Tampilkan postingan dengan label emha ainun najib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label emha ainun najib. Tampilkan semua postingan

#4 : alamisasi

Dasar pertimbangan paling tepat untuk dipilihnya seseorang menjadi seorang pemimpin adalah atas dasar pertimbangan wahyu. Raja hutan adalah Macan, karena Macan adalah individu hutan yang mendapat wahyu untuk menjadi pemimpin di hutan.
Proses diangkatnya Macan sebagai raja hutan adalah peristiwa yang alamiah, karena mekanisme hutan berlangsung sesuai dengan sunatullah. Proses tersebut tidak dapat dimanipulasi dengan cara misalnya, tikus membayar segerombolan ayam untuk memacan-macankan si tikus sehingga si tikus mendapat tahta raja hutan. 
Berbeda pada proses pemilihan pemimpin di dunia manusia, seseorang yang tidak sinisihan wahyu ke-macan-an berupa modalitas dan karisma kepemimpinan bisa berpeluang menduduki kursi kekuasaan hanya dengan membayar sejumlah uang. Produk kepemimpinan macam apa yang dihasilkan oleh praktik manipulatif seperti itu?
Sementara itu, sistem yang berjalan saat ini benar-benar tidak mempeluangi manusia yang sebetulnya punya potensialitas ke-macan-an untuk menduduki posisi kepemimpinan yang seharusnya. 
Proses yang manipulatif itu, saatnya kita alamisasi. Sehingga tidak lagi tikus dipeluangi untuk membayar sekawanan ayam untuk berkoar-koar mengakui tikus itu sebagai macan demi tujuan memperoleh tampuk kekuasaan.
Proses alamisasi tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan, gerakan perubahan di berbagai level gelombang mencoba memperbaiki kondisi manipulatif tersebut tanpa membuahkan hasil. Karena memang persoalan bangsa ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Bahwa mengubah Indonesia berarti mengubah peta dan konstelasi dunia. Oleh karenanya, kita butuh untuk meloncat ke kesadaran yang lebih tinggi.

- sebuah Ungkapan Zaman Juguran Syafaat, untuk Banawa Sekar

#2 : parenting

memang Allah bukan pendidik utama anak-anak kita?
kamu kan cuma dititipi, tapi pendidik utama kan Allah
jangan GR, Allah gurunya, kita asistennya.
kita mengawal, kita fasilitatornya, tapi Allah gurunya.
Allah juga punya rencana pendidikan untuk anak kita.
sekolah bukan satu-satunya.
 - EAN

#71 : PAHLAWAN SEJATI

Kepada seorang Ibu sederhana di sebuah dusun, yang pekerjaannya
mencintai dan menemani wong cilik di desanya sepanjang hidup, saya
mengajukan pertanyaan yang agak muluk: "Bu, siapakah pahlawan sejati?"


Ia menjawab: "Pahlawan sejati ialah orang yang berani omong tentang
perjuangan sosial dan membela rakyat hanya sesudah ia sendiri sanggup
bertanggung jawab secara mandiri atas perutnya sendiri. Pahlawan
sejati ialah orang yang membela rakyat dengan kekuatan dan uang
pribadinya, bukan dengan dana dari luar yang apalagi ia sendiri diupah
untuk apa yang diperjuangkannya. Tapi yang terpenting adalah bahwa
pahlawan sejati tidak pernah sempat menganggap dirinya pahlawan bahkan
tidak punya waktu untuk mengingat kata pahlawan".


Saya bereaksi: "Waduh, Bu, kok berat dan muluk sekali syarat untuk
menjadi pahlawan sejati?" Ibu itu menjawab lagi: "Memang berat dan
muluk. Maka tidak akan berminat. Maka tidak populer dan tidak dipakai.
Kalau ada yang memakainya, mungkin malah dikutuk, dirasani dan
difitnah di mana-mana..."


(Emha Ainun Nadjib/Seri PadangBulan (187)/PadhangmBulanNetDok)

#65 : Padhang Bulan by Anda Perdana (OST RAYYA)

saya menunggu film ini rilis. bagus.

