Tamu Rejeki

Lelaki paruh baya, berbadan tinggi besar itu adalah tamu saya dari New Caledonie. Sebuah negara di daerah pasifik, utara New Zealand selatannya Papua New Guenia. Namanya Sabar Soukiman.

Dan ternyata memang orang Jawa. Bapak Ibunya Indonesia, tapi dia lahir di New Caledonia. Disitu sendiri ternyata banyak peranakan Indonesia yang tinggal cukup lama. Bahasa sehari-hari mereka perancis.

Orang ini beberapa kali membeli barang dagangan saya. Dan tujuan datang kali ini ingin rerembugan, evaluasi kerjasama kita selama ini.

Yang menarik adalah, Jawanya tidak hilang. Dia tidak bisa bahasa inggris, tapi bisa bahasa jawa, meski sedikit. Senyumnya ramah, suka menyapa, suka ngobrol dan tidak seenaknya. Buat saya ini point tersendiri.

Tapi yang saya ingat terus adalah, ordernya beberapa kali menyelamatkan perusahaan dan komunitas kami. Order pertama bisa untuk menopang pembiayaan Silatnas Maiyah di Baturraden. Dan order terakhir, bisa untuk bayar visa dan sangu Rizky pameran ke Belanda. Semua berlangsung ajaib.

Tuhan kasih rejeki kita dengan penuh misteri. Ini tadi adalah yang kami alami. Sepertinya, kalau melihat sepeti ini, kok ya buat hidup sejahtera tidak mustahil. Apa-apa serba mungkin. Hanya cara Tuhan saja yang belum bisa kita logika. Kita sudah buru-buru bilang nihil.

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

cajon bumi

Mungkin Bumi memang menyukai musik. Dia tertarik saat saya main ketukan pada toples Tupperware. Juga memperhatikan saat saya bernyanyi "Turn Your Light Down"-nya Bob Marley. Lagi ketika bundanya menyanyi "Kelinci Putih".

Tangan bergerak gerak, kepala menggeleng-geleng, dan kaki menendang-nendang.

Saya ingat, waktu masih di perut ibunya, dia saya beri asupan lelagu bermacam-macam. Reagge, Jazz, Bossa, Ethnic, Blues, sampai ke Langgam. Bisa jadi itu stimulusnya.

Nanti mau saya bikinkan Cajon, dua biji. Untuk saya dan Bumi. Melatih ketukan, itu penting buat landasan musiknya.

Tabik,

Hilmy Nugraha

membersamai

Saya mendongak keatas. Langit-langit ini langsung dengan atap rumah, yaitu seng. Panas, terasa panas. Ini do Jombang, baru mandi sebentar saja sudah gerah kembali. Saya lihat sekeliling, bangunan dari kayu semi permanen. Lantai floor semen separuh jadi. Perabot rumah tangga cukup sederhana, dan etalase dagangan yang jauh dari layak.

Ini warung, digunakan juga sebagai rumah tinggal. Ada dipan kasur diujung sana, kucel kumel tanpa perawatan. Ini jauh disebut layak huni. Apalagi disitu jualan makanan dan saya sedang mampir makan nasi rawon dan minum air putih hangar siang hari.

Tapi yang saya lihat bukan ketidaklayakan tempatnya, namun manusia didalamnya. Diatas dipan itu ada bapak, ibu dan 2 orang anak sedang bercanda riang. Dan ditengah panas. Si bapak meledek anak tersebut hingga tertawa-tawa, menular tawa itu ke adiknya. Si ibu memandangi mereka sembari berbaring.

Saya lihat muka mereka begitu lepas dan bahagia. Saya yakin, mereka penuh tekanan dan masalah. Bisa jadi si bapak penuh hutang dimana-mana. Ibunya lelah bukan main bekerja dari pagi hingga larut dengan uang seadanya. Tapi sepertinya mereka memang ahli mengatasi masalah demikian.

Saya sedemikian larut dengan pemandangan ini. Kekayaan yang mahal, bercegkerama dengan keluarga disiang hari. Bersentuhan fisik penuh canda tawa. Melihat wajah anak riang gembira, meski hidup seadanya.

