sorot

pada setiap sorot matanya, aku melihat keluasan dalam bersikap, kekuatan dalam melangkah

aku yakin, semua berakhir indah

para pejuang keseimbangan

Hilmy Nugraha

-- sent from my Mi

Daur 221

“Apakah penderitaan manusia dan kesengsaraan rakyat tidak merupakan bentuk persembahan kepada Tuhan agar dibalas dengan pembelaan? Apakah penggelapan sejarah, kekacauan pengelolaan, keterbuntuan manusia dan kebingungan rakyat, tidak merupakan semacam sesaji kepada Allah yang membuat-Nya menunjukkan kasih sayang dan pemihakan?”

daur 220

Markesot tersenyum. Wajahnya bersemangat. “Anak-anak muda wajib ikut campur, sebab kalian adalah pelaku utama masa depan, sekaligus yang paling menanggung akibat-akibat dari apa saja yang dilakukan oleh Bapak-bapak kalian di masa kini. Kalian memang wajib menemukan peluang untuk sedini mungkin turut berproses dalam setiap pengambilan keputusan di masa kini. Kalian harus mengantisipasi untuk jangan sampai diwarisi bencana yang dihasilkan oleh keputusan-keputusan yang salah dari generasi sebelum kalian”

Pemimpin Derita

“Karena dunia hanyalah sepenggal sangat pendek dari rentang waktu alam semesta yang direntangkan oleh Allah. Karena dunia bukanlah ujung waktu yang tak terbatas. Karena manusia akan tidak mungkin menghindar atau mengelak untuk diseret oleh tak terbatasnya keabadian, demi mengalami sebab akibat dari setiap perbuatannya. Saya termasuk orang yang tidak sabar memandang ke depan, dan saya mohon maaf bahwa kalian semua terseret oleh ketidaksabaran saya. Sebenarnya saya menyesal terlanjur menjadi pemimpin derita kalian semua. Tapi saya berpandangan itu lebih baik daripada kita bergembira dan berpesta pora di tengah kegelapan yang terancam oleh amarah Tuhan, meskipun waktunya entah kapan….”

Daur 219

ah

kubawa dia mengembara ke samudra ketidakpastian
kuajak dia mengelana ke langit-langit kemokalan
kugandeng dia bertualang menuju kedalaman keyakinan

bersamanya, kutampung juga 2 manusia baru jenis termutakhir

dan dia patuh, taat
menikmati detik-detik yang berjalan,
meskipun itu terasa lama dan lama sekali

aku bersyukur. tak salah pilih.

Hilmy Nugraha

-- sent from my Mi

Nggih nopo nggih?

Hilmy Nugraha

-- sent from My Mi

sebuah pelarian

"Yang jelas Jalan Sunyi itu membuat mereka merasa sah dan halal untuk melarikan diri dari kewajiban-kewajiban sosial mereka", Saimon menyerbu, "sembunyi daribebrayan, merasa tidak bersalah untuk tidak ikut memperbaiki keadaan masyarakat dan Negaranya yang semakin bobrok. Lantas mereka jadi besar kepala karena merasa sedang menjadi Sufi. Mereka mentertawakan dunia dan harta benda, padahal karena memang miskin dan tidak mampu bekerja. Mereka sinis terhadap politik, kekuasaan atau persaingan untuk sukses, padahal itu karena mereka memang dlu'afa, lemah, tak berdaya…."
(Daur 142)

Hilmy Nugraha

-- sent from My Mi

Misteri Kesabaran

SALAH satu kenyataan yang sangat misterius bagi keterbatasan akal manusia adalah praktek-praktek kesabaran Tuhan. Mungkin itu yang menyebabkan Tuhan bergelar Maha Sabar, bukan sangat sabar, atau juga bukan terlalu sabar.

Begitu banyak manusia menyakiti manusia: batas pengetahuan kita adalah bahwa terhadap itu semua Tuhan Maha Sabar. Begitu banyak orang mencuri hak orang lain, begitu banyak hamba Allah memeras dan menindas kedaulatan hamba Allah yang lain, tapi ilmu kita terbentur pada dugaan bahwa Allah Maha Sabar.

Saya menyebut itu misteri. Sebab pasti Tuhan memiliki takaran kesabaran-Nya sendiri, memiliki kearifan dan strateginya sendiri, serta memiliki komprehensi penyikapan sendiri dalam rangkaian maksud dan kehendak yang sungguh tak terhingga untuk mampu disentuh oleh kerdilnya akal manusia.

Dalam penderitaan separah apapun, semoga kita terlindung dari kecenderungan untuk bersangka buruk kepada Tuhan.

EAN


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Pada Pucuk

Pada pucuk aku berkata, sudah lama aku tak mencintaimu.
Merindukanmu sahaja tidak.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Mengulang Daur

Pelan-pelan kubaca tulisannya. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Paragraf demi paragraf. Tulisan demi tulisan. Nafasku sesak, pikiranku buntu. Kukunyah tulisannya perlahan. Bukan sekedar pengetahuan yang kudapat. Ada yang lebih dari itu. Entah itu energi, gelombang, frekuensi atau getaran. Aku tak paham harus pakai istilah yang mana.

Simbahku ini sudah menulis sejak ia berumur belasan. Tahun 60-an lebih tepatnya. Jauh sebelum orang tuaku bertemu. Bahkan mungkin ibuku baru lahir atau ayahku baru masuk SD. Tapi dia sudah menulis sejak saat itu. Dan bagiku, itu sangat lama.

Simbahku ini tak pernah berhenti berkarya. Berjalan, menemui para kekasihnya di dusun-dusun. Menulis puisi, naskah teater hingga essai untuk keperluan sosial. Diplomasi antar pejabat tinggi negara. Urus-mengurus konflik di masyarakat. Dan tak lupa mengurus keluarga, bergantian menjaga rumah dan mengantar anak ke sekolah.

Yang aku tahu, ia menulis bukan karena untuk jadi penulis. Tapi karena memang ia harus menulis. Sebuah kebutuhan sosial. Dari cerita nabi hingga pantat penyanyi dangdut, dari tasawuf hingga penggusuran rumah, dari sastra hingga olahraga, dari politik hingga cerita pendek. Semua teramu. Dalam puluhan buku yang sudah berulang kali dicetak ulang sejak tahun 70-an. Sepuluh tahun, sebelum aku dilahirkan ke bumi.

Lamat-lamat, aku mendengar kehebatan ceritanya. Dimana ia dahulu bisa menulis beberapa artikel dalam 1 hari. 2-3 artikel, dengan topik yang berbeda, gaya bahasa yang berbeda untuk koran yang berbeda. Disela kesibukannya meenuhi undangan forum diskusi, seminar, lokakarya sampai menerima segala jenis tamu. Bagiku, itu musykil.

Dan sekarang, aku dihadiahi Tuhan untuk melihat sendiri apa yang simbahku lakukan seperti yang ada di cerita itu. Simbahku menulis Daur. Sebuah rubrik khusus darinya, untuk dan hanya untuk anak cucunya dan para jm. Berisi essai beberapa paragraf, yang isinya beragam.

Tulisan Daur terbit sehari satu kali. Ditulis dimana bukan ketika simbahku selo waktunya, tapi rutin setiap hari. Hari ini dia di Jakarta, besok ke Makassar lalu hari berikutnya menempuh jarak 8 jam perjalanan darat menuju Mandar, tapi ia tetap menulis satu hari satu untukku.

Oke kalau terbit hanya beberapa hari saja. Sekarang saja sudah Daur keseratus. Itu artinya, dia sudah menulis sejak 3 bulan yang lalu tanpa berhenti setiap harinya. Kalau seminggu sekali bolehlah kalah oleh juru essai di koran atau tukang nge-blog di internet. Tapi kalau setiap hari?

Oke kalau tulisan sembarang tulisan. Ini tidak. Tulisannya sangat berbobot. Penuh puzzle dan kodifikasi. Bahsanya memutar tapi jelas arahnya. Terkadang humor, sinis atau malah menyedihkan. Dia menyebut tulisan Daur-nya adalah pelok / biji mangga, bukan daging buah yang siap santap. Tapi memang biji yang perlu puluhan kali diskusi agar biji tersebut bisa dipahami rasanya.

Kode-kode yang luar biasa disematkan dalam setiap tulisannya. Negara, Dajjal, takkim, kharmiyo, yu sumi, markesot, yai sudrun sampai balkadaba. Dari konspirasi global sampai dunia maya gendruwo mbahurekso khas jawa. Dari LGBT sampai anak turun nabi Sulaiman. Dari politik negara sampai peringkelan penanggalan jawa hitungan lima dan enam. Semua ada.

Menurutku, tulisannya memuat apa yang sudah dituliskannya dahulu. Simbah merangkumnya dalam tulisan ini. Setiap perjalanannya, setiap katanya, setiap penyampaian gagasannya, bahkan setiap pikiran yang mungkin belum sempat terucap melalui banyak forum yang ia jumpai, ia tuliskan dalam bentuk Daur. Dia ramu sedemikian rupa dalam satu persatu tulisan. Dia racik pelok mangga ini, dibungkus dengan apik, dibalut dengan menarik tapi isi tetap utuh, sebuah pesan penting untuk anak cucu.

Daur adalah apa yang bisa dimanfaatkan untuk waktu dimasa depan. Dalam bahasa arab berarti lingkaran. Yang memang tidak pernah ada ujungnya, satu titik terhubung dengan titik berikutnya, terus dan terus. Seolah-olah, simbah sedang memyerahkan pusaka untuk hari esokku , yang bahkan aku belum tahu jenis apa pusaka itu, daya hantamnya, kekuatannya, waktu picunya atau bahkan efek akibatnya.

Daur, ibarat kode, perlu banyak waktu untuk bisa memecahkannya. Daur, ibarat puzzle, perlu banyak metode untuk bisa memadukannya. Daur, ibarat benih, perlu pupuk kebaikan dan air kematangan untuk bisa menumbuhkannya. Daur, ibarat pusaka, perlu hati yang tulus dan kerja luar biasa untuk bisa mengaktifkannya.

Simbahku menerima apa yang diberikan Tuhan yang aku katakan sebagai ilham atau inspirasi. Dia tidak egois, dan mau membagikan untukku. Dan itu memang tugasnya. Itulah berkah buatku. Berkah bagi kaum pinggiran sepertiku, yang ikut mengaku-ngaku anak cucunya. Tiada rasa syukur yang bisa aku panjatkan, selain terus menerus mendoakan simbahku selalu dalam kesehatan yang prima disetiap langkahnya.

Yang kutahu, lewat tulisan simbahku ini, aku bisa bertemu Tuhan dan berdiskusi akrab dengan Kanjeng Nabi. Titik.

Hilmy Nugraha

Selasa Pahing, 17 Mei 2016

berhentilah

"Siapa yang meyakini bahwa dirinya adalah hanya dirinya, bahwa tidak ada diri di dalam dirinya yang bukan sebagaimana dirinya yang diri, atau ribuan kalimat berikutnya apabila kalimat ini diteruskan — maka berhentilah mengikuti perjalanan Markesot. Konsentrasilah berjuang untuk menafkahi anak istri, membayar kredit, menyicil pelunasan hutang, meningkatkan taraf kehidupan, atau apapun yang lebih nyata dan urgen."
-EAN


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Puasa

Puasa Ramadhan ialah training agar kita mampu berpuasa dalam arti yang sesungguhnya sesudah Ramadhan. Kalau tidak, maka puasa kita adalah "puasa KKN", sesudah Ramadhan, kita tak lagi berpuasa, kita pesta pora, kita berboros-boros ria, kita melakukan hal-hal yang semestinya tak kita lakukan, kita tidak lagi menahan diri.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Mesjid Bumi Laweyan

Masjid ini tampak sudah tua. Jauh dari kesan megah, tapi yang jelas teduh. Saya lihat, waktu pembangunan ada pada tahun 1980. Wah, sudah cukup lama. Karpet berjajar rapi, ramah untuk orang sembahyang. Kanopi di seluruh halaman, nampak sejuk tidak kena panas langsung. Ornamen kayu tak hilang disetiap sudut bangunan. Nampak elegan dan sangat Jawa. Pagar besinya menandakan bahwa ukiran merupakan tren pada saat dibangun. Ukiran besi. Tidak ada kesan sombong didalamnya. Warnanya nyaman. Suasananya ramah, sejuk dan manusiawi.

Orang dahulu, membangun sesuatu dengan nilai. Bukan orientasi proyek dan jangka pendek saja. Jauh daripada itu. Meninggalkan warisan pusaka untuk anak cucu. Sungguh panjang daya makrifat mereka. Dan sekarang sudah semakin hilang.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

pulang

"Kau boleh mengelana ke seluruh penjuru bumi, bahkan bisa saja kau menyebrangi langit atau melancong ke dimensi yang lain. Tapi kau musti ingat, sejatinya kau harus pulang. Mengemban tugasmu yang dulu, yang sudah kau janjikan jauh lama bahkan sebelum alam nyata ini ada.", kataku.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Punggung Peradaban

Pada satu punggung ia mendekat
Siapa gerangan, pemuda kurus peralat takdir
Berani berteriak di titian doa
Wajah kuyunya menyala
Tangan kecilnya mengepal
Dadanya penuh tulang, kembang kempis

Tapi tak pernah berhenti
Terus dan terus saja
Seakan dia tahu, semua bisa berubah
Sama halnya merubah batu menjadi emas
Seperti Midas

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android