Tampilkan postingan dengan label kiai kanjeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kiai kanjeng. Tampilkan semua postingan

#71 : PAHLAWAN SEJATI

Kepada seorang Ibu sederhana di sebuah dusun, yang pekerjaannya
mencintai dan menemani wong cilik di desanya sepanjang hidup, saya
mengajukan pertanyaan yang agak muluk: "Bu, siapakah pahlawan sejati?"


Ia menjawab: "Pahlawan sejati ialah orang yang berani omong tentang
perjuangan sosial dan membela rakyat hanya sesudah ia sendiri sanggup
bertanggung jawab secara mandiri atas perutnya sendiri. Pahlawan
sejati ialah orang yang membela rakyat dengan kekuatan dan uang
pribadinya, bukan dengan dana dari luar yang apalagi ia sendiri diupah
untuk apa yang diperjuangkannya. Tapi yang terpenting adalah bahwa
pahlawan sejati tidak pernah sempat menganggap dirinya pahlawan bahkan
tidak punya waktu untuk mengingat kata pahlawan".


Saya bereaksi: "Waduh, Bu, kok berat dan muluk sekali syarat untuk
menjadi pahlawan sejati?" Ibu itu menjawab lagi: "Memang berat dan
muluk. Maka tidak akan berminat. Maka tidak populer dan tidak dipakai.
Kalau ada yang memakainya, mungkin malah dikutuk, dirasani dan
difitnah di mana-mana..."


(Emha Ainun Nadjib/Seri PadangBulan (187)/PadhangmBulanNetDok)

#19 : semuanya bernyanyi


semuanya bernyanyi saksikanlah
orang-orang riang hati
semuanya gembira bersorakan
wajah-wajah suka ria

mensyukuri rahmat illahi rabbi
matahari terbit kembali
sesudah duka bertubi-tubi
cahaya benderang kembali

betapa indahnya kebebasan
kecerahan menerpanya

pintu tlah terbuka kegelapan
kebuntuan telah sirna
betapa lamanya menantikan
cahayanya dipancarkan

kini Tuhan memenuhi janji
dibuka olehnya terali
beban seakan tak teratasi
kini mereka lahir kembali

betapa agungnya anugerah
sangat cerah hadiahnya

kalau waktunya telah datang
kalau pagi telah benderang
kalau tlah tiba janji Tuhan
mereka yang disengsarakan
diberi kemuliaan

menghisab Tuhan


Dikisahkan ketika Rasulullah thawaf, di depannya ada orang Badui yang juga sedang thawaf. Si Badui menyebut satu sifat Allah saja, yaitu ‘Ya Kariim..Ya Kariim..Ya Kariim’. Rasulullah senang sampai kemudian menirukan di belakangnya. Si Badui menoleh, dan memperingatkan Rasulullah untuk tidak menirukannya.


    Rasulullah tetap menirukan tapi lebih pelan. Setelah 3 tahap ditirukan, si Badui merinding dan menoleh sambil berkata:

    ‘Wahai kamu orang Arab, kalau tidak karena aku memandang wajahmu yang penuh cahaya, sebenarnya aku benar-benar marah kamu tirukan aku dan akan aku laporkan kepada Muhammad!’

     Rasulullah bertanya, ‘Kamu kenal Muhammad?’

    ‘Aku berkeliling mencari-carinya ,tapi bahkan sampai saat ini aku belum juga bertemu dengannya,” jawab si  Badui. 

    ‘Ya Badawi, aku ini Muhammad nabimu.’ 

    Orang Badui itu langsung memeluk Muhammad, mencium tangannya. Ketika itu datang Jibril, menyampaikan salam dari Allah untuk Muhammad dan juga menyampaikan pertanyaan dari Allah untuk si Badui. 
  
     ‘Apakah engkau mengira bahwa Allah tidak akan menghisab dosa-dosamu dengan wirid Ya Kariim Ya Kariim?’ 

     Orang Badui itu menjawab, ‘Apa? Allah akan menghisab saya? Kalau Allah berani-berani menghisabku, aku akan ganti menghisab Dia.’ 

     Jibril kembali menyampaikan pertanyaan Allah kepada si Badui, ‘Ya Muhammad, Allah menitipkan pertanyaan bagaimana caranya kamu menghisab Allah padahal Allah lah yang berposisi menghisabmu?’      

    ‘Kalau Allah menghisab dosaku, maka aku akan menghisab ampunan-Nya kepadaku. Kalau Allah menghisab kelalaian hidupku, salah-salahnya sikapku, maka aku akan menghisab kedermawanan-Nya padaku.’     

