Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

#65 : Padhang Bulan by Anda Perdana (OST RAYYA)

saya menunggu film ini rilis. bagus.

Cahaya kasih sayang menaburi malam
Hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan
Alam raya, cakrawala pasrah dan sembahyang
Yang palsu ditanggalkan yang sejati datang
Yang dusta dikuakkan, topeng-topeng hilang
Jiwa sujud, hati tunduk pada-Mu Tuhan
Beribu hamba-Mu bernyanyi rindu
Bergerak menari bagai gelombang
Sepi mereka karena dipinggirkan
Oleh kedzaliman kekuasaan dan kesombongan
Suara mereka merobek langit
Bergolak suara sunyi mereka semua
Waktu berhenti, alam menanti
Tuhan kekasih akan mengakhiri
Kekasih mendampingi setiap langkah
Pada laparmu, cinta-Nya merekah
Tataplah wajah-Nya, hatimu pun cerah
Lihatlah,lihatlah mentari baru
Yang terbit dari dalam tekadmu
Sesudah senja diujung duka
Nikmatilah mengalirnya cahaya
(Padhang mBulan)

lagu ini dipopulerkan oleh Franky Sahilatua dan Kiai Kanjeng, kemudian dijadikan soundtrack di film "RAYYA". Lirik oleh Emha Ainun Nadjib. 

Ada Gula Semut

tafsir film


Sampai sekarang aku belum nonton film 'Sang Penari'. Pertama tentu saja karena belum ada film-nya di bioskop di Purwokerto, selain itu aku memang belum ada keinginan untuk menontonnya.

Jauh-jauh hari sebelum penayangan perdana 'Sang Penari' di bioskop, aku berkunjung santai ke rumah Ahmad Tohari. Kami mengobrol tentang sastra, Banyumas, film Ronggeng Dukuh Paruk, pemerintah dan banyak hal.

Pak Tohari, beliau biasa disapa, mengatakan hal yang sangat penting bagiku. Bahwa kita harus mempunya dua rumah apresiasi dalam pikiran kita. Yaitu apresiasi teks dan apresiasi visual.

Film yang sudah dibuat, itu adalah karya sutradara, bukan karya beliau. Itu adalah hasil tafsiran sutradara dari buku teks Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah dia baca. Jadi semata-mata tidak bisa disamakan dengan teks aslinya.

Kata dalam sastra, tidak semata-mata bisa diterjemahkan dalam visual semua. Novel setebal 408 halaman ini, tidak mungkin hanya divisualisasikan secra detail dalam 110 menit di layar lebar. Tentu akan banyak penyusutan. Jadi, jangan terlalu banyak berharap film ini sama dengan teksnya.

Meski demikian, kita harus tetap mengapresiasi, kata beliau. Bagaimanapun juga ini karya seni. Kemudian, sewaktu ku tanya, apakah beliau mau menghadiri pemutaran perdananya, beliau menjawab pelan, bahwa beliau belum tega melihatnya.

13 november 2011
12:57
tadi pagi ngobrol lagi dengan beliau, tapi hanya sebentar,
pak Ahmad Tohari mau kondangan.

che

"This isn't a tale of derring-do, nor is it merely some kind of 'cynical account'; it isn't meant to be, at least. It's a chunk of two lives running parallel for a while, with common aspirations and similar dreams. In nine months a man can think a lot of thoughts, from the height of philosophical conjecture to the most abject longing for a bowl of soup – in perfect harmony with the state of his stomach. And if, at the same time, he's a bit of an adventurer, he could have experiences which might interest other people and his random account would read something like this diary."

 (Ernesto Guevara, The Motorcycle Diaries)