keputusan

Kadang aku mempertanyakan kembali keputusanku akan hal ini.

Semakin tua umurku, semakin sedikit keputusan besar yang ku ambil. Padahal sejatinya, disitu letaknya perubahan. Baik dalam diri, maupun perubahan alam semesta.

Keputusan-keputusan besar di depan mata. Radikal. Dan Revousioner.


Logo Karanggintung


Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Jatuh dan tersungkur di tanah akuBerselimut debu sekujur tubuhkuPanas dan menyengatRebah dan berkaratYang patah tumbuh, yang hilang bergantiYang hancur lebur akan terobatiYang sia-sia akan jadi maknaYang terus berulang suatu saat hentiYang pernah jatuh ‘kan berdiri lagiYang patah tumbuh, yang hilang bergantiDi mana ada musim yang menunggu?Meranggas merapuhBerganti dan luruhBayang yang berserahTerang di ujung sanaYangyang patah tumbuh, yang hilang bergantiYang hancur lebur akan terobatiYang sia-sia akan jadi maknaYang terus berulang suatu saat hentiYang pernah jatuh ‘kan berdiri lagiYang patah tumbuh, yang hilang bergantiYang patah tumbuh, yang hilang berganti

Kalau ada lagu yang mewakiliku hari ini. Ya ini.
Maturnuwun, Bandaneira.

sebuah terapi.

Kubombardir blog ini.

Bagiku ini terapi.

Menstrukturkan pikiran kembali. Menuliskan apa yang ada dalam diri. Terpendam tak pernah digali.

res

Tuhan memang luar biasa.

Belum setengah tahun, sudah 70% resolusiku tercapai.

Apa karena resolusiku terlampau sederhana?
Semakin tua aku semakin realistis. Banyak pertimbangan.
Lebih banyak mengukur daripada sebuah spontanitas.

Ah, apapun itu, au wajib bersyukur.

tumbuh

Membuka blog ini, rasanya seperti mencium aroma petualangan semasa muda yang menggoda dan menggairahkan. Cinta monyet kala remaja. Kegalauan setengah-setengah masalah asmara. Pertentangan batin urusan Tuhan dan agama. Kegemaran menunjukkan minat baca. Atau bahkan sumpah serapah entah apa.

Disitu aku malu-alu. Tertawa kecil membaca semuanya. Namun itulah pentingnya dokumentasi, arsip dan sejarah.

Kita tahu bahwa kita tumbuh dan berkembang.

ya!

filipina
kuala lumpur
singapura
bangkok
jeddah
mekkah
madinah
dubai

to be

Menjadi perangkat desa tak pernah ada dalam pikiranku. Urusan pekerjaan sosial dalam angan hanya sampai pada organisatoris massa, atau pendamping masyarakat. Menjadi birokrat? Pantang ada dalam pikiran.

Tapi nyatanya sekarang berubah. Menjadi tua dan berkebutuhan itu sebuah kepastian. Mempuyai keluarga dan tiga anak kecil menuntutku untuk banyak meninggalkan cita-cita, untuk sementara.

Menjadi perangkat desa. Menemukan apa yang tergariskan Tuhan untukku.

bergegas

Lama aku tak bermain blog. Sibuk meluis cahaya dan pamer kepada dunia melalui Instagram. Atau lelah meracau di dunia kicauan Twitter. Sedang menulis, menjadi keahlianku yang lama-lama hilang. tertelan sang bayu.

Alasan tentu beagam. Laptop rusak. Sibuk kerjaan. Ada handphone canggih. Kegiatan di luar. Dan lain sebagainya. Padahal, semua bisa dimanajemeni.

Aku ingat dulu,bisa menulis blog begitu panjang hanya dengan handphone sederhana, semacam sony walkman w800, nokia n gage, dan lain sebagainya. Waktu itu, segalanya menjadi tak ada alasan. Semua tampak optimis di depan mata. Hidup realistis masih jauh rupanya.

Dan sekarang. Pelan-pelan, ku disiplinkan diri. Keras terhadap diri. Kejam terhadap pikiran. Ku tempa, hingga membentuk. Mumpung masih ada waktu.

#13 : Tentang Puisi

Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya

Wayan Sunarta

#12 : Sajak Entah

Dan kupingit malam,

mematri bayangmu dalam do’a-do’a panjangku

mentasbihkan namamu di tiap serpihan kata,

membiarkanmu merebahkan diri dalam dzikirku,

menghalau galau yang menawan jiwamu,

agar kilau,

senantiasa terpendar di beningnya matamu

Aku dan Ahmad Tohari

"Agama adalah hasil penafsiran atas wahyu"
- Ahmad Tohari

#10 : kami


jalan kita masih panjang.

Derai Pinus di Limpakuwus


Perempuan pencari rumput
Lelaki tua pembawa kayu bakar
disiang itu matahari tak panas
menembus daun-daun pinus

tanah usai hujan semalam
rumput tumbuh tak terkendali
menuju sore kita bercengkeramungan hutan pinus limpakuwus

oh ya, segarnya aroma bunga pinus
ada bebas di dalamnya
ah ya, nikmatnya teduh derai pinus
ada sejuk di bawahnya

tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi

jika

jika rindu adalah samudra
aku ingin tenggelam karenanya
jika dendam adalah api
aku ingin memburu padamnya
jika cinta adalah langit senja
aku ingin mengejar ujungnya
jika sabar adalah cakrawala
aku ingin menyentuh batasnya
jika ikhlas adalah matahari
aku ingin menerima hangatnya
dan jika hidup adalah hutan belantara
aku ingin menjelajahi rimbanya


tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi