Yang kita perlu lakukan saat ini adalah bukan hanya mencari kekurangan dalam diri kita, kemudian menambalnya dengan kebaikan-kebaikan yang kita usahakan. Tapi kita juga perlu berpuas diri, dengan apa yang sudah Allah berikan pada kita.
Tampaknya ini yang sedikit kita lupakan. Terlebih untuk masalah fisik. Mereka mati-matian menambal apa yang mereka sebut dengan kekurang fisik mereka dengan sesuatu yang seharunya tak perlu diusahakan. Kita melihat sendiri, rambut yang sejatinya diciptakan Allah sudah baik, tapi kita rubah bentuknya menjadi bentuk lain. Hanya karena masalah mode.
Bawor/ bagong sendiri, tak pernah ingin menjadi gareng. Ya, sejelek-jeleknya bagong, dia tak pernah ingin menjadi gareng, yang sedikit lebih baik. Dia sungguh berpuas diri dengan apa yang Allah berikan padanya.
Kita kurang percaya diri, karena kita tidak pernah bersyukur, atas apa yang Allah berikan.
10:22
21 Juni 2011
Alun-Alun Nganjuk, dalam sebuah radio.
Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan
Wisdom Orang Jawa
Diskusi kami saat maiyah kemarin sungguh menarik. Cak Nun menerangkan bahwa kita, orang Jawa, sudah punya wisdom sendiri yang jauh melampaui jamannya. Kita seakan tidak perlu kitab lagi dari Tuhan, karena kecerdasan kita diatas rata-rata. Bahkan, nabi tak pernah turun di Jawa, karena disini manusia luar biasa bijaksana.
Bayangkan saja, manusia Arab harus memerlukan hadist dan ayat yang begitu panjang, untuk menjelaskan bahwa di dunia ini hanyalah sementara. Tapi manusia Jawa, sejak dulu punya idiom andalan, "Urip neng nduyo mung mampir ngombe". Ya, hidup didunia itu cuma mampir minum. Manusia Arab harus memerlukan hadist dan ayat yang begitu panjang untuk menjelaskan bahwa Allah tak akan mendzalimi kita, bahwa Allah memenuhi kebutuhan kita. Tapi manusia Jawa dengan penuh kebijaksanaannya hanya berkata, "Gusti ora sare". Ya, Allah tidak tidur.
Orang barat mungkin membutuhkan istilah save the earth, tapi kita punya idiom lama yaitu, hamemayu hayuning buwono.
Kebudayaan orang Jawa sudah lama mengalami puncaknya. Tembang mocopat, tembang yang penuh filosofi kehidupan. Wayang, syiar kebaikan yang penuh makna. Gamelan, kesempurnaan harmoni penuh dengan kebijaksanaan. Wow, kurang apalagi kita?
Hahaha, silakan boleh percaya atau tidak, boleh beriman atau tidak. Aku hanya sedang meracau, mbombongi ati, membesarkan hati....
21 Juni 2011
10:15
Mbombongi atiku dewe..
Bayangkan saja, manusia Arab harus memerlukan hadist dan ayat yang begitu panjang, untuk menjelaskan bahwa di dunia ini hanyalah sementara. Tapi manusia Jawa, sejak dulu punya idiom andalan, "Urip neng nduyo mung mampir ngombe". Ya, hidup didunia itu cuma mampir minum. Manusia Arab harus memerlukan hadist dan ayat yang begitu panjang untuk menjelaskan bahwa Allah tak akan mendzalimi kita, bahwa Allah memenuhi kebutuhan kita. Tapi manusia Jawa dengan penuh kebijaksanaannya hanya berkata, "Gusti ora sare". Ya, Allah tidak tidur.
Orang barat mungkin membutuhkan istilah save the earth, tapi kita punya idiom lama yaitu, hamemayu hayuning buwono.
Kebudayaan orang Jawa sudah lama mengalami puncaknya. Tembang mocopat, tembang yang penuh filosofi kehidupan. Wayang, syiar kebaikan yang penuh makna. Gamelan, kesempurnaan harmoni penuh dengan kebijaksanaan. Wow, kurang apalagi kita?
Hahaha, silakan boleh percaya atau tidak, boleh beriman atau tidak. Aku hanya sedang meracau, mbombongi ati, membesarkan hati....
21 Juni 2011
10:15
Mbombongi atiku dewe..
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
kebijaksanaan,
khasanah,
leluhur,
me,
orang jawa,
Wisdom
0
kata-kata
Sakit Perut Nabi Musa
Seketika itu Nabi Musa sakit perut. Padahal kondisi sedang gawat-gawatnya. Dia dan kaumnya sedang dikejar oleh pasukan Fir'aun. Nabi Musa merintih kesakitan, sambil mengeluh kepada Tuhan, "Ya Allah, masih saja kau berikan sakit perut ini disaat yang panik ini, mbok ya nanti aja. Apa yang harus kulakukan sekarang?". Kemudian Allah menjawab dengan bahasanya, yang hanya bisa dipahami oleh Nabi Musa, "Pergilah ke bukit itu, dan makan daun dari pohon yang ada disana!". Nabi Musa tak sempat berfikir apapun. Dia bergegas pergi ke bukit, dan mencari daun yang disebutkan Tuhan. Nabi Musa menemukannya. Belum sempat memakannya, Nabi Musa sudah sembuh, tak sakit perut lagi. "Wah, memang Tuhan Maha Penyembuh!", batin Nabi Musa.
Nabi Musa pun turun kembali, hendak melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah, perutnya kembali meraung-raung. Mengirimkan sinyal sakit ke otak. Nabi Musa sakit perut lagi. Tanpa pikir panjang, dia langsung pergi ke bukit. Sesampainya di bukit, dia makan banyak-banyak daun yang tadi Allah sebutkan. Yang terjadi bukannya kesembuhan yang didapat, tapi sakitnya justru tak kunjung membaik.
Nabi Musa berdoa kepada Allah, "Ya Allah, sudah kumakan daun yang Engkau sebutkan tadi, kenapa sakit perutku tak juga sembuh?". Allah menjawab doa Nabi Musa dengan bijak, "Hai Musa, untuk sakit yang pertama, kau berdoa padaku, dan minta petunjukKu, maka Ku tunjukkan baik-baik penyembuh sakitmu. Untuk sakit yang kedua, kau tak meminta apapun dariKu, dan kau mengambil keputusanmu sendiri, jadi Aku tak memberikan apapun padamu!".
Nabi Musa tersungkur, bersujud, lantas bertobat. Betapa kita kadang melupakan kuasaNya disetiap kejadian yang kita alami, salah satunya ketika kita sakit. Lebih percaya kepada dokter daripada kepada Allah, lebih beriman kepada obat daripada kepada kuasaNya.
10:01
21 Juni 2011
Ommwriter, mantap Dhi!
Nabi Musa pun turun kembali, hendak melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah, perutnya kembali meraung-raung. Mengirimkan sinyal sakit ke otak. Nabi Musa sakit perut lagi. Tanpa pikir panjang, dia langsung pergi ke bukit. Sesampainya di bukit, dia makan banyak-banyak daun yang tadi Allah sebutkan. Yang terjadi bukannya kesembuhan yang didapat, tapi sakitnya justru tak kunjung membaik.
Nabi Musa berdoa kepada Allah, "Ya Allah, sudah kumakan daun yang Engkau sebutkan tadi, kenapa sakit perutku tak juga sembuh?". Allah menjawab doa Nabi Musa dengan bijak, "Hai Musa, untuk sakit yang pertama, kau berdoa padaku, dan minta petunjukKu, maka Ku tunjukkan baik-baik penyembuh sakitmu. Untuk sakit yang kedua, kau tak meminta apapun dariKu, dan kau mengambil keputusanmu sendiri, jadi Aku tak memberikan apapun padamu!".
Nabi Musa tersungkur, bersujud, lantas bertobat. Betapa kita kadang melupakan kuasaNya disetiap kejadian yang kita alami, salah satunya ketika kita sakit. Lebih percaya kepada dokter daripada kepada Allah, lebih beriman kepada obat daripada kepada kuasaNya.
10:01
21 Juni 2011
Ommwriter, mantap Dhi!
Lama Sekali
Lama sekali aku tak menulis. Jika dicarikan alasan, maka aku sendiri juga bingung akan mengeluarkan alasan apa.
Aku sedang tak sibuk Tugas Akhir, meski sebenarnya Tugas Pamungkas ini harus kelar akhir juli. Aku sedang tak sibuk jalan-jalan, meski beberapa kali ke jogja n semarang. Aku sedang tak sibuk baca buku, bergulat dengan kata, meski Arus Balik-nya Pram setebal 760 halaman ada dikasurku. Aku sedang tak sibuk berkomunitas, meski latihan gamelan seminggu dua kali cukup menyita energi dan waktuku. Aku sedang tak sibuk mengkonsep, meski sebenarnya ratusan ide bergumul dikepala. Aku sedang tak sibuk apapun.
Kemarin, aku hanya tak ingin menulis. Itu saja.
21 Juni 2011
10:50
Bergulat dengan waktu.
Aku sedang tak sibuk Tugas Akhir, meski sebenarnya Tugas Pamungkas ini harus kelar akhir juli. Aku sedang tak sibuk jalan-jalan, meski beberapa kali ke jogja n semarang. Aku sedang tak sibuk baca buku, bergulat dengan kata, meski Arus Balik-nya Pram setebal 760 halaman ada dikasurku. Aku sedang tak sibuk berkomunitas, meski latihan gamelan seminggu dua kali cukup menyita energi dan waktuku. Aku sedang tak sibuk mengkonsep, meski sebenarnya ratusan ide bergumul dikepala. Aku sedang tak sibuk apapun.
Kemarin, aku hanya tak ingin menulis. Itu saja.
21 Juni 2011
10:50
Bergulat dengan waktu.
#17 : Rendezvous
dari gambar ini, sebenarnya aku hanya sekedar mengingat kembali. impian-impian masa kecilku.
aku masih hafal, lekukan-lekukan indah setiap sudut. ujung-ujung runcing tiap cekung. lurus-lurus ukuran kertas. tekukan pas tiap garis.
aku masih ingat, berapa derajat yang harus dipersiapkan untuk melontarkan pesawat ini, agar bisa terbang sempurna.
aku masih tak lupa, deru nafasku dan teman-teman kecil, memburu pesawat yang nanti akan jatuh kemana.
aku masih bisa melihat, dahulu, kecilku, mainan seperti ini begitu berarti.
ya, begitu berarti.
16 Mei 2011
17:11
ini tentang gambar apa yang menginspirasi. ah, aku hanya ingat kembali.
lingkaran - padi
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
16 Mei 2011
Labels:
2011,
kompetisi blog,
masa kecil,
me,
pesawat kertas
0
kata-kata
Monolog Butet Kartaredjasa “KUCING”
PURWOKERTO
Rabu, 18 Mei 2011
Pukul 20.00 - Selesai
Gedung Soemardjito UNSOED
Purwokerto
Tiket box:
Permata Aerobic 0281 641 851
HTM. Rp. 10.000
INFORMASI EVENT:
iDea Production 0274 417507
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
butet,
kartaredjasa,
kucing,
me,
monolog,
purwokerto,
sastra,
teater
0
kata-kata
#15 : Pernikahan Kata
Seketika juga aku menulis. Kata-kata itu mengalir saja dari jariku, hingga aku tak kuasa untuk membendungnya. Dari jari lalu menghilir ke arah tuts keyboard laptopku. Muncullah di layar LCD.
Aku tidak menganyam kata. Kata itu sendirilah yang membelah diri, menciptakan dirinya sendiri, hingga bersatu dengan yang lain, menjadi kalimat.
Makna itu datang kemudian. Sendiri pula. Keterkaitan antara kata menjadikan kalimat itu indah. Pada waktunya. Tulisan indah. Bermakna.
Jadi, kadang aku sendiri tak tahu apa yang terjadi. Mereka terus saja berlari-lari kecil di layarku. Membentuk barisan satu-persatu. Dibatasi spasi, koma bahkan titik.
Menciptakan tarian-tarian makna. Sebegitu indah. Ya, aku menyaksikan pernikahan antar kata. Menyulam arti. Merajut niat.
13 Mei 2011
18:41
Sejatinya, kata itu siapa?
Aku tidak menganyam kata. Kata itu sendirilah yang membelah diri, menciptakan dirinya sendiri, hingga bersatu dengan yang lain, menjadi kalimat.
Makna itu datang kemudian. Sendiri pula. Keterkaitan antara kata menjadikan kalimat itu indah. Pada waktunya. Tulisan indah. Bermakna.
Jadi, kadang aku sendiri tak tahu apa yang terjadi. Mereka terus saja berlari-lari kecil di layarku. Membentuk barisan satu-persatu. Dibatasi spasi, koma bahkan titik.
Menciptakan tarian-tarian makna. Sebegitu indah. Ya, aku menyaksikan pernikahan antar kata. Menyulam arti. Merajut niat.
13 Mei 2011
18:41
Sejatinya, kata itu siapa?
#10 : Surabaia
Surabaya bisa menjadi akhir perjalanan yang hebat. Pagi itu aku datang. Naik Kereta Penataran dari Malang. Kereta penuh oleh anak-anak Pasuruan dan Surabaya, seusai nonton konser musik semalam di Malang. Bau badan mereka mengalahlan bau badanku yang sama-sama tak mandi juga. Ya, mereka lebih busuk.
Tapi aku selalu tertarik dengan orang lokal. Kursi kamipun penuh. Tiga-tiga kami saling berhadapan. Aku suka mengamati cara berbicara mereka. Aku suka mengamati orang lain, apalagi di daerah baru. Di daerah yang baru pernah kujejaki. Gaya biacara mereka lucu. Mungkin karena aku jarang mendengarkannya. Pelan-pelan aku menterjemahkannya dalam diriku. Seakan ada kamus internal dalam diriku. Biar saja. Mata mereka kadang melirikku yang sedang asyik memperhatikan mereka. Anak-anak usia sekolah menengah, pikirku.
Oh ya, toh hari itu hari minggu. Bisa saja mereka menonton konser malam minggu, kemudian minggu pagi pulang, dan senin kembali ke sekolah.
Kereta Penataran memang murah. Malang-Surabaya ditempuh dengan perjalanan 2,5 jam dengan membayar tiket cukup 4000 rupiah. Sayang, dipagi itu aku capek bukan main. Semalam jalan bersama Adin hingga larut. Jadi, aku tak banyak melihat kanan kiri jalan. Tapi, pemandangan porong takkan terlewati. Ini yang penting, kata Azis.
Surabaya bisa jadi titik tolakku. Menuju ke sebuah sesuatu. Apa itu? Entah. Aku tak mau bercerita disini.
10 Mei 2011
06:04
Creep'in - Norah Jones
Rasanya ingin terbang saja! Cek Imel!
#9 : Iklan TV Favorit (saat ini)
Jika ada acara yang paling kutunggu di televisi, maka iklan inilah jawabannya. :D
Mantapp mamaeeen! Kapan-kapan aku pasti kesana, bismillah cak!
#8 : Gusti Allah ora Sare
Jika kau terus dilanda kesulitan, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau sudah pol dengan usahamu, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau didzalimi orang lain, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau selalu merasa menderita dalam hidup, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau merasa tidak pernah bahagia, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau tertindas oleh penguasa, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau sedikit percaya bahwa ini tak ada ujungnya, yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare
16 April 2011
06:27
Badai Pasti Berlalu, boi!
Jika kau sudah pol dengan usahamu, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau didzalimi orang lain, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau selalu merasa menderita dalam hidup, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau merasa tidak pernah bahagia, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau tertindas oleh penguasa, yakinlah Gusti Allah ora Sare
Jika kau sedikit percaya bahwa ini tak ada ujungnya, yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare
yakinlah Gusti Allah ora Sare
16 April 2011
06:27
Badai Pasti Berlalu, boi!
#6 : Kampanye Islam
Mengkampanyekan Islam
Salah satu kesalahan paradigma dalam berdakwah adalah menyampaikan kebenaran kepada orang yang sudah benar. Itu sama saja menuangkan kopi pada cangkir yang sudah penuh. Memang, bisa jadi itu sebagai pengingat kebaikan, tapi alangkah lebih bijaknya lagi apabila bisa merangkul sebanyak mungkin orang lain, untuk mengetahui bahwa ada kebenaran dan kebaikan Islam.
Analogi ini persis seperti partai politik yang hanya kampanye di kalangan massa-nya sendiri. Tak perlu disuruh mengikutipun mereka sudah pasti memilih partai itu. Yang diperlukan sesungguhnya adalah berkampanye di tempat-tempat yang belum pernah dijamah partai, atau bila mungkin malah kampanye dimassa partai lain. Inilah kampanye yang sebenarnya.
Pun dengan Islam. Sebuah dosa sosial namanya, jika kita tidak berdakwah, tidak berkampanye kepada orang lain yang sebenarnya memang membutuhkan Islam. Bagaimana bisa merangkul anak jalanan untuk sholat, jika sholat saja masih memilih-milih masjid? Bagaimana bisa mengajak pelacur taubat, jika melihat orang lain saja kadang masih meremehkan? Bagaimana mampu membuat preman taubat, jika bergaul dengan orang saja memisah-misahkan diri? Bagaimana bisa menceramahi orang-orang bejat, jika kita sendiri sudah tidak bisa masuk kedalam lingkungan tersebut? Bagaimana mau membuat perubahan besar untuk Islam, jika kita masih terpaku pada polarisasi kelompok, tidak mau membaur, dan menerima kebaikan dari orang lain?
Bahkan, hidup kita itu sejatinya adalah kampanye atas apa yang kita yakini. Kampanye kehidupan spiritual kita. Orang akan menilai apa yang kita lakukan dengan mengkomparasikan, keyakinan apa yang kita anut. Berhati-hatilah.
23 April 2011
05:31
Promise Her Moon - Mr Big
pagi ini indah sekali, saatnya bersepeda.
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
2011,
islam,
Kampanye,
kompetisi blog,
me,
perenungan
5
kata-kata
#5 : Merasa Tua
Merasa Tua
Ternyata aku sudah berumur 23 tahun. Umur yang sudah tak bisa dibilang remaja lagi. Dulu, aku begitu takjub kepada anak muda dengan usia 23 tahun. Rasanya memang pada umur segitulah mereka banyak berkarya. Aku melihat Sjahrir, Soekarno, Chaerul Saleh, Wikana juga Sukarni, apa yang sudah mereka lakukan diusia 23 tahunnya. Luar biasa.
Kemudian aku melihat masa laluku. Apa yang sudah kulakukan selama ini? Apa hanya sampah? Yang sudah sepantasnya dibuang saat ini? Atau emas, yang bernilai jual tinggi? Aku sendiri masih bingung memetakannya.
Teman baikku pernah mengirim pesan sebagai berikut, "Andai aku bisa balik ke masa SMP dengan wawasan dan karakter seperti sekarang. Masa muda memang istimewa. Sayang sekali untuk disia-siakan.". Aku mengerti benar. Anak muda sekarang (meski tak semuanya) cukup banyak memprihatinakan dikacamataku. Bergaul tidak jelas, mengikuti mode tanpa bisa menjadi diri sendiri, pacaran tidak karuan, dan hal-hal tak jelas lainnya.
Aku sendiri sudah merasa tua. Merasa sudah waktunya melewati hal dengan lebih serius. Meski tentu saja ada canda didalamnya. Intinya adalah melewati segala hal dengan penuh tanggung jawab. Menurutku itulah yang disebut kedewasaan.
Ya, semoga yang tua ini, masih bisa berjiwa muda. Mencoba melakukan banyak hal, semangat tanpa batas, tidak takut tantangan, memiliki idealisme dan mencetak sejarah baik. Ah, indahnya...
7 Mei 2011
08:22
21st Century Kids - Jammie Cullum
malem minggu, saatnya dirumah saja.
