pada setiap sorot matanya, aku melihat keluasan dalam bersikap, kekuatan dalam melangkah
aku yakin, semua berakhir indah
para pejuang keseimbangan
Hilmy Nugraha
-- sent from my Mi
aku membaca karena aku mewajibkan diriku untuk menulis
pada setiap sorot matanya, aku melihat keluasan dalam bersikap, kekuatan dalam melangkah
aku yakin, semua berakhir indah
para pejuang keseimbangan
Hilmy Nugraha
-- sent from my Mi
kubawa dia mengembara ke samudra ketidakpastian
kuajak dia mengelana ke langit-langit kemokalan
kugandeng dia bertualang menuju kedalaman keyakinan
bersamanya, kutampung juga 2 manusia baru jenis termutakhir
dan dia patuh, taat
menikmati detik-detik yang berjalan,
meskipun itu terasa lama dan lama sekali
aku bersyukur. tak salah pilih.
Hilmy Nugraha
-- sent from my Mi
"Yang jelas Jalan Sunyi itu membuat mereka merasa sah dan halal untuk melarikan diri dari kewajiban-kewajiban sosial mereka", Saimon menyerbu, "sembunyi daribebrayan, merasa tidak bersalah untuk tidak ikut memperbaiki keadaan masyarakat dan Negaranya yang semakin bobrok. Lantas mereka jadi besar kepala karena merasa sedang menjadi Sufi. Mereka mentertawakan dunia dan harta benda, padahal karena memang miskin dan tidak mampu bekerja. Mereka sinis terhadap politik, kekuasaan atau persaingan untuk sukses, padahal itu karena mereka memang dlu'afa, lemah, tak berdaya…."
(Daur 142)
Hilmy Nugraha
-- sent from My Mi
Begitu banyak manusia menyakiti manusia: batas pengetahuan kita adalah bahwa terhadap itu semua Tuhan Maha Sabar. Begitu banyak orang mencuri hak orang lain, begitu banyak hamba Allah memeras dan menindas kedaulatan hamba Allah yang lain, tapi ilmu kita terbentur pada dugaan bahwa Allah Maha Sabar.
Saya menyebut itu misteri. Sebab pasti Tuhan memiliki takaran kesabaran-Nya sendiri, memiliki kearifan dan strateginya sendiri, serta memiliki komprehensi penyikapan sendiri dalam rangkaian maksud dan kehendak yang sungguh tak terhingga untuk mampu disentuh oleh kerdilnya akal manusia.
Dalam penderitaan separah apapun, semoga kita terlindung dari kecenderungan untuk bersangka buruk kepada Tuhan.
EAN
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Simbahku ini sudah menulis sejak ia berumur belasan. Tahun 60-an lebih tepatnya. Jauh sebelum orang tuaku bertemu. Bahkan mungkin ibuku baru lahir atau ayahku baru masuk SD. Tapi dia sudah menulis sejak saat itu. Dan bagiku, itu sangat lama.
Simbahku ini tak pernah berhenti berkarya. Berjalan, menemui para kekasihnya di dusun-dusun. Menulis puisi, naskah teater hingga essai untuk keperluan sosial. Diplomasi antar pejabat tinggi negara. Urus-mengurus konflik di masyarakat. Dan tak lupa mengurus keluarga, bergantian menjaga rumah dan mengantar anak ke sekolah.
Yang aku tahu, ia menulis bukan karena untuk jadi penulis. Tapi karena memang ia harus menulis. Sebuah kebutuhan sosial. Dari cerita nabi hingga pantat penyanyi dangdut, dari tasawuf hingga penggusuran rumah, dari sastra hingga olahraga, dari politik hingga cerita pendek. Semua teramu. Dalam puluhan buku yang sudah berulang kali dicetak ulang sejak tahun 70-an. Sepuluh tahun, sebelum aku dilahirkan ke bumi.
Lamat-lamat, aku mendengar kehebatan ceritanya. Dimana ia dahulu bisa menulis beberapa artikel dalam 1 hari. 2-3 artikel, dengan topik yang berbeda, gaya bahasa yang berbeda untuk koran yang berbeda. Disela kesibukannya meenuhi undangan forum diskusi, seminar, lokakarya sampai menerima segala jenis tamu. Bagiku, itu musykil.
Dan sekarang, aku dihadiahi Tuhan untuk melihat sendiri apa yang simbahku lakukan seperti yang ada di cerita itu. Simbahku menulis Daur. Sebuah rubrik khusus darinya, untuk dan hanya untuk anak cucunya dan para jm. Berisi essai beberapa paragraf, yang isinya beragam.
Tulisan Daur terbit sehari satu kali. Ditulis dimana bukan ketika simbahku selo waktunya, tapi rutin setiap hari. Hari ini dia di Jakarta, besok ke Makassar lalu hari berikutnya menempuh jarak 8 jam perjalanan darat menuju Mandar, tapi ia tetap menulis satu hari satu untukku.
Oke kalau terbit hanya beberapa hari saja. Sekarang saja sudah Daur keseratus. Itu artinya, dia sudah menulis sejak 3 bulan yang lalu tanpa berhenti setiap harinya. Kalau seminggu sekali bolehlah kalah oleh juru essai di koran atau tukang nge-blog di internet. Tapi kalau setiap hari?
Oke kalau tulisan sembarang tulisan. Ini tidak. Tulisannya sangat berbobot. Penuh puzzle dan kodifikasi. Bahsanya memutar tapi jelas arahnya. Terkadang humor, sinis atau malah menyedihkan. Dia menyebut tulisan Daur-nya adalah pelok / biji mangga, bukan daging buah yang siap santap. Tapi memang biji yang perlu puluhan kali diskusi agar biji tersebut bisa dipahami rasanya.
Kode-kode yang luar biasa disematkan dalam setiap tulisannya. Negara, Dajjal, takkim, kharmiyo, yu sumi, markesot, yai sudrun sampai balkadaba. Dari konspirasi global sampai dunia maya gendruwo mbahurekso khas jawa. Dari LGBT sampai anak turun nabi Sulaiman. Dari politik negara sampai peringkelan penanggalan jawa hitungan lima dan enam. Semua ada.
Menurutku, tulisannya memuat apa yang sudah dituliskannya dahulu. Simbah merangkumnya dalam tulisan ini. Setiap perjalanannya, setiap katanya, setiap penyampaian gagasannya, bahkan setiap pikiran yang mungkin belum sempat terucap melalui banyak forum yang ia jumpai, ia tuliskan dalam bentuk Daur. Dia ramu sedemikian rupa dalam satu persatu tulisan. Dia racik pelok mangga ini, dibungkus dengan apik, dibalut dengan menarik tapi isi tetap utuh, sebuah pesan penting untuk anak cucu.
Daur adalah apa yang bisa dimanfaatkan untuk waktu dimasa depan. Dalam bahasa arab berarti lingkaran. Yang memang tidak pernah ada ujungnya, satu titik terhubung dengan titik berikutnya, terus dan terus. Seolah-olah, simbah sedang memyerahkan pusaka untuk hari esokku , yang bahkan aku belum tahu jenis apa pusaka itu, daya hantamnya, kekuatannya, waktu picunya atau bahkan efek akibatnya.
Daur, ibarat kode, perlu banyak waktu untuk bisa memecahkannya. Daur, ibarat puzzle, perlu banyak metode untuk bisa memadukannya. Daur, ibarat benih, perlu pupuk kebaikan dan air kematangan untuk bisa menumbuhkannya. Daur, ibarat pusaka, perlu hati yang tulus dan kerja luar biasa untuk bisa mengaktifkannya.
Simbahku menerima apa yang diberikan Tuhan yang aku katakan sebagai ilham atau inspirasi. Dia tidak egois, dan mau membagikan untukku. Dan itu memang tugasnya. Itulah berkah buatku. Berkah bagi kaum pinggiran sepertiku, yang ikut mengaku-ngaku anak cucunya. Tiada rasa syukur yang bisa aku panjatkan, selain terus menerus mendoakan simbahku selalu dalam kesehatan yang prima disetiap langkahnya.
Yang kutahu, lewat tulisan simbahku ini, aku bisa bertemu Tuhan dan berdiskusi akrab dengan Kanjeng Nabi. Titik.
Hilmy Nugraha
Selasa Pahing, 17 Mei 2016
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Orang dahulu, membangun sesuatu dengan nilai. Bukan orientasi proyek dan jangka pendek saja. Jauh daripada itu. Meninggalkan warisan pusaka untuk anak cucu. Sungguh panjang daya makrifat mereka. Dan sekarang sudah semakin hilang.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Tapi tak pernah berhenti
Terus dan terus saja
Seakan dia tahu, semua bisa berubah
Sama halnya merubah batu menjadi emas
Seperti Midas
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Copyright © menjadi Hilmy Nugraha
Theme by BloggerThemes & | Design by awfy