Tiga puluh delapan terasa berbeda dari angka sebelumnya. Ia bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Ada semacam lorong sunyi yang mulai terbuka di depan. Aku berdiri di ambang itu dengan napas lebih pelan. Tenang. Seolah waktu memberi isyarat bahwa babak berikutnya bukan lagi tentang mencoba, melainkan tentang menunaikan.
Di usia ini, jarak antara masa muda dan kedewasaan terlihat jelas. Dulu aku berlari mengejar banyak kemungkinan. Ambisi terasa seperti bahan bakar utama kehidupan. Kini langkahku lebih terukur dan tidak tergesa. Bukan karena lelah. Tetapi karena mulai paham arah.
Usia empat puluh sering disebut sebagai usia profetik. Nabi Muhammad menerima wahyu pada usia itu. Namun makna profetik bukan milik para nabi saja. Ia adalah jenjang kesadaran yang harus dilalui setiap manusia. Bukan tentang menjadi suci. Melainkan tentang menjadi jelas.
Profetik berarti menyampaikan dan memikul amanah. Ada tanggung jawab moral yang tidak bisa lagi ditunda. Jika di usia muda kita sibuk membentuk diri, maka mendekati empat puluh kita diuji untuk memberi diri. Hidup tidak lagi sekadar tentang pencapaian pribadi. Ia berubah menjadi ruang pengabdian.
Aku mulai merasakan pergeseran orientasi itu. Target materi tidak lagi memikat seperti dulu. Pengakuan publik terasa semakin biasa. Yang justru menguat adalah pertanyaan tentang makna. Untuk apa aku ada. Untuk siapa aku bekerja. Sunyi. Pertanyaan itu datang tanpa suara keras, tetapi menetap.
Tanggung jawab pun terasa makin konkret. Keluarga, pekerjaan, lingkungan, bahkan generasi setelah kita. Semua menuntut ketegasan sikap dan kejernihan nilai. Tidak cukup hanya pintar. Tidak cukup hanya berhasil. Kita dituntut matang.
Ada ketenangan yang lahir dari penerimaan proses. Aku tidak lagi ingin menjadi siapa-siapa selain menjadi versi terbaik diriku. Kegagalan masa lalu berubah menjadi guru yang setia. Kesalahan menjadi pengingat agar tidak gegabah. Pelan. Semua terasa lebih utuh.
Mungkin banyak dari kita yang seusia merasakan hal serupa. Ada kegelisahan kecil, tetapi bukan panik. Ada kesadaran bahwa waktu tidak lagi panjang tanpa batas. Namun itu tidak menakutkan. Justru memurnikan niat.
Menuju empat puluh bukan tentang angka keramat. Ini tentang kesiapan memikul peran dengan sadar. Tentang keberanian menyampaikan kebenaran yang diyakini. Tentang kesediaan menjadi penopang bagi yang lebih muda. Jika usia ini benar adalah gerbang profetik, maka aku ingin melangkah masuk dengan tenang, jernih, dan siap menunaikan apa yang menjadi tugasku di dunia.
0 kata-kata:
Posting Komentar