Cahaya kasih sayang menaburi malam
Hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan
Alam raya, cakrawala pasrah dan sembahyang
Yang palsu ditanggalkan yang sejati datang
Yang dusta dikuakkan, topeng-topeng hilang
Jiwa sujud, hati tunduk pada-Mu Tuhan
Beribu hamba-Mu bernyanyi rindu
Bergerak menari bagai gelombang
Sepi mereka karena dipinggirkan
Oleh kedzaliman kekuasaan dan kesombongan
Suara mereka merobek langit
Bergolak suara sunyi mereka semua
Waktu berhenti, alam menanti
Tuhan kekasih akan mengakhiri
Kekasih mendampingi setiap langkah
Pada laparmu, cinta-Nya merekah
Tataplah wajah-Nya, hatimu pun cerah
Lihatlah,lihatlah mentari baru
Yang terbit dari dalam tekadmu
Sesudah senja diujung duka
Nikmatilah mengalirnya cahaya
(Padhang mBulan)

lagu ini dipopulerkan oleh Franky Sahilatua dan Kiai Kanjeng, kemudian dijadikan soundtrack di film "RAYYA". Lirik oleh Emha Ainun Nadjib. 

#34 : tidur.

aku tidak mampu menikmati tidur sebagai acara tidur. maksudku, aku harus selalu bekerja keras sampai badanku tidak kuat dan lantas secara alamiah aku tidur. aku tidak pernah akrab dengan ranjang dan kasur, sebab aku mendatanginya hanya ketika aku sudah sangat mengantuk dan kesadaranku tinggal lima watt. tak mungkin aku bergaul intensif dengan siapapun dan dengan apapun hanya dengan bekal kesadaran lima watt.
bukannya aku meremehkan tidur. tidur itu sangat penting. tetapi bagiku tidur itu bukan terutama merupakan mekanisme budaya atau kegiatan budaya dalam hidupmu. tidur itu kegiatan alam. pekerjaan natural. itu keharusan atau sunnah dari Allah pada momentum tertentu setiap hari. oleh karena itu sering aku heran kepada orang-orang yang begitu sibuk mengurusi ranjang, membeli kasur dengan segala keindahannya. padahal kasur itu urusannya orang tidur. dan tidur itu urusannya orang mengantuk. dan kalau orang sudah dalam keadaan sangat mengantuk, ia hampir tidak perduli apakah didepannya itu kasur ataukah tikar. oleh karena itu bagiku, tidur tidak perlu aku programkan dalam kebudayaan. ia alamiah. (CN)

#22 : pesen CN di juni.


Sekarang memang kita membutuhkan revolusi pindah kiblat, Kiblat ibadah mahdhah kita sudah jelas, namun kiblat kebudayaan, pola pikir, ideologi, bahkan kiblat lidah untuk menentukan makanan itu enak atau tidak sudah harus pindah. Inilah yang sebenarnya bisa disebut dajjalisasi, yakni kita semua dipindah kiblatnya, bahkan mungkin dalam ibadah mahdhah-pun, kiblat muatan hati dan pikiran kita juga telah dipindah. Artinya kita melakukan ibadah mahdhah, niatnya boleh jadi bukan lagi 'Ka'bah'. Dan hampir di semua bidang, yang terjadi saat ini adalah dipindahnya kiblat kita menjadi manipulasi Masjidil Aqsha, yakni bahwa Masjidil Aqsha yang kita ketahui saat ini, bukanlah masjidil aqsha yang sebenarnya. Maka, kita semua adalah korban dari tipu daya. Prinsip Dajjal sangat sederhana: kamu diajari untuk merasakan surga sebagai neraka dan sebaliknya. Maka, yang saat ini kita kejar-kejar, sebenarnya adalah neraka. Dan yang kita takuti dan jauhi habis-habisan justru adalah surga. Sehingga kita menjadi keliru kapan harus bersedih dan kapan harus bergembira, kapan marah kapan sabar, dan seterusnya.
 Hidup itu yang nomor satu bukanlah kesiapan menikmati hasil, melainkan kesiapan untuk berjuang. Kalau mau lebih tinggi, adalah kesiapan menikmati proses perjuangan, yang pasti susah dan sengsara. Tetapi dengan manajemen ruhani yang tepat untuk menikmati kesusahan dan kesengsaraan dengan mencari hikmah dari Tuhan dalam setiap kesusahan dan kesengsaraan perjuangan. Dengan begini, dalam kesusahan dan kesengsaraan apapun, masih akan ditemukan banyak alasan untuk bergembira, sebab setiap kesengsaraanmu adalah harapanmu di hadapan Allah. #emhaainunnadjib

#19 : semuanya bernyanyi


semuanya bernyanyi saksikanlah
orang-orang riang hati
semuanya gembira bersorakan
wajah-wajah suka ria

mensyukuri rahmat illahi rabbi
matahari terbit kembali
sesudah duka bertubi-tubi
cahaya benderang kembali

betapa indahnya kebebasan
kecerahan menerpanya

pintu tlah terbuka kegelapan
kebuntuan telah sirna
betapa lamanya menantikan
cahayanya dipancarkan

kini Tuhan memenuhi janji
dibuka olehnya terali
beban seakan tak teratasi
kini mereka lahir kembali

betapa agungnya anugerah
sangat cerah hadiahnya

kalau waktunya telah datang
kalau pagi telah benderang
kalau tlah tiba janji Tuhan
mereka yang disengsarakan
diberi kemuliaan

menghisab Tuhan


Dikisahkan ketika Rasulullah thawaf, di depannya ada orang Badui yang juga sedang thawaf. Si Badui menyebut satu sifat Allah saja, yaitu ‘Ya Kariim..Ya Kariim..Ya Kariim’. Rasulullah senang sampai kemudian menirukan di belakangnya. Si Badui menoleh, dan memperingatkan Rasulullah untuk tidak menirukannya.


    Rasulullah tetap menirukan tapi lebih pelan. Setelah 3 tahap ditirukan, si Badui merinding dan menoleh sambil berkata:

    ‘Wahai kamu orang Arab, kalau tidak karena aku memandang wajahmu yang penuh cahaya, sebenarnya aku benar-benar marah kamu tirukan aku dan akan aku laporkan kepada Muhammad!’

     Rasulullah bertanya, ‘Kamu kenal Muhammad?’

    ‘Aku berkeliling mencari-carinya ,tapi bahkan sampai saat ini aku belum juga bertemu dengannya,” jawab si  Badui. 

    ‘Ya Badawi, aku ini Muhammad nabimu.’ 

    Orang Badui itu langsung memeluk Muhammad, mencium tangannya. Ketika itu datang Jibril, menyampaikan salam dari Allah untuk Muhammad dan juga menyampaikan pertanyaan dari Allah untuk si Badui. 
  
     ‘Apakah engkau mengira bahwa Allah tidak akan menghisab dosa-dosamu dengan wirid Ya Kariim Ya Kariim?’ 

     Orang Badui itu menjawab, ‘Apa? Allah akan menghisab saya? Kalau Allah berani-berani menghisabku, aku akan ganti menghisab Dia.’ 

     Jibril kembali menyampaikan pertanyaan Allah kepada si Badui, ‘Ya Muhammad, Allah menitipkan pertanyaan bagaimana caranya kamu menghisab Allah padahal Allah lah yang berposisi menghisabmu?’      

    ‘Kalau Allah menghisab dosaku, maka aku akan menghisab ampunan-Nya kepadaku. Kalau Allah menghisab kelalaian hidupku, salah-salahnya sikapku, maka aku akan menghisab kedermawanan-Nya padaku.’     

     Allah menyuruh Jibril berkata pada Muhammad untuk menyampaikan kepada si Badui, ‘Tidak usah kamu menghisab-hisab Allah, karena Aku tidak akan menghisab kamu!’



dari sini

Tuhan berhak memaparkan suatu gejala yang pada repetisi kesekian dihipotesiskan oleh manusia sebagai jenis "perilaku" Tuhan atas nasib manusia. Tapi Tuhan juga berhak kapan saja melanggar rumusan apapun yang pernah Ia berikan. Bahkan Tuhan seratus persen tidak berkewajiban untuk berbuat adil kepada siapa pun, karena Ia tidak terikat atau bergantung pada pola hubungan apapun dengan siapa pun, yang secara logis membuat-Nya wajib bertindak adil.
Namun Ia selalu sangat adil kepada siapa pun, dan tindakan adil-Nya itu bukan karena Ia wajib adil, melainkan karena Ia sangat sayang kepada makhluk-Nya.
Disaat manusia berlomba-lomba menampilkan eksistensi dirinya dalam panggung kehidupan yang penuh kepalsuan dan hipokrisi, Maiyah sanggup membuang dirinya dan tak dianggap oleh siapapun. Ia bersedia ketlingsut. Maka, ketika orang-orang ramai-ramai membicarakan satrio piningit, mereka tak sadar bahwa satrio piningit itu sebenarnya telah tiba.

