Tampilkan postingan dengan label kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutipan. Tampilkan semua postingan

#43 : menerima hidup


Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengert, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.
--Tere Liye, novel 'Daun yang jatuh tak pernah membenci angin'

#42 : sebabakibat


"Bagi manusia, hidup itu juga sebabakibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkarmelingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.
Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang akan mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik ke orang lain.
Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, seseorang yang tahu bahwa kebaikkan bisa merubah siklusnya, maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik. Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia, mungkin apa yang dilakukannya tidak ada harganya bagi orang lain, tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin. Siapa peduli? Tetapi langit peduli.”
--Tere Liye, novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

#37 : untuk yang muda


Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.
Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur. (Tere Liye)

Kita belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran di mulut kita
sendiri dengan perbuatan nyata, kita sudah merasa menjadi pejuang yang paling pejuang. Kemudian seiring dengan itu kita menumpuk ilmu, terus memfestivalkan kata kebenaran di bibir dan kepalan tangan kita, sehingga kita punya utang sangat banyak kepada nilai kebenaran yang kita ucap-ucapkan. 

-Cak Nun-

manusia


Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia."


(Catatan Harian 9 Oktober 1969)
— Ahmad Wahib

C untuk Cak Nun


Santri tanpa sarung; haji tanpa peci; kiai tanpa sorban; dai tanpa mimbar; mursyid tanpa tarekat; sarjana tanpa wisuda; guru tanpa sekolahan; aktivis tanpa LSM; pendemo tanpa spanduk; politisi tanpa partai; wakil rakyat tanpa dewan; pemberontak tanpa senjata; ksatria tanpa kuda; saudara tanpa hubungan darah…
Create something new. Sesuatu yang not easy to follow by somebody else!
Yang Unique! yg bahkan orang lain memikirkanyapun belum.

#chairul tanjung


---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

“Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.”
― Emha Ainun Nadjib, OPLeS: Opini Plesetan

Gandhi's Quote


7 hal yang akan menghancurkan kita : kaya tanpa kerja, kesenangan tanpa nilai moral, pengetahuan tanpa watak, agama tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, bisnis tanpa etika

GD

GUS DUR: Saat saya mengalami kehilangan sebagian besar penglihatan, dan mengalami penyakit berat setahun sebelum pelantikan presiden, saya pikir yang utama adalah saya harus menerima nasib yang telah diberikan Allah kepada saya. Namun saya juga tahu bahwa saya harus melakukan yang terbaik untuk menangani keadaan. Oleh karena itu, saya tidak pernah menyesali nasib saya. Sebaliknya, saya terus melakukan berbagai usaha untuk mencegah diri saya berhenti bekerja.



---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

sebuah kutipan

SBY prihatin. SBY memprihatinkan.

(Hilmy Nugraha, Juli di kandang biru)

Quote of The Day

Ada banyak hal yang belum kita lakukan untuk orang lain disekitar kita. Selama ini kita sibuk menyelami diri kita sendiri.

(Hilmy Nugraha, di Juli)

Untuk E

Terkadang, peristiwa kecil dan sederhana dalam hidup kita, bisa merubah hidup kita selamanya.

(hilmy nugraha, juli 2011)

Pertanyaan Jilid Malam

Kalau kemudian aku tidak mencapai keinginanku, terus mau apa? Apa dunia kiamat? Apa seluruh orang di dunia jadi memusuhiku?

(Hilmy Nugraha, Juli 2011)

Hakikat Belajar


Semakin banyak kita belajar, maka semakin tahu bahwa banyak hal yang kita belum pelajari. Belajar itu menanamkan rasa di alam bawah sadar kita. Lebih abadi, daripada menulis ribuan kata pada buku catatan.

(Hilmy Nugraha, Juli 2011)

Akar Rumput

Mungkin bagianku tak selalu harus di atas. Bekerja di bawah pun sudah menjadi kesenangan bagiku. Kerjaku boleh di akar rumput, tapi jaringanku adalah batang-batang besar yang tersebar dimana-mana.

(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Gelap

Tetaplah menjadi gelap, karena disitulah kau mengerti makna cahaya
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

Tentang Televisi

"Tahukah kau, kita diatur oleh TV?" 
dari puisi Seorang Pendo'a Amerika Jim oleh Jim Morisson 
"Televisi membawa pembunuh ke rumah di mana televisi berada." 
Alfred Hitchcock, sutradara film kelahiran Inggris 
"Televisi adalah wahana hiburan yang memungkinkan jutaan orang mendengarkan lelucon pada saat yang sama, dan tetap kesepian." 
T.S. Eliot 
"Televisi membawa kebrutalan perang ke dalam ruang keluarga yang nyaman. Vietnam takluk dalam ruang-ruang keluarga Amerika bukan di medan perang Vietnam." 
Marshall McLuhan 
"Ketika aku mendapat televisi pertamaku, aku tak lagi begitu peduli pada hubungan dekat." 
Andy Warhol 
"Jika tiap orang meminta kedamaian bukannya televisi, maka kedamaian akan terwujud." 
John Lennon

Riuh

Dunia sudah sedemikian riuhnya. Sangat disayangkan kita sendiri tenggelam didalamnya, namun tak mampu memahami setiap rinci yang terjadi, lupa akan mencari ke dalam diri, dan selalu hingar pada kenyataan.
(Hilmy Nugraha, Juni 2011)

#14 : Lucu

Bukannya setiap hari?

Mahasiswa: "Eh, eh, bawa kamera ya? Fotoin gua dong, mumpung gua lagi najis-najisnya!"

Mall di Jakarta, didengar oleh teman-temannya yang ingin mencuci si mahasiswa pakai tanah.




Sebegitu parahnya?

Graphic Designer: "Iya, nanti mau ngelayat orang sakit..."

Mall Of Indonesia, didengar semua rekan satu tim yang merasa orang itu berada di antara dua dunia.