Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

Rilis Buku: Spiritual Journey, Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Nadjib

Judul Buku: Spiritual Journey, Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Nadjib
Penulis     : Prayogi R Saputra
Penerbit    : Kompas Penerbit
Halaman   : xvii + 214 hal

Spiritual Journey: Pemikiran & Permenungan Emha Ainun Nadjib

Catatan perjalanan spiritual Emha Ainun Nadjib, yang bershalawat bersama jamaah orang-orang yang berada dalam tataran psikologi mustadh’afin atau psikologi kaum lemah dan tertindas; psikologi masyarakat yang dipenuhi lubang-lubang di hati karena berada dalam tubir semangat penghancuran akibat ketidakpuasan, keputusasaan, dan amarah atas kebobrokan dan kezaliman penguasa.
Mengangkat tema-tema diskusi jamaah maiyah yang beragam, yang jadi menarik karena dipertemukan dalam gagasan-gagasan tasawuf yang sangat aplikatif. Ada topik tentang kafir dan mukmin, anatomi doa, multikulturalisme, neoliberalisme, kesehatan dan kematian, bahkan kesaksian soal Reformasi 1998.
Emha adalah spiritualitas. Bahkan saat melihat bangsa ini kewalahan menghadapi kezaliman dan kebobrokan dalam segala aspek kehidupan, ulama yang sekaligus budayawan dan seniman ini tetap mengedepankan upaya-upaya spiritual-religius sebagai solusi. Emha mengajak orang-orang di sekitarnya memohon intervensi Allah dengan bershalawat. Tujuannya satu: agar campur tangan Allah terjadi lewat cara-cara lembut; bukan seperti yang dialami kaum Nabi Nuh.

sumber dari : sini


flying carpet

sajadah
yang sudah semakin tipis ini,
belum mampu jua,
menerbangkanku,
menuju istana-Mu

Hakikat Belajar


Semakin banyak kita belajar, maka semakin tahu bahwa banyak hal yang kita belum pelajari. Belajar itu menanamkan rasa di alam bawah sadar kita. Lebih abadi, daripada menulis ribuan kata pada buku catatan.

(Hilmy Nugraha, Juli 2011)

Rumah Impian

Semalam atau mungkin lebih tepatnya tadi pagi, aku nonton "Satu Jam Saja", sebuah acara talkshow yang membedah kehidupan satu tokoh di TVOne. Sebenarnya tv-ku sedang tidak sehat-sehatnya, apalagi TvOne. Bures. Gambar ndak jelas. Ya, mungkin ini salah satu cara Tuhan menghindarkan keluarga kami dari racun berita yang diatur itu, hahaha. Tapi jadinya malah pada nonton sinetron. Sami mawon.

Tapi aku ndak akan bahas tentang acara-acara tv yang semakin ndak bermutu ini. Yang aku bahas adalah tentang rumah, konsep rumah. Di acara semalem, sedang bahas tentang kehidupan Djoko Pekik, pelukis terkenal dari Jogja. Setahuku, Djoko Pekik itu pelukis yang karyanya dihargai tinggi oleh orang-orang luar negeri. Makanya mungkin tajuk acara itu menjadi "Pelukis 1 Milliar".

Yang aku kagumi bukanlah lukisannya, atau cara dia mendapatkan filosofi hidup melalui minum arak, melainkan rumahnya yang luas. Rumahnya di Bantul itu berukuran luas mencapai 3 hektar. Diapit oleh 2 sungai. Ada aula, rumah, tempat gamelan, tempat sepedaan, sampai tempat pertunjukkan seni. Wuih.

Ya, sedari SMK dulu, aku sering sharing sama sahabat baikku, Henny, tentang impian rumah masing-masing. Kalau Henny, dia pengen punya rumah yang ada kebun klapanya, haha. Karena menurut dia, pohon kelapa itu investasi yang besar. Kalo aku, ya rumahku yang penting di desa. Hidup merakyat, seperti orang biasa. Menghindari riuhnya kota. Dan syukur-syukur bisa kayak rumahnya Cak Nun, yang setiap bulan ada pengajian rutinnya, atau rumahnya Dik Doank, yang selalu ramai anak-anak bermain di Kandank JuranK Doank, wuih, bisa jadi.

Tanah luas, ada kebun, taman bermain, menanam padi sendiri, hasil kebun sendiri, bisa main layangan di halaman rumah, ada kolam ikan, sejuk, lereng gunung, aula kecil maen gamelan.

Bismillah....

09:04
2 Juli 2011
Bendera - Cokelat
Lereng gunung slamet?

Andy Warhol


Andy Warhol (lahir 6 Agustus 1928 – meninggal 22 Februari 1987 pada umur 58 tahun), adalah seorang seniman, sutradara avant-garde, penulis dan figur sosial Amerika. Warhol juga bekerja sebagai penerbit, produser rekaman dan aktor. Dengan latar belakang dan pengalamannya dalam seni komersil, Warhol menjadi salah satu pencetus gerakan Pop Art di Amerika Serikat pada tahun 1950an.

