memuliakan anjing



apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata anjing?

gonggongan keras? liur menetes-netes? ekor bergerak-gerak? lidah terjulur-julur? lari-lari kecil entah kemana? atau bahkan 'anjing' itu kata yang tepat untuk menghina seseorang?

anjing itu tidak hina. hanya saja manusia yang membuat anjing itu hina. sehingga untuk menghina manusia kita sering menggunakan kata 'anjing'. anjing itu mulia, bahkan bisa lebih mulia dari manusia. hanya saja mungkin air liurnya yang membuatnya bisa menjadi najis mugholadhoh. yang untuk membersihkannya kita harus membasuhnya sebanyak 7 kali dengan air dan terakhir dengan air. namun bukan berarti anjing itu hina.

kalau dilihat bahwa air liur membuat anjing jadi lebih hina, justru, manusia bisa lebih hina. karena didalam perut kita penuh dengan kotoran. penuh dengan najis. apakah kita tidak lebih hina dari anjing?

sama seperti analogi mulut dan anus. tidak berarti anus lebih mulia dibandingkan mulut. karena anus letaknya dibawah untuk mengeluarkan kotoran dan mulut diatas untuk memasukan makanan. bisa jadi, mulut lebih rendah kedudukannya daripada anus, karena kita sering mengeluarkan kotoran dalam bentuk perkataan yang lebih hina daripada kotoran dalam arti sebenarnya. setiap elemen kehidupan punya peran sendiri-sendiri. disitulah letak kemuliaan dirinya.

anjing termasuk elemen kehidupan. dia menjalankan perannya sebagai makhluk ciptaan AlLah sesuai tugasnya. seharusnya kita tidak menghina-hinakannya. setiap ciptaanNya adalah kesempurnaan. tidak ada yang tidak didesain secara asal-asalan dan tanpa tugas yang jelas olehNya.

bahkan, seorang pelacur bisa masuk surga karena telah menyelamatkan anjing yang kelaparan. bahkan, pemuda ashabul kahfi diselamatkan oleh anjing. puntadewa bisa mencapai moksa dengan anjing pendampingnya. dalam film haichiko, terlihat betapa kesetiaan seekor anjing kepada majikannya hingga majikannya telah tiada.

seharusnya kita bisa belajar dari anjing. dari hewan yang kata orang hina. bukan hanya menggunakan namanya untuk menghina orang lain.

berpikirlah global!

salam anjing!
Aku menulis karena aku ‘mewajibkan’ diriku untuk membaca…

agama

"Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yg beragama. Tetapi,bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama."

-emha ainun nadjib
"Indonesia memang penggalan tanah surga. Tuhan mungkin sedang iseng, mencukil sedikit tanah surga kemudian dilemparkan ke bumi, dan jatuhlah di Indonesia."

- hilmy, november

HASTA DASA PARATEMING PRABU


(merupakan ajaran Maha Patih Gajah Mada tentang seorang PEMIMPIN)

01. ‘Wijaya’. Artinya pemimpin harus mempunyai jiwa tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan.

02. ‘Mantriwira’; Artinya pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun.

03. ‘Natangguan’; Artinya pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan.

04. ‘Satya Bhakti Prabhu’; Pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa.

05. ‘Wagmiwak’; Pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.

06. ‘Wicaksaneng Naya’; Artinya pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.

07. ‘Sarjawa Upasama’; Artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.

08. ‘Dhirotsaha’ ; Artinya pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.

09. ‘Tan Satrsna’ ; Maksudnya seorang pemimpin tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk menyukseskan cita-cita bersama.

10. ‘Masihi Samasta Bhuwana’; Maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.

11. ‘Sih Samasta Bhuwana’; Maksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya.

12. ‘Negara Gineng Pratijna’; Maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

13. ‘Dibyacitta’ ; Maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).

14. ‘Sumantri’ ; Maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.

15. ‘Nayaken Musuh’ ; Maksudnya dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.

16. ‘Ambek Parama Artha’; Maksudnya pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.

17. ‘Waspada Purwa Artha’; pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan.

18. ‘Prasaja’ :Artinya seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.

Sarjana Pulang Ke Desa


Ternyata ada banyak pekerjaan yang belum diselesaikan di desa. Atau jangankan diselesaikan, disentuh saja belum.

Lihat saja, sistem pertanian yang kacau balau, yang bukan menjaga alam, tapi justru merusak alam itu sendiri. Hama yang terus ada karena pestisidanya itu sendiri justru yang memicu adanya hama. Pupuk kimia yang makin lama merusak tanah.

Tengok saja, petani terus miskin. Karena belum dilengkapi pengetahuan-pengetahuan terbaru akan alam. Karena hal itu masih tergantung tinggi di gedung-gedung belajar. Mereka tergantung dengan sistem, tanpa mampu menciptakan sistem itu sendiri.

Itu baru dari satu bidang. Pertanian. Apakah hidup itu hanya pertanian? Tentu tidak.

Dimana ada hukum, budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya.

Aku percaya, akademisi punya peran utama dalam transfer ilmu pengetahuan dari gedung belajar ke desa. Dan sarjana adalah para akademisi tersebut.

Sudah saatnya mereka pulang ke desa. Itulah sejatinya belajar.

13:12
Ya Allah, Ya Manan, Ya Karim...

huruf kecil

entah, aku sedang kenapa. yang jelas, aku sedang menikmati menulis sesuatu dengan huruf kecil dikeseluruhan tulisanku. ini mungkin virus dari nadia. pertama kali aku menulis sms, dengan huruf kecil semua adalah terinspirasi dari sms-sms-nya nadia.

huruf kecil. aku sedang suka dengan huruf kecil. lebih santai.

3 hal yang harus dipersiapkan untuk produk ekspor



- kualitas
- kuantitas
- kontinuitas

mas wiwid, pondok daya

pertemuan sore


Kekuatan petani itu sebenarnya ada jika mereka berserikat!
- Ahmad Tohari

Orang yang sudah membayar zakar secara sadar, pasti tidak akan korupsi
- Ahmad Tohari

Rumus menolong orang lapar adalah kenyang dulu
- Ahmad Tohari

Jangan termakan iklan, jangan jadi babi kapitalis
- Ahmad Tohari

Mengubah petani adalah mengubah mental untuk ingin meningkatkan nilai tambah pertaniannya
- Ahmad Tohari

Orang idealis itu bisa hidup, buktinya saya!
- Ahmad Tohari

13 Oktober 2011
pertemuan sore dengan Ahmad Tohari.

tafsir film


Sampai sekarang aku belum nonton film 'Sang Penari'. Pertama tentu saja karena belum ada film-nya di bioskop di Purwokerto, selain itu aku memang belum ada keinginan untuk menontonnya.

Jauh-jauh hari sebelum penayangan perdana 'Sang Penari' di bioskop, aku berkunjung santai ke rumah Ahmad Tohari. Kami mengobrol tentang sastra, Banyumas, film Ronggeng Dukuh Paruk, pemerintah dan banyak hal.

Pak Tohari, beliau biasa disapa, mengatakan hal yang sangat penting bagiku. Bahwa kita harus mempunya dua rumah apresiasi dalam pikiran kita. Yaitu apresiasi teks dan apresiasi visual.

Film yang sudah dibuat, itu adalah karya sutradara, bukan karya beliau. Itu adalah hasil tafsiran sutradara dari buku teks Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah dia baca. Jadi semata-mata tidak bisa disamakan dengan teks aslinya.

Kata dalam sastra, tidak semata-mata bisa diterjemahkan dalam visual semua. Novel setebal 408 halaman ini, tidak mungkin hanya divisualisasikan secra detail dalam 110 menit di layar lebar. Tentu akan banyak penyusutan. Jadi, jangan terlalu banyak berharap film ini sama dengan teksnya.

Meski demikian, kita harus tetap mengapresiasi, kata beliau. Bagaimanapun juga ini karya seni. Kemudian, sewaktu ku tanya, apakah beliau mau menghadiri pemutaran perdananya, beliau menjawab pelan, bahwa beliau belum tega melihatnya.

13 november 2011
12:57
tadi pagi ngobrol lagi dengan beliau, tapi hanya sebentar,
pak Ahmad Tohari mau kondangan.

papua merdeka


setelah lama berinteraksi dengan elias, temanku dari papua, aku semakin yakin, papua harus merdeka. mungkin bagi sebagian orang itu hal yang ekstrim. tapi bagiku itu masuk akal.

papua itu luas. kaya. dan luar biasa. tanpa ada kitapun mereka bisa hidup makmur. emas dimana-mana. hasil alamnya luar biasa. belum hasil lautnya, wow. pariwisatanya indah-indah. adatnya masih dijaga benar-benar.

bisa dibilang, justru pemerintah pusat itu semacam parasit dipapua. maunya nyedot kekayaannya aja, tapi ndak mau berbagi dengan daerah. pemerintah pusat dengan gaya sengaknya cuma ngambil hasil alamnya aja dari papua. tapi ndak peduli dengan kemiskinan yang ada disana.

makanya, ada benernya. bisa jadi papua itu jajahan indonesia. ya, rakyat papua itu merasa dijajah oleh indonesia. kata elias, anak papua sejak kecil sudah ditanamkan dalam pikirannya, bahwa papua harus merdeka. lewat lagu, lewat propaganda dan mungkin lebih lewat teladan. liat aja, SBY dateng ke papua itu udah kayak George Bush dateng ke bogor. bukan maen filterisasi-nya.

pemerintah indonesia itu norak bukan main. aksi demonstrasi kecil biasa aja, tentara ngerahin baracuda, tank, tni seragam tempur. padahal yang demo anak mahasiswa uncen, cuma bawa poster, spanduk, banter-banternya sumpit.

ya, bisa jadi, aku setuju aja kalo papua merdeka. biar mereka lebih bisa mandiri dan menentukan nasibnya sendiri.

jadi, kalo aku berkunjung ke rumah tanteku di merauke, atau ketempat elias di serui, aku harus pakai paspor untuk kesana. haha. asik juga ya.

bisa jadi, SEA Games kelak, sepakbola kita kalah dengan papua. ketika kurnia mega tak mampu membendung tendangan dari titus bonay...

13 november 2011
18:34
ingat kaka eli, mari maga-maga kaka...

egois


Apa kita begitu egois ya?

Ketika kita tidak memperbolehkan Papua merdeka, itu bukan karena kita merasa Papua itu bagian dari tanah air kita, tapi karena tanah Papua yang kaya, laut Papua yang melimpah hasilnya.

Ketika kita tidak memperbolehkan Papua maju, itu bukan karena merasa orang Papua itu saudara kita, tapi karena orang Papua bisa dibodohi oleh kita dalam beberapa hal, termasuk Freeport dan hal lainnya.

Ah, bagaimanapun, mereka saudara kita. Saudara kita. Saudara. Aku punya tante disana. Punya teman disana. Elias Sawaki.

13 november 2011
13:04
Papua Mau Merdeka?

dari Hatta


Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku.
Ia tumbuh karena perbuatan.
Dan perbuatan itu adalah perbuatanku
--Moh Hatta--
sejarah itu dibuat oleh orang yang menang perang.

---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone
apakah kita sedang bergerak ke arah pendidikan yang diperluas dan menyusun rencana dengan gagasan bahwa perkembangan individu adalah suatu praxis, ataukah kita justru sedang menuju ke arah scolae dalam arti kata yang sebenarnya?

-deklarasi cuernavaca 1971

---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone