#19 : if i didn't - daniel sahuleka


They may grab away my money
On break into my car
But they can’t take away my joy my fun
My music or my rights
They may steel away my bike
Or burn down my possession
But they can’t burn down my motion, devotion
And most of all my pride
You are the colors to all my paintings
You’re the best ever happened to me
You are the spirit to all my sentences
Of every song I sing
If I didn’t have you then
What will become of me?
If I had never met you girl
How would my life be?
Would I be the same?
If I’d been loving another name
Would I stay untamed
Would there be any aim?
So whom I will be
She doesn’t drag around like fancy
And she is naked around her neck
As well as naked on her finger, arms or ears
Her skin can’t stand the gems
Tough cool down to earth
Genuine and one of a kind
She ain’t suffering from the “wanna-have disease”
To ease a restless mind
You are the remedy for all my doubts
The best that I can get
You are the one I love to talk about
Even when my blood is bad
If I didn’t have you then
What will become of me?
If I had never met you girl
How would my life be?
Would I be the same?
If I had been lovin’ another name
Would I stay untamed..
Would there be any aim?
So whom I will be

#18 : pesan mas Agus

Yang terutama dari tujuan kita bekerja bukanlah uang, tetapi menjalani kewajiban hidup. Bekerja adalah sikap rasional kita atas mandat dari Tuhan untuk mengolah dan mentransformasikan rakhmat alam menjadi barokah sosial. Uang hanya merupakan konsukuensi dari kita bekerja. Jadi "maqom" atau posisi uang bukanlah sesuatu yang kita tuju. Derajat manusia lebih tinggi dari uang, mengejar dan menyembah uang adalah sikap bodoh dan tidak rasional. Manusia harus menjaga derajat dan harga diri dengan tidak merendahkan diri dihadapan uang/ dunia. - Agus Sukoco

#17 : maiyahan


#16 : Tarian Sari - Frau


Sari menari, di bawah mudanya mentari
Sampur merahnya diseblakkan
Lalu terbangnya, putar ke kanan

Sari menari, dalam mimpi ke sekian kali
Hanya ingatan yang tak hanyut, dan tak terlepaskan
Terbawa arus bermuara

Menghindar tangis,
Sari putuskan sejenak henti
Ketuk panggil berbunyi dari pintu depan, berulang kali
Sari berpaling, sambut cucunya masuk berlari
Lantas dengan sigapnya, ia pun berlutut,
Dan kecupkan rindu

Sari menari, sambil menatap si perempuan mungil
Mata beningnya biaskan segenap hari lalu
Semua yang 'telah' dan yang 'tak'kan'

Melepas pahit, Sari pun hela nafas lagi
Sontak, tangan si mungil kepakkan sampurnya menggoda
Sari Sari terhenti, tetiba muncullah pelangi
Dalam tawa si mungil, semua yang 'tak akan' berganti yang 'akan'.

nb : album baru sudah datang. cihui! Happy Coda by Frau

#14 : Ki Sunan dan Ki Juru


Sejak berabad-abad yang lalu hingga — barangkali — berabad-abad yang akan datang, salah satu sumber tegangan sosial atau konflik peradaban dalam masyarakat dan Negara manusia, adalah perbenturan antara otoritas Negara dengan otoritas agama. Segala jenis pertentangan, pada skala kehidupan sehari-hari maupun yang lebih luas dan lebih sistemik, sesungguhnya disumberi oleh pertentangan dasar tersebut.

Sesudah Abad Pertengahan, peradaban masyarakat Eropa mengalami kebangkitan rasionalisme yang mencerahkan sejumlah kegelapan nilai dasar manusia. Salah satu hasilnya adalah filosofi sekularisme yang secara tegas memilahkan otoritas Negara dari otoritas agama.

