Satu Jam Saja


Earth Hour tahun ini akan berlangsung pada 26 Maret 2011, pukul 20.30 hingga 21.30.

Perayaan Earth Hour merupakan sebuah gerakan global untuk mengajak individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintahan di seluruh dunia untuk mematikan lampu dan alat elektronik selama 1 jam.

Perayaan Earth Hour dilaksanakan setiap hari Sabtu di minggu ketiga pada bulan Maret. Pelaksanaannya dilakukan mulai pukul 20.30-21.30 waktu setempat. Tahun ini, perayaan Earth Hour jatuh pada tanggal 26 Maret 2011.

Sumber: Kompas.COM

Hanacaraka Cak Nun

life is curious



if You life,
You talk

if You talk,
You ask.

if You ask,
You think

if You think.
You search.

if You search,
You experience.

if You experience,
You learn.

if You learn,
You grow.

if You grow,
You wish

if You wish,
You find.

if You find,
You doubt.

if you doubt,
You question

if you question,
You know.

if You know,
You want to know more.

if You want to know more,
You life.

life is curious
(A MAGNIFYING WORDS FROM NATGEO TV COMERCIAL)

chemistry



Ya Allah, berikan aku chemistry!

Macapat Syafaat Kali Ini



Setelah selesai menghadiri peristiwa sakral bulan ini, yaitu nikahannya Azis, maka kami pun beranjak pindah tempat menuju ke peristiwa sakral selanjutnya. Maiyahan.

Jogjakarta seperti tak ada habisnya. Berbagai ilmu ada disini. Pun dengan hikmah, untuk itulah kami sengaja jauh-jauh datang dari Purwokerto untuk mencari ilmu. Setidaknya niatnya demikian.

Kami berangkat berbanyak orang. 2 mobil, 8 orang. Kali ini ada aku, rizky, kukuh, karyanto, naim, mas sahal, fikry dan mas hendro. Beberapa diantara kami baru pernah mengikuti maiyahan.

Setalah perjalanan panjang hampir sekitar 4 jam, kami sudah tiba di tempat. Dan syukur beribu-ribu syukur, kami mendapat tempat yang tak jauh dari panggung, sehingga kami bisa lebih jelas mendengarkan orang yang berbicra di depan.

Ketika kami datang, maiyah sudah mulai. Dan sepertinya memang baru mulai. Di panggung ada Kelompok Shalawat Kanjeng Maklum, dengan konsep yang hampir sama dengan Kiai Kanjeng. Membawakan beberapa nomor pilihan dengan cukup apik. Kemudian langsung saja dilanjutkan oleh Cak Nun dengan orasi panjangnya.

Cak Nun kali ini lebih banyak melucu, meski selalu saja ada hikmah di sela-sela humornya. Mbak Novia ndak tampil, Kiai Kanjeng tampil dengan peralatan punya Kanjeng Maklum yang berarti beda ngeng-nya. Sabrang ada, mas Toto ada, bang Fauzi juga hadir. Dan yang ditunggu-tunggu saya adalah Pak Mustofa W Hasyim, penyair rusak-rusakan. Haha.

Maiyahan kali ini membahas tentang konsep maiyah, yang hendak dibawa kemana maiyah kita ini. Namun nampaknya berakhir pada kesimpulan bahwa, maiyah bisa kita lakukan sendiri-sendiri, sesuai dengan skill personal, kemampuan dan passion tiap pribadi yang mungin berbeda. Bisa saja nanti dilaporkan atau dibagikan apa yang sudah dilakukan pada masyarakat maiyah pada saat berkumpul. Menarik.

Kemudian ditengah acara, Cak Nun secara tiba-tiba memanggil Titi Sjuman dan teman-temannya. Sontak penonton menjadi semangat kembali. Karena ada 'tombo ngantuk'. Haha. Kedatangan mereka ke Kasihan dikarenakan sedang sharing dengan Cak Nun untuk membahas film yang akan mereka buat. Kemudian mereka diajak sharing tentang pengalaman mereka membuat film. Yang menyenangkan adalah setelah Pak Mus membacakan syair rusak-rusakannya, dengan asyek Titi Sjuman berkata ingin membungkus orang ini untuk dibawa pulang , karena lucu. Haha. Semua tertawa, gembira.

Acara ditutup dengan doa panjang Cak Nun. Berakhir pukul setengah 4 pagi. Aneh, aku tak mengantuk sedikitpun malam itu. Mungkin karena siang harinya aku sempatkan untuk tidur meski sebentar.

Banyak hal yang kudapat saat itu. Hikmah, lelucon segar, ilmu, inspirasi hingga kebersamaan. Maiyah itu tak ubahnya telaga dikala kekeringan jiwa dan kesadaran. Semoga kelak kamu bisa ikut acara ini...

nb : gambar dari sini

21 Maret 2011
15:11
masih ada di Jombang, Surabaya, Malang, Jakarta dan Semarang.
yuk!

alasan baca buku

Aku baca buku karena aku suka, bukan karena aku mengharap suatu penilaian dari orang-orang di sekitar aku. Bukan karena aku ingin dianggap hebat atau pintar atau berpendidikan atau beradab cuma karena udah baca sebuah karya sastra."
— Windhy Puspitadewi

dari goodreads.com
‎"Yang engkau upah untuk menjadi abdimu, malah merampok hartamu.
Yang engkau amanati untuk membangun negerimu, malah menjual harta rakyatmu tanpa rasa malu.
Yang engkau do'akan agar tetap memegang kekuasaan tidak sedetikpun pernah ingat kompor dan berasmu.
Yang engkau pegangi kewenangan untuk menyejahterakanmu,malah menaburkan batu-batu kesengsaraan kerumah-rumahmu".

-ean-

TRAP



Taman Rekreasi Andhang Pangrenan,
ini merupakan proyek ambisius Kabupaten Banyumas, atau mungkin lebih tepatnya Pak Marjoko. Ini Andhang Pangrenan, atau Kandhang Angreman? Jawabannya nanti, tunggu 6 bulan lagi.

Kemudian Azis yang menikah

Setelah ramadhan kemarin lamaran, maka tanggal 17 Maret ini, insya Allah Azis menikah. Dengan putri dari Adipala, Arini.

Tak ada yang menyangka, jika Arini akan dengan Azis. Dengan perhitungan matematika kompleks serumit apapun tak akan bisa ada yang menebak. Ya, ini yang disebut dengan misteri jodoh. Hanya Allah, Tuhan Semesta Alam yang tahu.

Aku kenal Azis sewaktu di Bogor. Dia kuliah di IPB dan aku bekerja kuli di Pabrik plastik. Orangnya baik, supel, dan suka menolong (yang terakhir ini memang benar :D). Jika Arini, aku bertemu di Forum ESQ. Orang yang ramah, baik dan bersahaja. Ya, kedua-duanya pun bertemu di Forum ESQ. Luar biasa!

Untuk kedua sahabatku ini, semoga pernikahan kalian barakah.

Barakallahu laka wa baraka alayka wa jamaa baynakuma fii khair
Semoga Allah membarakahi kalian dan barakah Allah tercurah atas kalian dan semoga Allah mengumpulkan kalian bersama dalam kebaikan..Amin


16 Maret 2011
09:17
Alhamdulillah...
ada titik cerah, tunjukanllah ya Rabb...

Anti Ibu Kota



Membaca tulisan Mas Ayos di blognya bisa kusimpulkan, ibukota itu bukan kota favorit untuk ditinggali. Walau begitu, aku juga pernah 2 bulan tinggal disana. Dan benar-benar bisa hidup. Setidaknya karena aku dulu begitu penasaran dengan kota besar.

Ibukota itu kejam. Itu sebabnya banyak yang bilang, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Individualistic, orang-orang tanpa senyum, ketidakpedulian, urusan sendiri-sendiri, macet lalu lintas, asap polusi, penuh sesak, keruwetan kota, sampah dimana-mana, angka kriminalitas tinggi, lalu apalagi yang diharapkan?

Kadang, aku tak habis pikir, bagaimana mereka bisa bertahan dalam hidup mereka, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk perjalanan ke kantor. Meski aku tidak mengecilkan mereka, toh mereka ikhlas menjalaninya. Tapi hidup didaerahpun tak kalah asyeek.

Saat ini aku masih kuliah. Setidaknya aku masih bisa memilih, hendak kemana aku akan hidup. Masih ada pilihan, dan masih bisa memilih. Dan aku tidak akan memilih ibukota.

Lebih baik mungkin aku hidup dipedalaman sumatera, kalimantan atau papua. Rasanya lebih damai saja. Kalaupun ke ibukota, ya cukup plesiran wae. Hehe.

Jakarta sudah habis,
Musim kemarau api,
Musim penghujan banjir.

Lagu IV (Jakarta) - Iwan Fals
nb: gambar dari sini

15 Maret 2011
10:14
Keroncong Kemayoran - Keroncong in Lounge
Setidaknya pernah ke Jakarta.

Si Ular Besi Kelas Rakyat


Penuh sesak. Tas-tas tergeletak rapi diatas bangku. Ada juga yang di lorong bangku. Penjual asongan hilir mudik. Harus berjingkat-jingkat pelang, karena jalan kadang susah dilewati. Berbagai macam dagangan ada disini. Pop mie, kopi, aqua, tahu, nasi rames, pecel, sendal, sabuk, bolpoint, mainan anak, pulsa, buku, hingga alat kerikan. Aroma menjadi bermacam-macam. Keringat ratusan orang bersatu dengan udara. Parfum puluhan orang bersatu. Ada beberapa yang tidak bisa duduk, selonjoran saja beralas koran bekas. Pedagang koran bekas laris manis.

Pengamen datang silih berganti. Berbagai macam gaya. Yang lakilaki, yang perempuan, bahkan yang banci. Hiiiii. Pengemis ada juga. Ada yang buta, ada yang lumpuh, ada yang dari masjid, ada yang anak kecil, ada yang ibu-ibu. Macam-macam. Tukang bersih-bersih, tukang sapu selalu bergantian. Plus minta uang. Tukang parfume ada, menyemprotkan ke sudut-sudut bangku, kemudian minta uang. Apapun bisa jadi uang disini. Obrolan hangat di setiap bangku terasa menyenangkan. Semua kembali menjadi akrab. Bertambah saudara lagi. Saudara satu bangku. WC ada dibelakang dan depan gerbong. Biasanya ada airnya. Bersyukurlah bagi yang ada airnya. Harus dipakai ketika kereta berjalan. Kadang ada beberapa orang yang ada di bordes sambungan kereta.

Polsuska datang bersama kondektur. Berwajah garang tapi baik hatinya. Kadang ada penumpang yang memberinya salam tempel. Beberapa, tak banyak. Petugas restorasi berkeliling, menjajakan makanan. Bermodal menu, seragam dan bolpoint ditangan. Harga makanan restorasi selangit. Kadang bolak-balik menyewakan bantal dengan bekas iler dimana-mana. Tapi tetap saja laris. Kereta ekonomi bisa setiap stasiun berhenti. Meski hanya cuma beberapa detik. Kereta ekonomi kereta sabar menanti. Paling berada diurutan terakhir untuk urusan persilangan. Yang mahal ya duluan. Itu kereta eksutif atau bisnis. Jika berhenti lama, gerbong serasa oven. Panas bukan main. Kipas angin diatap gerbong tidak bisa menangani dengan baik hawa panas didalam gerbong. Penumpang hanya sibuk berkipas-kipas. Dan pedagang kipaspun mulai beraksi. Laris.

Setiap ada kesusahan pasti ada lahan rejeki untuk orang lain. Itu prinsip di kereta ekonomi. Aku tak habis pikir, dengan kereta seperti ini, tapi masih banyak juga yang menggunakannya. bahkan untuk jarak jauh seperti jakarta surabaya. Bisa dibayangkan hampir 12 jam di dalam kereta demikian, seperti apa rasanya? Tapi itulah Indonesia. Selalu bisa mangambil sisi positif dalam setiap kejadian. Menggunakan kereta ekonomi itu bisa berarti penghematan, bebas merokok kapan saja, banyak pedagang makanan yang tersedia, hingga menambah saudara disetiap obrolan hangatnya.

Menaiki Kereta Ekonomi memang sebuah sensasi.

nb: gambar dari semoboyan35.com


15 Maret 2011
10:32
Words-Keroncong
Seusai mendengarkan cerita Melyn naek kereta ekonomi.
Hehe, lulus sudah kau anak muda. Jakarta - Jogja.
Yang rasa strawberry ada?
Pembeli: "Bang, ada makanan ikan?"
Penjual: "Yang mana, bu?"
Pembeli: "Yang kecil-kecil, ada gak?"
Penjual: "Ada, yang ini?"
Pembeli: "Enak gak?"
Penjual: "..."

Toko ikan hias di Teluk Gong, didengar pengunjung lain yang merasa cemilan ibu itu cukup berbeda.


Bisa jadi ada lirik di balasannya.
Mahasiswa #1: "Eh, eh, gua baru ganti RBT. Bagus lho, lagu favorit gua banget!"
Mahasiswa #2: "Oh ya, gimana cara dengerinnya?"
Mahasiswa #1: "Loe SMS gua aja, entar juga kedengeran."

Universitas di Depok, didengar oleh mahasiswa lain yang yakin mereka berdua baru punya handphone.

Karena hidup itu seperti air...
Cowok #1: "Hidup itu harus punya prinsip!"
Cowok #2: "Emangnya loe punya?"
Cowok #1: "Gua punya, tapi berubah-ubah!"

Sebuah restoran, didengar oleh tamu di meja sebelah yang merasa cowok #1 sangat fleksibel hidupnya.

Obsesi Terhadap Kebahagiaan

Menurut kamu, apa itu kebahagiaan?

Aku tak pernah lupa bertanya hal ini kepada teman-teman terdekatku. Sengaja. Aku ingin mencari definisi kebahagiaan versi teman-temanku.

Berbagai rangkaian kata mengalir, menjawab jelas pertanyaanku ini. Ada beberapa, tidak banyak, bahkan tidak bisa menjelaskan apa itu kebahagiaan. Sungguh aneh. Kita, manusia, bahkan belum mengerti apa yang kita cari. Belum mengerti sepenuhnya, apa itu bahagia, lalu apalagi dengan bagaimana untuk meraihnya?

Hm. Ini juga refleksi dari diriku juga. Selama ini mencari jalan kebahagiaan dengan berbagai macam cara. Untung saja memang tidak terjerumus kepada hal-hal negatif.

Lalu, yang kutemukan titik simpulnya adalah, kebahagiaan itu berbeda jauh dengan kesenangan, kepuasan, ataupun kegembiraan. Lain sekali ternyata!

Aku banyak berdiskusi dengan guru kehidupanku, mas Arif Erha, tentang kebahagiaan. Dengan simpel dia mengatakan, bahwa kebahagiaan itu adalah lepas dari keinginan, karena keinginan itu adalah sumber dari penderitaan. Sesaat itu aku jadi ingat lagu bang Iwan Fals, Seperti Matahari.

Ya, mungkin mas Arif benar. Dan selama ini aku memang selalu membenarkan perkataannya. Keinginan itu sendiri adalah candu. Selalu mencari rasa puas. Namun tak pernah bisa puas. Dan bukan bahagia namanya, orang yang bisa memenuhi keinginannya, tapi itu adalah apa yang disebut dengan sukses. Bahagia itu melepas keinginan. Dan sukses adalah mendapatkan keinginan.

Mas Arif kemudian bercerita banyak, tentang hidupnya saat-saat ini yang banyak hal terjadi secara irrasional. Keajaiban. Anugerah. Rahmat. Atau apapun namanya. yang jelas itu dari Dia. Justru hal-hal seperti ini yang sudah lama ia inginkan, namun sudah ikhlas, dilepaskannya jauh-jauh hari.

Menginginkan sesuatu bisa jadi itu sebuah obsesi. Dan obsesi adalah penderitaan terbesar umat manusia. Karena itu sudah menyangkut mental, dan cara berpikir. Menuliskan impian itu baik, tapi selalu berpikir bahwa ini harus tercapai adalah sebuah kelelahan yang luar biasa. Quantum Ikhlas menjelaskan bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, justru yang harus kita lakukan adalah ikhlas. Dan membiarkan Allah memberikannya kepada kita. Kalupun tidak diberikan Dia, berarti bisa jadi di pending, atau digantikan dengan hal lain. Bukankah hanya Dia yang tahu apa yang kita butuhkan?

Aku bisa menarik simpulan dari obrolanku dengan mas Arif. Kebahagiaan itu melepaskan keinginan, obsesi. Seperti Cak Nun, yang dia sendiri sudah tidak punya obsesi terhadap dunia ini. Baik jabatan, kekayaan, popularitas, atau mungkin yang lainnya. Tapi hidupnya penuh berkah, bahagia dan manfaat.

Dari seimpulan ini, aku masih juga belum puas akan maknawi kebahagiaan. Harus kucari selalu. Tapi, jangan sampai, ini menjadi obsesi terhadap kebahagiaan? Bukankah itu sama saja derita?


14 Maret 2011
15:27
Neon - John Mayer
Suasana mendung, bikin ngantuk.

tentang menulis, bersama suyatna

Dalam bekerja menulis; ketika mendapat project, ada 3 yang diperhati: (1) link (2) belajar--ilmu (3) honor. satu saja terpenuhi, itu bagus. mengerjakan project bersama armantono aku mendapat 2 paing tidak : ilmu dan link; honor ada, sedikit, ukuranku. link, jelas! kini aku dapat kawan dari IKJ. ilmu? iya. aku mendapat free visiting class di semua kelas armantono di IKJ; kerna selain menulis ia dosen pula. itu, kawan. tidak melulu orientasi fokus kita:uang! ilmu lebih mahal ke? (*logat melayu:)
06:22
suyatna


aku akan belajar ke ahmad tohari, sangat disayangkan kalo ilmunya tidak diwariskan.
06:27
hilmy

aku tertegun. di negeri jiran -- kata guruku armantono -- tiap minggu terbit novel setebal yang kami kerjakan. bayangkan, setiap minggu! dan mereka tidak kehabisan 'stok' penulis. apa pasal? disana masya allah, penulis dijunjung tinggi; dihormati; bahkan apa? mereka --beberapa memenuhi syarat-- digaji!! mereka riset ke berbagai belah dunia; dibiayai negara; semua terfasilitasi; asal pulang bawa novel! ya ituh, boi.
06:44
suyatna

aku pengen jadi travel writer boi!
07:30
hilmy

tolong bikinkan konsep kerjasama kita membangun banyumas; disela-sela kesibukan kawan semua
07:33
suyatna

Sekali Berarti, Sesudah Itu Terlupakan

Pernah aku merasa tidak ikhlas, atas sebuah hubungan dengan seseorang. Mengharapkan banyak dari orang itu, hingga lupa, bahwa suatu saat ada sebuah perpisahan.

Pernah aku merasa pamrih, menginginkan agar orang lain selalu mengingat diriku. Selalu. Padahal banyak hal yang memang membuat aku pantas untuk tidak diingat.

Pernah kenangan-kenangan indah begitu berkesan. Tapi mungkin tidak begitu mematri dalam dirinya. Ya, hanya sebelah tangan.

Pernah kejadian-kejadian yang dialami bersama tertuang dalam ingatan yang sempurna. Namun tak pernah diingat olehnya.

Hingga kini, sekali berarti, sesudah itu terlupakan. Pun aku, terlupakan.

110311
22:02
hadapi saja - iwan fals
berjumpa dimimpi.