Ternyata aku sudah berumur 23 tahun. Umur yang sudah tak bisa dibilang remaja lagi. Dulu, aku begitu takjub kepada anak muda dengan usia 23 tahun. Rasanya memang pada umur segitulah mereka banyak berkarya. Aku melihat Sjahrir, Soekarno, Chaerul Saleh, Wikana juga Sukarni, apa yang sudah mereka lakukan diusia 23 tahunnya. Luar biasa.
Kemudian aku melihat masa laluku. Apa yang sudah kulakukan selama ini? Apa hanya sampah? Yang sudah sepantasnya dibuang saat ini? Atau emas, yang bernilai jual tinggi? Aku sendiri masih bingung memetakannya.
Teman baikku pernah mengirim pesan sebagai berikut, "Andai aku bisa balik ke masa SMP dengan wawasan dan karakter seperti sekarang. Masa muda memang istimewa. Sayang sekali untuk disia-siakan.". Aku mengerti benar. Anak muda sekarang (meski tak semuanya) cukup banyak memprihatinakan dikacamataku. Bergaul tidak jelas, mengikuti mode tanpa bisa menjadi diri sendiri, pacaran tidak karuan, dan hal-hal tak jelas lainnya.
Aku sendiri sudah merasa tua. Merasa sudah waktunya melewati hal dengan lebih serius. Meski tentu saja ada canda didalamnya. Intinya adalah melewati segala hal dengan penuh tanggung jawab. Menurutku itulah yang disebut kedewasaan.
Ya, semoga yang tua ini, masih bisa berjiwa muda. Mencoba melakukan banyak hal, semangat tanpa batas, tidak takut tantangan, memiliki idealisme dan mencetak sejarah baik. Ah, indahnya...
7 Mei 2011
08:22
21st Century Kids - Jammie Cullum
malem minggu, saatnya dirumah saja.
Para Pendendam Indonesia
“Kalau engkau berbuat baik seribu kali, bersiaplah untuk tidak menunggu satu orang pun melirik seribu kebaikanmu itu satu kali saja pun. Sebaliknya, kalau engkau berbuat buruk satu kali saja, bahkan sekedar diduga, dituduh atau difitnah berbuat buruk satu kali saja, maka persiapkan dirimu untuk mendengarkan seribu orang memperkatakan seribu keburukanmu yang mereka karang-karang sebanyak seribu kali.”
-EAN
-EAN
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
23 April 2011
Labels:
2011,
cak nun,
indonesia,
me,
pendendam,
perenungan,
quote
3
kata-kata
Mengkaji Terus
Dalam hidup, yang berbahaya adalah bukan mereka yang tidak banyak melakukan sesuatu. Tapi justru mereka yang banyak melakukan sesuatu namun tak mengerti, apa sesungguhnya yang mereka lakukan. Mereka sibuk kesana kemari, merasa bahwa dirinya cukup, tapi tak pernah punya esensi dari semuanya. Mereka mengerjakan sesuatu yang mereka anggap besar, tapi mereka tak pernah menanyakan lagi, melakukan autokritik atas apa yang mereka kerjakan.
Setidaknya inilah yang disebut amal tanpa ilmu. Kata orang ini kosong belaka. Bukan berarti apa yang harus kita lakukan itu harus menunggu berilmu dulu. Tidak. Tapi terus mengkaji, atas apa yang kita lakukan itu adalah penting.
Pun dalam hidup. Setiap pilihan hidup. Kita diharuskan mengkaji, tidak hanya bagaimana untuk melakukan hal ini itu, tapi juga mengapa kita melakukan hal ini itu. Sebuah pertanyaan penting, mengenai akar terkuat kita melakukan sesuatu. Sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri.
Ah, sering aku merindukan obrolah yang berat semacam ini.
14 April 2011
14:00
Naff ganti vokalis, jadi menye-menye.
Gerimis sedikit, padahal jam 2 siang. Mremun.
Setidaknya inilah yang disebut amal tanpa ilmu. Kata orang ini kosong belaka. Bukan berarti apa yang harus kita lakukan itu harus menunggu berilmu dulu. Tidak. Tapi terus mengkaji, atas apa yang kita lakukan itu adalah penting.
