Tampilkan postingan dengan label hilmy nugraha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hilmy nugraha. Tampilkan semua postingan
hasilkami.
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
15 Oktober 2012
Labels:
2012,
banyumas,
BC,
british council,
CEC,
CJC,
community journalism competition,
greeneration indonesia,
hilmy nugraha,
social entrepreneur,
social entrepreunership
2
kata-kata
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
16 Desember 2011
Labels:
agama,
ahmad tohari,
foto,
gambar,
hilmy nugraha,
wahyu
1 kata-kata
layang-layang bong china
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
16 Juli 2011
Labels:
bong china,
hilmy nugraha,
layang-layang,
naim pamungkas,
neysa
2
kata-kata
Quote of The Day
Ada banyak hal yang belum kita lakukan untuk orang lain disekitar kita. Selama ini kita sibuk menyelami diri kita sendiri.
(Hilmy Nugraha, di Juli)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
12 Juli 2011
Labels:
2011,
hilmy nugraha,
juli,
kutipan,
quote,
sendiri,
Sibuk
0
kata-kata
ah..
ah, aku jatuh cinta pada benda ini..
bentuk proporsional antara satu garis dengan garis yang lain.
lekuk yang sempurna
aeordinamis
kertas tipis membalut mengindahi semuanya
benang melawan angin
ah, aku suka layang-layang,
karena dibalik layang-layang
ada langit sore
indah,
indah sekali.
"Jangan ragu ragu
Mengejar yang kau mau
Masih banyak waktu
Untuk cita-citamu"
Mengejar yang kau mau
Masih banyak waktu
Untuk cita-citamu"
(Hilmy Nugraha, Juli di Bong China)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
2011,
hilmy nugraha,
juli,
layang-layang,
layangan,
puisi
3
kata-kata
Untuk E
Terkadang, peristiwa kecil dan sederhana dalam hidup kita, bisa merubah hidup kita selamanya.
(hilmy nugraha, juli 2011)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
10 Juli 2011
Labels:
2011,
hilmy nugraha,
juli,
kutipan,
quote
0
kata-kata
Pertanyaan Jilid Malam
Kalau kemudian aku tidak mencapai keinginanku, terus mau apa? Apa dunia kiamat? Apa seluruh orang di dunia jadi memusuhiku?
(Hilmy Nugraha, Juli 2011)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
2 Juli 2011
Labels:
15 menit,
filsafat,
hilmy nugraha,
kutipan,
pertanyaan,
quote
4
kata-kata
Hakikat Belajar
Semakin banyak kita belajar, maka semakin tahu bahwa banyak hal yang kita belum pelajari. Belajar itu menanamkan rasa di alam bawah sadar kita. Lebih abadi, daripada menulis ribuan kata pada buku catatan.
(Hilmy Nugraha, Juli 2011)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
2011,
belajar,
hakikat,
hilmy nugraha,
juli,
kutipan,
pemikiran,
quote
1 kata-kata
Rumah Impian
Semalam atau mungkin lebih tepatnya tadi pagi, aku nonton "Satu Jam Saja", sebuah acara talkshow yang membedah kehidupan satu tokoh di TVOne. Sebenarnya tv-ku sedang tidak sehat-sehatnya, apalagi TvOne. Bures. Gambar ndak jelas. Ya, mungkin ini salah satu cara Tuhan menghindarkan keluarga kami dari racun berita yang diatur itu, hahaha. Tapi jadinya malah pada nonton sinetron. Sami mawon.
Tapi aku ndak akan bahas tentang acara-acara tv yang semakin ndak bermutu ini. Yang aku bahas adalah tentang rumah, konsep rumah. Di acara semalem, sedang bahas tentang kehidupan Djoko Pekik, pelukis terkenal dari Jogja. Setahuku, Djoko Pekik itu pelukis yang karyanya dihargai tinggi oleh orang-orang luar negeri. Makanya mungkin tajuk acara itu menjadi "Pelukis 1 Milliar".
Yang aku kagumi bukanlah lukisannya, atau cara dia mendapatkan filosofi hidup melalui minum arak, melainkan rumahnya yang luas. Rumahnya di Bantul itu berukuran luas mencapai 3 hektar. Diapit oleh 2 sungai. Ada aula, rumah, tempat gamelan, tempat sepedaan, sampai tempat pertunjukkan seni. Wuih.
Ya, sedari SMK dulu, aku sering sharing sama sahabat baikku, Henny, tentang impian rumah masing-masing. Kalau Henny, dia pengen punya rumah yang ada kebun klapanya, haha. Karena menurut dia, pohon kelapa itu investasi yang besar. Kalo aku, ya rumahku yang penting di desa. Hidup merakyat, seperti orang biasa. Menghindari riuhnya kota. Dan syukur-syukur bisa kayak rumahnya Cak Nun, yang setiap bulan ada pengajian rutinnya, atau rumahnya Dik Doank, yang selalu ramai anak-anak bermain di Kandank JuranK Doank, wuih, bisa jadi.
Tanah luas, ada kebun, taman bermain, menanam padi sendiri, hasil kebun sendiri, bisa main layangan di halaman rumah, ada kolam ikan, sejuk, lereng gunung, aula kecil maen gamelan.
Bismillah....
09:04
2 Juli 2011
Bendera - Cokelat
Lereng gunung slamet?
Tapi aku ndak akan bahas tentang acara-acara tv yang semakin ndak bermutu ini. Yang aku bahas adalah tentang rumah, konsep rumah. Di acara semalem, sedang bahas tentang kehidupan Djoko Pekik, pelukis terkenal dari Jogja. Setahuku, Djoko Pekik itu pelukis yang karyanya dihargai tinggi oleh orang-orang luar negeri. Makanya mungkin tajuk acara itu menjadi "Pelukis 1 Milliar".
Yang aku kagumi bukanlah lukisannya, atau cara dia mendapatkan filosofi hidup melalui minum arak, melainkan rumahnya yang luas. Rumahnya di Bantul itu berukuran luas mencapai 3 hektar. Diapit oleh 2 sungai. Ada aula, rumah, tempat gamelan, tempat sepedaan, sampai tempat pertunjukkan seni. Wuih.
Ya, sedari SMK dulu, aku sering sharing sama sahabat baikku, Henny, tentang impian rumah masing-masing. Kalau Henny, dia pengen punya rumah yang ada kebun klapanya, haha. Karena menurut dia, pohon kelapa itu investasi yang besar. Kalo aku, ya rumahku yang penting di desa. Hidup merakyat, seperti orang biasa. Menghindari riuhnya kota. Dan syukur-syukur bisa kayak rumahnya Cak Nun, yang setiap bulan ada pengajian rutinnya, atau rumahnya Dik Doank, yang selalu ramai anak-anak bermain di Kandank JuranK Doank, wuih, bisa jadi.
Tanah luas, ada kebun, taman bermain, menanam padi sendiri, hasil kebun sendiri, bisa main layangan di halaman rumah, ada kolam ikan, sejuk, lereng gunung, aula kecil maen gamelan.
Bismillah....
09:04
2 Juli 2011
Bendera - Cokelat
Lereng gunung slamet?
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
2011,
halaman luas,
hilmy nugraha,
juli,
mimpi,
pemikiran,
rumah impian
2
kata-kata
Playing Gamelan
Sudah sekitar satu setengah bulan aku berlatih main gamelan. Awalnya hanya diajak Rizky. Dia diajakin Demas, sepupunya yang jadi punggawa IMM di UMP. Ajak mengajak. Aku mau saja. Jadilah kami bergabung di Seni Karawitan Jamus Kalimasadha.
Maen gamelan sudah jadi resolusiku sejak dulu. Mungkin sama kayak Rini yang pengen belajar biola. Gamelan bisa jadi klangenan waktu aku masih SMP dulu. Aku begitu hobi mendengarkan sekelompok alat musik ini. Melalui wayang tentunya.
Dan kemarin-kemarin dipicu dengan beberapa kali nonton wayang bareng Naim, beberapa kali nonton pertunjukkan Kiai Kanjeng, semakin membuatku pengen belajar gamelan.
Pucuk dicinta ulampun tiba.
Kalo dibilang idealis, bisa saja aku maen gamelan karena pengen nguri-nguri kabudayan jawa. Tapi sejatinya memang banyak faktor pendorong, kenapa aku mau melakukan ini.
Gamelan itu syiar Islam. Disetiap alatnya punya makna, disetiap ketukannya penuh filosofi, disetiap harmoninya mencerminkan keragaman manusia, dan bisa jadi memang gamelan ini puncak peradaban kesenian masyarakat jawa. Gamelan sendiri diciptakan oleh wali. Luar biasa to?
