Tampilkan postingan dengan label quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quote. Tampilkan semua postingan

#13 : Tentang Puisi

Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya

Wayan Sunarta

#43 : menerima hidup


Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengert, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.
--Tere Liye, novel 'Daun yang jatuh tak pernah membenci angin'

#42 : sebabakibat


"Bagi manusia, hidup itu juga sebabakibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkarmelingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.
Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang akan mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik ke orang lain.
Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, seseorang yang tahu bahwa kebaikkan bisa merubah siklusnya, maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik. Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia, mungkin apa yang dilakukannya tidak ada harganya bagi orang lain, tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin. Siapa peduli? Tetapi langit peduli.”
--Tere Liye, novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

#37 : untuk yang muda


Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.
Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur. (Tere Liye)

Kita belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran di mulut kita
sendiri dengan perbuatan nyata, kita sudah merasa menjadi pejuang yang paling pejuang. Kemudian seiring dengan itu kita menumpuk ilmu, terus memfestivalkan kata kebenaran di bibir dan kepalan tangan kita, sehingga kita punya utang sangat banyak kepada nilai kebenaran yang kita ucap-ucapkan. 

-Cak Nun-

manusia


“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia."


(Catatan Harian 9 Oktober 1969)
— Ahmad Wahib

“Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.”
― Emha Ainun Nadjib, OPLeS: Opini Plesetan

Gandhi's Quote


7 hal yang akan menghancurkan kita : kaya tanpa kerja, kesenangan tanpa nilai moral, pengetahuan tanpa watak, agama tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, bisnis tanpa etika

che

"This isn't a tale of derring-do, nor is it merely some kind of 'cynical account'; it isn't meant to be, at least. It's a chunk of two lives running parallel for a while, with common aspirations and similar dreams. In nine months a man can think a lot of thoughts, from the height of philosophical conjecture to the most abject longing for a bowl of soup – in perfect harmony with the state of his stomach. And if, at the same time, he's a bit of an adventurer, he could have experiences which might interest other people and his random account would read something like this diary."

 (Ernesto Guevara, The Motorcycle Diaries)

GD

GUS DUR: Saat saya mengalami kehilangan sebagian besar penglihatan, dan mengalami penyakit berat setahun sebelum pelantikan presiden, saya pikir yang utama adalah saya harus menerima nasib yang telah diberikan Allah kepada saya. Namun saya juga tahu bahwa saya harus melakukan yang terbaik untuk menangani keadaan. Oleh karena itu, saya tidak pernah menyesali nasib saya. Sebaliknya, saya terus melakukan berbagai usaha untuk mencegah diri saya berhenti bekerja.



---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

sebuah kutipan

SBY prihatin. SBY memprihatinkan.

(Hilmy Nugraha, Juli di kandang biru)

Quote of The Day

Ada banyak hal yang belum kita lakukan untuk orang lain disekitar kita. Selama ini kita sibuk menyelami diri kita sendiri.

(Hilmy Nugraha, di Juli)

Untuk E

Terkadang, peristiwa kecil dan sederhana dalam hidup kita, bisa merubah hidup kita selamanya.

(hilmy nugraha, juli 2011)

Pertanyaan Jilid Malam

Kalau kemudian aku tidak mencapai keinginanku, terus mau apa? Apa dunia kiamat? Apa seluruh orang di dunia jadi memusuhiku?

(Hilmy Nugraha, Juli 2011)

Hakikat Belajar


Semakin banyak kita belajar, maka semakin tahu bahwa banyak hal yang kita belum pelajari. Belajar itu menanamkan rasa di alam bawah sadar kita. Lebih abadi, daripada menulis ribuan kata pada buku catatan.

(Hilmy Nugraha, Juli 2011)

Akar Rumput

Mungkin bagianku tak selalu harus di atas. Bekerja di bawah pun sudah menjadi kesenangan bagiku. Kerjaku boleh di akar rumput, tapi jaringanku adalah batang-batang besar yang tersebar dimana-mana.

(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Gelap

Tetaplah menjadi gelap, karena disitulah kau mengerti makna cahaya
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Tentang Televisi

"Tahukah kau, kita diatur oleh TV?" 
dari puisi Seorang Pendo'a Amerika Jim oleh Jim Morisson 
"Televisi membawa pembunuh ke rumah di mana televisi berada." 
Alfred Hitchcock, sutradara film kelahiran Inggris 
"Televisi adalah wahana hiburan yang memungkinkan jutaan orang mendengarkan lelucon pada saat yang sama, dan tetap kesepian." 
T.S. Eliot 
"Televisi membawa kebrutalan perang ke dalam ruang keluarga yang nyaman. Vietnam takluk dalam ruang-ruang keluarga Amerika bukan di medan perang Vietnam." 
Marshall McLuhan 
"Ketika aku mendapat televisi pertamaku, aku tak lagi begitu peduli pada hubungan dekat." 
Andy Warhol 
"Jika tiap orang meminta kedamaian bukannya televisi, maka kedamaian akan terwujud." 
John Lennon

Riuh

Dunia sudah sedemikian riuhnya. Sangat disayangkan kita sendiri tenggelam didalamnya, namun tak mampu memahami setiap rinci yang terjadi, lupa akan mencari ke dalam diri, dan selalu hingar pada kenyataan.
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Pertemuan Dengan Tan Malaka

"Bergabunglah pada kekuatan-kekuatan pembebasan yang nyata, yang ada di tengah-tengah kalian, seperti yang dilakukan oleh Tan Malaka" 
(De tribune, 7 Maret 1922)

Siang itu seorang laki-laki yang berwajah tegas dengan muka indah berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya dan dijabatnya tanganku dengan keras. "Namaku Tan Malak", begitu ucapnya sambil duduk disebelahku. Aku tertegun dan belum sempat ngomong ketika ia kemudian bilang, "Katanya kamu ingin bertanya banyak padaku?". Aku mencoba mengingat-ingat wajah seorang yang duduk di sampingku. Bajunya putih bersih dengan garis wajah yang diselimuti kabut. Tan Malaka, pria yang telah berhasil membuat bangsa ini memiliki keharuman. Tan Malaka, pria yang telah menuliskan banyak karya raksasa. Tan Malaka, seorang aktivis pergerakan yang menggoreskan berlawanan dengan kata-kata lugas.

"Ya, aku ingin bertanya dengan anda yang sering disebut-sebut sebagai seorang pejuang", tanpa ragu aku mengajaknya untuk bicara.
"Jangan kau sebut aku pejuang kalau apa yang aku dan teman-teman lakukan kalian sia-siakan", dengan muka lugas ia ucapkan kata-kata itu.

Aku tersentak dan sembari agak menjauh kulihat paras mukanya dari samping. Tulang pipi yang kurus itu masih menampilkan kerutan yagn teguh. Aku seperti menyaksikan seorang yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh badai.
"Kalian telah menjerumuskan rakyat ini dalam penderitaan. Kulihat kalian mewarisi sifat-sifat para penjajah. Malah kalian bukan hanya meniru dengan persis tapi melebihi apa yang penjajah lakukan dulu".

Aku masih saja diam mendengar suaranya yang berat dan kering. Ikal rambutnya yang agak bergelombang dengan sorot mata yang keras itu membuatku yakin, kalau Tan Malaka adalah aktivis yang tidak pernah mememikirkan kepentingan dirinya sendiri.
"Kusaksikan kalian yang masih muda tidak punya keberanian untuk menentang kesewenang-wenangan. Yang kalian kerjakan tidak seimbang dengan penderitaan rakyat yang sudah melampaui batas. Kupikir tulisanku sudah cukup bisa mendorong kalian untuk melakukan tindakan, tapi ternyata aku keliru".

Tan Malaka kulihat menundukkan muka. Matanya melihat tanah hitam di bawahnya dan kemudian menengokku. Matanya memandang diriku seolah-olah aku makhluk unik.
"Apa yang kau kerjakan selama ini anak muda?", begitu tanyanya.

"Aku seorang mahasiswa yang juga aktif dalam dunia gerakan, aku sama sepertimu", begitu jawabku agak yakin. Tan Malaka menatapku tampak ragu dan berkata, "Ketika aku seusiamu kubikin sekolah rakyat yang tidak mengutip bayaran. Aku ajari anak-anak tiga pelajaran penting, ketrampilan agar mereka menajdi manusia merdeka, filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan, dan berorganisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan. Sayang orang-orang kolonial itu menangkapku jauh lebih cepat dari yang kuduga. Apa yang kau kerjakan sekarang anak muda?"

