Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana

 

Banyak orang meyakini krisis terbesar kita adalah ekonomi. Padahal yang retak justru orientasi hidup manusia. Kita sibuk memperbaiki sistem, tetapi lupa menata pijakan nilai. Peradaban sebenarnya dibangun dari cara kita memaknai peran. Di situlah sumber arah sosial ditentukan. Sunyi. Kita jarang mengakuinya dengan jujur dan terbuka.

Dalam tatanan sosial, kita mengenal tiga wajah manusia. Manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istana. Ketiganya hadir dan membentuk dinamika peradaban kita. Mereka bukan musuh satu sama lain. Netral. Namun ketidakseimbangan di antara mereka melahirkan ketegangan sosial. Dari sanalah persoalan bermula secara perlahan.

Manusia nilai berpijak pada makna, bukan keuntungan materi. Ia bekerja tanpa dihantui kecemasan tentang laba pribadi. Guru yang mengajar dengan nurani adalah contoh nyata. Tokoh agama, budayawan, dan tenaga kesehatan juga demikian. Mereka menjaga wilayah sakral kehidupan bersama. Pendidikan, agama, budaya, dan kesehatan. Di ruang itu, nilai menjadi napas utama.

Wilayah-wilayah tersebut seharusnya tidak tunduk pada kapitalisasi berlebihan. Di sana, pengabdian lebih penting daripada transaksi. Ilmu ditransformasikan sebagai amanah, bukan komoditas dagang. Nilai dirawat seperti api kecil di tengah badai. Rapuh. Namun api itu menentukan terang gelapnya peradaban. Tanpa manusia nilai, fondasi sosial mudah retak.

Berbeda dengan itu, manusia pasar bergerak dalam logika transaksi. Ia menawarkan barang atau jasa untuk memperoleh keuntungan. Perhitungan menjadi alat utamanya dalam bertindak. Dalam batas wajar, peran itu sah dan diperlukan. Pasar menghidupi banyak keluarga. Realistis. Ia mengajarkan efisiensi, disiplin, dan keberanian mengambil risiko.

Sementara itu, manusia istana berdiri di wilayah kekuasaan struktural. Ia memegang jabatan dan kewenangan dalam organisasi atau negara. Presiden, menteri, direktur, dan pemimpin lembaga termasuk di dalamnya. Dengan kekuasaan, arah perubahan bisa ditentukan secara sistemik. Kekuasaan pada dasarnya bersifat netral. Bergantung nilai. Ia menjadi mulia atau rusak sesuai pijakannya.

Persoalan muncul ketika manusia pasar dan istana mendominasi. Nilai ditarik masuk ke meja transaksi dan kepentingan. Pendidikan berubah menjadi industri mahal yang kompetitif. Agama dipoles demi citra dan pengaruh politik. Budaya dikemas sekadar tontonan komersial. Kesehatan menjadi layanan eksklusif bagi yang mampu. Kita menyaksikan sakralitas terkikis perlahan.

Dalam situasi itu, manusia nilai terdorong ke pinggir. Suara nurani kalah oleh angka dan kekuasaan. Kita pun ikut larut tanpa sadar. Kita mengejar laba dan posisi struktural bergengsi. Lalu melupakan makna dasar pengabdian sosial. Ironis. Kita membiarkan pasar dan istana berjalan tanpa kompas etika.

Solusinya bukan meniadakan pasar atau kekuasaan. Kita tetap membutuhkan keduanya dalam masyarakat modern. Namun pasar dan istana harus tunduk pada nilai. Manusia nilai perlu menjadi fondasi moral bersama. Di situlah keseimbangan lahir dan terjaga. Berani. Jika nilai memimpin, pasar menjadi sehat dan istana menjadi amanah.

0 kata-kata: