Sekolah Bukan Mesin

 

Sekolah kadang terasa seperti pabrik. Semua orang sibuk mengukur angka, dokumen, dan sertifikat. Tapi di balik itu, apakah murid benar-benar belajar? Atau kita hanya memoles mesin tanpa memperhatikan isinya?

Maiyah mengajarkan satu hal sederhana tapi mendasar: bedakan antara Ghayah dan Wasilah. Ghayah adalah tujuan. Wasilah adalah alat. Nilai dasar pendidikan—kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan, dan ilmu—adalah Ghayah. Gedung megah, kurikulum rapi, akreditasi, gaji, dan pangkat hanyalah Wasilah.

Tragedi terjadi ketika guru sibuk mengejar Wasilah seolah itu Ghayah. Rapor akreditasi dipoles, dokumen kurikulum dihias rapi, laporan administratif dikerjakan hingga larut malam. Tapi murid tetap bingung saat diajarkan berpikir kritis. Kebijaksanaan tak sampai. Empati tidak tumbuh. Rasa ingin tahu tertahan di balik tumpukan dokumen.

Maiyah mengajak guru untuk kembali Zuhud. Zuhud bukan miskin atau menolak dunia. Zuhud berarti menaruh dunia—administrasi, uang, pangkat—di tangan, bukan di hati. Alat tetap alat. Tujuan tetap tujuan. Ketika guru memahami Ghayah, transfer kebijaksanaan menjadi inti. Murid belajar, bukan sekadar meniru, tapi merasakan ilmu mengalir dalam hidupnya.

Bayangkan guru yang hadir sepenuh hati. Ia tidak terganggu oleh angka atau dokumen. Ia menatap murid, mendengar pertanyaan mereka, mendorong mereka berpikir. Gedung sekolah sederhana. Kurikulum seadanya. Tapi ilmu, empati, dan kebijaksanaan hidup di ruang kelas itu. Sekolah seperti ini bukan mesin. Ia seperti taman yang dirawat dengan cinta.

Tragedi pendidikan modern bukan hanya soal sistem atau kebijakan. Ia soal kesadaran manusia. Guru, murid, dan orang tua harus bertanya: apakah kita mengejar tujuan atau terjebak oleh alat? Saat Wasilah diperlakukan sebagai Ghayah, pendidikan kehilangan jiwanya.

Kesadaran sederhana dari Maiyah ini adalah kunci: dunia harus di tangan, bukan di hati. Gedung, kurikulum, akreditasi hanyalah sarana. Kebijaksanaan, kemanusiaan, keadilan, dan ilmu adalah tujuan sejati. Ketika Ghayah ditempatkan di depan, semua Wasilah menjadi bermakna. Pendidikan hidup. Murid tidak hanya menerima informasi, tapi merasakan kebijaksanaan yang membentuk karakter dan masa depan mereka.

Di akhir hari, pendidikan bukan soal angka atau dokumen. Pendidikan adalah tentang manusia yang hadir, belajar, dan tumbuh. Alat boleh banyak, tapi hati dan tujuan tidak tergantikan. Zuhud bukan pengorbanan, tapi seni menempatkan yang penting di depan, dan yang sementara di tangan. Itu Maiyah. Itu pendidikan yang hidup.


0 kata-kata: