Tampilkan postingan dengan label petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petualangan. Tampilkan semua postingan

mengambang


Kami bangkit dari tempat duduk-duduk. Seketika itu kami berlari. Ya, kami harus segera ke pool bis, arah ke Lampung. Dan sekarang kami ada di Merak.
Setelah melewati kota-kota gelap, yang sejatinya mirip terminal Pinangbaris, akhirnya kami sampai ke pool. Beruntunglah aku dan teman medapat bisa terakhir pemberangkatan. Ah, ini mirip pengalamanku di Bengkulu. Namun bis ini adalah bis ukuran sedang, sama seperti bis yang kunaiki dari Pesisir selatan ke Padang. Yang berbeda adalah bis ini hanya berisi kami bertiga. Sepi bukan main.
Aneh sekali rasanya. Aku seperti melewati jalan dari Solok ke Bukittinggi, melewati kelok-kelok di Singkarak. Dan terkadang seperti Curup-Kepahiang, jalan yang dahsyat sehingga aku mual dibuatnya. Bis berjalan pelan, terkadang kencang. Tak jelas sekali.
Tiba-tiba saja aku bangkit.
Damn! Ini cuma mimpi.
Lekas-lekas aku kirim pesan ke Adhi, tentang mimpi ini. Dia hanya membalas, mungkin karena aku masih ada tanggungan menulis, jadi masih ada yang mengambang di otak. Haha, benar juga.
Boi, ku lunasi mulai sekarang.

30 agustus 2011
Utang tulisan, ratusan.

Si Ular Besi Kelas Rakyat


Penuh sesak. Tas-tas tergeletak rapi diatas bangku. Ada juga yang di lorong bangku. Penjual asongan hilir mudik. Harus berjingkat-jingkat pelang, karena jalan kadang susah dilewati. Berbagai macam dagangan ada disini. Pop mie, kopi, aqua, tahu, nasi rames, pecel, sendal, sabuk, bolpoint, mainan anak, pulsa, buku, hingga alat kerikan. Aroma menjadi bermacam-macam. Keringat ratusan orang bersatu dengan udara. Parfum puluhan orang bersatu. Ada beberapa yang tidak bisa duduk, selonjoran saja beralas koran bekas. Pedagang koran bekas laris manis.

Pengamen datang silih berganti. Berbagai macam gaya. Yang lakilaki, yang perempuan, bahkan yang banci. Hiiiii. Pengemis ada juga. Ada yang buta, ada yang lumpuh, ada yang dari masjid, ada yang anak kecil, ada yang ibu-ibu. Macam-macam. Tukang bersih-bersih, tukang sapu selalu bergantian. Plus minta uang. Tukang parfume ada, menyemprotkan ke sudut-sudut bangku, kemudian minta uang. Apapun bisa jadi uang disini. Obrolan hangat di setiap bangku terasa menyenangkan. Semua kembali menjadi akrab. Bertambah saudara lagi. Saudara satu bangku. WC ada dibelakang dan depan gerbong. Biasanya ada airnya. Bersyukurlah bagi yang ada airnya. Harus dipakai ketika kereta berjalan. Kadang ada beberapa orang yang ada di bordes sambungan kereta.

Polsuska datang bersama kondektur. Berwajah garang tapi baik hatinya. Kadang ada penumpang yang memberinya salam tempel. Beberapa, tak banyak. Petugas restorasi berkeliling, menjajakan makanan. Bermodal menu, seragam dan bolpoint ditangan. Harga makanan restorasi selangit. Kadang bolak-balik menyewakan bantal dengan bekas iler dimana-mana. Tapi tetap saja laris. Kereta ekonomi bisa setiap stasiun berhenti. Meski hanya cuma beberapa detik. Kereta ekonomi kereta sabar menanti. Paling berada diurutan terakhir untuk urusan persilangan. Yang mahal ya duluan. Itu kereta eksutif atau bisnis. Jika berhenti lama, gerbong serasa oven. Panas bukan main. Kipas angin diatap gerbong tidak bisa menangani dengan baik hawa panas didalam gerbong. Penumpang hanya sibuk berkipas-kipas. Dan pedagang kipaspun mulai beraksi. Laris.

Setiap ada kesusahan pasti ada lahan rejeki untuk orang lain. Itu prinsip di kereta ekonomi. Aku tak habis pikir, dengan kereta seperti ini, tapi masih banyak juga yang menggunakannya. bahkan untuk jarak jauh seperti jakarta surabaya. Bisa dibayangkan hampir 12 jam di dalam kereta demikian, seperti apa rasanya? Tapi itulah Indonesia. Selalu bisa mangambil sisi positif dalam setiap kejadian. Menggunakan kereta ekonomi itu bisa berarti penghematan, bebas merokok kapan saja, banyak pedagang makanan yang tersedia, hingga menambah saudara disetiap obrolan hangatnya.

Menaiki Kereta Ekonomi memang sebuah sensasi.

nb: gambar dari semoboyan35.com


15 Maret 2011
10:32
Words-Keroncong
Seusai mendengarkan cerita Melyn naek kereta ekonomi.
Hehe, lulus sudah kau anak muda. Jakarta - Jogja.

Berpetualang


Bagiku, petualangan tidak selalu harus ke tempat yang indah, jauh dan eksotis. Kadang kala kita sendiri yang menyempitkan makna ini.

Pernahkah kalian berfikir bahwa setiap perjalanan yang kalian lalui itu adalah bagian dari petualangan? Atau kita merasa sudah bosan dengan ratusan kali perjalanan dengan melewati jalan yang sama, hingga kita hafal dimana lobang jalan tiu ada, hafal jam berapa saja lampu akan menyala merah, hafal suasana ketika kita melewati jalan tersebut. Ah, yang ini memang membuat penat.

Aku banyak membaca dari beberapa tulisan teman tentang petualangan. Bahwa petualangan adalah perjalanan. Dan setiap perjalanan tidak selalu harus ke tempat yang kita belum pernah datangi sebelumnya, tempat yang kita harus bersusah payah menujunya, atau tempat yang sudah banyak direkomendasikan penulis perjalanan karena ke-surga-annya.

Setiap petualangan yang sesungguhnya bagiku adalah setiap perjalanan dimana kita bisa mengerahkan semua panca indera kita untuk mencerna apa yang terjadi disekeliling kita. Kita bisa melihat keindahan alam, atau bahkan kerusakan alam. Kita bisa mendengarkan suara burung di alam liar, atau bahkan suara bising motor di jalan macet. Kita bisa mengecap sedapnya makanan mahal bintang lima, atau bahkan pahitnya jamu gendong di pasar tradisional. Kita bisa mencium wanginya melati di kebun bunga, atau bahkan bau busuk di TPA. Kita bisa merasakan dinginnya hawa pegunungan, atau bahkan teriknya matahari di lapangan bola.

Percuma jauh-jauh ke Wakatobi, kalau kita memang tidak menikmati setiap meter jalan yang dilalui. Sayang kalau sudah jauh ke Sabang, kalau kita sendiri tidak mendapatkan apapun disana kecuali foto narsis yang memenuhi harddisk. Sungguh terlalu kalau kita pergi ke Flores, tapi tidak ada hikmah sedikitpun yang mampu kita tangkap. Sangat disayangkan benar-benar, kalau kita bisa pergi ke Belitung, tapi hanya bangga dengan diri kita yang sudah pernah kesana, tapi hasilnya nol besar.

Masih banyak destinasi indah, disekeliling kita yang bisa kita eksplor. Purwokerto masih luas, Cilacap masih belum terjelajahi, Purbalingga indah sekali, Banjarnegara tetap mempesaona dan Kebumen beriman. Ayo, yang dekat-dekat kita eksplor dulu. Yang jauh tentunya juga tetap kita list menjadi "the place i wanna go".

Semua itu petualangan. Dan nikmat tidak nikmat itu tergantung kitanya. Bagaimana kita mempersepsikannya, dan mampu mencerna apa yang ada, menjadikan itu sebagai sebuah petualangan hidup yang berharga.

Selamat Berpetualang!

070211
19:43
barry likumahuwa - mi angelita
terkadang, berjalan ke pasar saja sudah cukup menyenangkan.