Agak terkejut aku dengan pertanyaannya yang tajam dan cepat. Kujawab dengan ragu-ragu, "Yang kukerjakan diskusi, sesekali aku ikut merancang demonstrasi dan pernah aku tertangkap polisi gara-gara membakar foto penguasa. Aku juga ikut mengorganisir rakyat miskin dengan mendampingi mereka dan memaksa agar parlemen bicara dengan mereka. Kini aku aktif di salah satu LSM".

Ia tersenyum dan kulihat kabut diwajahnya berangsur-angsur memudar. kali ini ia mendekat dena menepuk pundakku, "Dulu aku punya kawan yang wajahnya mirip denganmu. Namanya Semaun, ia seorang yang pintar dan berani. Kami percaya untuk mengangkat harga diri bangsa yang terjajah tidak ada jalan lain kecuali melalui pendidikan dan perlawanan. Kami berdua bikin sekolah dan aku diajaknya masuk Sarekat Islam. Apa LSM itu seperti Sarekat Islam?".

Aku tertegun dan bingung memberi jawaban. Sesungguhnya aku sendiri tak tahu apa yang dikerjakan oleh LSM. Aku kadang disuruh nulis proposal lalu dibelakangnya ada anggaran dana yang jumlahnya besar sekali. Habis itu aku disuruh mengerjakan training, pelatihan bahkan pendidikan dengan honor dan biaya yang bisa utnuk membeli HP. Tapi aku malu menjawab pertanyaan Tan Malaka. malah aku kemudian ganti bertanya, "Apa yang dikerjakan Sarekat Islam?".

Tiba-tiba Tan Malaka memandangku dengan heran. "Aku yakin kamu tak pernah diberitahu apa itu Sarekat Islam. Inilah kekuatan politik pertama yang berteriak lantang melawan para penguasa kolonial. Kami terdiri dari anak-anak muda sepertimu. Kami ajak rakyat utnuk melawan setiap kesewenang-wenangan. Diberi nama Sarekat Islam, karena agama ini menolak untuk menjadikan orang menjadi budak. Hal yang kemudian dikerjakan pula oleh PKI. Kami dulu menjadi anggota Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota PKI. Aku yakin cerita sejarah tentang itu tak pernah samapi ke telingamu. Zaman sudah banyak berubah dan kulihat nsaib bangsa ini jauh lebih buram. Aku banyak mendengar, kalau kalian sudah jadi penguasa yang menjajah rakyatnya sendiri. Rakyat itu kalian jadikan budak. Sekali lagi kalau kupandang muka para penguasa sekarang ini, aku jadi ingat muka para aparat kolonial dulu."

Aku hanya bisa tertunduk. Kuingat beberapa temanku yang menjadi politisi curang. Mereka aktivis partai tapi tidak punya gagasan besar untuk memerdekakan rakyat. Kuingat temanku yang menjadi kaum profesional yang juga terlibat dalam perskongkolan dengan para kapitalis.

"Kalian memiliki penguasa diktator yang kejam pada rakyat kecil. Menggusur tempat tinggal mereka, membuat pendidikan dengan harga yang mahal dan membebani rakyat kecil dengan ongkos kesehatan yang tinggi. Beberapa kali kulihat kalian ikut mensukseskan program yang didanai oleh bantuan asing dengan sikap yang loyal. Jika kau sebut dirimu seorang aktivis, perubahan sosial apa yang akan kau kerjakan anak muda? Kaudiamkan seorang pejabat yang kekayaannya melebihi pendapatan jutaan penduduk miskin. Kaubiarkan seorang pejabat tinggi bergaji 68 juta per bulan jauh melambung melebihi upah buruh. Apa yang selama ini kaulakukan anak muda?"

Lagi-lagi aku terdiam lama sekali. Kuingat-ingat apa yang pernah kukerjakan selama ini. Ikut dalam solidaritas teman-teman memantau anggaran. Ikut melakukan pengorganisiran terhadap pada pedagang kaki lima. Ikut serta dalam barisan oposisi menentang militerisme yang hendak berkuasa. Dan kadang-kadang ikut nimbrung dalam program demokrasi.

