Dalam Kesesatan


Saya masih belum paham. Mengapa orang begitu mudahnya menyesat-nyesatkan orang lain. Hal ini terjadi kepada beberapa golongan Islam yang mungkin mengaku dirinya paling benar. Atau mungkin mereka adalah teman baik Kanjeng Nabi sekaligus keponakannya Gusti Allah. Saya kurang paham. Tapi yang pasti, fenomena ini jelas adanya. Menganggap sesat, kafir, bid'ah, jahil, musyrik, sudah seperti sapaan harian saja.

Padahal dalam logika sederhana, orang kenyang tidak akan pernah meminta makanan. Orang yang meminta makanan adalah orang yang lapar. Logika kecil yang sangat sederhana. Jika diperluas kembali ke analogi yang lain, maka orang yang benar tidak akan pernah meminta diluruskan jalannya. Orang sesatlah yang meminta diluruskan jalannya. Sederhana?

Dan dalam ibadah setiap hari (saya rasa mereka juga beribadah juga), kita selalu meminta diluruskan jalannya. Dalam sholat, setiap Al Fatihah kita membaca "Ihdinas sirathal mustaqim", yang artinya tunjukilah kami jalan yang lurus. Dalam logika tadi, apa iya kalau kita sudah benar jalannya tetap minta diluruskan? Sama seperti orang yang kenyang tetap minta makanan?

17 kali dalam satu hari kita mengucapkan itu. Apa belum mengaku juga bahwa memang benar-benar kita dalam kesesatan? Atau masih bersombong juga bahwa kita sudah benar. Jika demikian adanya, tak usah lagi meminta jalan yang lurus, toh sudah benar. Dan tidak perlu sholat. Buat apa.

Saya memilih sibuk dalam kesesatan saya. Daripada sibuk memikirkan kesesatan orang lain. 17 kali sehari tetap bentuk evaluasi paling nyata atas potensi keburukan kita. Tapi jika mengapa mereka belum juga paham, lalu apa yang menimpa mereka? Bisa disebut tidak beruntung secara intelektual. Pelajaran logika saja tidak lulus.

22 Juni 2015

2 kata-kata:

NOA (Niniez Ozzy AsfAsya) mengatakan...

insiden quran langgam jawa, kang hilmy.. ngliat di tipi sorg ustadzah '├želeb' wanita lsg menjudge kafir bagi pembacanya.. kecewa karena lebih melihat bias rasisme ikut berperan, karena 'jawa'nya.. dan karena dia bukan orang jawa terlihat no burden dalam pengucapannya

Hilmy Nugraha mengatakan...

nuduh itu mudah, mengakui itu susah.

fiuh.