Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Ibu -Zawawi Imron
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
21 Juni 2011
Labels:
ibu,
madura,
puisi,
sastra,
zawawi imron
0
kata-kata
hari #27 : tentang ibu

#tentang ibu
bolehkah aku berpuisi tentangmu?
tentang matamu yang Indah
tentang alismu yang Indah
tentang hidungmu yang Indah
tentang bibirmu yang Indah
tentang senyummu yang Indah
tentang lentik jarimu yang Indah
tentang ramahmu yang Indah
tentang sopanmu yang Indah
tentang tawamu yang Indah
tentang sedihmu yang Indah
tentang segarmu yang Indah
tentang sakitmu yang Indah
tentang namamu yang Indah
tentang dirimu, yang memang
benar-benar Indah
nb : Ini untuk ibuku. Yang pandai memasak, dan tak pernah lelah menyuruhku mandi sore. Makasih bu, bakti seumur hidupkupun takkan mampu membayar satu detik pengorbananmu untukku. Sungguh.
130211
21:34
together again - dave koz
banyak nyamuk.
Ulang Tahun Seluruh Ibu di Dunia
IBU - Iwan Fals
kepada Ibu,
yang rela berpayah-payah melahirkan kita,
kepada Ibu,
yang rela mengasuh kita hingga dewasa,
kepada Ibu,
yang rela panas terik melindungi kita,
kepada Ibu,
yang dengan sepenuh hati mendidik kita,
kepada Ibu,
sungguh, baktiku takkan mampu membayar semuanya...
semangat hari Ibu!
buwat ibuku, ibu juara satu seluruh dunia...
aku juga turut berduka, ibu dari salah satu sahabat terbaikku meninggal pagi ini.
aku tak tahu bagaimana rasanya.
dia hanya berkata "padahal, aku sudah siapkan kejutan buwat ibu di hari ini."
sabar ya Ndrat.
dari : sini
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
kepada Ibu,
yang rela berpayah-payah melahirkan kita,
kepada Ibu,
yang rela mengasuh kita hingga dewasa,
kepada Ibu,
yang rela panas terik melindungi kita,
kepada Ibu,
yang dengan sepenuh hati mendidik kita,
kepada Ibu,
sungguh, baktiku takkan mampu membayar semuanya...
semangat hari Ibu!
buwat ibuku, ibu juara satu seluruh dunia...
aku juga turut berduka, ibu dari salah satu sahabat terbaikku meninggal pagi ini.
aku tak tahu bagaimana rasanya.
dia hanya berkata "padahal, aku sudah siapkan kejutan buwat ibu di hari ini."
sabar ya Ndrat.
"Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu. Dan jangan bikin satu kalipun Ibumu menangis karenamu Kecuali engkau punya keberanian untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu. Kalau ibundamu menangis, para Malaikat menjelma jadi butiran-butiran air matanya. Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu". -ean-
dari : sini
Langganan:
Postingan (Atom)