Saya malah lebih sering menyaksikan, orang yang membuang-buang uangnya demi kebahagiaan keluarga namun tak kunjung bertemu dengan rasa bahagia. Habis uang berjuta-juta, tapi wajah tetap masam saja. Pergi hari libur buang uang, tapi hati mereka tak pernah selesai.

Kalau memang demikian, sejatinya apa itu bahagia?

Tabik,

Hilmy Nugraha

dont

Jangan terlena pada saat pergantian siang ke malam, atau sebaliknya malam ke siang. Disitulah terdapat pundi-pundi keberkahan dan pintu-pintu ilmu.

Itu kata simbah.

Yang selanjutnya dapat kulakukan adalah terjaga pada saat itu, dan melihat alam. Disitu kita bisa melihat Tuhan.

Tabik,

Hilmy Nugraha

Jalan Kemarin

Perjalanan ini menempuh ribuan kilometer. Dan kami tempuh dengan mobil pribadi. Setir sendiri.

Tujuannya adalah mencari ilmu, mencari cahaya. Berjalan ke Timur, mencari cahaya terbit. Disana ladang cahaya ditaburkan.

Kami berjalan menyusuri pantai utara, banyak tempat yang musti kami singgahi. Ujung persinggahan kami adalah seberang Madura, melewati suramadu. Dan tujuan kami memang di Jombang, Padhang mBulan.

Saya jadi makin kenal teman-teman saya. Memang benar, kalau mau kenal seseorang, berjalanlah bersamanya beberapa hari. Kita akan tahu, 65% dirinya.

Ada Mas Agus yang selalu memaknai perjalanan ini. Dia ini pancer kami. Pengantar risalah. Menurutnya, perjalanan terjauhnya dengan menggunakan jalan darat mobil pribadi.

Mas Herman, bendahara kami, sempat sakit setelah masuk Madura, dia berkeyakinan, dirinya dicuci oleh Mbah Kholil. Sampai pulang sudah segar, makannya banyak kembali. Nyenengi.

Mas Amin, pasukan saba kuburannya Purbalingga, menikmati sangat perjalanan ini. Kunjung makam, wirid, dia spesialisasinya. Wirid bersama Majelis Pahingan dan ikut forum Padhang mBulan adalah umroh baginya.

Pak Sugeng sedang centil-centilnya. Duda beranak satu ini berganti DP BBM sejam sekali, menunjukkan lokasi dimana dia berada. Meski demikian, tirakat dan perenungannya yang dalam, kita tak bisa membantahnya. Dia bombong.

Anggi seperti biasa. Enteng hidupnya. Meski ketemu penggiat Malang yang sudah dinantikannya, tetap saja tidak menyapa satu katapun. Cintanya seperti Umbu.

Kusworo selalu sibuk dengan HPnya. Kasmaran, gandrung, sedang mewakili perasaan dirinya. Habis dia sepanjang jalan diledekin kita.

Rizky seperti biasa, perencana perjalanan terbaik. Paham patrap dan kepatutan. Tulisannya muat di Sabana, dia membeli majalah ini lebih dari tiga.

Azis supir terbaik kami. Mulus, kencang dan irit. Sepertinya perjalanan ini adalah perjalanan ter-fit-nya. Saya salut.

Hirdan beberapa kali mengeluh, tidak sempat bersalaman dengan simbah dan tidak mengikuti forum hingga selesai.

Dan saya sendiri. Mbleketir. Ora ngapa-ngapa.

Bagi saya, perjalanan itu adalah sarana refleksi. Disitulah diri kita terlihat sesungguhnya. Dominant, egois, menang sendiri atau ngalahan, nerimo, dan sebagainya.

Alhamdulillah, lancar semua sehat semua. Dan kami pulang dengan senang. Melebihi perasaan kami lulus wisuda.

Seolah perjalan ini, perjalanan hakekat. Mencari Dia, melalui cahaya...

