Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan

C untuk Cak Nun


Santri tanpa sarung; haji tanpa peci; kiai tanpa sorban; dai tanpa mimbar; mursyid tanpa tarekat; sarjana tanpa wisuda; guru tanpa sekolahan; aktivis tanpa LSM; pendemo tanpa spanduk; politisi tanpa partai; wakil rakyat tanpa dewan; pemberontak tanpa senjata; ksatria tanpa kuda; saudara tanpa hubungan darah…

kriteria


Yang menarik tidak harus cantik. Yang penting bersih terawat, kuat bertenaga dan mau diajak kerja. Itu cukup!

- kata pak kusir

#15 : Pernikahan Kata

Seketika juga aku menulis. Kata-kata itu mengalir saja dari jariku, hingga aku tak kuasa untuk membendungnya. Dari jari lalu menghilir ke arah tuts keyboard laptopku. Muncullah di layar LCD.

Aku tidak menganyam kata. Kata itu sendirilah yang membelah diri, menciptakan dirinya sendiri, hingga bersatu dengan yang lain, menjadi kalimat.

Makna itu datang kemudian. Sendiri pula. Keterkaitan antara kata menjadikan kalimat itu indah. Pada waktunya. Tulisan indah. Bermakna.

Jadi, kadang aku sendiri tak tahu apa yang terjadi. Mereka terus saja berlari-lari kecil di layarku. Membentuk barisan satu-persatu. Dibatasi spasi, koma bahkan titik.

Menciptakan tarian-tarian makna. Sebegitu indah. Ya, aku menyaksikan pernikahan antar kata. Menyulam arti. Merajut niat.

13 Mei 2011
18:41
Sejatinya, kata itu siapa?

pernahkah



“Pernahkah ketika kau mulai merasa bisa menulis puisi, kau begitu bersemangat. Seolah batinmu mengembang sesak penuh oleh ide dan kata untuk puisimu. Kemudian tiba-tiba kau menulis teramat lancar, deras, dan bertubi-tubi. Tanpa sadar hari itu kau menulis lebih banyak puisi dari yang ditulis oleh penyair kesohor pada hari itu juga? Semua tampak mudah. Semua tampak gembira.”

“Pernahkah pula kau rasakan setelah itu, balon ide dan kantung katamu mengempis. Puisimu pun menetes satu satu. Itu bukan karena kau merasa lelah. Bukan pula kau merasa enggan. Hanya kempis begitu saja.”

“Pernahkah kau coba membaca lagi ke dua kumpulan puisimu tadi; yaitu yang mengalir deras tanpa lelah, dan yang menetes satu satu. Mana yang memikatmu kini? Yang penuh keceriaan kanak-kanak? Atau, yang berdehem kebapakan? Tentu saja, tidak arti apa pun di balik semua pertanyaan ini. Terkadang kita penuh keingintahuan.”

-- sdd