Pertukaran Peran dan Hancurnya Nurani Publik

 

Yang sedang retak dalam bangsa ini bukan sekadar ekonomi atau politik. Yang retak adalah kesadaran fungsi manusia. Kita menyaksikan banyak orang berada di posisi tinggi, tetapi kehilangan pijakan batin. Sistem tampak berjalan, namun arah terasa kabur. Di sinilah krisis sesungguhnya bersembunyi. Sunyi. Kita jarang membahasnya secara jujur.

Dalam tradisi leluhur, dikenal istilah Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Ini bukan pembagian kasta feodal yang kaku. Ini adalah kategori fungsi dan kesadaran, semacam perangkat lunak sosial. Kita mempelajarinya sebagai sistem peran, bukan hierarki martabat. Semua setara dalam nilai kemanusiaan. Namun berbeda dalam tanggung jawab.

Brahmana adalah penjaga nilai dan kebijaksanaan. Ia bisa hadir sebagai guru, resi, ustadz, atau pemikir. Tugasnya merawat nurani kolektif agar tetap hidup. Orientasinya bukan keuntungan materi. Ia berdiri di wilayah makna. Jika Brahmana tergoda laba, fondasi moral mulai goyah.

Ksatria bergerak di wilayah kekuasaan dan kepemimpinan. Ia mengelola negara, organisasi, dan arah kebijakan. Kekuasaan ada di tangannya sebagai amanah. Bukan sebagai alat memperkaya diri. Ksatria yang sehat tunduk pada nilai. Tanpa itu, kekuasaan berubah menjadi alat dominasi.

Waisya hidup dalam logika perdagangan dan transaksi. Ia menggerakkan roda ekonomi dan distribusi kesejahteraan. Laba menjadi orientasi utamanya. Itu sah dan wajar dalam ranahnya. Pasar bukan musuh. Namun pasar tidak boleh memimpin nilai dan kekuasaan.

Sudra adalah pelaksana kerja yang menopang operasional masyarakat. Ia bekerja dengan keterampilan dan ketekunan. Tanpa Sudra, sistem tidak berjalan. Perannya sering diremehkan, padahal ia fondasi konkret kehidupan sosial. Semua fungsi saling membutuhkan. Seimbang.

Krisis muncul ketika fungsi-fungsi itu tertukar. Guru mulai berpikir seperti pedagang. Kampus mengejar citra pasar lebih daripada kedalaman ilmu. Pejabat dipengaruhi kepentingan transaksi ekonomi. Pedagang masuk ke ruang kekuasaan demi kendali regulasi. Di titik itu, peradaban kehilangan kompas.

Ketika Brahmana memakai perangkat Waisya, nurani ikut diperdagangkan. Pendidikan berubah menjadi komoditas simbolik. Gelar menjadi produk. Nilai ditentukan harga. Kita menyaksikan pengetahuan kehilangan kesakralannya. Tragis. Negara pun rapuh ketika Ksatria tunduk pada logika pasar.

Solusinya bukan menghidupkan kasta baru. Kita tidak sedang membangun tembok sosial. Kita sedang mengingat kembali fungsi kesadaran. Brahmana harus menjaga nilai tanpa tergoda laba. Ksatria harus berkuasa dengan etika. Waisya tetap berdagang secara sehat. Sudra dihormati sebagai fondasi kerja. Jika fungsi kembali pada tempatnya, nurani akan pulih dan bangsa ini menemukan arahnya kembali.

0 kata-kata: