Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnyaWayan Sunarta
Tampilkan postingan dengan label kompetisi blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompetisi blog. Tampilkan semua postingan
#13 : Tentang Puisi
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
18 Mei 2019
Labels:
2011,
kompetisi blog,
puisi,
quote,
sastra,
wayan sunarta
0
kata-kata
#17 : Rendezvous
dari gambar ini, sebenarnya aku hanya sekedar mengingat kembali. impian-impian masa kecilku.
aku masih hafal, lekukan-lekukan indah setiap sudut. ujung-ujung runcing tiap cekung. lurus-lurus ukuran kertas. tekukan pas tiap garis.
aku masih ingat, berapa derajat yang harus dipersiapkan untuk melontarkan pesawat ini, agar bisa terbang sempurna.
aku masih tak lupa, deru nafasku dan teman-teman kecil, memburu pesawat yang nanti akan jatuh kemana.
aku masih bisa melihat, dahulu, kecilku, mainan seperti ini begitu berarti.
ya, begitu berarti.
16 Mei 2011
17:11
ini tentang gambar apa yang menginspirasi. ah, aku hanya ingat kembali.
lingkaran - padi
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
16 Mei 2011
Labels:
2011,
kompetisi blog,
masa kecil,
me,
pesawat kertas
0
kata-kata
#16 : Lagu Gombal dari Padi
Tempat Terakhir
Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
Lama sudah kau menemani langkah kaki
Di sepanjang perjalanan hidup penuh cerita
Kau adalah bagian hidupku
Dan akupun menjadi bagian dalam hidupmu
Yang tak terpisah
Kau bagaikan angin di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang
Apa jadinya bila kau tak di sisi
Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian
Bila nanti aku kehilangan, mungkin itu hanya sesaat
Karena kuyakin kita kan bertemu lagi
Kau bagaikan angin di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang
Apa jadinya bila kau tak di sisi
Padi masih punya taji. Lagu ini buktinya. Musiknya masih ringan, walau teknik tetap dinomorsatukan. Aku suka liriknya. Meski gombalnya bukan main. Ciri khas lirik Padi adalah berat. Penuh tafsiran. Videonya asyeek banget. Animasi, dan masing-masing personel dapet satu avatar yang keren abis. Yang menarik mungkin Yoyo, karena ndak punya pasangan jadi dia sama anaknya aja.
Ah, lagu ini cihui banget dah. Guwe banget, saat ini.
16 Mei 2011
12:33
tempat terakhir - padi
bidadari!
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
2011,
hits baru,
kompetisi blog,
musik,
pagi,
single,
tempat terakhir,
video
0
kata-kata
#14 : Lucu
Bukannya setiap hari?
Mahasiswa: "Eh, eh, bawa kamera ya? Fotoin gua dong, mumpung gua lagi najis-najisnya!"
Mall di Jakarta, didengar oleh teman-temannya yang ingin mencuci si mahasiswa pakai tanah.
Sebegitu parahnya?
Graphic Designer: "Iya, nanti mau ngelayat orang sakit..."
Mall Of Indonesia, didengar semua rekan satu tim yang merasa orang itu berada di antara dua dunia.
Mall Of Indonesia, didengar semua rekan satu tim yang merasa orang itu berada di antara dua dunia.
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
12 Mei 2011
Labels:
2011,
kompetisi blog,
kutipan,
lucu,
ngupingjakarta
2
kata-kata
#13 : Tentang Puisi
Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnyaWayan Sunarta
#10 : Surabaia
Surabaya bisa menjadi akhir perjalanan yang hebat. Pagi itu aku datang. Naik Kereta Penataran dari Malang. Kereta penuh oleh anak-anak Pasuruan dan Surabaya, seusai nonton konser musik semalam di Malang. Bau badan mereka mengalahlan bau badanku yang sama-sama tak mandi juga. Ya, mereka lebih busuk.
Tapi aku selalu tertarik dengan orang lokal. Kursi kamipun penuh. Tiga-tiga kami saling berhadapan. Aku suka mengamati cara berbicara mereka. Aku suka mengamati orang lain, apalagi di daerah baru. Di daerah yang baru pernah kujejaki. Gaya biacara mereka lucu. Mungkin karena aku jarang mendengarkannya. Pelan-pelan aku menterjemahkannya dalam diriku. Seakan ada kamus internal dalam diriku. Biar saja. Mata mereka kadang melirikku yang sedang asyik memperhatikan mereka. Anak-anak usia sekolah menengah, pikirku.
Oh ya, toh hari itu hari minggu. Bisa saja mereka menonton konser malam minggu, kemudian minggu pagi pulang, dan senin kembali ke sekolah.
Kereta Penataran memang murah. Malang-Surabaya ditempuh dengan perjalanan 2,5 jam dengan membayar tiket cukup 4000 rupiah. Sayang, dipagi itu aku capek bukan main. Semalam jalan bersama Adin hingga larut. Jadi, aku tak banyak melihat kanan kiri jalan. Tapi, pemandangan porong takkan terlewati. Ini yang penting, kata Azis.
Surabaya bisa jadi titik tolakku. Menuju ke sebuah sesuatu. Apa itu? Entah. Aku tak mau bercerita disini.
10 Mei 2011
06:04
Creep'in - Norah Jones
Rasanya ingin terbang saja! Cek Imel!
#7 : Prisia Nasution
Sesekali saja, aku boleh mengagumi artis, dan itu artis televisi, maka aku sebut saja, Prisia Nasution.
Aku kenal dia (dia kenal aku ndak ya? haha) waktu pertama kali di SCTV. Sering muncul di layar FTV SCTV. Aktingnya keren. Gayanya yang tomboi selalu jadi pesona. Haha. Kalo wajah jangan ditanya dah.
Mantan atlit silat n basket pula. Wow keren. Dulu pernah jadi presenter olahraga di ANTV. Yang aku suka juga jarang muncul di infotainment, tanda artis baik-baik.
Kenapa Prisia?
Kalau sekedar cantik itu banyak. Tapi cantik, berprestasi, pinter, gayanya oke, itu sedikit. Prisia salah satunya.
Ah, lebay kau hill!
18 April 2011
10:28
Haha, malu abg nulis ginian Mel..
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
15 menit,
2011,
kompetisi blog,
perenungan,
prisia nasution
7
kata-kata
#6 : Kampanye Islam
Mengkampanyekan Islam
Salah satu kesalahan paradigma dalam berdakwah adalah menyampaikan kebenaran kepada orang yang sudah benar. Itu sama saja menuangkan kopi pada cangkir yang sudah penuh. Memang, bisa jadi itu sebagai pengingat kebaikan, tapi alangkah lebih bijaknya lagi apabila bisa merangkul sebanyak mungkin orang lain, untuk mengetahui bahwa ada kebenaran dan kebaikan Islam.
Analogi ini persis seperti partai politik yang hanya kampanye di kalangan massa-nya sendiri. Tak perlu disuruh mengikutipun mereka sudah pasti memilih partai itu. Yang diperlukan sesungguhnya adalah berkampanye di tempat-tempat yang belum pernah dijamah partai, atau bila mungkin malah kampanye dimassa partai lain. Inilah kampanye yang sebenarnya.
Pun dengan Islam. Sebuah dosa sosial namanya, jika kita tidak berdakwah, tidak berkampanye kepada orang lain yang sebenarnya memang membutuhkan Islam. Bagaimana bisa merangkul anak jalanan untuk sholat, jika sholat saja masih memilih-milih masjid? Bagaimana bisa mengajak pelacur taubat, jika melihat orang lain saja kadang masih meremehkan? Bagaimana mampu membuat preman taubat, jika bergaul dengan orang saja memisah-misahkan diri? Bagaimana bisa menceramahi orang-orang bejat, jika kita sendiri sudah tidak bisa masuk kedalam lingkungan tersebut? Bagaimana mau membuat perubahan besar untuk Islam, jika kita masih terpaku pada polarisasi kelompok, tidak mau membaur, dan menerima kebaikan dari orang lain?
Bahkan, hidup kita itu sejatinya adalah kampanye atas apa yang kita yakini. Kampanye kehidupan spiritual kita. Orang akan menilai apa yang kita lakukan dengan mengkomparasikan, keyakinan apa yang kita anut. Berhati-hatilah.
23 April 2011
05:31
Promise Her Moon - Mr Big
pagi ini indah sekali, saatnya bersepeda.
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
2011,
islam,
Kampanye,
kompetisi blog,
me,
perenungan
5
kata-kata
#5 : Merasa Tua
Merasa Tua
Ternyata aku sudah berumur 23 tahun. Umur yang sudah tak bisa dibilang remaja lagi. Dulu, aku begitu takjub kepada anak muda dengan usia 23 tahun. Rasanya memang pada umur segitulah mereka banyak berkarya. Aku melihat Sjahrir, Soekarno, Chaerul Saleh, Wikana juga Sukarni, apa yang sudah mereka lakukan diusia 23 tahunnya. Luar biasa.
Kemudian aku melihat masa laluku. Apa yang sudah kulakukan selama ini? Apa hanya sampah? Yang sudah sepantasnya dibuang saat ini? Atau emas, yang bernilai jual tinggi? Aku sendiri masih bingung memetakannya.
Teman baikku pernah mengirim pesan sebagai berikut, "Andai aku bisa balik ke masa SMP dengan wawasan dan karakter seperti sekarang. Masa muda memang istimewa. Sayang sekali untuk disia-siakan.". Aku mengerti benar. Anak muda sekarang (meski tak semuanya) cukup banyak memprihatinakan dikacamataku. Bergaul tidak jelas, mengikuti mode tanpa bisa menjadi diri sendiri, pacaran tidak karuan, dan hal-hal tak jelas lainnya.
Aku sendiri sudah merasa tua. Merasa sudah waktunya melewati hal dengan lebih serius. Meski tentu saja ada canda didalamnya. Intinya adalah melewati segala hal dengan penuh tanggung jawab. Menurutku itulah yang disebut kedewasaan.
Ya, semoga yang tua ini, masih bisa berjiwa muda. Mencoba melakukan banyak hal, semangat tanpa batas, tidak takut tantangan, memiliki idealisme dan mencetak sejarah baik. Ah, indahnya...
7 Mei 2011
08:22
21st Century Kids - Jammie Cullum
malem minggu, saatnya dirumah saja.
Ternyata aku sudah berumur 23 tahun. Umur yang sudah tak bisa dibilang remaja lagi. Dulu, aku begitu takjub kepada anak muda dengan usia 23 tahun. Rasanya memang pada umur segitulah mereka banyak berkarya. Aku melihat Sjahrir, Soekarno, Chaerul Saleh, Wikana juga Sukarni, apa yang sudah mereka lakukan diusia 23 tahunnya. Luar biasa.
Kemudian aku melihat masa laluku. Apa yang sudah kulakukan selama ini? Apa hanya sampah? Yang sudah sepantasnya dibuang saat ini? Atau emas, yang bernilai jual tinggi? Aku sendiri masih bingung memetakannya.
Teman baikku pernah mengirim pesan sebagai berikut, "Andai aku bisa balik ke masa SMP dengan wawasan dan karakter seperti sekarang. Masa muda memang istimewa. Sayang sekali untuk disia-siakan.". Aku mengerti benar. Anak muda sekarang (meski tak semuanya) cukup banyak memprihatinakan dikacamataku. Bergaul tidak jelas, mengikuti mode tanpa bisa menjadi diri sendiri, pacaran tidak karuan, dan hal-hal tak jelas lainnya.
Aku sendiri sudah merasa tua. Merasa sudah waktunya melewati hal dengan lebih serius. Meski tentu saja ada canda didalamnya. Intinya adalah melewati segala hal dengan penuh tanggung jawab. Menurutku itulah yang disebut kedewasaan.
Ya, semoga yang tua ini, masih bisa berjiwa muda. Mencoba melakukan banyak hal, semangat tanpa batas, tidak takut tantangan, memiliki idealisme dan mencetak sejarah baik. Ah, indahnya...
7 Mei 2011
08:22
21st Century Kids - Jammie Cullum
malem minggu, saatnya dirumah saja.
#4 : Dipilihkan
Aku semakin bersyukur atas pilihan-pilihanku hingga saat ini. Aku semakin merasa bahwa pilihan-pilihanku adalah ilham dari Tuhan. Ya, lewat bahasa yang tidak aku mengerti sampai saat ini.
Terlalu banyak pilihan-pilihan dalam kehidupan ini. Dan tentu takkan mampu aku terjemahkan semua dalam kata. Untuk saat ini aku ingin berbicara masalah politik.
Beruntungnya aku memilih BP sebagai bupati Banyumas, meski pada akhirnya tak jadi. Yang jadi justru kuda hitam yang memang hitam dari Patikraja, Mardjoko. Sampai saat inipun aku bisa jamin, para pemilih BP merasa pilihannya benar. Bahkan Gus Anam, Kiai dari Pondok Pesantren Leler, yang memang istikharahnya jatuh pada BP.
Karena hingga saat ini, kepemimpinan Mardjoko memang tak menghasilkan apapun kecuali Alun-alun Purwokerto yang berubah menjadi Alun Purwokerto, Eks terminal lama yang berubah menjadi taman kota berbayar, pembangunan hotel mewah bintang 4 yang tingginya menjulang sendirian, hingga reshuffle kabinetnya di dinas-dinas Pemda yang sangat kontroversial.
Baturraden, ikon pariwisata Banyumas sepertinya tak ada perubahan. Dialami sendiri oleh Pak Rasdi, penjual somay langgananku. Dia yang bilang bahwa Baturrden yang dia kunjungi tiap tahun, untuk menyenangkan anak istrinya tak ada perubahan apapun.
Kata siapa ada reformasi didalam birokrasi pemda? Itu omong kosong, mlompong. Perijinan pasang spanduk saja bisa membutuhkan waktu berhari-hari. Ribet dibuat-buat. Dinas Pendidikan bukan main jutek dan berbelit-belit. Mengurus ijin training, bisa jadi pekerjaan yang membosankan.
Janji investasi dari luar pun hanya buih di lautan saja. Tak ada realisasinya. Membusa diawal, kemudian hanyut tertelan ombak. Banyumas menjadi kabupaten tanpa tema. Tak jelas arahnya mau kemana. Mau jadi kota perdagangankah? industrikah? pariwisatakah? pendidikankah? atau malah justru jadi kota keripik? Hah! Semakin jengah saja.
Masyarakat kini sudah dijamin tidak mau memilih Mardjoko lagi. Aku yakin mereka menyesal. Menyesal menukarkan uang beberapa puluh ribu rupiah dengan janji palsu selama 5 tahun.
Aku semakin percaya, bahwa pilihanku ke BP tidak salah. Ya, mesti dia kemudian tak jadi bupatinya.
Dan, aku juga memilih Jusuf Kalla untuk jadi presidennya, bukan SBY. Aku juga merasa benar kali ini. Sungguh-sungguh benar.
10 Mei 2011
08:36
Sudahlah - Padi
Sudah-sudah, selanjutnya siapa yang memimpin? Silahkan. Rakyat sudah apatis.
#3 : Sajak Rindu
Aku rindu berdiskusi denganmu,
tentang nasionalisme, bukan saja kulit, tapi masuk kedalam sumsum tulang.
Apa beda antara negara dengan bangsa, hingga ketidaksetujuanmu
atas kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini.
Aku rindu berinteraksi denganmu,
kami mengeja satu persatu bahasa, kemudian diartikan bersama
menterjemahkan satu persatu makna hidup dan kehidupan.
Apa arti 'ini', apa arti 'itu'?
Aku rindu berdebat dengamu,
akan karya sastra siapa yang terbaik?
Pram? Ahmad Tohari? Leo Tolstoy? Eiji Yoshikawa? Ernest Hemmingway?
Akan siapa peraih nobel sastra selanjutnya.
Aku rindu mengigau denganmu,
tentang musik apa yang kali ini kau sukai.
Apa itu Jazz? Bossa? Blues? Slow Ritme?
Apakah ST 12 akan menjadi pembuka Iron Maiden?
Aku rindu berbantah-bantahan denganmu,
akan perjalanan mana saja yang sudah masing-masing lalui,
sudah kemana? Dapat apa? Bertemu siapa? Pengalaman unik apa?
Lalu, hendak kemana kami selanjutnya.
Aku rindu meracau denganmu,
melupakan masa-masa lalu, meski tak bisa,
mencintai hari ini, saat ini, tempat ini, pertemuan ini,
dan, memimpikan masa depan, akan menjadi apa kelak.
Aku rindu mengacau denganmu,
kejahilan-kejahilan anak muda,
keusilan spontan, kenakalan yang naif,
dari yang membuat emosi, hingga yang menciptakan gelak tawa.
Aku rindu bertemu denganmu.
Membicarakan apapun, denganmu, tak pernah tak indah.
10 Mei 2011
10:05
Menanti Keajaiban - Padi
Hingga saat ini, entahlah. Mbuh ah!
tentang nasionalisme, bukan saja kulit, tapi masuk kedalam sumsum tulang.
Apa beda antara negara dengan bangsa, hingga ketidaksetujuanmu
atas kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini.
Aku rindu berinteraksi denganmu,
kami mengeja satu persatu bahasa, kemudian diartikan bersama
menterjemahkan satu persatu makna hidup dan kehidupan.
Apa arti 'ini', apa arti 'itu'?
Aku rindu berdebat dengamu,
akan karya sastra siapa yang terbaik?
Pram? Ahmad Tohari? Leo Tolstoy? Eiji Yoshikawa? Ernest Hemmingway?
Akan siapa peraih nobel sastra selanjutnya.
Aku rindu mengigau denganmu,
tentang musik apa yang kali ini kau sukai.
Apa itu Jazz? Bossa? Blues? Slow Ritme?
Apakah ST 12 akan menjadi pembuka Iron Maiden?
Aku rindu berbantah-bantahan denganmu,
akan perjalanan mana saja yang sudah masing-masing lalui,
sudah kemana? Dapat apa? Bertemu siapa? Pengalaman unik apa?
Lalu, hendak kemana kami selanjutnya.
Aku rindu meracau denganmu,
melupakan masa-masa lalu, meski tak bisa,
mencintai hari ini, saat ini, tempat ini, pertemuan ini,
dan, memimpikan masa depan, akan menjadi apa kelak.
Aku rindu mengacau denganmu,
kejahilan-kejahilan anak muda,
keusilan spontan, kenakalan yang naif,
dari yang membuat emosi, hingga yang menciptakan gelak tawa.
Aku rindu bertemu denganmu.
Membicarakan apapun, denganmu, tak pernah tak indah.
10 Mei 2011
10:05
Menanti Keajaiban - Padi
Hingga saat ini, entahlah. Mbuh ah!
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
15 menit,
kompetisi blog,
perenungan,
puisi,
Sajak Rindu,
sastra
4
kata-kata
#1 : Musik Asik
Aku memang sedang suka mendengarkan Kiai Kanjeng. Terkadang akustiknya John Mayer, versi live-nya Norah Jones, atau edisi best of the best-nya Naif. Sesekali sedikit bossa dengan mendengarkan Bossanova Jawa, 3 album. Atau disela-sela bersepeda aku ingin rilex sambil ber-reggae bareng Bob Marley.
Boleh saja.
Tapi jika ditanya lagu siapa yang paling menginspirasiku? Maka aku akan menjawab gagah, Padi.
Sampai saat ini aku masih terkagum-lagum dengan musik-nya Padi. Meski beberapa waktu terakhir sedikit kecewa dengan Yoyok yang kena narkoba. Tapi tak apa. Yang penting Padi jangan sampai bubar. Hehe.
Permainan Padi tak pernah tak baik. Dari segi komposisi, menurutku band ini adalah band matang. Vokal Fadly yang punya karakter. Lembut namun bisa sesekali menaik tanpa ancang-ancang. Tinggi namun bisa berat. Gitaris Piyu jangan ditanya. Aksi panggung memang kadang terlihat biasa. Namun permainannya sempurna. Rindra membetot bass-nya dengan mantap. Sesekali dalam setiap lagu ada aksi solonya. Atau memang permainannya cukup susah, namun enak didengar. Ari, jagoan rhytm, memainkan efek dengan ciamik. Menambah syahdu setiap lagu Padi. Yoyok pada drum sepertinya tak pernah setengah-setengah memainkan alatnya. Pukulannya yang keras penuh teknik selalu dilakukan.
