaan. Ia bisa hadir sebagai guru, resi, ustadz, atau pemikir. Tugasnya merawat nurani kolektif agar tetap hidup. Orientasinya bukan keuntungan materi. Ia berdiri di wilayah makna. Jika Brahmana tergoda laba, fondasi moral mulai goyah.

Ksatria bergerak di wilayah kekuasaan dan kepemimpinan. Ia mengelola negara, organisasi, dan arah kebijakan. Kekuasaan ada di tangannya sebagai amanah. Bukan sebagai alat memperkaya diri. Ksatria yang sehat tunduk pada nilai. Tanpa itu, kekuasaan berubah menjadi alat dominasi.

Waisya hidup dalam logika perdagangan dan transaksi. Ia menggerakkan roda ekonomi dan distribusi kesejahteraan. Laba menjadi orientasi utamanya. Itu sah dan wajar dalam ranahnya. Pasar bukan musuh. Namun pasar tidak boleh memimpin nilai dan kekuasaan.

Sudra adalah pelaksana kerja yang menopang operasional masyarakat. Ia bekerja dengan keterampilan dan ketekunan. Tanpa Sudra, sistem tidak berjalan. Perannya sering diremehkan, padahal ia fondasi konkret kehidupan sosial. Semua fungsi saling membutuhkan. Seimbang.

Krisis muncul ketika fungsi-fungsi itu tertukar. Guru mulai berpikir seperti pedagang. Kampus mengejar citra pasar lebih daripada kedalaman ilmu. Pejabat dipengaruhi kepentingan transaksi ekonomi. Pedagang masuk ke ruang kekuasaan demi kendali regulasi. Di titik itu, peradaban kehilangan kompas.

Ketika Brahmana memakai perangkat Waisya, nurani ikut diperdagangkan. Pendidikan berubah menjadi komoditas simbolik. Gelar menjadi produk. Nilai ditentukan harga. Kita menyaksikan pengetahuan kehilangan kesakralannya. Tragis. Negara pun rapuh ketika Ksatria tunduk pada logika pasar.

Solusinya bukan menghidupkan kasta baru. Kita tidak sedang membangun tembok sosial. Kita sedang mengingat kembali fungsi kesadaran. Brahmana harus menjaga nilai tanpa tergoda laba. Ksatria harus berkuasa dengan etika. Waisya tetap berdagang secara sehat. Sudra dihormati sebagai fondasi kerja. Jika fungsi kembali pada tempatnya, nurani akan pulih dan bangsa ini menemukan arahnya kembali.

Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana

 

Banyak orang meyakini krisis terbesar kita adalah ekonomi. Padahal yang retak justru orientasi hidup manusia. Kita sibuk memperbaiki sistem, tetapi lupa menata pijakan nilai. Peradaban sebenarnya dibangun dari cara kita memaknai peran. Di situlah sumber arah sosial ditentukan. Sunyi. Kita jarang mengakuinya dengan jujur dan terbuka.

Dalam tatanan sosial, kita mengenal tiga wajah manusia. Manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istana. Ketiganya hadir dan membentuk dinamika peradaban kita. Mereka bukan musuh satu sama lain. Netral. Namun ketidakseimbangan di antara mereka melahirkan ketegangan sosial. Dari sanalah persoalan bermula secara perlahan.

Manusia nilai berpijak pada makna, bukan keuntungan materi. Ia bekerja tanpa dihantui kecemasan tentang laba pribadi. Guru yang mengajar dengan nurani adalah contoh nyata. Tokoh agama, budayawan, dan tenaga kesehatan juga demikian. Mereka menjaga wilayah sakral kehidupan bersama. Pendidikan, agama, budaya, dan kesehatan. Di ruang itu, nilai menjadi napas utama.

Wilayah-wilayah tersebut seharusnya tidak tunduk pada kapitalisasi berlebihan. Di sana, pengabdian lebih penting daripada transaksi. Ilmu ditransformasikan sebagai amanah, bukan komoditas dagang. Nilai dirawat seperti api kecil di tengah badai. Rapuh. Namun api itu menentukan terang gelapnya peradaban. Tanpa manusia nilai, fondasi sosial mudah retak.

Berbeda dengan itu, manusia pasar bergerak dalam logika transaksi. Ia menawarkan barang atau jasa untuk memperoleh keuntungan. Perhitungan menjadi alat utamanya dalam bertindak. Dalam batas wajar, peran itu sah dan diperlukan. Pasar menghidupi banyak keluarga. Realistis. Ia mengajarkan efisiensi, disiplin, dan keberanian mengambil risiko.

Sementara itu, manusia istana berdiri di wilayah kekuasaan struktural. Ia memegang jabatan dan kewenangan dalam organisasi atau negara. Presiden, menteri, direktur, dan pemimpin lembaga termasuk di dalamnya. Dengan kekuasaan, arah perubahan bisa ditentukan secara sistemik. Kekuasaan pada dasarnya bersifat netral. Bergantung nilai. Ia menjadi mulia atau rusak sesuai pijakannya.

Persoalan muncul ketika manusia pasar dan istana mendominasi. Nilai ditarik masuk ke meja transaksi dan kepentingan. Pendidikan berubah menjadi industri mahal yang kompetitif. Agama dipoles demi citra dan pengaruh politik. Budaya dikemas sekadar tontonan komersial. Kesehatan menjadi layanan eksklusif bagi yang mampu. Kita menyaksikan sakralitas terkikis perlahan.

Dalam situasi itu, manusia nilai terdorong ke pinggir. Suara nurani kalah oleh angka dan kekuasaan. Kita pun ikut larut tanpa sadar. Kita mengejar laba dan posisi struktural bergengsi. Lalu melupakan makna dasar pengabdian sosial. Ironis. Kita membiarkan pasar dan istana berjalan tanpa kompas etika.

Solusinya bukan meniadakan pasar atau kekuasaan. Kita tetap membutuhkan keduanya dalam masyarakat modern. Namun pasar dan istana harus tunduk pada nilai. Manusia nilai perlu menjadi fondasi moral bersama. Di situlah keseimbangan lahir dan terjaga. Berani. Jika nilai memimpin, pasar menjadi sehat dan istana menjadi amanah.

Sekolah vs Sinau

 

Kita sedang merawat ilusi yang tampak sangat mulia. Sekolah dielu-elukan sebagai jalan kemajuan bangsa. Namun banyak ruang kelas terasa seperti jalur perakitan sunyi. Anak-anak duduk rapi dan patuh, tetapi kehilangan nyala penasaran. Angka rapor dipuja tinggi sekali. Karakter terpinggirkan. Diam-diam, kemanusiaan kita menipis tanpa benar-benar kita sadari.

Sekolah dan sinau sering kita samakan begitu saja. Padahal keduanya bergerak dalam arah yang berbeda jauh. Sekolah sibuk mengejar kurikulum, target, dan administrasi yang kaku. Sinau tumbuh dari kegelisahan dan keberanian mencari makna. Sekolah mengejar standar. Sinau mengejar kebenaran. Di dalam sinau, manusia dibentuk utuh, bukan sekadar dilatih agar patuh.

Ruang belajar kini menyerupai pabrik modern yang rapi. Seragam, jadwal, bel, instruksi. Semua tertata efisien dan tampak profesional. Kita melatih kepatuhan lebih serius daripada daya pikir merdeka. Anak diarahkan sesuai kebutuhan industri global yang kompetitif. Efisien. Namun suasananya terasa dingin dan mekanis seperti mesin tanpa jiwa.

Logika pasar menyusup halus ke dunia pendidikan kita. Produktivitas menjadi mantra yang diagungkan tanpa banyak pertanyaan kritis. Kompetensi diukur lewat sertifikat dan skor ujian semata. Jarang sekali kita bertanya siapa sebenarnya diuntungkan sistem ini. Anak didorong menjadi tenaga siap pakai. Bukan penggagas. Bukan tuan atas potensi tanahnya sendiri yang kaya.

Paulo Freire pernah mengingatkan bahaya pendidikan bergaya bank yang menindas. Pengetahuan ditimbun, murid dianggap wadah kosong yang harus diisi. Relasi belajar menjadi satu arah dan terasa kaku. Ivan Illich bahkan menggugat dominasi institusi sekolah modern yang terlalu mapan. Kita seperti lupa. Terlena. Padahal kritik itu masih relevan dengan kegelisahan pendidikan kita hari ini.

Guru pun terjebak dalam labirin administrasi yang melelahkan dan repetitif. Waktu habis untuk laporan, unggah data, dan memenuhi standar birokrasi. Energi tersedot oleh prosedur yang kian rumit. Ruang dialog perlahan menyempit. Hubungan manusiawi menipis. Kelas terasa prosedural, bukan lagi ruang perjumpaan batin yang hangat.

Dampaknya tidak sederhana bagi masa depan kita bersama. Kita melahirkan generasi cerdas secara teknis dan kompetitif. Mereka lihai mengerjakan soal dan membaca instruksi dengan presisi. Namun sering gagap memahami realitas sosialnya sendiri yang kompleks. Nilai tinggi. Empati rendah. Logika tajam, tetapi nurani terasa tumpul.

Lebih menyedihkan lagi, cinta pada ilmu semakin memudar perlahan. Belajar dianggap kewajiban administratif semata yang membosankan. Buku dibuka demi ujian, bukan demi kegelisahan batin yang jujur. Jarang terlihat mata berbinar karena penemuan makna yang mencerahkan. Sunyi. Kegandrungan pada pengetahuan seperti api yang kekurangan udara. Bangsa ini kehilangan romantika intelektualnya yang dahulu membara.

Sinau seharusnya menjadi jalan pulang yang kita pilih bersama. Ia menghidupkan dialog dan keberanian meragukan kepastian semu. Di sana, kita belajar mengenal diri dan kenyataan dengan jujur. Bukan sekadar mengejar pekerjaan bergaji stabil dan status sosial. Perlu keberanian kolektif. Perlu kesadaran jernih. Tanpa sinau, kita sibuk membangun gedung megah, tetapi lupa menumbuhkan manusia.

Keindahan Yang Kecil

 

Sering kali, jaman modern menilai besar sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Gedung pencakar langit, korporasi raksasa, proyek ambisius—semua dianggap simbol kemajuan. Tapi barangkali, yang kecil itu bukan sekadar indah. Toto Rahardjo menekankan bahwa yang kecil menyimpan ingatan, saat manusia, tanah, dan alatnya masih berbicara dalam bahasa kesederhanaan yang bermartabat.

EF Schumacher dalam Small Is Beautiful menguatkan gagasan itu. Ia menekankan pembangunan manusiawi, berkelanjutan, dan berfokus pada skala yang masuk akal. Skala kecil memungkinkan hubungan lebih dekat dengan masyarakat, lingkungan, dan proses kerja itu sendiri. Schumacher tidak menolak kemajuan, tapi menolak kemegahan yang merusak keseimbangan.

Contoh nyata bisa terlihat di pertanian organik skala kecil. Satu petani yang menanam dengan metode ramah lingkungan mungkin tampak sederhana, tapi hasilnya lebih berkelanjutan dibanding pertanian industri besar yang merusak tanah dan air. Hal kecil itu berdampak lama dan nyata, berbeda dengan proyek besar yang hanya mengincar angka cepat dan keuntungan semata.

Di dunia digital juga berlaku hal serupa. Start-up kecil sering kali menemukan inovasi penting, meski sumber daya terbatas. Perusahaan raksasa kadang terlalu fokus pada ekspansi dan branding, hingga kehilangan kreativitas dan hubungan dekat dengan pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa skala kecil memfasilitasi fleksibilitas, kreativitas, dan perhatian terhadap detail—hal yang sering hilang dalam “megaprojek” modern.

Kesederhanaan bukan sekadar estetika, tapi strategi. Ia memungkinkan manusia mempertahankan kendali, membangun hubungan yang bermakna, dan menjaga keberlanjutan jangka panjang. Dalam banyak kasus, perubahan kecil yang konsisten justru lebih berdampak daripada tindakan besar yang cepat tapi rapuh. Menanam pohon di kampung, merawat satu komunitas, atau menata ulang proses produksi sederhana—semua itu adalah investasi nyata untuk masa depan.

Maka, masa depan tidak terletak di kilau menara industri atau proyek spektakuler. Masa depan berada di tangan-tangan kecil yang sabar, yang menenun kembali hubungan antara manusia, alat, dan bumi. Inilah kesederhanaan yang bermartabat: indah, strategis, dan mampu memperbaiki carut-marut sistem tanpa harus mengandalkan kekuatan besar. Kesederhanaan tidak kalah, bahkan sering kali lebih tahan lama, lebih manusiawi, dan lebih relevan untuk menghadapi kompleksitas dunia modern.

Mengurai Kebiasaan Pejabat Mengabaikan Kritik

 


Kritik publik terhadap pejabat sering diabaikan, dianggap gangguan daripada bahan evaluasi serius. Padahal, cara pejabat menanggapi kritik menjadi indikator transparansi dan akuntabilitas nyata. Selama ini, retorika kosong lebih disukai daripada tindakan konkret. Sistem seperti ini memunculkan stagnasi, di mana masalah jelas tetap tak terselesaikan.

Skema empat langkah—Distill, Acknowledge, Respond, Commit—menawarkan kerangka praktis untuk merespons kritik. Distill memisahkan emosi dari substansi agar pejabat fokus pada inti masalah. Acknowledge berarti mengakui kebenaran kritik, membangun kepercayaan masyarakat sekaligus mengurangi frustrasi publik. Respond menuntut tindakan cepat, jujur, dan transparan, bukan sekadar pernyataan. Commit memastikan upaya perbaikan bisa dilihat dan dievaluasi masyarakat. Dengan skema ini, kritik menjadi instrumen perbaikan sistemik.

Namun, skema ini sejatinya kewajiban pejabat. Mereka punya otoritas dan sumber daya untuk menerapkannya. Ironisnya, risiko terlihatnya progres di publik membuat banyak pejabat enggan melangkah. Lebih mudah bagi mereka berbicara tanpa bukti konkret daripada membuka setiap langkah kerja. Akibatnya, janji tetap janji, sementara sistem publik tetap carut-marut dan tak akuntabel.

Siapa yang harus memulai? Tantangan terbesar adalah keberanian menghadapi risiko politik dan tekanan atasan. Aktivis, jurnalis investigasi, atau pejabat dengan integritas tinggi bisa memulai, tapi peluangnya kecil. Penolakan keras akan datang dari atasan yang takut kehilangan kontrol, kelompok kepentingan yang nyaman dengan amburadul, dan pejabat yang hanya ingin aman di zona nyaman. Skeptis yang iddle menonton dari pinggir, menilai setiap langkah, menunggu kegagalan untuk membenarkan ketidakpercayaan mereka.

Kasus nyata menunjukkan ini bukan teori semata. Misalnya, ketika kebijakan publik di sebuah kota diimplementasikan tanpa mekanisme transparansi, kritik masyarakat dibungkam, laporan progres tak pernah dipublikasikan. Hasilnya, proyek macet, anggaran terbuang, dan kepercayaan publik merosot drastis. Skema empat langkah, jika dijalankan, bisa mencegah kegagalan semacam ini. Namun, keberanian untuk memulai tetap menjadi faktor kritis.