Karya-karya Warhol yang paling dikenal adalah lukisan-lukisan (cetakan sablon) kemasan produk konsumen dan benda sehari-hari yang sangat sederhana dan berkontras tinggi, misalnya Campbell's Soup Cans, bunga poppy, dan gambar sebuah pisang pada cover album musik rock The Velvet Underground and Nico (1967), dan juga untuk potret-potret ikonik selebritis abad 20, seperti Marilyn Monroe, Elvis Presley, Jacqueline Kennedy Onassis, Judy Garland, dan Elizabeth Taylor.

Di luar dunia seni, Warhol dikenal dengan ucapannya "Di masa depan semua orang akan menjadi terkenal selama 15 menit". Dia berkata kepada beberapa reporter, "Kalimat terbaru saya adalah, 'Dalam lima belas menit, semua orang akan menjadi terkenal'".

Sumber Dari : Wikipedia

Aku baru sadar, perkataan dari Warhol. Benar. Semua orang akan terkenal dalam 15 menit. Sinta n Jojo, Ariel-Luna Maya, Udin Sedunia, hingga Briptu Norman. Entah, jaman sekarang sudah terbolak-balik semua. Yang penting jadi tidak penting, yang tidak penting jadi penting. Yang terkenal tidak mesti berprestasi, yang berprestasi tidak mesti terkenal. Yang terbaik tidak mesti berguna, yagn berguna tidak mesti yang terbaik. Di mata orang banyak. Media memainkan segalanya. Kita mengamininya. Sekarang.

Mengkaji Terus

Dalam hidup, yang berbahaya adalah bukan mereka yang tidak banyak melakukan sesuatu. Tapi justru mereka yang banyak melakukan sesuatu namun tak mengerti, apa sesungguhnya yang mereka lakukan. Mereka sibuk kesana kemari, merasa bahwa dirinya cukup, tapi tak pernah punya esensi dari semuanya. Mereka mengerjakan sesuatu yang mereka anggap besar, tapi mereka tak pernah menanyakan lagi, melakukan autokritik atas apa yang mereka kerjakan.

Setidaknya inilah yang disebut amal tanpa ilmu. Kata orang ini kosong belaka. Bukan berarti apa yang harus kita lakukan itu harus menunggu berilmu dulu. Tidak. Tapi terus mengkaji, atas apa yang kita lakukan itu adalah penting.

Pun dalam hidup. Setiap pilihan hidup. Kita diharuskan mengkaji, tidak hanya bagaimana untuk melakukan hal ini itu, tapi juga mengapa kita melakukan hal ini itu. Sebuah pertanyaan penting, mengenai akar terkuat kita melakukan sesuatu. Sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri.

Ah, sering aku merindukan obrolah yang berat semacam ini.

14 April 2011
14:00
Naff ganti vokalis, jadi menye-menye.
Gerimis sedikit, padahal jam 2 siang. Mremun.

Pandangan Bijak



Aku jadi teringat pesan mas Imam, teman yang kukenal saat i'tikaf di Mafaza 2 tahun yang lalu. Bahwa saat belajar agama, luas pandangan kita. Aku tahu, dia ikut salah satu firkoh. Yaitu Jamaah Tabligh. Tapi meski demikian, dia begitu luas dalam memandang islam.

Yang kutangkap dari obrolannya adalah, bagaimana dia tidak memandang buruk orang lain. Tidak menganggap orang lain. Serta tidak memandang alirannya adalah yang paling baik.

Aku suka prinsip ini. Jarang kutemui.

Waktu aku ditanya, ngaji apa saat ini. Ya aku bilang saja seadanya, halaqah. Dan dia dengan bijak berkata, bahwa dia dulu juga pernah ngaji halaqah. Tapi semua hal pantas dicoba. Untuk menemukan apa yang sreg di hati. Bila perlu ikuti semua kajian. Biar nanti kita sendiri yang menentukan, mana yang lebih pas dengan diri kita.

Aku rasa ini sebuah pandangan yang bijak. Menemukan sesuatu dengan pencarian, bukan dengan taklid. Andaipun masih belum sreg, toh tidak ada paksaan darimanapun. Pun tidak merasa benar sendiri dengan hal yang ia putuskan.

Aku belajar banyak dari mas Imam.

11 April 2011
06:31
Kesan dimatamu - Chrisye
aku tak marah, insya Allah.

#2 : Memblokade Pintu Surga


Semua anjuran untuk melakukan kebaikan sudah tertulis jelas di kitabNya. Bahkan, jika kita tak bisa membaca kitabpun, kit amasih punya akal, hati. Dimana mereka bisa menjadi panduan tentang kebaikan-kebaikan yang baik untuk dilakukan.

Kita pasti menyaksikan bahwa Tuhan itu memang ada. Kebenaran rasulullah itu nyata. Semua orang juga mengerti bahwa sembahyang itu baik. Bukan untuk Tuhan, tapi untuk dirinya sendiri. Puasa, sudah dikaji oleh banyak ahli. Sesungguhnya baik untuk kesehatan fisik, psikis juga rohani. Zakat itu salah satu prinsip sosialis yang ada di Islam. Sama rata, sama rasa. Haji, jika ada orang yang beralasan untuk belum berhaji padahal dia mampu, dengan dia berkata, "ah, memang belum dipanggil aja", maka dia orang yang tuli. Bukankah panggilan haji itu sudah ada sejak jaman Nabi Ibrahim dulu?

Semua kebaikan itu terbuka lebar. Tuhan pun takkan menyulitkan orang-orang yang mau berbuat baik. Seperti aku ingat kata saudaraku, "niat baik, pasti dikasih jalan baik". Aku percaya seratus persen.

Ini ibarat Tuhan sudah membuka pintu surga lapang-lapang. Inipun jika kita berpikir bahwa dengan berbuat baik kita akan masuk surga. Aku jadi inagt betul kata Mas Ryan, "Semua orang akan masuk surga, kecuali yang enggan".

Jika dilihat demikian, lalu apa penyebab kita malas berbuat baik? Malas sekali berbagi dengan orang lain? Malas sekali meski sekedar mengucapkan terimakasih pada orang-orang terdekat kita? Malas sekali meminta maaf atas kesalahan yang kita buat meski itu kecil? Malas sekali memberi senyum pada setiap orang yang kita ajak ngobrol?

Lalu, mengapa kita sendiri yang seolah membatasi diri dengan tidak bisa berbuat baik, meski itu hanya kecil? Padahal, taukah, tidak ada yang remeh dimataNya. Tak ada yang sia-sia.

Lalu, mengapa kita seolah-olah belum hebat jika belum melakukan hal-hal besar, sedang hal-hal yang kecilpun tidak pernah dilakukan?

Kita sendiri yang malas. Kita sendiri yang membatasi diri. Kita sendiri yang memblokade pintu surga.

14 April 2011
14:41
Sekecil apapun.

Penangguhan

Bayangkan. Sekali lagi bayangkan. Bagaimana jika setiap dosa yang kita lakukan, langsung diganjar olehNya dalam bentuk hukuman fisik. Luka, borok, berdarah, terpotong, cacat, hingga kematian.

Bagaimana jika ketika kita berbohong, maka kemudian mulut kita sumbing. Bagaimana jika ketika kita makan barang yang haram, maka kemudian perut kita membesar lalu meletus. Bagaimana jika ketika kita mencuri, maka tangan kita kemudian terbalik, hingga tak bisa digerakan. Begitu telat sholat, maka jari-jari kita putus. Begitu tidak puasa, maka tubuh kita terbakar. Begitu haji dengan uang korupsi maka kita mati sekarat.

Pasti setidaknya kita akan mikir-mikir jika akan melakukan dosa.

Hal-hal tersebut sebenarnya pernah diberikan Tuhan kepada kaum-kaum terdahulu. Begitu mereka membangkang, hukuman serta merta datang. Lihat saja kaum Tsamud, kaumnya nabi Sholeh diluluhlantakkan oleh gempa; kaum Aad, kaum Nabi Hud hancur terkena angin topan; kaum Madyan kaumnya Nabi Syuaib habis karena gempa, kaum nabi Nuh kebanjiran; kaum nabi Luth remuk dihujani batu; Qarun tenggelam perut bumi; Firaun lenyap di tengah lautan; Abrahah mati terkena batu panas; ada juga kaum yang dikutuk kera.

Berbeda dengan umat-umat sebelumnya, semua reward dan punisment kita ditangguhkan nanti. Di hari akhirat. Semua tercatat dengan baik oleh Rakib dan Atid. Kita sebagai umat nabi Muhammad, alhamdulillah lumayan santai.

Apa ini berarti Allah sudah mempercayakan diri kita, bahwa sudah bukan berada di dimensi fisik, tapi dimensi ruhani? Sudah bukan berada di dimensi ibadah secara kasat mata, tapi iman yang ada didalam dada? Penghayatan kita akan segala keadilanNya, pemaknaan kita terhadap semua catatanNya, dan keyakinan kita terhadap semua balasanNya?

Hingga mencapai puncaknya, ihsan. Merasakan kehadiranNya, seolah-olah kita bisa melihat Dia atau Dia sedang melihat kita. Ya, ini dia.

nb: inspirasi dari buletin mocopat syafaat, edisi juni.

15 April 2011
06:22
Lengang, tanpa ada sesuatu. Biar diri ini yang bicara.

#1 : Musik Asik

Aku memang sedang suka mendengarkan Kiai Kanjeng. Terkadang akustiknya John Mayer, versi live-nya Norah Jones, atau edisi best of the best-nya Naif. Sesekali sedikit bossa dengan mendengarkan Bossanova Jawa, 3 album. Atau disela-sela bersepeda aku ingin rilex sambil ber-reggae bareng Bob Marley.

Boleh saja.

Tapi jika ditanya lagu siapa yang paling menginspirasiku? Maka aku akan menjawab gagah, Padi.