Pun dalam hidup. Setiap pilihan hidup. Kita diharuskan mengkaji, tidak hanya bagaimana untuk melakukan hal ini itu, tapi juga mengapa kita melakukan hal ini itu. Sebuah pertanyaan penting, mengenai akar terkuat kita melakukan sesuatu. Sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri.
Ah, sering aku merindukan obrolah yang berat semacam ini.
14 April 2011
14:00
Naff ganti vokalis, jadi menye-menye.
Gerimis sedikit, padahal jam 2 siang. Mremun.
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
22 April 2011
Labels:
2011,
me,
Mengkaji,
pemikiran,
perenungan
1 kata-kata
O Muhammad, Puisi Cinta Untuk Nabi
Bila Nabi Muhammad mengunjungimu
barang sehari atau dua
bila ia datang tak disangka-sangka
aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan?
Oh, aku tahu kau akan menyediakan
ruangan terbaik
bagi seseorang tamu yang begitu terhormat
Dan semua makanan yang akan kau
hidangkan padanya
adalah makanan yang terlezat
dan kau akan terus meyakinkannya,
bahwa kau senang dikunjunginya,
bahwa melayaninya di rumahmu sendiri
adalah suatu kebahagiaan tiada
bandingannya
Tetapi... apabila kau melihatnya datang,
akankah kau menemuinya di pintu
dengan tangan terulur menyambut
tamumu nan surgawi?
Atau...
akankah kau mengganti pakaianmu
sebelum kau menyilakannya masuk?
atau menyembunyikan majalah-majalah
dan mengedepankan Al-Quran?
Masih akankah kau menonton
film-film tak senonoh
yang ditayangkan pesawat TV-mu?
Dan membaca buku-buku yang kau baca?
Dan membiarkannya
mengetahui segala sesuatu
yang mengisi pikiran dan semangatmu?
Akankah kau mengajak Nabi bersamamu,
kemana pun kau pergi?
Atau, akankah kau, mungkin,
mengubah rencanamu
untuk berangkat sehari dua?
Akankah kau gembira memperkenalkannya
kepada kawan-kawan karibmu?
Atau akankah kau berharap
mereka menjauh
sampai kunjungannya usai?
Akankah kau senang
bila ia tinggal denganmu
untuk selama-lamanya?
Atau, akankah kau merasa lega dengan
kelegaan yang lapang,
apabila akhirnya ia pergi?
Barangkali menarik juga mengetahui
segala apa yang akan kau lakukan
bila Nabi Muhammad datang secara pribadi
untuk menghabiskan beberapa saat
bersamamu!
Miftah F Rakhmat 1991
barang sehari atau dua
bila ia datang tak disangka-sangka
aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan?
Oh, aku tahu kau akan menyediakan
ruangan terbaik
bagi seseorang tamu yang begitu terhormat
Dan semua makanan yang akan kau
hidangkan padanya
adalah makanan yang terlezat
dan kau akan terus meyakinkannya,
bahwa kau senang dikunjunginya,
bahwa melayaninya di rumahmu sendiri
adalah suatu kebahagiaan tiada
bandingannya
Tetapi... apabila kau melihatnya datang,
akankah kau menemuinya di pintu
dengan tangan terulur menyambut
tamumu nan surgawi?
Atau...
akankah kau mengganti pakaianmu
sebelum kau menyilakannya masuk?
atau menyembunyikan majalah-majalah
dan mengedepankan Al-Quran?
Masih akankah kau menonton
film-film tak senonoh
yang ditayangkan pesawat TV-mu?
Dan membaca buku-buku yang kau baca?
Dan membiarkannya
mengetahui segala sesuatu
yang mengisi pikiran dan semangatmu?
Akankah kau mengajak Nabi bersamamu,
kemana pun kau pergi?
Atau, akankah kau, mungkin,
mengubah rencanamu
untuk berangkat sehari dua?
Akankah kau gembira memperkenalkannya
kepada kawan-kawan karibmu?
Atau akankah kau berharap
mereka menjauh
sampai kunjungannya usai?
Akankah kau senang
bila ia tinggal denganmu
untuk selama-lamanya?
Atau, akankah kau merasa lega dengan
kelegaan yang lapang,
apabila akhirnya ia pergi?
Barangkali menarik juga mengetahui
segala apa yang akan kau lakukan
bila Nabi Muhammad datang secara pribadi
untuk menghabiskan beberapa saat
bersamamu!
Miftah F Rakhmat 1991
Harumlah Namanya

KARTINI membuktikan satu hal yg mungkin klise: pena bisa jadi lebih tajam daripada pedang, lebih jauh melesat daripada peluru!
KARTINI membuktikan satu hal: menulis, walau itu hanya surat, ditujukan pada satu orang, bisa jadi inspirasi sebuah bangsa!
KARTINI mengajarkan satu hal: kau boleh saja tunduk, tapi jangan pernah menyerah, jangan berhenti menggugat dan menggugah!
KARTINI meneladankan satu hal: jika ada yg layak kau perjuangkan, berjuanglah, tak harus kau yg menikmati hasil perjuangan itu
- Hasan Aspahani-
dari sini
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
21 April 2011
Labels:
2011,
april,
harum,
hasan aspahani,
kartini,
me
4
kata-kata
Tentang Kembali Ke Salaf
Pertama-tama, yang Anda harus ketahui, berapa persen masyarakat Indonesia yang familiar dengan al-Quran? Yang melek sejarah Islam saja, berapa persen? Paling-paling Cuma 12% yang bisa baca dan familiar dengan al-Quran. Kita ini masih dalam marhalah (fase) dakwah, masih jauh dari Islam yang sebenarnya kita inginkan.
Yang kedua, (bila ada) teman-teman kita yang kembali ke gerakan salaf, itu bagus dan harus, sebab di dalam hadis dikatakan, “Khairu qurun, qurni tsummal ladzina yalunahum” (sebaik-baik masa adalah masaku dan masa-masa setelahku).
Tapi contoh (gerakan salaf) bukan berarti memelihara jenggot dan bercelana di atas mata kaki. Kalau sekadar ingin berjenggot atau bercelana seperti itu, ya silakan.
Kita harus mengetahui bahwa tiga abad pertama Islam itu adalah masa-masa kejayaaan dan keemasan, yaitu masuknya tsaqafah (kebudayaan) hadharah (peradaban), ilmu pengetahuan, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tajwid, ilmu qiraat, ilmu nahwu, sharaf, balaghah, kedokteran, astronomi, dengan tokoh-tokohnya: Ibnu Sina, al-Farabi, al-Kindi, al-Khauqa, al-Idrisi yang ahli ilmu bumi. Semua terjadi di abad ketiga Hijriah, di samping Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Bukhari, Muslim.
Jadi, kalau kita mau bicara kembali ke salaf, ayo, saya setuju, tapi ilmunya (peradabannya) bukan hanya simbol sorbannya, jenggotnya dan juga celana yang di atas mata kaki itu. Ayo kita kembali membangun kejayaan Islam seperti salaf
Aku suka sekali kutipan ini. Kata-kata dari Dr Said Aqil Siradj.
Menulis Cinta
kau minta aku menulis cinta
aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
kubolak-balik seluruh abjad
kata-kata cacat yang kudapat
jangan lagi minta aku menulis cinta
huruf-hurufku, kau tahu,
bahkan tak cukup untuk namamu
sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyut
(“Menulis Cinta”, Sitok Srengenge)
aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
kubolak-balik seluruh abjad
kata-kata cacat yang kudapat
jangan lagi minta aku menulis cinta
huruf-hurufku, kau tahu,
bahkan tak cukup untuk namamu
sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyut
(“Menulis Cinta”, Sitok Srengenge)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
16 April 2011
Labels:
me,
menulis cinta,
puisi,
sitok srengenge
5
kata-kata
Eliana
Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika itu memang cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali para pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia mengenggamnya erat-erat.
-- tereliye
-- tereliye
Ayo!
Berburu lomba, mencari kompetisi,
apapun itu! selama aku mampu.
beri aku seusuatu yang paling sulit, aku akan belajar.
apapun itu! selama aku mampu.
beri aku seusuatu yang paling sulit, aku akan belajar.
Langganan:
Postingan (Atom)