Risiko politik juga nyata. Pejabat yang menerapkan skema ini bisa diserang atasannya jika progres terlihat lambat atau kontroversial. Konflik kepentingan internal menjadi penghalang utama. Oleh karena itu, keberanian bukan hanya soal moral, tapi soal strategi: siapa yang punya posisi aman, siapa yang bisa menanggung kritik, dan siapa yang siap memimpin langkah perubahan. Tanpa strategi ini, skema hanya menjadi simbol kosong, bukan alat perbaikan sistemik.

Selain itu, kebiasaan pejabat menghindari implementasi skema menunjukkan masalah struktural. Transparansi dan akuntabilitas tidak dijadikan prioritas, hanya jargon publikasi. Kritik masyarakat tercecer, kehilangan potensi memperbaiki sistem. Tanpa inisiatif individu berani, stagnasi akan terus berlanjut. Inilah paradoksnya: sistem bisa diperbaiki, tapi hanya jika seseorang memulai langkah yang jelas, terlihat, dan konsisten. Pejabat sendiri jarang mau menanggung risiko itu.

Akhirnya, keberhasilan skema empat langkah bukan hanya soal prosedur, tapi soal integritas dan keberanian. Tanpa itu, framework hanyalah simbol kosong. Kritik akan tetap tersisa sebagai suara hilang di udara, sementara carut-marut sistem terus lestari. Hanya keberanian dan komitmen nyata yang bisa mengubah kebiasaan lama, memecah zona nyaman, dan membawa transparansi yang sesungguhnya.


Matinya Kepakaran di Era Popularitas

Kepercayaan kita terhadap gelar kini rapuh. Banyak orang menatap seorang “pakar” dengan skeptis, karena nyatanya sebagian gelar dibeli, bukan diperoleh dari perjuangan dan penguasaan ilmu. Ironis. Apa artinya gelar kalau hanya hiasan di dinding, tanpa makna dalam tindakan nyata?

Fenomena ini tak hanya soal akademisi. Influencer, public figure, dan opini populer sering dipuja-puji, meski mereka tak memiliki kepakaran mendalam. Popularitas menjadi standar baru. Banyak yang lebih percaya kata-kata yang viral, bukan argumen yang berbasis keilmuan. Masyarakat tersesat dalam gemerlap citra, lupa menimbang substansi. Akibatnya, opini dangkal kadang lebih berpengaruh daripada ilmu sejati.

Matinya kepakaran ini membawa konsekuensi serius. Informasi mudah dipoles, fakta diputarbalikkan, dan masyarakat kehilangan referensi yang dapat diandalkan. Orang sulit membedakan antara ahli yang benar-benar menguasai bidangnya dan yang hanya tampil meyakinkan di layar. Kepakaran tak lagi menjadi cahaya penuntun, tapi kadang hanya latar belakang hiasan bagi popularitas semata.

Di sinilah ilmu Maiyah menawarkan perspektif berbeda. Kepakaran sejati bukan sekadar gelar atau pengakuan publik. Menjadi ahli adalah fadhilah: kemampuan yang lahir dari ilmu dan pengalaman, yang digunakan untuk menguasai rahmatan lil alamin. Seorang manusia all season bukan hanya pandai bicara, tapi mampu memberi manfaat nyata. Kepakaran sejati melahirkan kontribusi, bukan sekadar wacana. Ilmu yang diamalkan menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebaikan bagi banyak orang.

Kita perlu refleksi: apakah kita mengejar kepakaran untuk status atau untuk manfaat? Kepakaran yang bermanfaat tidak selalu populer. Tapi kepakaran yang diamalkan akan meninggalkan jejak. Gelar hanyalah simbol; fadhilah adalah bukti. Masyarakat yang menghargai kualitas, integritas, dan kontribusi nyata akan lebih selamat daripada yang tersihir popularitas semata. Kepakaran bukan sekadar prestise, melainkan tanggung jawab sosial dan spiritual—menjadi cahaya bagi orang lain, bukan hanya sorotan diri sendiri.


