Muktamar


pilih satu diantara sekian banyak


Relevansi


Ketika saya diminta membikin kandang ayam oleh majikan tercinta saya, maka saya akan dengan seluruh tenaga, pikiran dan hati dalam mengerjakannya. Saya maksimalkan semua potensi dalam tubuh dan diri saya, sebaik mungkin mengerjakannya. Jika dijalan ada kurang-kurangnya, itu tetep akan dimaklumi oleh majikan saya, karena saya sudah pol-polan dalam bekerja.

Tapi jika tetap ada kekurangan, dan sepertinya itu memang kebutuhan dalam pengerjaan proyek besar saya ini, maka ya tidak apalah jika saya meminta majikan saya membantu. Contohnya, saya kurang bahan paku dalam kerja saya. Maka meminta paku kepada majikan menjadi relevan karena sesuai dengan tugas saya sebagai arsitek kandang ayam.

Tapi kalau ditengah jalan, saya meminta jus atau gorengan combro, ya sepertinya itu mengada-ada saja. Akhlaknya kok ndak pas yah. Kita diminta majikan, pekerjaan belum selesai, sudah meminta ini itu yang tidak berkaitan dengan tugas besar kita. Itu berkait jauh, tapi sebenarnya malah tidak berkait. Untuk alasan produktifitas kita meminta jus dan gorengan, padahal yang ada adalah nafsu saja meminta ini meminta itu.

Sama seperti hidup.

Kalau hidup adalah amanah penugasan besar terhadap manusia dalam proyek peradaban alam semesta, maka meminta sesuatu yang berkaitan dengan kerja besar peradaban menjadi relevan. Saya boleh meminta fortuner, rumah besar, harta melimpah sampai akses dimana-mana kalau memang tepat orientasinya. Tetapi meminta sesuatu karena nafsu ingin, diri sendiri itu seperti meminta jus dan gorengan pada saat majikan kita meminta kita mengerjakan kandang ayam. Tidak tepat konteksnya.

Kalaupun dalam hidup kita diberi "jus" kemudian oleh majikan kita, itu bukan kita yang meminta, tapi semata-mata karena majikan kita cinta. Indah to?

Seperti apa saya? Ya, kemarin ke Haramain, masih meminta ini itu. Masih kurang tepat.

Musti mengulang.

Moskeng Ginto

Tidak pernah saya rencanakan sebelumnya bisa sampai ditempat ini. Saya percaya, dari 1000 kejadian dalam hidup kita, 997 merupakan hal yang diluar pikiran dan rencana kita.
Mungkin ini konsep 'diperjalankan'. Tugas kita mencari rahasia dibaliknya. Oh asyiknya.
Tabik,
Hilmy Nugraha
sent from smartphone

Katuranggan

Saya musti belajar lagi, kisah-kisah nabi. Seperti apa perih juang mereka. Apa Ayub menahan perih sakit? Apa Yusuf dengan ketampanan wajahnya? Apa Ibrahim dengan ujian keyakinannya? Apa Isa dengan rasa satang kasihnya? Dimana posisi mereka dalam kehidupan manusia.

Saya musti belajar lagi, para sahabat nabi. Mereka yang setia menemani perjalanan nabi. Panas terik ketika hijrah, sakit perih ketika dihina. Hamzah si panglima perang. Usman si kaya derma. Ali sang gerbang ilmu. Zaid si penulis. Seperti apa letak mereka dalam perjuangan.

Saya musti belajar lagi, cerita wayang. Ramayana dan Baratayuda. Wayang satu kotak itu menunjukkan ratusribuan karakter umat manusia. Apa saya pandawa? Atau malah kurawa? Jangan-jangan hanya punakawan? Jadi gunung, hutan, pohon atau malah gajah? Tapi bukankah tidak ada peran yang hanya?

Juga musti belajar kepada musik, film, pengembaraan sains, kendara udara, pasukan bumi, SunGoKong, lalu binatang melata.

Dimana letak saya atas perjalanan ini. Dimana katuranggan terbaik saya. Dimana saya mengambil peran pada perang nanti. Apa pengibar panji, telik sandi, pasukan tempur, pembangun jalan, pengatur strategi, panglima, regu penolong, atau malah dirumah saja, tidak ikut perang. Menikmati teh hangat, mendoan, sembari baca berita perang.

Saya sedang mencocok-cocokkan.

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Pekerjaan Agama


Saya bersama teman-teman menyimpulkan bahwa yang dimaksud pekerjaan Agama bukan hanya sembahyang, puasa, zakat dan haji, melainkan juga mandi, makan yang tepat , berangkat ke tempat kerja mencari nafkah untuk anak istri, menolong siapa saja yang perlu ditolong, bikin koperasi partikelir, menghimpun tukang-tukang ojek dan pedagang kakilima, dan seterusnya.

Itu semua adalah pekerjaan Agama, alias menjalankan perintah Tuhan. Termasuk juga menyelenggarakan perkumpulan bulanan bersama puluhan ribu sahabat-sahabat sebangsa untuk saling mensinergikan kemampuan ekonomi, mencerahkan hati, menata pikiran, memperluas wawasan nasional, serta mengungkapkan apa adanya apa kandungan hati kami tentang kepemimpinan nasional yang berjasa menciptakan kegelisahan-kegelisahan. Itu semua adalah pekerjaan Agama.

Dan karena pekerjaan Agama, maka teman-teman saya yang lain, yaitu para pejuang sosial modern di kota-kota, menganggapnya tidak progresif, tidak kritis, tidak ada hubungannya dengan demokrasi. Maka hanya kami sendiri yang menikmati manfaatnya, padahal kehidupan kami tidaklah untuk kami sendiri, melainkan untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
(Emha Ainun Nadjib/Seri PadangBulan (182)/1999/PadhangmBulanNetDok)

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Pojok Jembatan


Guadalupe, dari situ cukup naik jeepney sampailah kami ditempat peristirahatan.