Sampai saat ini aku masih terkagum-lagum dengan musik-nya Padi. Meski beberapa waktu terakhir sedikit kecewa dengan Yoyok yang kena narkoba. Tapi tak apa. Yang penting Padi jangan sampai bubar. Hehe.

Permainan Padi tak pernah tak baik. Dari segi komposisi, menurutku band ini adalah band matang. Vokal Fadly yang punya karakter. Lembut namun bisa sesekali menaik tanpa ancang-ancang. Tinggi namun bisa berat. Gitaris Piyu jangan ditanya. Aksi panggung memang kadang terlihat biasa. Namun permainannya sempurna. Rindra membetot bass-nya dengan mantap. Sesekali dalam setiap lagu ada aksi solonya. Atau memang permainannya cukup susah, namun enak didengar. Ari, jagoan rhytm, memainkan efek dengan ciamik. Menambah syahdu setiap lagu Padi. Yoyok pada drum sepertinya tak pernah setengah-setengah memainkan alatnya. Pukulannya yang keras penuh teknik selalu dilakukan.

Lagu-lagu Padi tak pernah terkesan 'vulgar'. Lirik-liriknya penuh makna dalam. Kiasan disana-sini, namun indah didengar. Tak seperti lagu sekarang-sekarang ini. yang tak usah ditafsirkanpun kita sudah tahu artinya.

Bisa jadi ini hanya penilaian subyektifku. Tapi bagaimana kalau ini sudah menjadi opini publik? Apalagi dengan kekompakan antar personil yang sudah tidak diragukan. Dari awal berdiri, tahun 1997, hingga kini, Padi masih dengan formasi lama. Dan semoga begitu hingga akhir nanti.

Lagu yang kusukai? Semua. Dan terlebih "Perjalanan Ini". Lagu yang selalu membuatku bisa menyanyi disetiap perjalanan. Kemanapun itu, dengan moda tranportasiapapun itu, dengan siapapun itu, dan kapanpun itu.

Padi, seperti sihir bagiku. Musik-musiknya hampir menyatu dengan nafasku. Dan begitulah, karena bermain musik itupun membutuhkan totalitas, bukan setengah-setengah.



6 April 2011
09:17
Padi - Kasih Tak Sampai
Jika ingat Padi, aku ingat Iwan, teman baikku yang Sobat Padi.

qurrota'ayun



Karena kuliahku cuma ambil Tugas Akhir, karena jualanku sedang sedikit terhambat, karena berjuta-juta alasan lainnya, maka sekarang ini aku lebih sering dirumah. Kadang melaksanakan kewajiban jadi anak, bersih-bersih rumah. Kadang melaksanakn kewajiban jadi tetangga, main ke sebelah rumah. Dan yang paling menyenangkan adalah kewajibanku jadi om.

Salah satu hal yang paling mengasyikkan adalah mengantar jemput Neysa ke PlayGroup. Ya, ibunya sudah cukup sibuk dengan kerjaannya sebagai perawat, ayahnyapun sudah cukup pusing dengan urusan bisnisnya. Maka tinggal eyangnya dan aku yang turun tangan. Antar jemput jadi pekerjaan wajibku. Meski tidak setiap hari, tapi cukup menyenangkan.

Aku melihat anak-anak kecil, lucu, imut nan menggemaskan berjalan menuju kelas. Bermain di arena bermain, bercanda sesama teman, hingga berantem berebut sesuatu. Wajah-wajahnya sangat polos, tidak memiliki tendensi apapun. Ini yang aku sukai dari wajah anak-anak. Polos, tak pernah dibuat-buat. Namun bukan berarti aku seorang pedophil, haha.

Neysapun demikian. Tanpa malu-malu dia seraya menghambur dengan teman-teman setelah turun dari motorku. Seketika itu juga lupa dengan om ganteng-nya yang mengantar. Haha. Tapi aku suka melihat pemandangan ini.

Pada jam jemputan, aku datang sekitar 10 menit sebelum pulang. Aku memang tidak ikut menunggu Neysa. Aneh saja, ada pemuda tampan menunggu anak TK bersama ibu-ibu yang lain. Haha. Lalu aku harus mengobrol apa? Harga sayuran? Gosip KD dan Lemos? Atau tentang Bangkutaman yang kembali ke ibukota? Atau Morfem yang mengeluarkan album baru? Haha, bakal aneh saja.

Pemandangan saat menjemput adalah anak-anak yang sudah tidak sabar untuk pulang. Aku lihat tak ada gurat capek diwajah anak-anak itu. Selalu ceria, optimis dan bertenaga. Menyenangkan. Andai saja semua manusia mempunyai energi positif seperti ini, nampaknya Nurdin Halid akan turun dari jabatannya dengan ikhlas.

Neysa datang mengahampiriku. Bercerita pendek-pendek tentang apa yang dia sudah lakukan sebelumnya. Tentang teman-teman baiknya, tentang belajar melukis, tentang buku barunya, tentang lagu yang baru saja dia hapal, bahkan tentang si Geisa yang selalu bawa jajan bermacam-macam. Hehe. Ada-ada saja memang anak kecil ni...

Hal-hal kecil yang seperti ini kadang bahkan bisa membuatku sedemikian bahagia. Entah. Melihat anak kecil itu sudah seperti refreshing jiwa. Dari segala penat, masalah, tantangan, dan kesulitan hidup, semua hilang meski hanya sementara. Terobati oleh senyum manis anak kecil. Tertutupi oleh rengekan lucu ponakan terkasih. Terbias oleh pelukan manja Neysa.

Inilah yang disebut qurrota'ayun. Anak sebagai penyejuk mata.

30 Maret 2011
12:24
Gemilang - Dreamband
disela-sela kesulitan hidup, aku masih bisa tersenyum.

Punyalah Ember Dulu!


Setiap manusia pasti memiliki mimpi. Itu lumrah. Ada yang menuliskannya di buku mimpi. Ada yang mencoba mengungkapkannya di proposal hidup. Atau mungkin ada yang menulis asal-asalan di poster mimpi. Itu semua cara, boleh-boleh saja seperti apa caranya.

Setelah menuliskannya, jika kita percaya Tuhan, maka hal wajib sebagai seseorang yang beriman selanjutnya adalah berdoa. Karena memang ada dari sekian orang yang percaya, bahwa mimpinya bisa terwujud dengan usaha keras sendiri, tanpa bantuan Tuhan. Bukankah ini hebat? Tapi justru meniadakan Tuhan itu adalah salah satu tindakan tanpa iman. Berbahaya. Oleh karena itu, yang diperlukan disini adalah berdoa. Yang berarti kita percaya dengan benar, hal-hal yang kita impikan diatur oleh Sang Kuasa, Tuhan. Semua kehendaknya melebihi dari kehendak kita.

Doa-doa kita gelontorkan ke angkasa. Harapan-harapan kita hamburkan ke langit impian. Semoga Tuhan menangkap itu semua dan mengubahnya menjadi nyata.

Hanya saja memang kita yang selalu saja kurang. Tidak mengukur diri. Menginginkan hal-hal yang besar terjadi, tapi apa daya kemampuan diri kita masih minim. Kualitas diri kita masih buruk. Kapabilitas diri masih terpuruk. Kita menginginkan jadi orang kaya, tapi kualitas hati, kemampuan menghindarkan diri dari rasa sombong, riya, ujub masih nol besar. Kita menginginkan jadi orang hebat, tapi rasa berbangga diri masih bersemayam di dalam hati. Kita menginginkan lekas didekatkan jodohnya, namun rasa iri, dengki, dan segala jenis penyakit hati masih meracuni dalam-dalam di tubuh kita. Kita menginginkan diri kita sukses cepat waktu, namun mengurus diri sendiri masih kerepotan.

Sontak saja Tuhan belum bisa mengabulkannya. Kita menginginkan air sebanyak 1 ember, tapi kita baru memiliki gelas.

Berkacalah, bisa jadi segala keinginan kita saat ini sedemikian besar, belum didukung dengan kualitas diri yang mumpuni. Tuhan Maha Adil, sungguh. Dia akan memberikan segala sesuatu yang manusia memang benar-benar bisa mengembannya. Dia akan memberikan segala sesuatu tepat pada waktu dan sasarannya.

Kecuali jika kita memang memaksa Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan, walau sebenarnya kita tidak mampu menguasainya, sehingga Tuhan dengan begitu saja menyerahkan semuanya dengan marah. Semua terkabul, namun Tuhan marah. Maukah?

30 Maret 2011
12:45
Kuta Bali - Andre Hehanusa
tulisan ini mengingatkan untuk diriku sendiri, sungguh, aku dzalim.

Anti Ibu Kota



Membaca tulisan Mas Ayos di blognya bisa kusimpulkan, ibukota itu bukan kota favorit untuk ditinggali. Walau begitu, aku juga pernah 2 bulan tinggal disana. Dan benar-benar bisa hidup. Setidaknya karena aku dulu begitu penasaran dengan kota besar.

Ibukota itu kejam. Itu sebabnya banyak yang bilang, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Individualistic, orang-orang tanpa senyum, ketidakpedulian, urusan sendiri-sendiri, macet lalu lintas, asap polusi, penuh sesak, keruwetan kota, sampah dimana-mana, angka kriminalitas tinggi, lalu apalagi yang diharapkan?

Kadang, aku tak habis pikir, bagaimana mereka bisa bertahan dalam hidup mereka, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk perjalanan ke kantor. Meski aku tidak mengecilkan mereka, toh mereka ikhlas menjalaninya. Tapi hidup didaerahpun tak kalah asyeek.

Saat ini aku masih kuliah. Setidaknya aku masih bisa memilih, hendak kemana aku akan hidup. Masih ada pilihan, dan masih bisa memilih. Dan aku tidak akan memilih ibukota.

Lebih baik mungkin aku hidup dipedalaman sumatera, kalimantan atau papua. Rasanya lebih damai saja. Kalaupun ke ibukota, ya cukup plesiran wae. Hehe.