Ada juga karena didalamnya terdapat senam otak yang luar biasa. Tangan kanan dan kiri yang merupakan cerminan kedua belah otak, dipadukan geraknya sangat ritmis dan harmonis. Kita belajar pendengaran disini. Belajar merasakan keharmonian suara. Belajar mengenal ketidaksesuaian nada. Wow!
Dan kalau bukan kita yang akan mempelajarinya, maka siapa lagi? Kita tahu, di Swiss, Belanda, ada kursus gamelan disana. Orang sana bisa jadi jauh lebih jago bermain gamelan daripada kita. Moso' kita ikhlas, kebudayaan kita dipelajari orang, tanpa kita juga bisa menguasainya?
Faktor lain ya karena aku ndak bisa maen gitar atau alat musik modern laiinya, kalopun harus memulai belajar maen gitar, rasanya kok tua banget yah? Hahaha, mending latian gamelan wae cung!
"Sinau gamelan iso nggawe kowe lungo nyang luar negeri cah...", kata Pak Bejo, instruktur gamelan kami.
Wuih, iso iki!
11:40
2 Juli 2011
Yuh, mayuh, dolanan jawa.
Maen gamelan sudah jadi resolusiku sejak dulu. Mungkin sama kayak Rini yang pengen belajar biola. Gamelan bisa jadi klangenan waktu aku masih SMP dulu. Aku begitu hobi mendengarkan sekelompok alat musik ini. Melalui wayang tentunya.
Dan kemarin-kemarin dipicu dengan beberapa kali nonton wayang bareng Naim, beberapa kali nonton pertunjukkan Kiai Kanjeng, semakin membuatku pengen belajar gamelan.
Pucuk dicinta ulampun tiba.
Kalo dibilang idealis, bisa saja aku maen gamelan karena pengen nguri-nguri kabudayan jawa. Tapi sejatinya memang banyak faktor pendorong, kenapa aku mau melakukan ini.
Gamelan itu syiar Islam. Disetiap alatnya punya makna, disetiap ketukannya penuh filosofi, disetiap harmoninya mencerminkan keragaman manusia, dan bisa jadi memang gamelan ini puncak peradaban kesenian masyarakat jawa. Gamelan sendiri diciptakan oleh wali. Luar biasa to?
Ada juga karena didalamnya terdapat senam otak yang luar biasa. Tangan kanan dan kiri yang merupakan cerminan kedua belah otak, dipadukan geraknya sangat ritmis dan harmonis. Kita belajar pendengaran disini. Belajar merasakan keharmonian suara. Belajar mengenal ketidaksesuaian nada. Wow!
Dan kalau bukan kita yang akan mempelajarinya, maka siapa lagi? Kita tahu, di Swiss, Belanda, ada kursus gamelan disana. Orang sana bisa jadi jauh lebih jago bermain gamelan daripada kita. Moso' kita ikhlas, kebudayaan kita dipelajari orang, tanpa kita juga bisa menguasainya?
Faktor lain ya karena aku ndak bisa maen gitar atau alat musik modern laiinya, kalopun harus memulai belajar maen gitar, rasanya kok tua banget yah? Hahaha, mending latian gamelan wae cung!
"Sinau gamelan iso nggawe kowe lungo nyang luar negeri cah...", kata Pak Bejo, instruktur gamelan kami.
Wuih, iso iki!
11:40
2 Juli 2011
Yuh, mayuh, dolanan jawa.
Akar Rumput
Mungkin bagianku tak selalu harus di atas. Bekerja di bawah pun sudah menjadi kesenangan bagiku. Kerjaku boleh di akar rumput, tapi jaringanku adalah batang-batang besar yang tersebar dimana-mana.
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
28 Juni 2011
Labels:
2011,
Akar Rumuput,
hilmy nugraha,
juni,
kerjaan,
kutipan,
pekerja,
quote
1 kata-kata
Gelap
Tetaplah menjadi gelap, karena disitulah kau mengerti makna cahaya
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
23 Juni 2011
Labels:
2011,
gelap,
hilmy nugraha,
juni,
kutipan,
quote
1 kata-kata
Riuh
Dunia sudah sedemikian riuhnya. Sangat disayangkan kita sendiri tenggelam didalamnya, namun tak mampu memahami setiap rinci yang terjadi, lupa akan mencari ke dalam diri, dan selalu hingar pada kenyataan.
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)