Disini banyak orang berkeringat. Kemana-mana bawa handuk

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Terdampar

Dari gurun, sampai ke gunung.
Pertanyaan saya tetap, akan dimana ujung perjalanan ini. Atau jangan-jangan, memang tak berujung?
Tabik,
Hilmy Nugraha
sent from smartphone

Berat.

Ternyata berat juga berpisah. Saya belum pernah merasakan sedalam ini. Saya yang hendak terbang melintasi benua, melihat jernihnya mata Rini dan Bumi, saya nggrentes.

Batin saya tak kuat. Seharusnya syaraf memerintahkan mata saya untuk berair, tapi saya tahan sekuat tenaga. Semua anggota keluarga ada. Saya salami satu persatu, saya pandangi mata mereka.

Iya, meski seperti lagu "Pergi Untuk Kembali", bagi saya ini tetap perpisahan. Dan berat bagi saya. Beberapa orang siap untuk menghadapi pertemuan, tapi gentar menghadapi perpisahan. Dua-dua musti kita telan. Meskipun hanya sekali.

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Negasi

Perpaduan yang aneh.
Semangka, rokok dan kopi panas.

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Jakarta Kali Ini

Saya musti melihat ribuan manusia. Ratusan kendaraan bermotor. Berpuluh-puluh gedung bertingkat. Dan satu kemunafikan.

Ada orang menawarkan sepatu disamping saya, orang Sunda. Ditangannya ada 6 pasang sepatu. Dicangklongnya tas besar isi penuh dengan sepatu. Saya yakin dia berjalan puluhan kilometer sampai sore tadi.

Ada orang sedang membersihkan tembok saluran air di daerah Senen. Tubuhnya penuh kotoran, lumpur pembuangan. Dari jauh saja sudah khas baunya, apalagi mereka berendam seharian disana.

Ada orang berkeliling berjualan kopi. Pakai sepeda. Dibulan puasa, tetap julalan. Toh yang tidak puasa tetap banyak. Rejeki dibulan suci.

Ada pegawai negeri, mapan. 50 % parkiran gedungnya isi mobil pribadi diatas tahun 2010. Hidupnya tenang. Tidak mewah, tapi cukup. Damai. Ibadah tenang.

Ada kaum pekerja. Sehari-hari bekerja demi makan sehari-hari dan gaya hidup weekend. Belanja di mall, makan di foodcourt. Padahal 80% asli daerah.

Ada ini. Ada itu. Semua ada di Jakarta.

Yang tidak ada? Yang apa adanya. Yang sejati. Angel nyarinya.

Kadang

Kadang, ini seperti di Meulaboh, Pantai Barat Aceh.

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Kurikulum Hidup


Setiap murid di sekolah seharusnya memiliki kurikulum mata pelajaran sesuai dengan dirinya. Tidak bisa disamakan. Ini jika berkiblat pada pemahaman setiap manusia diciptakan berbeda dan spesial. Anak Papua seharusnya tidak sama mata pelajarannya dengan anak Kota Jakarta. Anak pantai belajar menjadi nelayan, atau anak gunung belajar berladang. Tapi tidak apa-apa. Jaman sekarang kan sekolahnya cukup sekolah-sekolahan.

Jika hidup adalah sekolah, tentu bukan sekolah-sekolahan. Si pembuat kurikulum tentunya tahu betul batas kemampuan muridnya. Kadar beratnya disesuaikan secara tepat sesuai kadar pengetahuan dan kedalaman dirinya. Si pembuat kurikulum tahu kapan tepatnya ujian untuk pelajaran hidup diselenggarakan. Atau kapan juga rapor bisa diterima. Apakah bentuk balasannya hingga rapor merahnya, Dia tahu semua.

Kalau sudah demikian pemahamannya, setiap orang adalah murid, dan Tuhan itu gurunya. Kita ikhlas kapan ujian berlangsung. Tugas kita belajar, memetik hikmah setiap kejadian, menggali ilmu langit bumi, berteman dengan murid lainnya dan sungguh-sungguh mengerjakan ujian. Selanjutnya kita bisa naik kelas, naik tingkat. Bentuknya bisa naik derajat, martabat, dapat berkah, dan kenikmatan lainnya.

Tapi jangan lupa, setiap naik kelas pelajaran dan ujian akan bertambah levelnya. Tentu disisi lain kemampua kita pasti bertambah, dan relasi kita tambah banyak. Nah, rajin-rajin belajar dan sowan kepada kakak kelas. Mereka pasti mau mengajari kurikulum hidup kita. Supaya lulus dari ujian dari Dia.

25 Juni 2015

Tuhan Aku Berguru

Tuhan aku berguru kepadaMu
Tidak tidur di kereta waktu
Tuhan aku berguru kepadaMu
Meragukan setiap yang ku temu

Kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan
Buta mata menganugerahi penglihatan

Jika aku tahu terasa betapa tak tahu
Waktu melihat betapa penuh rahasia
Gelap yang dikandung oleh cahaya


#EAN
Tabik,
Hilmy Nugraha
sent from smartphone


Bayi Dalam Sarung


Pernah suatu ketika dimana, bayi ini hanya bisa tidur kalau diayun didalam sarungnya Kakeknya. Bahkan ketika mudik ke Jogjapun, harus pakai sarung ini. Entah apa mantra dan sihir didalamnya. Sepertinya sih doa keamanan dan kedamaian.

*adegan diatas tanpa peran pengganti. Dilakukan oleh pemeran utama, Bumi.