Sejak itu wilayah agama menjadi sangat terbatas pada lingkar privacy setiap orang. Agama “tidak boleh” seenaknya mengatur kehidupan manusia dari dapur, kamar mandi, gardu hingga istana Negara. Ia hanya punya kapling yang hanya menyangkut komunikasi antara individu dengan Tuhan. Lalulintas di jalan raya, juga lalulintas uang dan birokrasi, bukan Agama yang berhak mengaturnya. Teokrasi adalah momok dari masa silam yang tak boleh bangkit kembali dari kuburnya.

Dalam sejarah pra-Indonesia, konflik semacam itu sesungguhnya telah ada, setidaknya secara embrional.

Raja-raja Majapahit memang memeluk ramuan unuk antara Hindu dengan Budha, tetapi konsep kerajaan dan kepemerintahan yang berlaku sama sekali berada di tangan Raja dan lingkarannya. Secara “natural”, otoritas negara ketika itu telah mengatasi kekuasaan Agama.

Tatkala Brawijaya terakhir bersedia “memangkas rambut”-nya atas fetakompli Raden Patah, kemudiaan Nyoo Lay Wa — Gubernur Majapahit ketika Demak telah membawahinya — dibunuh beramai-ramai oleh sisa rakyat Majapahit non-muslim: seolah-olah teokrasi Islam sedang didirikan.

Pemerintahan Demak dilatari oleh kewibawaan dan otoritas politik para Wali. Islam pesisir memberi format pada pelaksanaan pemerintahan kesultanan dan kehidupan rakyatnya. Meskipun ketika itu telah ada perbedaan approach politik dan kultural antara para Wali bang-wetan di Surabaya dan Gresik dengan Wali pesisir utara Kudus Semarang, di mana Sunan Kudus telah menerapkan suatu model persuasi Islam terhadap idiom-idiom kebudayaan Jawa — tetapi dominasi otoritas Agama atas kerajaan tetap sangat menonjol.

Sampai akhirnya Sunan Kalijaga menegaskan pendekatan kultural itu secara lebih masuk ke dalam rempelo ati kebudayaan Jawa. Sampai akhirnya ia mendorong transformasi untuk menseimbangkan antara dua orotitas itu dan melatarbelakangi pola kekuasaan Sultan Hadiwijaya di Pajang. Dan akhirnya Arya Penangsang mbrodol ususnya oleh tombak Jebeng Sutawijaya.

Barangkali memang menarik posisi Pajang: tidak terlalu pesisir, tidak terlalu pedalaman. Seolah-olah letak geografis Pajang mewakili peletakan strategi penyeimbangan otoritas itu.

Tetapi yang terjadi adalah Panembahan Senopati menggantikan legitimasi Wali dengan Nyai Roro Kidul, yang sebenarnya sekedar merupakan perlambang dari otoritas kekuasaan Jawa. “Negara” dalam terminology Panembahan Senopati — atas konsep yang disusun oleh Ki Mondoroko Juru Martani — jumbuh dengan kebudayaan Jawa itu sendiri.

Strategi Ki Juru adalah merangkul Agama dalam batas formalism politik, tapi menghambatnya secara kultural. Ketika cucu Sultan Agung kemudian tak mampu lagi mempertahankan moderasi strategi ini, yang terjhadi adalah ekstremitas kekuasaan Negara di mana ribuan Kyai dibantai habis.

Itulah “Abad Pertengahan” dalam sejarah Jawa.

Otoritas Agama kemudian terkebiri. Mereka termarjinalisir. Lari ke Pinggiran. Sembunyi di semak-semak belukar. Mendirikan pesantren-pesantren yang “memisahkan diri dari dunia”.

Ketika kemudian kekuasaan “Negara Mataram” berkembang makin canggih dengan peralatan birokrasi dan militer yang mampu menjangkau “helai rambut di ketiak” para penyembunyi itu: kemungkinan yang terjadi hanya dua. Pertama, mereka gampang mengamuk. Kedua, mereka gampang menggantungkan diri justru pada kekuasaan Negara.

Keadaan seperti itu berlangsung sampai hari ini.

Tulisan ini bukanlah mendambakan bangkitnya kembali otoritas Agama untuk mengatur Negara. Melainkan sekedar secara rasional dan dengan kerinduan demokrasi: memimpikan penyeimbangan yang dewasa serta kemungkinan kerjasama anatara dua macam otoritas itu.

Saya tidak bahagia menyaksikan Ki Sunan berperang tanding melawan Ki Juru. Kita memerlukan formula kerjasama. Kooperasi dan interdependensi. Bukan dependensi salah satu pihak.

Arsip dan Dokumentasi Progress
Muhammad Ainun Nadjib

#13 : SIGNS

#12 : Kitalah Pembunuhnya


Apa mungkin justru Frederich Nietze itu bahkan jauh lebih spiritualis dari kita? Meski dia berkata baha Tuhan telah mati?

Ini sebenarnya pertanyaan yang menohok. Kita hidup di negara yan konon notabene beragama. Islam menjadi mayoritas. namun, yang kita lihat adalah sebaliknya. Kita justru semakin jauh dari sisi spiritualitas.

Bisa jadi, karena agama itu sendiri berbeda dengan spiritualitas. Kita bisa saja mengaku beragama, tapi untuk urusan spiritualitas atau iman, siapa yang tahu?

Kesombongan kita sendiri yang menyebabkan seolah-olah meniadakan Tuhan. Hinggga kita seakan tidak butuh Tuhan.

Manusia memahami bahwa perubahan yang terjadi disekelilingnya adalah atas kehendaknya. Tapi mereka lupa, bahwa ada campur tangan Tuhan diatas itu semua. Ketika mereka sakit, mereka lupa bahwa kesembuhan itu berasal dari TUhan, tapi kita justru berharap pada dokter. Ket

Tuhan telah mati, kita yang membunuhnya. Kesombongan kita. Ketidakperluan tuhan.

#11 : Di Zawiyyah Sebuah Masjid


Oleh Emha Ainun Nadjib

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.

Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.

"Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya," berkata Pak Kiai kepada santri pertama, "apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?"

"Agama," jawab santri pertama.

"Berapa jumlahnya?"

"Satu."

"Tidak dua atau tiga?"

"Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan."

***

Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, "Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?"

"Islam."

"Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?"

"Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda."

"Kenapa kau katakan demikian?"

"Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam."

"Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?"

"Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia."

***

Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. "Allah mengajari Adam nama benda-benda," katanya, "bahasa apa yang digunakan?"

Dijawab oleh santri ketiga, "Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur'an."

"Bagaimana membuktikan hal itu?"

"Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam."

"Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?"

"Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah."

"Maksudmu, Nak?"

"Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur'an. Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil 'alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur'anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi."

***

"Temanmu tadi mengatakan," berkata Pak Kiai selanjutnya kepada santri keempat, "bahwa Allah hanya menurunkan satu agama. Bagaimana engkau menjelaskan hal itu?"

"Agama Islam dihadirkan sebagaimana bayi dilahirkan," jawab santri keempat, "Tidak langsung dewasa, tua atau matang, melainkan melalui tahap-tahap atau proses pertumbuhan."

"Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama selain Islam?"

"Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik bukan anggapan akidah."

"Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?"

"Aku mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama itu --sebelum dimanipulasikan-- sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disempurnakan oleh Allah melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut agama --dengan, ternyata, berbagai penyesuaian, penambahan atau pengurangan-- sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia."

***

Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajah santri kelima sambil bertanya, "Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum Muhammad?"

"Islam, Kiai."

"Apa agama Ibrahim?"

"Islam."

"Apa agama Musa?"

"Islam."

"Dan agama Isa?"

"Islam."

"Sudah bernama Islamkah ketika itu?"

"Tidak mungkin, demikian kemauan Allah, ada nama atau kata selain Islam yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya. Karena demikian kandungan nilainya, maka Islamlah namanya. Itu berlaku baik tatkala pengetahuan manusia telah mengenal Islam atau belum."

***

"Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?" Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.

"Membebaskan," jawab santri itu.

"Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!"

"Menyelematkan, Kiai."

"Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?"

"Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa' atas bimbingan para awliya dan anbiya. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam --sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu-- dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah."

"Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?"

"Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah."

***

Pak Kiai menuding santri ketujuh, "Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?"

"Benar, Kiai," jawabnya, "Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah."

"Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?"

"Dengan memedomani ayat-ayatNya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci maupun yang terdapat dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu Islam adalah tawaran pencarian yang tak ada hentinya."

"Kenapa sangat banyak orang yang salah mengartikan makna pasrah?"

"Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang kehendak Allah. Bahkan manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib dengan kemesraan Allah. Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri. Tetapi alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal dari proses masuknya umat manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah manusia menjadi mengerti makna cahaya."


***


"Cahaya Islam. Apa itu gerangan?"

Santri ke delapan menjawab, "Pertama-tama ialah ilmu pengeahuan. Adam diajari nama benda-benda. Itulah awal mula pendidikan kecendekiaan, yang kelak direkonstruksi oleh wahyu pertama Allah kepada Muhammad, yakni iqra'. Itulah cahaya Islam, sebab agama itu dianugerahkan kepada makhluk tertinggi yang berpikiran dan berakal budi yang bernama manusia."

"Pemikiranmu lumayan," sahut Pak Kiai, "Cahaya Islam tentunya tak dapat dihitung jumlahnya serta tak dapat diukur keluasan dan ketinggiannya: kita memerlukan tinta yang ditimba dari tujuh lautan lebih untuk itu. Bersediakah engkau kutanyai barang satu dua di antara kilatan-kilatan cahaya mahacahaya itu?"

"Ya, Kiai."

"Sesudah engkau sebut Adam, apa yang kau peroleh dari Idris?"

"Dinihari rekayasa teknologi."

"Dari Nuh?"

"Keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah."

"Hud?"

"Kebangunan kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih."

"Baik. Tak akan kubawa kau berhenti di setiap terminal. Tetapi jawablah: pada Ibrahim, terminal Islam apakah yang engkau temui?"

"Rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detil."

"Pada Ismail?"

"Pengurbanan dan keikhlasan."

"Ayyub?"

"Ketahanan dan kesabaran."

"Dawud?"

"Tangis, perjuangan dan keberanian."

"Sulaiman?"

"Ke-waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan."

"Sekarang sebutkan yang engkau peroleh dari Musa!"

"Keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik, tapi juga kedunguan dalam kepandaian."

"Dari Zakaria?"

"Dzikir."

"Isa?"

"Kelembutan cinta kasih, alam getaran hub."

"Adapun dari Muhammad, anakku?"

"Kematangan, kesempurnaan, ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya."

***

Akhirnya tiba kepada santri kesembilan. "Di tahap cahaya Islam yang manakah kehidupan dewasa ini?"

"Tak menentu, Kiai," jawab sanri terakhir itu, "Terkadang, atau bahkan amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Di saat lain kami adalah Ayyub --tetapi-- yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit. Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya; sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya. Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah-sawah Fir'aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu."

Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, "Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kami."

"Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan."

Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.

"Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah samudera."

"Anakku," Pak Kiai menyela, "pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih dan juga semacam rasa putus asa."

"Insyaallah tidak, Kiai," jawab sang santri, "Cara yang terbaik untuk menjadi kuat ialah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa maju ialah memahami kemunduran. Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut. Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir'aun dan menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata. Kami juga mulai berguru kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem. Seperti Musa kami juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir. Bagai Zakaria, kami memperpeka kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah. Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kami telah makin mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berjuang."

***

Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.

"Sampai tahap ini," kata Pak Kiai, "cukuplah itu bagi kalian, sesudah dua pertanyaan berikut ini kalian jawab."

"Kami berusaha, Kiai," jawab mereka.

"Bagaimana kalian menghubungkan keyakinan kalian itu dengan keadaan masyarakat dan negeri di mana kalian bertempat tinggal?"

"Kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar. Juga setiap kata dan gerak perjuangan," berkata salah seorang.

"Sebaik-baik urusan ialah di tengah-tengahnya, kata Rasul Agung. Harus pas. Tak lebih tak kurang," sambung lainnya.

"Muhammad juga mengajarkan kapan masuk Gua Hira, kapan terjun ke tengah masyarakat," sambung yang lain lagi.

"Mencari titik koordinat yang paling tepat pada persilangan ruang dan waktu, atau pada lalu lintas situasi dan peta sejarah."

"Ada dakwah rahasia, ada dakwah terang-terangan."

"Hikmah, maw'idhah hasanah, jadilhum billati hiya ahsan."

"Makan hanya ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah irama. Itulah sesehat-sehat kesehatan, yang berlaku bagi tubuh maupun proses sejarah."

"Perjuangan ialah mengetahui kapan berhijrah ke Madinah dan kapan kembali ke Makkah untuk kemenangan."

"Dan di atas semua itu, Rasulullah Muhammad bersedia tidur beralaskan daun kurma atau bahkan di atas lantai tanah."

Pak Kiai tersenyum, "Apa titik tengah di antara kutub kaku dan kutub lembek, anak-anakku?"

"Lentur, Kiai!" kesembilan santri itu menjawab serentak, karena kalimat itulah memang yang hampir setiap hari mereka dengarkan dari mulut Pak Kiai sejak hari pertama mereka datang ke pesantren itu.

"Fal-yatalaththaf!" ucap Pak Kiai akhirnya sambil berdiri dan menyalami santri-santrinya satu per satu, "titik pusat Al-Qur'an!"

#10 : kita


jalan kita masih panjang.

#9 : yang lalu


lalu berkatalah aku kepada cinta,
"kapan kau akan datang,
menemuiku langsung,
tanpa perantara seperti ini?"

13 juni 2009

#8 : Ramadhan sepanjang zaman

Telah fitrikah kita, kalau puasa belum merohanikan kehidupan kita.
Telah fitrikah kita, kalau badan, harta, dan kuasa dunia masih menjadi muatan utama kalbu kita.
Telah fitrikah kita, kalau keberpihakan kita belum kepada orisinalitas diri dan keabadian.
Telah fitrikah kita, kalau masih tumpah ruah cinta kita kepada segala yang tak terbawa ketika maut tiba.
Telah fitrikah kita, kalau kepentingan dunia belum kita khatamkan, kalau untuk kehilangan yang bukan selain Allah kita masih eman.
Telah fitrikah kita, kalau kasih sayang dan ridha Allah masih belum kita temukan sebagai satu-satunya hakekat kebutuhan.
Ya Allah, jangan biarkan Ramadan meninggalkan jiwa kami.
Ya Allah, jangan perkenankan langkah kami menjauh dari kemuliaan berpuasa.
Ya Allah, halangilah kami dari nafsu melampiaskan, serta peliharalah kami dari disiplin untuk mengendalikan.
Ya Allah, peliharalah Ramadan dalam kesadaran kami

Ramadhan sepanjang zaman
Ramadhan sejauh kehidupan
Ramadhan sampai ufuk keabadian


(Emha Ainun Nadjib)

#7 : obrolan sangat pendek


"kamu lelaki yang bisa membuatku jatuh cinta lagi.", katanya.
"dan kamu, wanita yang bisa membuatku menjadi diriku sediri.", balas seseorang.

#6 : gendu gendu rasa Pak Titut dan CN


#5 : pekerja maiyah


ini pekerjaan saya sekarang, kalo jualan, itu cari sangu buat kerja.