Tan Malaka memandangku dengan rasa iba. Seolah-olah ia tahu aliran pikiran yang kurasakan. Ia berdiri menatapku, lalu perlahan-lahan ia mengucapkan serangkaian kalimat :
"Anak muda apa yang kaukerjakan selama ini memang masih jauh dari kebutuhan rakyat. Kau dikepung oleh kekuatan kapitalis yagn tumbuh dan berpengaruh luas. Kulihat kau sendiri susah untuk mempertemukan teman-temanmu yang punya komitmen serupa. Kulihat jumlah kalian yang sangat kecil dengan ikatan disipling yang longgar. Anak muda organisasimu harus belajar banyak dari sejarah Syarekat Islam atau PKI. Dua kekuatan politik yang dulu mampu mengetahui kebutuhan rakyat. Rasa-rasanya kalian harus baca ulang apa yang kutulis dalam Aksi Massa, Madilog dan Gerpolek. Pahami pikiran kami bukan dengan pisau akademik semata melainkan dalam pisau gerakan. Pahami semangat dan spirit yang melandasi kami semua. Camkan bahwa struktur kapitalis hanya bisa dilawan dengan kekuatan pengetahuan dan kekuatan pergerakan. Pengetahuan yang mengabdi pada kepentingan rakyat bukan yang menjadi alat bagi penguatan sistem produksi kapitalis. Maka senjata gagasan harus kalian kerjakan lebih dulu. Disitu kulihat kalian malas. Tak pernah kubaca tulisan kalian yang menggugah dan memebri inspirasi rakyat untu melawan. Tak pernahkah dalam benak kalian untuk mendirikan pendidikan yang baik dan murah untuk melayani rakyat miskin? Anak muda kau adalah tumpuan rakyat miskin, jika kau ingin mengenal, memahami serta membela mereka, maka yang kau kerjakan hanya satu : hidup dan hayati kehidupan bersama mereka."

Ia menepuk pundakku dan melangkah pergi. Dari punggungnya kulihat ia berjalan bergegas. Aku berdiri ingin mengejarnya. Tapi langkah itu terlalu cepat dan ia menghilang di balik gubuk-gubuk yang baru digusur. Akh, Tan Malaka semasa hidupna ia bersama orang miskin dan kini kutemukan dirinya di tengah perkampungan miskin. Kampung orang miskin yang jumlahnya sangat padat dan penduduknya menjadi golongan yang dulu diperjuangkan kemerdekaannya oleh Tan Malaka. Tan Malaka, bagiku kamu adalah inspirasi yang tak pernah lekang oleh waktu. Menjadi martir untuk sebuah perubahan yang kini memakan korban anak bangsa sendiri. Andai kau masih di depanku tentu aku hendak mengatakan :
"Ya, kami memang tidak mampu melakukan seperti yang kau kerjakan. Kami berada dalam lingkungan pendidikan yagn busuk. Pendidikan yang tidak bisa membuat kami dekat dengan penderitaan rakyat. Intelektual kami hanya sibuk dengan urusan perutnya sendiri. Kami juga tidak memiliki pemimpinan gerakan yang berpandangan terbuka, bergerak progresif dan bisa memahami kebutuhan rakyat. Yang kami punya hanya pemimpin karbitan, pemimpin yang muncul sesaat dan tidak memiliki pikiran-pikiran besar yang menjangkau ke arah masa depan. Indonesia yang dulu kau perjuangkan kini sudah banyak berubah. Negeri ini menghasilkan kebusukan yang menyebar : korupsi, perdagangan anak, pembunuhan, kriminalitas, dan kemiskinan. Tapi kami anak muda, yang ingin berbuat seperti yang kau lakukan. Kami ingin melawan, melawan dan terus melawan. Terhadap penguasa yang diktator, aktivis yagn menjadi broker politik, intelektual yang melacurkan ilmunya dan preman yang menggunakan kekerasan pada rakyatnya sendiri. Itu yang ingin dan sedang kami kerjakan, Tan Malaka."

22 Juni 2011
16:39
Jemu - Armand Maulana
Tulisan ini di cuplik dari bukunya Mas Eko Prasetyo, berjudul : "Awas, Penguasa Tipu Rakyat!"