     Allah menyuruh Jibril berkata pada Muhammad untuk menyampaikan kepada si Badui, ‘Tidak usah kamu menghisab-hisab Allah, karena Aku tidak akan menghisab kamu!’



dari sini

Tuhan berhak memaparkan suatu gejala yang pada repetisi kesekian dihipotesiskan oleh manusia sebagai jenis "perilaku" Tuhan atas nasib manusia. Tapi Tuhan juga berhak kapan saja melanggar rumusan apapun yang pernah Ia berikan. Bahkan Tuhan seratus persen tidak berkewajiban untuk berbuat adil kepada siapa pun, karena Ia tidak terikat atau bergantung pada pola hubungan apapun dengan siapa pun, yang secara logis membuat-Nya wajib bertindak adil.
Namun Ia selalu sangat adil kepada siapa pun, dan tindakan adil-Nya itu bukan karena Ia wajib adil, melainkan karena Ia sangat sayang kepada makhluk-Nya.
Disaat manusia berlomba-lomba menampilkan eksistensi dirinya dalam panggung kehidupan yang penuh kepalsuan dan hipokrisi, Maiyah sanggup membuang dirinya dan tak dianggap oleh siapapun. Ia bersedia ketlingsut. Maka, ketika orang-orang ramai-ramai membicarakan satrio piningit, mereka tak sadar bahwa satrio piningit itu sebenarnya telah tiba.

bangbang wetan


Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina (fajar t'lah tiba)
Srengengene muncul, sunar sumamburat (mentari terbit sinarnya semburat)
Cit-cit cuwit-cuwit cit-cit cuwit-cuwit,
cit cuwit rame swara ceh-ocehan (bercicit-cicit suara burung bersiulan)
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret (berderak-derik)
Nimba aneng sumur, (menimba air di sumur)
adus gebyar-gebyur (untuk mandi berguyur)
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah (segarnya luar biasa, senang)
Bagas kuwarasan (sehat wal afiat)

semau-maumu


kalau memang itu maumu
mencari bahagia dengan menuruti nafsu
terserah kamu

pandailah sendiri
dan bodohlah sendiri

kehidupan dan kematian
keuntungan dan kerugian
kau sendiri yang menentukan sesudah Tuhan

ke utara atau ke selatan
cahaya atau kegelapan
kau sendiri yang mengambil keputusan

buat apa ku mengingatkan
kalau Tuhan saja tiada engkau dengarkan
silakan jalan

hebatlah sendiri
dan konyollah sendiri

kenikmatan dan kepuasan
bukanlah pada khayalan
tapi didalam sehatnya akal pikiran

mencari rahasia Tuhan
sejatinya kebahagiaan
memijakkan kaki di bumi kenyataan

lampiaskan semau-maumu
hanyutkanlah diri sesuka-sukamu
telanlah api dunia sekenyangmu
tapi jangan sesalkan akan cepat datang mautmu

vocal by : Emha Ainun Nadjib dan novia Kolopaking
music by : Kiai Kanjeng

Kita belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran di mulut kita
sendiri dengan perbuatan nyata, kita sudah merasa menjadi pejuang yang paling pejuang. Kemudian seiring dengan itu kita menumpuk ilmu, terus memfestivalkan kata kebenaran di bibir dan kepalan tangan kita, sehingga kita punya utang sangat banyak kepada nilai kebenaran yang kita ucap-ucapkan. 

-Cak Nun-

Kiai Kanjeng - Imam Fatawi - Cinta bla..bla...bla...


sebuah video Kiai Kanjeng, vokalis Mas Imam Fatawi, dengan judul "Cinta Bla.. Bla.. Bla..", dibawakan di Gedung Kesenian Jakarta, Konser 8 Kiai Kanjeng.

da'uni


Da`uni da`uni unaji habibi
Wa la ta’dzuluni fa ‘adzli haram

(Biarlah, biarlah aku mengeluh kepada kekasihku
jangan hardik aku jangan ganggu kemesraanku)

Pergelaran Nabi Darurat Rasul Ad-hoc


YOGYAKARTA, 2 Maret 2012
Tempat dan tanggal:  Taman Budaya Yogyakarta, 2 Maret 2012, Pukul 19.30 WIB
HTM: VVIP Rp. 100.000 | VIP Rp. 75.000 | FSTVL Rp. 50.000
Info selengkapnya silahkan hubungi pemesanan tiket:
0877 389 44111 atau 0857 1299 1224

JAKARTA, 9 Maret 2012
Tempat dan tanggal:  Gedung Kesenian Jakarta, 9 Maret 2012, Pukul 19.30 WIB
HTM: VVIP Rp. 150.000 | VIP Rp. 100.000 | FSTVL Rp. 75.000
Info selengkapnya silahkan hubungi pemesanan tiket:
0856 8890 200 atau 0896 5510 2594

SURABAYA, 13-14 Maret 2012
Tempat dan Tanggal: Gedung “Cak Durasim” Jl. Genteng Kali Surabaya
HTM: FSTVL Rp. 50.000 | VIP Rp. 75.000
Pengambilan Tiket di Cahaya grafika
Jl. Pandigiling No. 338 Surabaya
Pukul: 10.00-16.00
Info selengkapnya: 085648179770 atau 0818589629

black sabbath - changes #np

lagu ini biasa ku dengar di medley "Neng Nduyo Piro Suwene", Kiai Kanjeng.
Kalau disebut ‘manusia’, ternyata bisa berarti ‘hewan’, ‘setan’ atau ‘benda’.
Kalau diucapkan ‘masyarakat’, yang dimaksud bias ‘penduduk’, ‘gerombolan’, juga tidak diurus perbedaannya dengan ‘ummat’, ‘kaum’, ‘bangsa’ atau ‘suku’.
Dikatakan ‘Negara’, padahal kenyataannya ‘Perusahaan’.
Dibilang ‘Demokrasi’ faktanya ‘Jebakan’.
Disebut ‘Agama’, maksud tersembunyinya adalah ‘Komoditas’.
Diumumkan kata ‘Umroh’, maksud aslinya adalah ‘Money Laundring’.
Dipidatokan ‘Pembangunan’, kandungannya adalah ‘Pegadaian’.
Diorasikan ‘Kemajuan’, prakteknya adalah ‘Kemacetan’.
Membangga-banggakan ‘Kesejahteraan’ tanpa menyebutkan bahwa itu tidak dimaksudkan untuk rakyat.
Menuturkan ‘Keadilan’, tidak ada ilmunya, sehingga tak ada pula kenyataannya.
Kita pikir ‘Pemerintah’, ternyata Buruh yang berlaku Juragan.
Ngomongnya politik, ternyata yang dimaksud adalah Penipuan.
Yang dimaksud ‘Nabi’ adalah Dukun
Yang dimaksud ‘Malaikat’ adalah adalah Peri
Yang dimaksud ‘Tuhan’ adalah Artis.

Sabrang Mowo Damar Panuluh



dari sini

Ning Ndunyo Piro Suwene

Ning ndunyo piro suwene,
njur bali ning panggonane,
ning akerat yo sejatine,

Mung amal becik yo sangune,
nanging ojo ngucap 'bodo yo ben',
golek ilmu kudu telaten.

Ning dunyo peteng mripate,
menungso kesasar dalane,
nuntut ilmu ilang faedahe.

Do sembahyang salah niate.
ning dunyo arep ngopo rumangsane,
kedabikan mrono biyayakan mrene,

Nguber kuoso lan bondo ora enteke..
kabeh do ketlandur, mesakno anak putune.

(Ning Ndunyo Piro Suwene - Kiai Kanjeng)

Shohibu baiti


Shohibu baiti… Ya shohibu baiti…
Tuan rumahku… Wahai tuan rumah(ku)

Imamu hayatii… Ya Imamu hayati…
Pemimpin hidupku… Wahai pemimpin hidupku

Mursyidu imanii… Anta syamsu qolbiy…
Penuntun imanku… Engkau (cahaya) mentari hatiku

Qomaru fuadi… Ya qurratu ‘aini…
Rembulan jiwaku… Wahai penyejuk mataku

Syafi’u nashibiy… Ya maula jihadiy…
Penolong (dari) beban(berat)ku… Wahai muara perjuanganku

Ufuqu Syauqi… Ya baabu akhirati…
Cakrawala rinduku… Wahai pintu keabadianku

Pitu Nguntal Songo

Tak Perlu pijakkan kaki ke puncak 9
Agar tak buntu dan terperosok ke lubang 0
Karena segala yang bukan Tuhan
Tak kan sanggup menanggung 9

Pandang 9 sebagai cakrawala cinta
Junjung 9 di atas kepalamu
Jangan sampai masuk ke mulutmu
Telan 9 rohanikan abadikan ke 8
Sebagaimana ujung penamu
menggoreskan 8

Tak pernah menemukan titik akhirnya
Karena Tak kan pun sampai 7 manusiamu
Karena dungu hingga 9 kau pacu nafsu


(Konser 8 - Kiai Kanjeng)