Wisanggeni

Raden Wisanggeni mengenakan busana yang sangat sederhana, yaitu irah-irahan gelung sapit urang, sumping kudhupturi, dan memakai kain jangkahan satriya. Ia bermata liyepan, berhidung walimiring, dengan mulut berbentuk salitan tanpa kumis, serta dengan arah wajah lanyap. Bentuk jari tangannya driji jalma, posisi kakinya jangkah. Sunggingan badan berwarna emas, sedangkan wajahnya berwarna emas atau putih. Raden Wisanggeni mempunyai bentuk badan kecil, bersuara kecil, dan tidak dapat berbahasa jawa halus (basa krama).

Raden Wisanggeni berwatak jujur, sederhana dan apa adanya. Ia juga berwatak pemberani, bersuara lantang tentang kebenaran dan keadilan.

Nama lainnya Raden Jajahsengara, Bambang Pulungganadewa, Raden Pangruwatdewa. Tidak mempunyai pusaka apapun. Kesaktian Raden Wisanggeni adalah kebal terhadap api dan senjata apapun. Tempat tinggalnya di Kahyangan Duksinageni atau Hargadahana.

Ayahnya adalah Raden Arjuna, ibunya Bathari Dresnala. Cucu dari Prabu Pandhu dan Bathara Rama. Teman dekatnya adalah Raden Antasena. Akhir hidupnya adalah dengan cara mokswa, mati bersamaan dengan hilangnya raga.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Tedak Siten


Bumi menginjak Bumi


Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android

garem sing jare disubsidi

Saat saya jalan-jalan sama Bumi di depan rumah pas ada petani sedang mempersiapkan kegiatan bertaninya. Ada beberapa karung disitu, yang isinya adalah pupuk. Dengan rasa penasaran, saya pun mengajak ngobrol pak petani ini. Tentunya tentang pupuk.

Kondisi petani makin memprihatinkan. Untuk mendapatkan pupuk itu sulit. Hanya toko-toko tertentu yang menjualnya. Dan hanya petani daerah itu saja yang boleh membelinya. Syaratnya KTP daerah tersebut. Yang repot pas di toko itu sedang tidak ada kiriman pupuk, lha ini musti mupuk pakai apa? Itu adalah pupuk subsidi negara. Kalau beli yang bukan subsidi harganya selangit bukan main. Pemerintah niat membantu, tapi pelaksanaannya tetep saja menyusahkan petani.

Pak Tani yang saya ajak ngobrol itu, musti cari pupuk sampai Purbalingga, biar tanamannya tetap terpelihara dan tumbuh subur. Harga tinggi, distribusi tidak merata, kapitalisasi subsidi. Semua ditimpakan ke petani. Hebat memang sistem ekonomi kita. Petani dibuat tergantung sedemikian rupa, sampai tak berdaya kalau pemerintah tidak memberikan bantuan. Kemandirian yang ditiadakan.

Lantas, negara ngapain aja? Ketemu petani 5 tahun sekali.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Obah Ora Mubah

Tiba-tiba saya musti lompat-lompat. Berlari cepat. Mengejar arah gerak lawan. Melempar bola ke kawan. Mendayagunakan seluruh kemampuan otot, dan itu seluruh tubuh. Kaki saya kencang seketika. Tangan saya pun demikian. Alhamdulillah, saya tidak perlu kram musti belum pemanasan.

Saya musti mengulang lagi pelajaran 15 tahun silam. Menyeimbangkan otak dengan otot. Intuisi dengan respon. Reflek dengan keputusan. Saya mengulang kembali.

Saya agak lupa melempar bola. Sedikit lambat reflek menangkap bola. Dan berkurang kesaktiannya dalam hal melompat. Terlebih melihat ukuran perut saya yang semakin berkembang.

Tapi setengah jam selepas itu, saya gembira bukan main. Saya masih diberi kesempatan bergerak bebas. Tanpa rasa sulit. Saya masih bisa bermain basket, meski terakhir kali bermain itu 5 tahun yang lalu.

Saya mantapkan. Musti rajin-rajin bergerak. Kata orang untuk menjaga kesehatan. Bagi saya yang utama, agar tak gampang sakit. Sama saja.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Mrihatin

Ketika kondisimu sedang terpuruk, sama seperti tangan yang sedang terikat. Yang diperlukan melepaskan diri. Kalau masih ada alternatif lain, jangan harap ini jadi pelarian.

Tirakat. Kuncinya cuma satu. Mbedal, nekad. Mengiba ke Tuhan, jalan prihatin. Bisa lewat puasa, sholat malam, ziarah, tapa kungkum, dan sebagainya.

Keprihatinanmu itu setoran ke Gusti Allah. Nek wes setoran, kowe lewih gampang lhe njaluk.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Panitia Pasar Bebas

Membuka lowongan siapa saja yang mau berjualan di pasar ini. Silakan saja. Mau jualan produk apapun pasti diserap. Dari obat ketombe sampai mobil mewah limited edition. Asal gambarnya menggoda. Membuat orang terpukau dan menjadi butuh. Tiba-tiba berketombe dan butuh mobil keren.

Pasar diciptakan benar-benar bebas. Tak ada regulasi. Hanya ada satu aturan. Yang bermodal bisa menguasai pasar. Asal punya kertas bergambar pahlawan cukup banyak. Pasar bisa dikondisikan.

Hari ini bisa ramai obat cacing, besok orang-orang menyerbu handphone layar sentuh, lusa dibuat saja motor sporty jadi tak sepi. Semua bisa diatur. Obat cacing, handphone, motor sporty tiba-tiba jadi barang primer. Mengalahkan beras dan ikan asin.

Orang-orang yang menguasai pasar cukup itu-itu saja. Hanya akar dibawah banyak. Dibuat banyak. Agar ramai dan kelihatan banyak. Padahal, mau beli kemanapun, yang untung tetap orang itu-itu saja.

Pembeli musti bekerja mati-matian mendapatkan kertas bergambar pahlawan. Diilusikan, tanpa kertas itu mereka tidak bisa hidup. Karena hidup itu adalah gaya, gengsi, eksis dan nomor satu. Setelah kerja setengah mati, dapat kertas, lalu segera tukar dengan hidup itu tadi. Termakan gambar-gambar menarik yang sudah diolah sedemikian oleh penjual.

Lalu dimana letak pangreh praja? Pemerintah?

Tidak ada pemerintah. Yang ada panitia pasar bebas. Ambil untung sedikit dari penyelenggaraan kegiatan. Lalu diam diujung ruangan, minum kopi dan baca koran.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Jadi Ibu

Jangan-jangan, kita lebih memilih jadi ibu bekerja daripada ibu rumah tangga, karena ibu bekerja jauh lebih mudah. Ibu bekerja dapat gaji, tinggal beli susu n bayar pembantu. Selesai.

Tanggung jawab jadi ibu berat sekali. Musti pegang anak 24 jam. Ngurus kebutuhan rumah, suami dan anak. Masak, bebersih rumah. Melayani rumah. Saking beratnya, enak kerja di kantor. Pulang beres.

Apa yang mereka cari? Pelarian hidup? Gengsi gaya hidup? Jenuh dirumah? Sayang akan titel sarjana? Ibu dirumah tidak keren? Karir adalah segalanya? Kemandirian?

"Tapi kamu lupa Hil, hidup itu berlapis-lapis. Itu kamu hanya satu lapis saja melihatnya. Bagaimana jika memang ibu harus bekerja, karena suaminya tidak bisa diandalkan? Gugur sudah semua teorimu.", kata teman saya.

Iya, bisa jadi.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Bumi dan Sabrang

Akan ada dua kali ketemu. Pertama pas lahiran Bumi, yang akan kedua pas ulang tahun Bumi besok April. Tepat setahun.

Momentum apa artinya? Saya sendiri masih mencari jawabnya.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Nandur Sayur

Saya musti pilih metodenya. Mau hidroponik, veltikultur atau konvensional biasa. Mau organik apa kompromi dengan pupuk dan pestisida kimia. Mau hibrida atau alami.

Selain itu juga tentukan apa yang mau saya tanam. Wortel, sawi, kangkung, bayam, tomat, brokoli, kembang kol, caisim, terong, cabai atau semuanya. Masing-masing berbeda sentuhannya.

Pilih juga mau belajar dengan siapa. Lewat buku? Internet? Atau pakarnya langsung? Bisa pilih salah satu atau kombinasi.