bangbang wetan


Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina (fajar t'lah tiba)
Srengengene muncul, sunar sumamburat (mentari terbit sinarnya semburat)
Cit-cit cuwit-cuwit cit-cit cuwit-cuwit,
cit cuwit rame swara ceh-ocehan (bercicit-cicit suara burung bersiulan)
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret (berderak-derik)
Nimba aneng sumur, (menimba air di sumur)
adus gebyar-gebyur (untuk mandi berguyur)
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah (segarnya luar biasa, senang)
Bagas kuwarasan (sehat wal afiat)

semau-maumu


kalau memang itu maumu
mencari bahagia dengan menuruti nafsu
terserah kamu

pandailah sendiri
dan bodohlah sendiri

kehidupan dan kematian
keuntungan dan kerugian
kau sendiri yang menentukan sesudah Tuhan

ke utara atau ke selatan
cahaya atau kegelapan
kau sendiri yang mengambil keputusan

buat apa ku mengingatkan
kalau Tuhan saja tiada engkau dengarkan
silakan jalan

hebatlah sendiri
dan konyollah sendiri

kenikmatan dan kepuasan
bukanlah pada khayalan
tapi didalam sehatnya akal pikiran

mencari rahasia Tuhan
sejatinya kebahagiaan
memijakkan kaki di bumi kenyataan

lampiaskan semau-maumu
hanyutkanlah diri sesuka-sukamu
telanlah api dunia sekenyangmu
tapi jangan sesalkan akan cepat datang mautmu

vocal by : Emha Ainun Nadjib dan novia Kolopaking
music by : Kiai Kanjeng
hidup itu nomer satu bukan memetik, tetapi menanam. hidup itu nomer satu bukan sukses, tetapi berjuang. temukan kegembiraan dalam menanam melebihi kegembiraan dari memetik. temukan kegembiraan dalam berjuang melebihi kegembiraan dari keberhasilan.

-ean

---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

Gontor itu Indah

Ada alasan kuat yang membuat saya tak dituduh "memuji-muji dan membangga-banggakan Gontor karena memang bekas almamaternya". Pada awal 1968, pasca-"revolusi lokal" yang gagal, saya mathrud alias diusir atawa dipecat dari pondok modern itu.

Ketika itu berlangsung semacam martial law. Hukum darurat. Gara-gara memprotes ketidakadilan Qismul Amn, semacam kopkamtib. Pak "pangkopkamtib" mengadili saya jam 02.00 dini hari hingga bakda subuh. Vonisnya, saya dideportasikan pagi itu juga, alias "gulung tikar angkat koper"- demikian istilahnya di sana.

Beberapa hari kemudian, saya ke Gontor lagi khusus untuk petentang-petenteng. Tak sampai setahun kemudian "panglima" keamanan dan ketertiban ini mengalami nasib seperti saya, "gulung tikar angkat koper". Namun, sejak itu "situasi politik" normal kembali.

Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan penghargaan saya terhadap Gontor sama sekali tak pernah menurun. Pesantren masyhur itu, di masa silam memang pernah mencatat suatu mekanisme sistem hukum yang brutal dan agak primitif. Namun, secara keseluruhan, pola dan nuansa kependidikan Gontor adalah contoh kongkret dari banyak hal yang dewasa ini kita baru menggagas-gagasnya lewat perdebatan pemikiran di kota-kota yang selalu merasa lebih maju dibanding yang bukan kota. Dan bagi saya sendiri, pengusiran itu adalah metode yang sebaik-baiknya- suatu total alienation untuk suatu total loneliness- yang menyiksa saya untuk menjadi saya sekarang ini.

Sejak itu saya amat rakus dengan metode "bersikap sangat keras bahkan kejam kepada diri sendiri" dan menyeleksi cita-cita menjadi hanya sebiji: bekerja keras sampai hari terakhir hidup saya. Pernah saya menulis Gontor adalah camp Shaolin. Para santri bekerja dari pukul 04.00 hingga 22.00 nonstop, hidup dari bel ke bel. Makan, mandi, olahraga sekolah berduyun-duyun, tidur berjajar-jajar bagai pindang. Setiap anak berlatih membangun privacy, mendengarkan kesunyian diri, di tengah riuh-rendah.
Bahkan gegap-gempita latihan pidato tiga bahasa dan gemuruh tepuk tangan itu justru terasa begitu sepi di tengah sunyi pedusunan sekitarnya. Kalau di tengah sepi malam Anda membunyikan sedenting logam, suara itu menegaskan kesunyian.

Sepi juga isi pidato anak-anak itu: heroisme nasional, kisah tokoh-tokoh pengubah dunia, jargon-jargon bahasa Inggris, balaghah Arab, perekatan umat dan kemanusiaan- di tengah-tengah tradisi satu antargolongan Kaum Muslimin, degradasi nasionalisme, jangkauan-jangkauan sosio-politik dan sosio-budaya yang makin menyempit, tatkala teknologi informasi menyeribu-kali-lipatkan mata pandang manusia, serta di tengah idolatri masal terhadap hanya figur-figur musik rock dan kiper sepak bola.

Namun, yang paling sunyi adalah ketika datang magrib, isya, dan subuh. Tiga ribu santri menyuarakan kor puisi Abu Nawas tentang dosa sebilangan pasir di padang-padang yang tak terukur karena bertepikan cakrawala. Untunglah, yang mendendangkan sunyi adalah "seekor" Abu Nawas yang "sinting": "Ya Allah, hamba ini tak potongan masuk surga, tapi kalau harus masuk neraka ya jangan dong!".... Mendengarkan syair Abu Nawas macam itu sering tak bisa saya halangi benak saya spontan berkata, "Tuhan pasti jengkel, tapi juga pasti sayaaang banget sama si Abu itu ...."

Dan pada Lebaran yang lalu, hati saya tak tertahankan untuk tak ke Gontor sesudah hampir 15 tahun. Puisi Abu Nawas tak bisa dipentaskan keagungannya dengan kecanggihan peralatan apa pun, dan sejauh yang saya alami hanya di Gontor saya bisa memasuki puisi hidup Abu Nawas (baca: Abu Nuwas), karena segala konsep estetika dan religiusnya dipanggungkan di kedalaman jiwa dan kehidupan kongkret Pesantren Gontor.

Kemudian ternyata Pak Kiai menyodorkan sunyi pula kepada saya. Ketika untuk acara Delapan Windu Gontor saya rekomendasikan sebuah nama tokoh nasional, Kiai bilang, "Ah, bagi beliau Gontor ini dekaden. Tidak menyatu dengan masyarakat. Eksklusif. Tidak seperti pesantren-pesantren pilot project LSM yang beliau pimpin yang mengintegrasikan pondok ke masyarakat sekitarnya dengan kerja sama sosial ekonomi, bikin pelatihan pertukangan, pertanian, kerajinan, kewiraswastaan ...."

Kok, ada kiai minder begitu. Kan Gontor juga punya keistimewaannya sendiri: pendidikan bahasa, disiplin, dan "sunah pondok"-nya, tidak NU tidak Muhammadiyah. Santri-santrinya terkenal artikulatif dan kepribadiannya.

Maka, sunyi itu menyeret kaki saya keliling pesantren, bahkan sekelilingnya dalam radius setidaknya lima kilometer. Mata sunyi saya menatapi santri-santri yang sedang sibuk mengurusi toko besi dan perlengkapan bangunan, apotek, rumah sakit mini, huller alias dolognya pondok yang bekerja sama dengan ribuan petani, rumah makan. Mereka mengatur pembelian jasa ratusan penduduk untuk keperluan sehari-hari para santri, masjid-masjid para warok, toko kelontong alias toserba, toko buku. Para santri juga mendirikan bangunan sekolah di sekitar, mengangkuti padi, mendekor seantero pesantren dengan rancangan estetik yang sebebas-bebasnya asal jangan memelihara monyet, pramuka, musik, teater ....

