Kita sedang merawat ilusi yang tampak sangat mulia. Sekolah dielu-elukan sebagai jalan kemajuan bangsa. Namun banyak ruang kelas terasa seperti jalur perakitan sunyi. Anak-anak duduk rapi dan patuh, tetapi kehilangan nyala penasaran. Angka rapor dipuja tinggi sekali. Karakter terpinggirkan. Diam-diam, kemanusiaan kita menipis tanpa benar-benar kita sadari.
Sekolah dan sinau sering kita samakan begitu saja. Padahal keduanya bergerak dalam arah yang berbeda jauh. Sekolah sibuk mengejar kurikulum, target, dan administrasi yang kaku. Sinau tumbuh dari kegelisahan dan keberanian mencari makna. Sekolah mengejar standar. Sinau mengejar kebenaran. Di dalam sinau, manusia dibentuk utuh, bukan sekadar dilatih agar patuh.
Ruang belajar kini menyerupai pabrik modern yang rapi. Seragam, jadwal, bel, instruksi. Semua tertata efisien dan tampak profesional. Kita melatih kepatuhan lebih serius daripada daya pikir merdeka. Anak diarahkan sesuai kebutuhan industri global yang kompetitif. Efisien. Namun suasananya terasa dingin dan mekanis seperti mesin tanpa jiwa.
Logika pasar menyusup halus ke dunia pendidikan kita. Produktivitas menjadi mantra yang diagungkan tanpa banyak pertanyaan kritis. Kompetensi diukur lewat sertifikat dan skor ujian semata. Jarang sekali kita bertanya siapa sebenarnya diuntungkan sistem ini. Anak didorong menjadi tenaga siap pakai. Bukan penggagas. Bukan tuan atas potensi tanahnya sendiri yang kaya.
Paulo Freire pernah mengingatkan bahaya pendidikan bergaya bank yang menindas. Pengetahuan ditimbun, murid dianggap wadah kosong yang harus diisi. Relasi belajar menjadi satu arah dan terasa kaku. Ivan Illich bahkan menggugat dominasi institusi sekolah modern yang terlalu mapan. Kita seperti lupa. Terlena. Padahal kritik itu masih relevan dengan kegelisahan pendidikan kita hari ini.
Guru pun terjebak dalam labirin administrasi yang melelahkan dan repetitif. Waktu habis untuk laporan, unggah data, dan memenuhi standar birokrasi. Energi tersedot oleh prosedur yang kian rumit. Ruang dialog perlahan menyempit. Hubungan manusiawi menipis. Kelas terasa prosedural, bukan lagi ruang perjumpaan batin yang hangat.
Dampaknya tidak sederhana bagi masa depan kita bersama. Kita melahirkan generasi cerdas secara teknis dan kompetitif. Mereka lihai mengerjakan soal dan membaca instruksi dengan presisi. Namun sering gagap memahami realitas sosialnya sendiri yang kompleks. Nilai tinggi. Empati rendah. Logika tajam, tetapi nurani terasa tumpul.
Lebih menyedihkan lagi, cinta pada ilmu semakin memudar perlahan. Belajar dianggap kewajiban administratif semata yang membosankan. Buku dibuka demi ujian, bukan demi kegelisahan batin yang jujur. Jarang terlihat mata berbinar karena penemuan makna yang mencerahkan. Sunyi. Kegandrungan pada pengetahuan seperti api yang kekurangan udara. Bangsa ini kehilangan romantika intelektualnya yang dahulu membara.
Sinau seharusnya menjadi jalan pulang yang kita pilih bersama. Ia menghidupkan dialog dan keberanian meragukan kepastian semu. Di sana, kita belajar mengenal diri dan kenyataan dengan jujur. Bukan sekadar mengejar pekerjaan bergaji stabil dan status sosial. Perlu keberanian kolektif. Perlu kesadaran jernih. Tanpa sinau, kita sibuk membangun gedung megah, tetapi lupa menumbuhkan manusia.
0 kata-kata:
Posting Komentar