Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan

#13 : Tentang Puisi

Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya

Wayan Sunarta

Pesan Sederhana


Pesan paling sederhana yang pernah Ahmad Tohari katakan padaku adalah,

"Pelajarilah ilmu-ilmu dasar, itu penting bagi penulisan sastramu!".


Ditengah kesulitan seperti apapun, kita tetap diberikan jalan kemudahan
Ditengah hujan deras seperti apapun, kita diberi makrifat untuk bisa melewati sela-sela air hujan
Ditengah kegelapan seperti apapun , mripat kita sangat peka terhadap adanya cahaya, meski hanya secercah,
Ditengah kebingungan seperti apapun, kita tetap tegak dengan pikiran yang objektif, hati yang muthmainah

amin ya Allah..

18 November 2011
05:30
pagi ini, ah..

“Barong! Aku Bento”



Namaku Barong, rumahku langit
Hidup berjuang, memburu belantara
Aku mau jujur, kucari hidup
Ayo... oh Bento, Barong belantara!
Ooh...ooh... memburu harmoni cinta
Ooh...ooh... ayo... menggelinding... berjuang!
Berani jantan, sadar berontak
Sekali lirik kau jatuh cinta

Bisnisku berjuang
Lawan apa saja yang penting
Aku menang kucing senang kurcari kenyang
Persetan tikus politik, protes!
Karena ku selalu setia dengan cinta...oooh...oooh..
Memburu doa, Barong merapi
Aku Bento, Oh Barong Maridjan

Mengoceh kebenaran
Khotbah keadilan, sarapan hariku
Aksi kucing lapar
Makan apa saja...ooh jagonya
Maling papan atas, bandit kelas tikus
Itu mangsa kucing!
Siapa mau ikut berjuang?
Bongkar sarang tikus

Aku Bento, Barong belantara
Aku Bento, kucing gungu! Ayo makan tikus
Barong Marijan, cinta belantara... Ooh... Ooh... Ooh... Oooh
Aku Bento, kucing gunung! Ayo makan tikus!
Barong Maridjan, cinta belantara... Ooh.. Ooh.. Ooh... Ooh
Merapiku murka!


(Kantata Barock)



kita semakin apatis dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang berkuasa saat ini. perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa kita menciptakan sendiri. membangun desa, salah satu usaha yang paling relevan saat ini. saya percaya, novel ini bisa jadi api pemicu anak muda untuk yakin bahwa kekuatan desa bisa jadi gerakan perubahan. wajib baca!

- rekomendasiku terhadap novel 'Pemuda Republik', karya Suyatna Pamungkas, teman baikku.

---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

tafsir film


Sampai sekarang aku belum nonton film 'Sang Penari'. Pertama tentu saja karena belum ada film-nya di bioskop di Purwokerto, selain itu aku memang belum ada keinginan untuk menontonnya.

Jauh-jauh hari sebelum penayangan perdana 'Sang Penari' di bioskop, aku berkunjung santai ke rumah Ahmad Tohari. Kami mengobrol tentang sastra, Banyumas, film Ronggeng Dukuh Paruk, pemerintah dan banyak hal.

Pak Tohari, beliau biasa disapa, mengatakan hal yang sangat penting bagiku. Bahwa kita harus mempunya dua rumah apresiasi dalam pikiran kita. Yaitu apresiasi teks dan apresiasi visual.

Film yang sudah dibuat, itu adalah karya sutradara, bukan karya beliau. Itu adalah hasil tafsiran sutradara dari buku teks Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah dia baca. Jadi semata-mata tidak bisa disamakan dengan teks aslinya.

Kata dalam sastra, tidak semata-mata bisa diterjemahkan dalam visual semua. Novel setebal 408 halaman ini, tidak mungkin hanya divisualisasikan secra detail dalam 110 menit di layar lebar. Tentu akan banyak penyusutan. Jadi, jangan terlalu banyak berharap film ini sama dengan teksnya.

Meski demikian, kita harus tetap mengapresiasi, kata beliau. Bagaimanapun juga ini karya seni. Kemudian, sewaktu ku tanya, apakah beliau mau menghadiri pemutaran perdananya, beliau menjawab pelan, bahwa beliau belum tega melihatnya.