"Ah! Tapi itu bukan inisiatif saya, kok," ujar Pak Kiai malu-malu, "Wong, itu semua ide anak-anak sendiri ...."

Gontor dan dusun-dusun sekitarnya itu small is beautiful, kecil itu indah. Distribusi pendapatan, distribusi ide dan tanggung jawab, kelangsungan bottom up murni tanpa proposal ke lembaga dana di planet Mars untuk proyek konsientisasi, demokrasi yang diinfrastrukturi oleh ilmu tentang batas, akidah, dan ilahiah, lempar tongkat jadi tanaman, bola salju, bola salju, bola salju.

Kiai tak pernah kasih ceramah atau pengajian. Sesudah uluk salam di podium masjid, langsung bilang, "Tolong, saya minta daftar pengaturan rombongan santri yang mengangkuti batu bata untuk sekolahan yang di desa Anu itu ...."

EMHA AINUN NADJIB
(Sumber: Majalah Tempo, Edisi. 17/XXII/15 - 21 Juni 1991)

Kiai Kanjeng - Imam Fatawi - Cinta bla..bla...bla...


sebuah video Kiai Kanjeng, vokalis Mas Imam Fatawi, dengan judul "Cinta Bla.. Bla.. Bla..", dibawakan di Gedung Kesenian Jakarta, Konser 8 Kiai Kanjeng.

Resep Sehat ala Cak Nun

Emha Ainun Najib yang populer dengan panggilan Cak Nun, biasanya selalu energik dalam berbicara di panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari serta bersemangat ketika mengeluarkan statemen. Suami Novia Kolopaking ini ternyata mempunyai rahasia hidup tersendiri yang beliau jalani selama ini. Apa saja itu? Ikuti wawancara saya dengan Kiai Mbeling ini….

Mr: Assalamu alaikum Cak…

Cn: Wa alaikum salam Warahmatullah wabarakatuh

Mr: Mohon maaf Cak Nun, di usia panjenengan yang tergolong sepuh ini, apa ada rahasianya sehingga tetap energik berkeliling kota bahkan lintas Negara?

Cn: Jelas ada. Saya ini berusaha tidak akan makan kalau tidak lapar dan tidak akan makan makanan satu piring walaupun saya bisa makan satu piring penuh. Maka saya prihatin sebenarnya dengan kru muda Kiai Kanjeng dan umumnya anak-anak muda bangsa ini sekarang yang mudah kena flu dan gampang sakit-sakitan kalau di tren. Dan saya salalu memelihara ketenangan batin dengan menghadirkan Allah dan Rasulullah dalam diri, karena itulah energi yang hebat. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah walaupun hanya tidur satu jam sehari tidak pernah sakit-sakitan.

Mr: Caranya Cak?

Cn: Jangan banyak bicara jika tidak perlu. Selalu berdzikrullah kemanapun dan di manapun dari lubuk hati serta membaca shalawat kepada baginda Nabi Muhammad saw. Ketika menghadirkan Allah dalam dirimu, maka kamu akan tenang. Ketika menghadirkan rasulullah, dirimu akan menjadi tentram. Itu semua sudah janji Allah di al-Qur’an.

Mr: Walaupun di tengah keramaian?

Cn: Nah inilah fungsinya topo ngrame. Yaitu mampu menghadirkan Allah walaupun dalam keadaan seramai apapun. Kalau sudah bisa berdzikrullah dalam keramaian, kamu akan mempunyai kekuatan energi. Tapi, kalau sudah bisa jangan pernah sombong.

Mr: Energi apa yang panjenengan maksud?
Cn: Ya energi dari Allah yang diberikan kepada orang-orang dahulu sebelum kita. Mereka mampu menghidupkan listrik rumah-rumah warga satu desa dengan kekuatan energi yang mereka miliki tanpa menggunakan skakel atau remote control. Di sinilah kebersihan dan kejernihan hati dipertaruhkan, dan kita ini kalah jauh dibandingkan mereka. Nah, karena sekarang kesucian jiwa tidak menjadi ukuran, maka orang-orang yang berbuat kotor pun tetap bisa memperoleh gelar-gelar tertentu. Kalau ada seorang yang mau mendapatkan gelar doctor, kemudian dua jam sebelumnya dia berzina dengan perempuan dan tidak ketahuan. Dia tetap saja akan mendapatkan gelar itu. Sedangkan dulu tidak seperti itu. Inilah yang saya katakan kekuatan manusia semakin menurun.

