Tampilkan postingan dengan label juni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label juni. Tampilkan semua postingan

#22 : pesen CN di juni.


Sekarang memang kita membutuhkan revolusi pindah kiblat, Kiblat ibadah mahdhah kita sudah jelas, namun kiblat kebudayaan, pola pikir, ideologi, bahkan kiblat lidah untuk menentukan makanan itu enak atau tidak sudah harus pindah. Inilah yang sebenarnya bisa disebut dajjalisasi, yakni kita semua dipindah kiblatnya, bahkan mungkin dalam ibadah mahdhah-pun, kiblat muatan hati dan pikiran kita juga telah dipindah. Artinya kita melakukan ibadah mahdhah, niatnya boleh jadi bukan lagi 'Ka'bah'. Dan hampir di semua bidang, yang terjadi saat ini adalah dipindahnya kiblat kita menjadi manipulasi Masjidil Aqsha, yakni bahwa Masjidil Aqsha yang kita ketahui saat ini, bukanlah masjidil aqsha yang sebenarnya. Maka, kita semua adalah korban dari tipu daya. Prinsip Dajjal sangat sederhana: kamu diajari untuk merasakan surga sebagai neraka dan sebaliknya. Maka, yang saat ini kita kejar-kejar, sebenarnya adalah neraka. Dan yang kita takuti dan jauhi habis-habisan justru adalah surga. Sehingga kita menjadi keliru kapan harus bersedih dan kapan harus bergembira, kapan marah kapan sabar, dan seterusnya.
 Hidup itu yang nomor satu bukanlah kesiapan menikmati hasil, melainkan kesiapan untuk berjuang. Kalau mau lebih tinggi, adalah kesiapan menikmati proses perjuangan, yang pasti susah dan sengsara. Tetapi dengan manajemen ruhani yang tepat untuk menikmati kesusahan dan kesengsaraan dengan mencari hikmah dari Tuhan dalam setiap kesusahan dan kesengsaraan perjuangan. Dengan begini, dalam kesusahan dan kesengsaraan apapun, masih akan ditemukan banyak alasan untuk bergembira, sebab setiap kesengsaraanmu adalah harapanmu di hadapan Allah. #emhaainunnadjib

Akar Rumput

Mungkin bagianku tak selalu harus di atas. Bekerja di bawah pun sudah menjadi kesenangan bagiku. Kerjaku boleh di akar rumput, tapi jaringanku adalah batang-batang besar yang tersebar dimana-mana.

(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Oseng Mercon

Untuk M

Oseng-oseng mercon itu terasa panas.
Berdiri dihadapanku kawan-kawan sepermainan.
Merasakan osen mercon cuma sampai ke mulut,
paling jauh ya tenggorokan hingga lambung,
tapi tidak aku.
Sampai ke hati.

Kabar berita begitu cepat,
diawal berbahagia juga aku,
lama tak dengar suara plus kabar darimu,
diakhiri dengan kabar yang komplikasi
dilematis, kontroversi, dan apalah namanya

kau menikah, akhir bulan ini.

Oseng-oseng mercon, meledak seketika, di mulut, lambung, otak hingga ke hati.

7 Juni 2011
Menanggapi bulan lalu, yang, membahagiakan, ya?

Gelap

Tetaplah menjadi gelap, karena disitulah kau mengerti makna cahaya
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Riuh

Dunia sudah sedemikian riuhnya. Sangat disayangkan kita sendiri tenggelam didalamnya, namun tak mampu memahami setiap rinci yang terjadi, lupa akan mencari ke dalam diri, dan selalu hingar pada kenyataan.
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)