“Small is beautiful.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun mengguncang keyakinan lama. Tajam. EF Schumacher menantang obsesi dunia pada skala raksasa. Ia menolak anggapan bahwa besar selalu lebih baik. “Bigger is not necessarily better,” tulisnya lugas. Pernyataan itu seperti palu memecah mitos modernitas.
Dalam Small Is Beautiful, Schumacher mengkritik teknologi mahal dan rumit. Padat modal, tetapi miskin kepekaan sosial. Ironis. Teknologi semacam itu sering mengasingkan manusia dari pekerjaannya. Produktivitas naik, namun martabat kerja justru merosot. Ia melihat bahaya ketergantungan pada sistem industri global. Ketergantungan itu rapuh dan tidak adil.
Schumacher menawarkan konsep “intermediate technology” sebagai alternatif masuk akal. Teknologi berskala manusia, bukan berskala korporasi raksasa. Sederhana. Mudah dipelajari dan dirawat masyarakat lokal. Biayanya terjangkau dan tidak menuntut modal besar. “Any intelligent fool can make things bigger,” tulisnya menyindir. Namun, menyederhanakan justru membutuhkan kebijaksanaan sejati.
Gagasan itu sangat relevan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Kita masih bergulat dengan ketimpangan dan pengangguran serius. Fakta pahit. Proyek besar sering menyerap anggaran, bukan tenaga kerja luas. Pertumbuhan terlihat megah, tetapi rapuh di akar rumput. Desa perlahan kehilangan daya hidupnya. Situasi ini jelas mengkhawatirkan.
Dalam sektor pertanian, problem itu terasa nyata. Traktor modern berharga tinggi bagi petani kecil. Mahal. Suku cadang bergantung pada impor dan fluktuasi dolar. Risiko gagal panen memperparah tekanan ekonomi mereka. Sebaliknya, alat sederhana lebih adaptif dan fleksibel. Teknologi kecil sering lebih membumi.
Contoh lain muncul pada energi berbasis komunitas. Pembangkit mikrohidro berkembang di beberapa desa terpencil. Kecil. Namun, dampaknya menjangkau banyak keluarga. Warga belajar mengelola sistem secara kolektif. Pengetahuan tumbuh seperti akar yang menguatkan tanah. Kemandirian perlahan menjadi nyata.
Bagi mahasiswa dan aktivis, pesan Schumacher terasa mendesak. “Economics as if people mattered,” tulisnya tegas. Jelas. Ekonomi seharusnya berpusat pada manusia, bukan mesin. Teknologi mesti membebaskan, bukan menggantikan manusia masif. Modernisasi tanpa etika hanya menyisakan kehampaan sosial. Kecil memang indah ketika manusia tetap menjadi pusatnya.
0 kata-kata:
Posting Komentar