Mr: Sejarah seperti itu, bisakah terulang?

Cn: Sangat-sangat bisa. Maka jangan gampang menuduh dulu kepada peserta The Master dengan mengatakan mereka menggunakan jin. Apa buktinya kalau mereka pakai jin?, Orang menuduh itu harus punya bukti. Justru sebaliknya, kita sebagai orang beriman harus mengambil pelajaran dan berprasangka baik, bahwa energi diri yang dikelola dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Cuma, saya nggak setuju kalau punya kekuatan saja kok dimasukkan TV. Mau bedah rumah dimasukkan TV. Kalau kamu mau memperbaiki rumah tetanggamu, lebih baik ya diam-diam saja. Sekali lagi, semua bisa asalkan mau membersihkan jiwanya.

Mr: Cara untuk menuju ke arah sana Cak?

Mr: Tinggalkan segala bentuk suplemen, yaitu segala sesuatu yang diluar Allah. Karena hal itu membuat kita kerdil, lemah, loyo dan kehilangan energi diri yang telah dianugerahkan oleh Allah. Orang yang biasa menggunakan suplemen berarti lemah tauhidnya karena biasa mengandalkan selain Allah. Maka bisa kamu lihat, kehidupan kebanyakan manusia akhir-akhir ini yang telah menggunakan suplemen, penyakitnya justru macam-macam. Kalau media mau mengekspose, banyak sekali orang mati gara-gara suplemen. Sayang jarang sekali yang mau mengekspose.

Mr: Kalau soal tidur satu jam bagaikan semalam?

Cn: Kalau kamu sudah bisa menjadi khalifah atas diri kamu sendiri. Kamu sudah bisa menekan nafsumu dengan baik, maka sama saja makan sedikit dengan makan banyak. Sama saja sedikit tidur dengan banyak tidur. Saya sudah mengikhlaskan diri saya untuk Allah. Semua saya serahkan kepada Allah. Jadi ya tidak ada beban, karena sudah terserah Allah.

Mr: Jadi kita tetap harus berdoa kepada Allah?

Cn: Ya, namun jangan mengartikan doa itu meminta, tetapi menyapa. Contohnya, kalau kamu sering menyapa dan baik dengan saya, walaupun kamu tanpa meminta, kalau saya punya apa-apa pasti kamu saya beri. Tetapi kalau kamu tidak pernah menyapa saya, lalu kamu selalu meminta terus kepada saya. Kamu tidak akan saya hiraukan. Kata dasar doa adalah da’aa- yad’uu. Artinya menyapa.

Mr: Mengenai pentas, apa yang Cak Nun inginkan dengan adanya pementasan-pementasan?

Cn: Yang saya inginkan hanyalah menguatkan persaudaraan dan kedekatan dengan sesama manusia. Bagi saya, sama saja yang datang dalam acara-acara pementasan ini satu orang maupun jutaan orang, yang penting terjadi adanya hubungan persaudaraan.

Mr: Matur Suwun Cak Nun

Cn: Sama-sama.

Oleh: Arif Khunaifi
Sumber: Kompasiana

dari sini

C untuk Cak Nun


Santri tanpa sarung; haji tanpa peci; kiai tanpa sorban; dai tanpa mimbar; mursyid tanpa tarekat; sarjana tanpa wisuda; guru tanpa sekolahan; aktivis tanpa LSM; pendemo tanpa spanduk; politisi tanpa partai; wakil rakyat tanpa dewan; pemberontak tanpa senjata; ksatria tanpa kuda; saudara tanpa hubungan darah…

Edaran Untuk Jamaah Maiyah


Kepada semua Khalifah Jamaah Maiyah Nusantara (KJMN)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Dimulai bulannya Rasulullah SAW, terutama dalam jangka pendek menyongsong bulan Maret dan Mei 2012, serta untuk seterusnya, saya mohon kepada para KJMN untuk bersama-sama bahu membahu menyangga Nusantara.
KJMN meneguhkan di dalam batinnya, fikiran:
  1. 

Selalu eling untuk menjaga kepenuhan Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW di hati, fikiran dan jiwa.
  2. Selalu sadar dan peka untuk tidak berlaku menyakiti Allah SWT dan membuat sedih hati Rasulullah Muhammad SAW.
  3. Memohon kepada Allah SWT perlindungan dan keselamatan bagi semua yang hidupnya menomersatukan Allah dan mensyukuri kecukupan rahmat-Nya serta nikmat syafaat Rasul-Nya, yang berupa wujud sunnah qudroh keduniaan apapun asalkan di dalam rohani cinta kepada Beliau berdua.
  4. Memohon perkenan Allah SWT untuk meneguhkan mandat khilafah kepada kesungguhan perjuangan dan cita-cita rahmatan lil’alamin para KJMN.
  5. Memohon peneguhan kuasa dan keadilan yang maujud atas semua yang membelakangi Allah dan Rasul-Nya, yang merusak bumi dan memperhinakan martabat manusia.
  6. Memohon anugerah ma’rifatul-jihad, hidayatul-jihad dan hifdhul-jihad, sebatas hak kekhalifahan, agar menolong KJMN dalam menyusun langkah-langkah Jihad Ilahiyah yang sudah dan sedang dijalankan.
  7. Memohon  keluangan waktu atau kelonggaran kesempatan karena menurut batas ilmu yang diselami oleh KJMN dari hamparan ilmu Allah, diperlukan era-era yang tidak pendek untuk mewujudkan jihadul-ma’iyah.
  8. Memohon tambahan ilmu, quwwah dan “sulthan”, memohon tuntunan dan panduan, agar para KJMN diperjalankan oleh Allah SWT di jalur yang tepat sebatas daya dan skala yang Allah perkenankan.
  9. Memohon perlindungan bagi akar dan pohon Maiyah, bagi hutan-hutan dan taman-taman Maiyah, dari segala marabahaya dari bumi maupun angkasa.
KJMN meneguhkan di dalam lelaku:
  1. Banyak melakukan puasa seikhlasnya dan sekuatnya.
  2. Meningkatkan kesungguhan ibadah makhdloh serta memperdalam kekhusyukannya.
  3. Memperluas dan memperdalam manfaat di dalam setiap persentuhan dan keterlibatan individu, keluarga maupun masyarakat.
  4. Memperbanyak tadarrus Al-Quran serta shalawat pada setiap kesempatan yang memungkinkan.
  5. Secara khusus menyempatkan membaca semua atau yang mana saja di antara Surah Yasin, Surah Al-Khasyr, Surah Muhammad, Al-Ahzab, Al-Hajj dan Al-Waqi’ah.
  6. Bagi yang kemampuannya terbatas mohon banyak-banyak membaca ayat-ayat terpenting dari Allah SWT yang menyangkut kekuasaan, penjagaan dan keadilan-Nya, seperti Ayat Kursi, doa atau firman yang berkaitan dengan Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Yunus, Nabi Musa, serta doa-doa Rasulullah Muhammad SAW.
  7. Sebanyak mungkin membangun atmosfir rumah dan lingkungan dengan lantunan qiro’atul-Qur’an, shalawat-shalawat, serta suara-suara dari “Sohibu Baiti”.
  8. Tidak berpikir, berorientasi dan melangkah ke arah tujuan kekuasaan dan kehebatan keduniaan, karena dua hal tersebut adalah milik Allah, yang wajib diterima oleh para Khalifah jika Allah SWT meminjamkannya, namun tidak boleh disentuh oleh para KJMN pada posisi sebagai sesuatu yang diinginkan dan dikejarnya.
  9. Sehari-hari, membaca Al-Fatihah untuk Rasulullah Muhammad SAW, untuk Syekh al Kurdi al-akbar Bahauddin Syah Naqsyaband, serta untuk Syekh Nursamad Kamba, kemudian membaca 11 kali

    (Ya khafiyyal althaf adriknaa biluthfikal khafiy;
    Ya muhawwilal hawli wal ahwal hawwil haalana ila ahsanil ahwal).
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Muhammad Ainun Nadjib
Kadipiro, 4.02.2012