Tabik,

Hilmy Nugraha

Keempat

Pengajian Padhang mBulan sedang berlangsung keempat kalinya malam ini, dan semakin kukuh dan jernih nuansanya bahwa ia tidak memiliki pamrih apapun kecuali penyembahan yang lugu sekumpulan makhluk hidup kepada Penciptanya.
Kalau Tuhan memperkenankan sesuatu atas ketulusan hati orang-orang yang berkumpul ini, bisa saja forum pengajian ini kelak memiliki makna sejarah. Tapi ia bukanlah gerakan kebudayaan, apalagi gerakan politik. Ia mungkin suatu gerak, tapi bukan gerakan — sebab 'gerakan' berarti suatu pretensi pengaitan diri dengan perubahan-perubahan dalam sejarah, yang dengan gampang bisa diassosiasikan dengan pola-pola baku sistem sosial yang berlaku. 'Gerakan' cenderung identik dengan suatu enerji sejarah yang memerlukan organisasi, ideologi dan target-target.
Bukan. Pengajian Padhang mBulan hanyalah semangat dan kekhusyukan yang innosen (polos, lugu) dari hati dan akal sejumlah manusia yang berkumpul untuk menyapa Tuhan agar disapa Tuhan.
Ia juga bukan semacam pengajian atau pesantren sebagaimana yang selama ini ada dan dipahami dalam masyarakat kita. Sebab di forum ini tidak ada Kiainya. Fuad Effendy hanya dipanggil Cak Fuad dan Ehma Ainun Nadjib hanya dipanggil Cak Nun. Hal sepele ini sesungguhnya sangat penting karena dengan panggilan itu tercermin bahwa dalam forum ini tidak ada hirarki-hirarki sebagaimana yang dikenal dalam tradisi pesantren atau tarikat.
Ini juga bukan perguruan, karena memang tidak ada murid dalam forum ini.
Satu-satunya term, nama, istilah atau kategori yang bisa dipakai untuk mendekati dan memahami forum pengajian barangkali adalah ihram: semua orang disini menanggalkan seluruh pakaaian sosialnya, jabatannya, gelarnya, posisi kulturalnya, gengsi pribadinya, serta seluruh kompleks-kompleks keduniawiannya — untuk bersama-sama mengenakan kain putih untuk bertemu batin dan akal kepada Allah swt.
'Ihram' itulah yang barangkali sedang kita tradisikan bersama-sama. 'Ihram' untuk menggali hawa murni, melatih telinga kita agar bersama-sama diperkenankan Tuhan sanggup mendengarkan kebenaran, melatih mata kita agar mampu menatap Al-Haq, melatih seluruh jiwa raga kita untuk tidak ditinggalkan oleh Allah swt, yang amat kita cintai dan kita butuhkan.
Catatan:
Tulisan ini merupakan pengantar Maiyah Padhang mBulan edisi keempat yang ditulis oleh Cak Nun, sekitar 21 tahun yang lalu.
Tabik,
Hilmy Nugraha







Ingat

Bapak berperawakan kekar setengah baya itu sedang menggendong anak lelakinya. Mungkin, umur anaknya sekitar 1 tahun. Tubuhnya montok, sehat Dan sangat aktif gerak. Celotehnya mulai banyak.

Saya memperhatikannya dari seberang jalan, di bangku warung. Sembari ngopi. Lama saya melihat gerak geriknya. Bapak dengan tampang sangar ternyata family man juga.

Entah apa pekerjaannya, yang jelas sehari-hari bergelut dengan otot dan tenaga. Keras kerjanya, matahari temannya. Namun siapa menduga, orang dengan pekerjaan sekasar apapun, dia adalah orang penyayang bagi keluarganya.

Saya terus memperhatikannya. Saya teringat Bumi, anak saya. Saat terpisah 500 km dari saya, ya saya sedang di Jombang. Sedang dia di Cilacap. Saya rindu menggendong, menikmati celotehnya dan tertawa bersamanya.

Saya akui, sayapun sedang belajar menjadi manusia...

Tabik,

Hilmy Nugraha

Dzikral Ahibba

Ngalap Berkah

Ramai berduyun-duyun. Wajah lugu, khas pedesaan. Ini sedang ngalap berkah. Berkah kiai. Yang sudah menempuh jalan dulu menuju Nya.

Dan saya menyaksikan.

Tabik,

Hilmy Nugraha

Menturo Pagi Ini

Pagi ini saya bangun. Dan ternyata sudah di Menturo, Jombang. Di kampung kelahiran guru saya.

Suasananya kampung sekali. Sangat ndesa. Pohon di kanan kiri jalan, rumah berjarak jauh-jauhan. Warung sajian seadanya, jajanan pasar dan kebutuhan rumah.

Anak desa pergi ke sekolah berjalan kaki, beberapa naik sepeda. Bapak pergi ke ladang, sekarang bukan sedang musim tanam padi. Ibu-ibu mencuci, melakukan pekerjaan rumah.

Pohon jati ada di beberapa halaman rumah. Saya ingat, analogi jati dan kecipir yang merambat. Saya kecipir dan pohon jati itu guru saya. Jika tujuannya untuk sama-sama naik keatas mencari cahaya agar tanaman bisa hidup, maka saya nunut kuat dan tingginya pohon jati.

Saya ini bukan siapa-siapa. Mung ketulung urip di sekitar jati wae. Jadi, bisa naik tinggi mencari cahaya. Guru saya sudah jelas akarnya, kebonnya, bibitnya. Kalau kecipir, salah merambat saja sudah gagal hidupnya.

Dan pagi ini, saya sudah di Menturo, Jombang. Di kebun jati itu. Saya nunut mencari cahaya.

Tabik,

Hilmy Nugraha

7

Sudah 7 tahun saya tidak kesini. Demak.

Saya musti membangun lagi ingatan-ingatan masa lalu. Penginapan. Gedung. Snack. Fotokopi. Pembicara
Peserta. Dan training.

Kali ini, biar saya yang jadi peserta atas seminar yang diisi oleh Raden Patah dan Sunan Kalijaga.

Dan sayapun ke Kadilangu.

Tabik,

Hilmy Nugraha

Jalan

Jalan Bukateja, yang lurus, lebar dan menyenangkan. Serta bisa ngebut 120 km/jam. Sedang diperbaiki, dicor.

Kami harus ikhlas lewat jalan Kemangkon yang jelek dan penuh lubang. Sedikit memutar iya. Sempit memang.

Apa seperti ini hidup? Harus ditempuh dengan berbagai macam jalan. Yang apapun perjalanannya, intinya tujuannya sama. Pulang.

Tabik,

Hilmy Nugraha

Paspor

Lalu saya membuat paspor. Mungkin ini sebuah kemajuan, tapi bagi saya sudah mulai berbentuk kebutuhan. Rizky sudah memulainya 2 tahun lalu. Aku dan Azis baru.

Mau kemana? Ya entah kemana. Kemana-mana boleh.

Tabik,

Hilmy Nugraha

Terus

Tahu-tahu Bumi sudah 1 tahun 2 bulan. Benar kata Mas Miko, umur anak cepet banget. Asal jangan melewatkan pertumbuhan anak aja.

Kedip mata, pegang sendok, rambatan, ambil air pakai wadah, usap-usap lantai, tiduran di lantai, mindahin kerikil, buka buku.

Belum lengkap, tapi tiap harinya tambah-tambah terus.

Tabik,

Hilmy Nugraha

Memahami

Ternyata ya yang paling susah itu memahami. Mau dicoba seperti apapun, jika tidak ada campur tangan Dia melalui makhluk yang bernama hidayah ya musykil saja.

Lalu, apa iya kita tak perlu ngapa-ngapain? Diam saja, menunggu hidayah datang, karena yang sejati memang Dia yang mengantar.

Ya kalau anda minta air minum tanpa membawa gelas, mau ditaruh dimana itu air? Sama, mau ditaruh dimana hidayah pemahaman kalau akal pikiran kita tidak terbuka dengan sesuatu yang baru.

Tabik,

Hilmy Nugraha