Es Gabus dan Budaya Paternalistik

Kasus es gabus seharusnya tidak dibaca sebagai peristiwa terpisah. Ia bukan sekadar cerita tentang satu pedagang kecil yang dituduh, ditekan, lalu diminta menerima keadaan. Kasus ini justru membuka cara kerja relasi kuasa yang selama ini kita anggap biasa, bahkan wajar. Relasi antara aparat dan warga yang dibentuk oleh budaya paternalistik.

Dalam budaya paternalistik, aparat ditempatkan sebagai pihak yang lebih tahu, lebih benar, dan lebih berhak menentukan. Mereka diposisikan seperti orang tua yang merasa bertanggung jawab mengatur, menertibkan, bahkan menilai moral warga. Sebaliknya, warga—terutama yang miskin dan tidak punya akses—diposisikan seperti anak yang seharusnya patuh, diam, dan menerima keputusan tanpa banyak tanya. Relasi ini sejak awal tidak setara.

Cak Nun pernah menulis bahwa pola paternalistik memang bisa dipakai untuk mobilisasi dan menjangkaukan kekuasaan. Dalam konteks tertentu, ia tampak efektif, rapi, dan cepat. Namun pada saat yang sama, pola ini justru menghambat kreativitas dan dinamika membangun. Kasus es gabus menunjukkan sisi gelap dari efektivitas semu itu. Ketertiban dicapai, tetapi dengan mengorbankan keadilan dan martabat.

Ketimpangan relasi ini membuat kecurigaan aparat terasa sah, bahkan sebelum ada bukti. Tuduhan diterima lebih cepat karena datang dari pihak berwenang. Klarifikasi dari warga tidak diperlakukan sebagai hak, melainkan dibaca sebagai sikap melawan. Dalam logika paternalistik, pedagang es gabus tidak dilihat sebagai subjek hukum yang setara, melainkan sebagai objek penertiban yang harus tunduk.

Di sinilah kekerasan struktural bekerja dengan cara yang tenang. Tidak selalu lewat kekerasan fisik atau ancaman langsung, melainkan lewat prosedur, asumsi, dan otoritas yang tidak bisa digugat. Warga tahu posisinya lemah. Berbicara terlalu banyak bisa berujung masalah. Membela diri bisa dianggap tidak tahu diri. Kreativitas, keberanian, dan inisiatif mati sebelum sempat tumbuh, persis seperti yang diperingatkan Cak Nun.

Budaya ini bertahan karena dinormalisasi. Warga kecil belajar sejak lama bahwa berhadapan dengan aparat berarti menurunkan kepala. Kepatuhan dipuji sebagai sikap dewasa, sementara keberanian bersuara dicurigai. Ketertiban dijaga, tetapi dinamika sosial dibekukan. Pembangunan berjalan, tetapi kemanusiaan tertinggal.

Respons sosial sering kali ikut menguatkan pola tersebut. Ketika publik berkata, “Sudah minta maaf, selesai,” perhatian dialihkan dari persoalan struktural ke urusan personal. Seolah-olah masalahnya hanya kesalahpahaman individu, bukan budaya kuasa yang menghambat keadilan. Paternalisme tetap utuh, hanya dilapisi bahasa damai.

Di titik ini, kasus es gabus menjadi cermin. Pedagang itu bukan sekadar individu yang kebetulan apes. Ia mewakili posisi kita semua ketika berada di situasi lemah. Tanpa kuasa sosial. Tanpa perlindungan nyata. Hari ini dia. Dalam kondisi tertentu, bisa jadi kita.

Selama aparat terus ditempatkan sebagai pihak yang tak boleh dibantah, risiko kekerasan struktural akan selalu ada. Negara mungkin berhasil menjangkau dan mengatur, tetapi gagal membangun relasi yang dewasa. Selama warga masih diperlakukan seperti anak yang harus patuh, seperti dikritik Cak Nun, pembangunan boleh berjalan, tetapi keadilan akan selalu tertinggal.

Masa kecil anak tidak menunggu orang tua selesai sibuk.


Kalimat itu terdengar sederhana, tapi efeknya pelan dan dalam. Ia tidak berteriak, tidak menghakimi, hanya berdiri sebagai pengingat bahwa waktu berjalan tanpa peduli seberapa sibuk hidup kita. Banyak orang tua muda merasa masih punya ruang untuk menunda. Hari ini fokus kerja, besok menemani anak. Minggu ini capek, minggu depan diganti. Rasanya masuk akal. Padahal, di saat yang sama, anak tetap tumbuh, tetap berubah, tetap melangkah ke fase berikutnya tanpa menoleh ke belakang.

Dalam keseharian, anak sering terlihat baik-baik saja. Ia bisa bermain sendiri, menonton, atau sibuk dengan dunianya. Dari luar, semuanya tampak aman. Namun di balik itu, ada kebutuhan sederhana yang tidak selalu terucap. Anak ingin ditemani belajar, bukan karena ia tidak mampu, tapi karena ia ingin merasa ditemani. Ia ingin orang tuanya duduk di dekatnya, mendengar cerita acak, dan memberi perhatian utuh. Bukan setengah badan, bukan sambil menatap layar, tapi hadir sepenuhnya.

Bermain bersama juga bukan sekadar pengisi waktu luang. Bagi anak, bermain adalah bahasa cinta. Di sana ada tawa, ada imajinasi, ada rasa diterima. Saat orang tua ikut masuk ke dunia itu, anak merasa dipilih dan diprioritaskan. Pengalaman sederhana seperti memasak bersama, membersihkan rumah, atau membuat proyek kecil keluarga sering kali jauh lebih membekas daripada hadiah mahal. Begitu juga perjalanan bersama. Tidak harus jauh atau mewah. Yang penting kebersamaan terasa utuh, tanpa perhatian terbagi.

Quality time sering disalahartikan sebagai soal durasi. Padahal yang paling diingat anak adalah kualitas kehadiran. Beberapa menit dengan perhatian penuh bisa lebih bermakna daripada berjam-jam tanpa keterlibatan. Anak tidak menunggu orang tua siap secara mental, finansial, atau emosional. Ia tumbuh sekarang, di depan mata. Masa anak-anak itu singkat, tidak bisa diulang, dan tidak bisa diminta kembali. Ketika kita sadar, sering kali waktunya sudah lewat.

Todii



 Lagu “Todii” karya Oliver Mtukudzi adalah sebuah ratapan yang lahir dari kepedihan sebuah bangsa ketika HIV/AIDS menghancurkan keluarga demi keluarga. Dalam lagu ini, suara Tuku terdengar seperti jeritan seorang ayah, seorang suami, atau seorang tetangga yang berdiri di tengah badai duka, menyaksikan orang-orang yang ia sayangi perlahan pergi satu per satu. Pertanyaan yang terus diulang—“Ho todii? Senzenjani? What shall we do?”—bukan hanya kalimat kosong, melainkan ungkapan putus asa sebuah komunitas yang merasa kehabisan cara menghadapi kenyataan pahit. Ia menggambarkan betapa menyakitkan merawat seseorang yang kita cintai ketika hidupnya sudah berada di ujung, betapa pedihnya melihat kematian bertumbuh di dalam rumah sendiri. Di balik liriknya, tersimpan kisah kekerasan, pelecehan, dan penularan penyakit yang terjadi dalam sunyi, menimpa perempuan yang tak punya kuasa untuk memilih nasibnya. Pemakaman demi pemakaman membuat doa-doa seolah tak lagi punya daya, meninggalkan rasa kehilangan yang tak terperikan. “Todii” menjadi cermin dari zaman ketika penyakit, stigma, dan ketidakpedulian sosial menjadi beban yang sama beratnya dengan virus itu sendiri. Melalui lagu ini, Tuku tidak hanya menyampaikan duka, tetapi juga memanggil nurani: agar masyarakat berhenti menyalahkan, mulai mendengarkan, dan bersama mencari jalan keluar dari tragedi kemanusiaan yang mengikis harapan perlahan.