Jakarta sudah habis,
Musim kemarau api,
Musim penghujan banjir.

Lagu IV (Jakarta) - Iwan Fals
nb: gambar dari sini

15 Maret 2011
10:14
Keroncong Kemayoran - Keroncong in Lounge
Setidaknya pernah ke Jakarta.

Si Ular Besi Kelas Rakyat


Penuh sesak. Tas-tas tergeletak rapi diatas bangku. Ada juga yang di lorong bangku. Penjual asongan hilir mudik. Harus berjingkat-jingkat pelang, karena jalan kadang susah dilewati. Berbagai macam dagangan ada disini. Pop mie, kopi, aqua, tahu, nasi rames, pecel, sendal, sabuk, bolpoint, mainan anak, pulsa, buku, hingga alat kerikan. Aroma menjadi bermacam-macam. Keringat ratusan orang bersatu dengan udara. Parfum puluhan orang bersatu. Ada beberapa yang tidak bisa duduk, selonjoran saja beralas koran bekas. Pedagang koran bekas laris manis.

Pengamen datang silih berganti. Berbagai macam gaya. Yang lakilaki, yang perempuan, bahkan yang banci. Hiiiii. Pengemis ada juga. Ada yang buta, ada yang lumpuh, ada yang dari masjid, ada yang anak kecil, ada yang ibu-ibu. Macam-macam. Tukang bersih-bersih, tukang sapu selalu bergantian. Plus minta uang. Tukang parfume ada, menyemprotkan ke sudut-sudut bangku, kemudian minta uang. Apapun bisa jadi uang disini. Obrolan hangat di setiap bangku terasa menyenangkan. Semua kembali menjadi akrab. Bertambah saudara lagi. Saudara satu bangku. WC ada dibelakang dan depan gerbong. Biasanya ada airnya. Bersyukurlah bagi yang ada airnya. Harus dipakai ketika kereta berjalan. Kadang ada beberapa orang yang ada di bordes sambungan kereta.

Polsuska datang bersama kondektur. Berwajah garang tapi baik hatinya. Kadang ada penumpang yang memberinya salam tempel. Beberapa, tak banyak. Petugas restorasi berkeliling, menjajakan makanan. Bermodal menu, seragam dan bolpoint ditangan. Harga makanan restorasi selangit. Kadang bolak-balik menyewakan bantal dengan bekas iler dimana-mana. Tapi tetap saja laris. Kereta ekonomi bisa setiap stasiun berhenti. Meski hanya cuma beberapa detik. Kereta ekonomi kereta sabar menanti. Paling berada diurutan terakhir untuk urusan persilangan. Yang mahal ya duluan. Itu kereta eksutif atau bisnis. Jika berhenti lama, gerbong serasa oven. Panas bukan main. Kipas angin diatap gerbong tidak bisa menangani dengan baik hawa panas didalam gerbong. Penumpang hanya sibuk berkipas-kipas. Dan pedagang kipaspun mulai beraksi. Laris.

Setiap ada kesusahan pasti ada lahan rejeki untuk orang lain. Itu prinsip di kereta ekonomi. Aku tak habis pikir, dengan kereta seperti ini, tapi masih banyak juga yang menggunakannya. bahkan untuk jarak jauh seperti jakarta surabaya. Bisa dibayangkan hampir 12 jam di dalam kereta demikian, seperti apa rasanya? Tapi itulah Indonesia. Selalu bisa mangambil sisi positif dalam setiap kejadian. Menggunakan kereta ekonomi itu bisa berarti penghematan, bebas merokok kapan saja, banyak pedagang makanan yang tersedia, hingga menambah saudara disetiap obrolan hangatnya.

Menaiki Kereta Ekonomi memang sebuah sensasi.

nb: gambar dari semoboyan35.com


15 Maret 2011
10:32
Words-Keroncong
Seusai mendengarkan cerita Melyn naek kereta ekonomi.
Hehe, lulus sudah kau anak muda. Jakarta - Jogja.

Obsesi Terhadap Kebahagiaan

Menurut kamu, apa itu kebahagiaan?

Aku tak pernah lupa bertanya hal ini kepada teman-teman terdekatku. Sengaja. Aku ingin mencari definisi kebahagiaan versi teman-temanku.

Berbagai rangkaian kata mengalir, menjawab jelas pertanyaanku ini. Ada beberapa, tidak banyak, bahkan tidak bisa menjelaskan apa itu kebahagiaan. Sungguh aneh. Kita, manusia, bahkan belum mengerti apa yang kita cari. Belum mengerti sepenuhnya, apa itu bahagia, lalu apalagi dengan bagaimana untuk meraihnya?

Hm. Ini juga refleksi dari diriku juga. Selama ini mencari jalan kebahagiaan dengan berbagai macam cara. Untung saja memang tidak terjerumus kepada hal-hal negatif.

Lalu, yang kutemukan titik simpulnya adalah, kebahagiaan itu berbeda jauh dengan kesenangan, kepuasan, ataupun kegembiraan. Lain sekali ternyata!