13 november 2011
12:57
tadi pagi ngobrol lagi dengan beliau, tapi hanya sebentar,
pak Ahmad Tohari mau kondangan.

papua merdeka


setelah lama berinteraksi dengan elias, temanku dari papua, aku semakin yakin, papua harus merdeka. mungkin bagi sebagian orang itu hal yang ekstrim. tapi bagiku itu masuk akal.

papua itu luas. kaya. dan luar biasa. tanpa ada kitapun mereka bisa hidup makmur. emas dimana-mana. hasil alamnya luar biasa. belum hasil lautnya, wow. pariwisatanya indah-indah. adatnya masih dijaga benar-benar.

bisa dibilang, justru pemerintah pusat itu semacam parasit dipapua. maunya nyedot kekayaannya aja, tapi ndak mau berbagi dengan daerah. pemerintah pusat dengan gaya sengaknya cuma ngambil hasil alamnya aja dari papua. tapi ndak peduli dengan kemiskinan yang ada disana.

makanya, ada benernya. bisa jadi papua itu jajahan indonesia. ya, rakyat papua itu merasa dijajah oleh indonesia. kata elias, anak papua sejak kecil sudah ditanamkan dalam pikirannya, bahwa papua harus merdeka. lewat lagu, lewat propaganda dan mungkin lebih lewat teladan. liat aja, SBY dateng ke papua itu udah kayak George Bush dateng ke bogor. bukan maen filterisasi-nya.

pemerintah indonesia itu norak bukan main. aksi demonstrasi kecil biasa aja, tentara ngerahin baracuda, tank, tni seragam tempur. padahal yang demo anak mahasiswa uncen, cuma bawa poster, spanduk, banter-banternya sumpit.

ya, bisa jadi, aku setuju aja kalo papua merdeka. biar mereka lebih bisa mandiri dan menentukan nasibnya sendiri.

jadi, kalo aku berkunjung ke rumah tanteku di merauke, atau ketempat elias di serui, aku harus pakai paspor untuk kesana. haha. asik juga ya.

bisa jadi, SEA Games kelak, sepakbola kita kalah dengan papua. ketika kurnia mega tak mampu membendung tendangan dari titus bonay...

13 november 2011
18:34
ingat kaka eli, mari maga-maga kaka...

sebuah kutipan

SBY prihatin. SBY memprihatinkan.

(Hilmy Nugraha, Juli di kandang biru)

Quote of The Day

Ada banyak hal yang belum kita lakukan untuk orang lain disekitar kita. Selama ini kita sibuk menyelami diri kita sendiri.

(Hilmy Nugraha, di Juli)

Five for Fighting "100 Years"


ah..


ah, aku jatuh cinta pada benda ini..
bentuk proporsional antara satu garis dengan garis yang lain.
lekuk yang sempurna
aeordinamis
kertas tipis membalut mengindahi semuanya
benang melawan angin

ah, aku suka layang-layang,
karena dibalik layang-layang
ada langit sore
indah,
indah sekali.

"Jangan ragu ragu
Mengejar yang kau mau
Masih banyak waktu
Untuk cita-citamu"

(Hilmy Nugraha, Juli di Bong China)

Untuk E

Terkadang, peristiwa kecil dan sederhana dalam hidup kita, bisa merubah hidup kita selamanya.

(hilmy nugraha, juli 2011)

Hakikat Belajar


Semakin banyak kita belajar, maka semakin tahu bahwa banyak hal yang kita belum pelajari. Belajar itu menanamkan rasa di alam bawah sadar kita. Lebih abadi, daripada menulis ribuan kata pada buku catatan.

(Hilmy Nugraha, Juli 2011)

Rumah Impian

Semalam atau mungkin lebih tepatnya tadi pagi, aku nonton "Satu Jam Saja", sebuah acara talkshow yang membedah kehidupan satu tokoh di TVOne. Sebenarnya tv-ku sedang tidak sehat-sehatnya, apalagi TvOne. Bures. Gambar ndak jelas. Ya, mungkin ini salah satu cara Tuhan menghindarkan keluarga kami dari racun berita yang diatur itu, hahaha. Tapi jadinya malah pada nonton sinetron. Sami mawon.

Tapi aku ndak akan bahas tentang acara-acara tv yang semakin ndak bermutu ini. Yang aku bahas adalah tentang rumah, konsep rumah. Di acara semalem, sedang bahas tentang kehidupan Djoko Pekik, pelukis terkenal dari Jogja. Setahuku, Djoko Pekik itu pelukis yang karyanya dihargai tinggi oleh orang-orang luar negeri. Makanya mungkin tajuk acara itu menjadi "Pelukis 1 Milliar".

Yang aku kagumi bukanlah lukisannya, atau cara dia mendapatkan filosofi hidup melalui minum arak, melainkan rumahnya yang luas. Rumahnya di Bantul itu berukuran luas mencapai 3 hektar. Diapit oleh 2 sungai. Ada aula, rumah, tempat gamelan, tempat sepedaan, sampai tempat pertunjukkan seni. Wuih.

Ya, sedari SMK dulu, aku sering sharing sama sahabat baikku, Henny, tentang impian rumah masing-masing. Kalau Henny, dia pengen punya rumah yang ada kebun klapanya, haha. Karena menurut dia, pohon kelapa itu investasi yang besar. Kalo aku, ya rumahku yang penting di desa. Hidup merakyat, seperti orang biasa. Menghindari riuhnya kota. Dan syukur-syukur bisa kayak rumahnya Cak Nun, yang setiap bulan ada pengajian rutinnya, atau rumahnya Dik Doank, yang selalu ramai anak-anak bermain di Kandank JuranK Doank, wuih, bisa jadi.

Tanah luas, ada kebun, taman bermain, menanam padi sendiri, hasil kebun sendiri, bisa main layangan di halaman rumah, ada kolam ikan, sejuk, lereng gunung, aula kecil maen gamelan.

Bismillah....

09:04
2 Juli 2011
Bendera - Cokelat
Lereng gunung slamet?

Tak Tergenggam

Cinta, ditaburkan dari langit
Pria dan Wanita menengadahkan tangan
Berebut-rebut menangkapnya
Banyak yang mendapat seangkam
Banyak yang mendapat segenggam
Semakin banyak
Semakin tak tergenggam

-- andrea hirata

Akar Rumput

Mungkin bagianku tak selalu harus di atas. Bekerja di bawah pun sudah menjadi kesenangan bagiku. Kerjaku boleh di akar rumput, tapi jaringanku adalah batang-batang besar yang tersebar dimana-mana.

(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Oseng Mercon

Untuk M

Oseng-oseng mercon itu terasa panas.
Berdiri dihadapanku kawan-kawan sepermainan.
Merasakan osen mercon cuma sampai ke mulut,
paling jauh ya tenggorokan hingga lambung,
tapi tidak aku.
Sampai ke hati.

Kabar berita begitu cepat,
diawal berbahagia juga aku,
lama tak dengar suara plus kabar darimu,
diakhiri dengan kabar yang komplikasi
dilematis, kontroversi, dan apalah namanya

kau menikah, akhir bulan ini.

Oseng-oseng mercon, meledak seketika, di mulut, lambung, otak hingga ke hati.

7 Juni 2011
Menanggapi bulan lalu, yang, membahagiakan, ya?

Gelap

Tetaplah menjadi gelap, karena disitulah kau mengerti makna cahaya
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

#20 : Sugeng Tanggap Warsa, Cak Nun!


"Allah SWT memerintahkan pnjg perjuangan, pnjg berkah & pnjg tablighul-umur atas kita semua yg setia bermaiyah dengan-Nya dg Rasulullah saw serta dg seluruh makhluk dan alam asuhan Beliau berdua. Terimakasih utk Maiyah 27 Mei 2011"
-- Cak Nun

nb : Di 27 Mei, Selamat Hari Lahir untuk Cak Nun, berkah umurmu, berkah hidupmu. Aku terinspirasi banyak darimu...