Lagu-lagu Padi tak pernah terkesan 'vulgar'. Lirik-liriknya penuh makna dalam. Kiasan disana-sini, namun indah didengar. Tak seperti lagu sekarang-sekarang ini. yang tak usah ditafsirkanpun kita sudah tahu artinya.
Bisa jadi ini hanya penilaian subyektifku. Tapi bagaimana kalau ini sudah menjadi opini publik? Apalagi dengan kekompakan antar personil yang sudah tidak diragukan. Dari awal berdiri, tahun 1997, hingga kini, Padi masih dengan formasi lama. Dan semoga begitu hingga akhir nanti.
Lagu yang kusukai? Semua. Dan terlebih "Perjalanan Ini". Lagu yang selalu membuatku bisa menyanyi disetiap perjalanan. Kemanapun itu, dengan moda tranportasiapapun itu, dengan siapapun itu, dan kapanpun itu.
Padi, seperti sihir bagiku. Musik-musiknya hampir menyatu dengan nafasku. Dan begitulah, karena bermain musik itupun membutuhkan totalitas, bukan setengah-setengah.
6 April 2011
09:17
Padi - Kasih Tak Sampai
Jika ingat Padi, aku ingat Iwan, teman baikku yang Sobat Padi.
Boleh saja.
Tapi jika ditanya lagu siapa yang paling menginspirasiku? Maka aku akan menjawab gagah, Padi.
Sampai saat ini aku masih terkagum-lagum dengan musik-nya Padi. Meski beberapa waktu terakhir sedikit kecewa dengan Yoyok yang kena narkoba. Tapi tak apa. Yang penting Padi jangan sampai bubar. Hehe.
Permainan Padi tak pernah tak baik. Dari segi komposisi, menurutku band ini adalah band matang. Vokal Fadly yang punya karakter. Lembut namun bisa sesekali menaik tanpa ancang-ancang. Tinggi namun bisa berat. Gitaris Piyu jangan ditanya. Aksi panggung memang kadang terlihat biasa. Namun permainannya sempurna. Rindra membetot bass-nya dengan mantap. Sesekali dalam setiap lagu ada aksi solonya. Atau memang permainannya cukup susah, namun enak didengar. Ari, jagoan rhytm, memainkan efek dengan ciamik. Menambah syahdu setiap lagu Padi. Yoyok pada drum sepertinya tak pernah setengah-setengah memainkan alatnya. Pukulannya yang keras penuh teknik selalu dilakukan.
Lagu-lagu Padi tak pernah terkesan 'vulgar'. Lirik-liriknya penuh makna dalam. Kiasan disana-sini, namun indah didengar. Tak seperti lagu sekarang-sekarang ini. yang tak usah ditafsirkanpun kita sudah tahu artinya.
Bisa jadi ini hanya penilaian subyektifku. Tapi bagaimana kalau ini sudah menjadi opini publik? Apalagi dengan kekompakan antar personil yang sudah tidak diragukan. Dari awal berdiri, tahun 1997, hingga kini, Padi masih dengan formasi lama. Dan semoga begitu hingga akhir nanti.
Lagu yang kusukai? Semua. Dan terlebih "Perjalanan Ini". Lagu yang selalu membuatku bisa menyanyi disetiap perjalanan. Kemanapun itu, dengan moda tranportasiapapun itu, dengan siapapun itu, dan kapanpun itu.
Padi, seperti sihir bagiku. Musik-musiknya hampir menyatu dengan nafasku. Dan begitulah, karena bermain musik itupun membutuhkan totalitas, bukan setengah-setengah.
6 April 2011
09:17
Padi - Kasih Tak Sampai
Jika ingat Padi, aku ingat Iwan, teman baikku yang Sobat Padi.
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
6 April 2011
Labels:
2011,
kompetisi blog,
me,
musik,
padi,
pemikiran,
perenungan,
perjalanan ini
7
kata-kata
Langganan:
Postingan (Atom)