Yang terpenting justru malah motivasinya. Mau apa?
Yang jelas, penghematan, kemandirian dan saya percaya menanam itu menghaluskan hati, memdekatkan diri ke Tuhan.
Melihat tunas tumbuh, batang memanjang, daun menjulur, akar menancap, buah berkembang. Apalagi kalau tidak melihat Tuhan?


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Tuhan Maha Serius

Tuhan sangat serius menaruh debu pada sebuah daun jati di pinggir jalan. Tuhan sangat serius menaruh embun pada bunga putri malu di rerumputan lapangan. Tuhan sangat serius menciptakan kutu loncat di kasur kamar kita. Tuhan sangat serius membikin salak sehingga sama seriusnya membikin durian. Tuhan sangat serius membuat air turun ke bumi menjadi hujan. Tuhan sangat serius menjatuhkan daun kering depan rumah kita. Tuhan sangat serius mengalirkan air dari gunung ke lautan. Tuhan sangat serius menggelar langit berlapis-lapis. Tuhan sangat serius menciptakan hal-hal yang kita sepelekan. Tuhan sangat serius menciptakan segala kejadian-kejadian di depan mata kita.

Tapi kita iseng melihat keseriusan Tuhan.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Mengutuk Jakarta

Diam-diam kita mengutuk Jakarta tapi pikiran kita patuh terhadap anjurannya. Diam-diam kita membenci Jakarta tapi hati kita tunduk dari perintahnya. Diam-diam kita memusuhi Jakarta tapi gerak kita tidak lepas darinya. Diam-diam kita mengkafani Jakarta tapi sebenernya nafas kita masih disana. Diam-diam kita membunuh Jakarta tapi jiwa kita terus memupukinya dengan harapan.

Jakarta sudah habis.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Gondrong Gundul

Hal aneh bisa berasal dari kontradiktif akan satu hal dengan hal yang lain. Dan ini terjadi pada saya dan Bumi.

Ketika kemarin berjalan-jalan ke Aroma, sekedar membeli tepung sagu dan butter salt free, Bumi kududukkan di keranjang dorong. Lucu bukan main mukanya.,Bumi usai bercukur rambut, gundul plontos jadinya. Terkadang jail juga, ambil barang sana sini ikut dimasukkan ke keranjang. Tapi mungkin yang lebih menarik bukan itu. Ketika saya mendorong kereta belanja, mata penjaga dan pembeli 70% memandang kami.

Lah yo piye, anakke gundul bapakke gondrong. Opo tumon?

Saya sengaja memanjangkan rambut sebagai tanda kebebasan. Dan Bumi sengaja ku cukur sebagai belajar disiplin. Plus agar rambutnya tumbuh makin lebat.

Gon Gun!


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Gagap Masyarakat

Setelah obrolan panjang dengan Pakde Jani, kakak tertua dari ibuku, di Belik, tiba pada simpulan bahwa kuliah memang keren, tapi tidak guna-guna amat. Simpulan ini belum selesai, jadi jangan marah dulu.

Apabila kuliah hanya ngampus kosan dolan saja. Mahasiswa yang lurus-lurus di kampus juga hidupnya akan monoton. Bisa jadi ia cemerlang di kampus, tapi di luar belum tentu. Gaya hidup anak kampus sekarang membumbung tinggi, nongkrong di cafe, belanja di distro yang hampir ada di sekitar kampus, bikin mahasiswa lupa tujuannya kuliah.

Yang rajin pun, cuma kosan kampus kosan kampus saja. Peduli nomor satu hanya kepada dirinya sendiri. Nilai, IPK, kelulusan. Mana mungkin melek terhadap kondisi sekitar.

Akhirnya, kampus cuma jadi menara gading penghasil sarjana tapi gagap terhadap masyarakat. Mereka tidak lanyah berbicara di depan umum, komunikasi personal dengan orang tua, identifikasi permasalahan di masyarakat bahkan merasa lebih pintar dari masyarakat. Ketika lulus, bingung mau mengerjakan apa, padahal beribu pekerjaan masyarakat didepan mata.

Hm, jadi ingat ada slogan menarik. "KULIAH BAE, KAPAN SINAUNE?". Benar adanya. Mahasiswa kita jauh dari sinau, nyinau ke masyarakat apalagi nyinauni masyarakat.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Cikal - Iwan Fals

Kerbau dikepalaku ada yang suci
Kerbau dikepalamu senang bekerja
Kerbau disini teman petani

Ular dinegara maju menjadi sampah nuklir
Ular didalam buku menjadi hiasan tatto
Ular disini memakan tikus

Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Kerbauku teman petani
Ularku memakan tikus

Kerbauku besar kerbauku seram
Tetapi ia bukan pemalas
Hidupnya sederhana

Sancaku besar sancaku seram
Mengganti kulit keluar sarang makan dan bertapa
Hidupnya sederhana

Ularku ular sanca
Kerbauku kerbau petani
Ularku memakan tikus
Kerbauku teman petani

Walau kerbauku bukan harimau
Tetapi ia bisa seperti harimau
Kerbauku tetap kerbau
Kerbau petani yang senang bekerja

Sancaku melilitnya
Kerbauku tidak terganggu
Karena sancaku dan kerbau
Temannya petani

Lalu dimana anak anak sang tikus?

Bayi bayi bayi
Murni dan kosong

Bayi bayi bayi
Bayi ya bayi

Kalau kita sedang tidur dan tiba tiba saja kita terbangun
Karena lubang hidung kita terkena kumis harimau
Mungkin kita akan lari ya lari
Tetapi bayiku tidak

Bukan karena bayiku belum bisa berlari
Aku percaya
Aku percaya

Bayiku tidak akan pernah berfikir
Bahwa harimau itu jahat
Bayiku menarik narik kumis
Dan memukul mukul mulut harimau
Harimau malah memberikan bayiku mainan

Bayiku menjadi bayi harimau
Bayi harimau anak petani
Seperti sanca melilit kerbau
Ia ada di gorong gorong kota

Lantas apa agamanya?

Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku murni dan kosong
Ia ada di gorong gorong kota

Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku bayi harimau
Ia ada di gorong gorong kota

Bayi bayi bayi
Murni dan kosong

Bayi bayi bayi
Bayi harimau

Bayi bayi bayi
Yang berkalung sanca

Bayi bayi bayi
Yang di susui kerbau

#lirik dan lagu ini sering saya nyanyikan untuk Bumi.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Penggemar Remah-remah

Ini hanya sebuah metodologi. Sebuah strategi. Jadi tak pantaslah jika didewa-dewakan. Toh bukan ini tujuannya. Ada yang lain.

Bunda baru saja menerapkan sistem makan kepada Bumu yang menurut saya cukup aneh. Meskipun juga cukup logis. Bumi setelah umur 6 bulan, menginjak pada usia yang harus mulai dikenalkan dengan makanan. MPASI, makanan pendukung air susu ibu. Makanan yang dikenalkan tentu tidak langsung martabak, rujak atau capucino cincau. Ya bertahap. Mulai dari buah, sayuran, nasi, daging, dan seterusnya.

Setelah belajar, kami mantap menggunakan metode BLW, baby lead weaning. Intinya, bayi memakan sendiri apa yang ada didepannya. Kita tinggal potong-potongkan saja makanannya, tidak perlu dilembutkan. Hanya dikukus. Lalu bayi akan mengambil sendiri makanannya dan memakannya langsung.

Positifnya, dia lebih tahu takarannya dia. Dan mempercepat belajar makan sendiri. Logikanya, mereka sebenarnya punya insting dalam makan, yang justru kadang kita matikan sejenak dengan memberinya makan tidak sesuai ukurannya.

Semenjak itu pula Bumi makan sendiri. Hampir tidak pernah disuapin. Ketrampilan tangannya berkembang cepat. Mengambil makanan tidak salah, langsung dimasukkan ke mulutnya. Lucu bukan main. Nah, begitu ahlinya mengambil makanan, maka ketrampilan selanjutnya setelah mencomot (besar) adalah mencimit (kecil).

Lalu sekarang, apalagi yang dilakukannya kalau bukan operasi sapu remah-remah makanan? Kalau dilarang, malah merangkak menjauh dengan cepat ditambah mlengos. Lah ya bukan marah, tapi malah bikin ketawa kita. Remahan kentang, wortel, nasi, brokoli, tomat dan lain sebagainya. Pernah kemarin makan tanah, batu sampai bebek-bebekkan. Prestasi terakhir makan semut ambil sendiri di ujung pintu.

Fuh, kamu manusia nak, bukan trenggiling!


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android