Aku banyak berdiskusi dengan guru kehidupanku, mas Arif Erha, tentang kebahagiaan. Dengan simpel dia mengatakan, bahwa kebahagiaan itu adalah lepas dari keinginan, karena keinginan itu adalah sumber dari penderitaan. Sesaat itu aku jadi ingat lagu bang Iwan Fals, Seperti Matahari.

Ya, mungkin mas Arif benar. Dan selama ini aku memang selalu membenarkan perkataannya. Keinginan itu sendiri adalah candu. Selalu mencari rasa puas. Namun tak pernah bisa puas. Dan bukan bahagia namanya, orang yang bisa memenuhi keinginannya, tapi itu adalah apa yang disebut dengan sukses. Bahagia itu melepas keinginan. Dan sukses adalah mendapatkan keinginan.

Mas Arif kemudian bercerita banyak, tentang hidupnya saat-saat ini yang banyak hal terjadi secara irrasional. Keajaiban. Anugerah. Rahmat. Atau apapun namanya. yang jelas itu dari Dia. Justru hal-hal seperti ini yang sudah lama ia inginkan, namun sudah ikhlas, dilepaskannya jauh-jauh hari.

Menginginkan sesuatu bisa jadi itu sebuah obsesi. Dan obsesi adalah penderitaan terbesar umat manusia. Karena itu sudah menyangkut mental, dan cara berpikir. Menuliskan impian itu baik, tapi selalu berpikir bahwa ini harus tercapai adalah sebuah kelelahan yang luar biasa. Quantum Ikhlas menjelaskan bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, justru yang harus kita lakukan adalah ikhlas. Dan membiarkan Allah memberikannya kepada kita. Kalupun tidak diberikan Dia, berarti bisa jadi di pending, atau digantikan dengan hal lain. Bukankah hanya Dia yang tahu apa yang kita butuhkan?

Aku bisa menarik simpulan dari obrolanku dengan mas Arif. Kebahagiaan itu melepaskan keinginan, obsesi. Seperti Cak Nun, yang dia sendiri sudah tidak punya obsesi terhadap dunia ini. Baik jabatan, kekayaan, popularitas, atau mungkin yang lainnya. Tapi hidupnya penuh berkah, bahagia dan manfaat.

Dari seimpulan ini, aku masih juga belum puas akan maknawi kebahagiaan. Harus kucari selalu. Tapi, jangan sampai, ini menjadi obsesi terhadap kebahagiaan? Bukankah itu sama saja derita?


14 Maret 2011
15:27
Neon - John Mayer
Suasana mendung, bikin ngantuk.

tentang menulis, bersama suyatna

Dalam bekerja menulis; ketika mendapat project, ada 3 yang diperhati: (1) link (2) belajar--ilmu (3) honor. satu saja terpenuhi, itu bagus. mengerjakan project bersama armantono aku mendapat 2 paing tidak : ilmu dan link; honor ada, sedikit, ukuranku. link, jelas! kini aku dapat kawan dari IKJ. ilmu? iya. aku mendapat free visiting class di semua kelas armantono di IKJ; kerna selain menulis ia dosen pula. itu, kawan. tidak melulu orientasi fokus kita:uang! ilmu lebih mahal ke? (*logat melayu:)
06:22
suyatna


aku akan belajar ke ahmad tohari, sangat disayangkan kalo ilmunya tidak diwariskan.
06:27
hilmy

aku tertegun. di negeri jiran -- kata guruku armantono -- tiap minggu terbit novel setebal yang kami kerjakan. bayangkan, setiap minggu! dan mereka tidak kehabisan 'stok' penulis. apa pasal? disana masya allah, penulis dijunjung tinggi; dihormati; bahkan apa? mereka --beberapa memenuhi syarat-- digaji!! mereka riset ke berbagai belah dunia; dibiayai negara; semua terfasilitasi; asal pulang bawa novel! ya ituh, boi.
06:44
suyatna

aku pengen jadi travel writer boi!
07:30
hilmy

tolong bikinkan konsep kerjasama kita membangun banyumas; disela-sela kesibukan kawan semua
07:33
suyatna

Sekali Berarti, Sesudah Itu Terlupakan

Pernah aku merasa tidak ikhlas, atas sebuah hubungan dengan seseorang. Mengharapkan banyak dari orang itu, hingga lupa, bahwa suatu saat ada sebuah perpisahan.

Pernah aku merasa pamrih, menginginkan agar orang lain selalu mengingat diriku. Selalu. Padahal banyak hal yang memang membuat aku pantas untuk tidak diingat.

Pernah kenangan-kenangan indah begitu berkesan. Tapi mungkin tidak begitu mematri dalam dirinya. Ya, hanya sebelah tangan.

Pernah kejadian-kejadian yang dialami bersama tertuang dalam ingatan yang sempurna. Namun tak pernah diingat olehnya.

Hingga kini, sekali berarti, sesudah itu terlupakan. Pun aku, terlupakan.

110311
22:02
hadapi saja - iwan fals
berjumpa dimimpi.

Berterimakasih

Kita sering kali melupakan hal yang paling kecil dalam diri kita, namun berdampak besar dalam kehidupan.

Kadang kita lupa bahwa kita punya darah, yang dengan darah maka tersalurkanlah energi ke seluruh tubuh. Kadang kita lupa bahwa kita punya jantung, yang dengan jantung, terpompalah seluruh darah ke seluruh ujung pembuluh. Kadang kita lupa bahwa kita punya lambung, yang dengan lambung, kita menyerap energi-energi tubuh dari makanan yang masuk.

Kadang kita lupa bahwa kita punya tangan, kaki, otot, yang dengan itu kita bisa bebas bergerak kemanapun kita mau. Ya, kita sering lupa, bahwa kita punya itu semua.

Dan kita baru sadar, ketika kita berdarah, sakit jantung, sakit perut, atau mungkin keseleo. Kita baru sadar bahwa kita memiliki itu semua hanya ketika mereka sedang tidak bersahabat dengan kita. Sedang sakit.

Betapa tidak berterimakasihnya kita terhadap diri kita sendiri. kepada tubuh ini, hanya diperlakukan seperti budak, yang melayani kita sampai puas. Tapi kita tidak pernah berterimakasih.

Kita sering mengeluh ketika tubuh kita sedang sakit, tapi ketika sehat, kita tidak pernah ingat bahwa tubuh kitapun butuh ucapan terimakasih.

Mulailah hari ini dengan berterimakasih kepada tubuh kita. Karena, ini juga merupakan salah satu wujud terimakasih kita, syukur kita kepada Tuhan Semesta Alam...

09:43
110311
alhamdulillah, makasi ya Allah..

Plong!

Kalau Andri akhirnya menikah, itu artinya plong. Setelah berkenalan dekat selama kurang lebih lima tahun, apalagi yang mau dicapai selain pernikahan?

Kalau mas Umang, tetanggaku, akhirnya menikah, itu juga artinya plong. Setelah lama bujangan, hingga cukup umur, kemudian menemukan tambatan hatinya.

Kalau Om Didin, omku yang paling telat nikahnya, akhirnya punya anak. Apalagi yang dinanti? Plong rasanya.

Kalau aku kelak lulus kuliah, maka akan ada rasa plong juga di hatiku. Bagaimana tidak, berjuang lima tahun disebuah kampus kecil nan menyeramkan, apalagi yang dicari selain bisa lekas keluar dari situ?

Aku bisa membayangkan, bagaimana wajah mereka, juga aku ketika bisa mencapai rasa plong itu. Mencapai apa yang sudah diimpikan. Mendapatkan apa yang sudah dinanti. Plong!

dan kata mas Arif, boleh plong, asal jangan plonga-plongo.

nb : selamat hari lahir, buwat azis n kusworo. juga otong. semoga umur kalian berkah.

080311
08:19
Jomblo tapi Bahagia - Seuries Band
sesuai dengan judul lagu diatas, begitupun juga diriku. Plong!

Mengerti, Memahami dan kawan-kawannya..

Rasanya, aku memang tak bijak. Selalu melihat permasalahan berlarut-larut. Kadang terlalu masuk kedalam, hingga tidak melihat hal tersebut dari luar diri kita. Betapa kekanakannya diriku, malu rasanya.

Sedikit tersenggol saja sudah marah-marah bukan kepalang. Sensitif kata orang. Rasanya memang tak ingin terkalahkan. Selalu ingin eksis, dimanapun ada sesuatu. Tak mau ketinggalan.

Ah, ini hanya sedikit potret burukku, yang harus selalu diperbaiki.

Ayu, bisa jadi salah satu orang yang menyadarkanku. Pembawaannya yang lembut, dengan bicara yang halus, ternyata banyak menginspirasi buatku.

Permasalahan lama yang timbul, disikapinya dengan bijak. Dia hanya berkata pelan, "Mungkin kita yang harus ngertiin dia dulu mas, baru dia mau ngertiin apa mau kita-kita".

Ah, kenapa tidak terpikir dari dulu. Konsep yang sebenarnya sederhana, tertutupi oleh gulungan atmosfer negatif dalam pikiranku.

Aku masih tak habis pikir dengan dia. Dengan sangat mungkin dia bisa membenci ratusan kali orang yang sudah membuatnya 'eneg'. Tapi tidak bagi Ayu, justru dia malah berusaha memahami orang itu. Super! Jiwa besar!

Aku masih belum bisa seperti Ayu untuk berusaha memahami orang lain.

Lekas sadarlah kau Hill, urusanmu masih banyak, masih besar, jangan kau habiskan hanya dengan berlarut dengan masalah sepele antara rikuh, tersinggung, tidak diajak, ora kepenak, hingga sensitifitas. Berusahalah memahami orang lain, bahwa yang kaulakukan itu tidak selamanya menyenangkan dimata orang lain. Berkacalah Hill!

080311
08:30
Kapan Ku Punya Pacar - Serius Band
ah, aku tak mau punya pacar, aku maunya punya istri, haha.