Jakarta Kali Ini

Saya musti melihat ribuan manusia. Ratusan kendaraan bermotor. Berpuluh-puluh gedung bertingkat. Dan satu kemunafikan.

Ada orang menawarkan sepatu disamping saya, orang Sunda. Ditangannya ada 6 pasang sepatu. Dicangklongnya tas besar isi penuh dengan sepatu. Saya yakin dia berjalan puluhan kilometer sampai sore tadi.

Ada orang sedang membersihkan tembok saluran air di daerah Senen. Tubuhnya penuh kotoran, lumpur pembuangan. Dari jauh saja sudah khas baunya, apalagi mereka berendam seharian disana.

Ada orang berkeliling berjualan kopi. Pakai sepeda. Dibulan puasa, tetap julalan. Toh yang tidak puasa tetap banyak. Rejeki dibulan suci.

Ada pegawai negeri, mapan. 50 % parkiran gedungnya isi mobil pribadi diatas tahun 2010. Hidupnya tenang. Tidak mewah, tapi cukup. Damai. Ibadah tenang.

Ada kaum pekerja. Sehari-hari bekerja demi makan sehari-hari dan gaya hidup weekend. Belanja di mall, makan di foodcourt. Padahal 80% asli daerah.

Ada ini. Ada itu. Semua ada di Jakarta.

Yang tidak ada? Yang apa adanya. Yang sejati. Angel nyarinya.

Kadang

Kadang, ini seperti di Meulaboh, Pantai Barat Aceh.

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Kurikulum Hidup


Setiap murid di sekolah seharusnya memiliki kurikulum mata pelajaran sesuai dengan dirinya. Tidak bisa disamakan. Ini jika berkiblat pada pemahaman setiap manusia diciptakan berbeda dan spesial. Anak Papua seharusnya tidak sama mata pelajarannya dengan anak Kota Jakarta. Anak pantai belajar menjadi nelayan, atau anak gunung belajar berladang. Tapi tidak apa-apa. Jaman sekarang kan sekolahnya cukup sekolah-sekolahan.

Jika hidup adalah sekolah, tentu bukan sekolah-sekolahan. Si pembuat kurikulum tentunya tahu betul batas kemampuan muridnya. Kadar beratnya disesuaikan secara tepat sesuai kadar pengetahuan dan kedalaman dirinya. Si pembuat kurikulum tahu kapan tepatnya ujian untuk pelajaran hidup diselenggarakan. Atau kapan juga rapor bisa diterima. Apakah bentuk balasannya hingga rapor merahnya, Dia tahu semua.

Kalau sudah demikian pemahamannya, setiap orang adalah murid, dan Tuhan itu gurunya. Kita ikhlas kapan ujian berlangsung. Tugas kita belajar, memetik hikmah setiap kejadian, menggali ilmu langit bumi, berteman dengan murid lainnya dan sungguh-sungguh mengerjakan ujian. Selanjutnya kita bisa naik kelas, naik tingkat. Bentuknya bisa naik derajat, martabat, dapat berkah, dan kenikmatan lainnya.

Tapi jangan lupa, setiap naik kelas pelajaran dan ujian akan bertambah levelnya. Tentu disisi lain kemampua kita pasti bertambah, dan relasi kita tambah banyak. Nah, rajin-rajin belajar dan sowan kepada kakak kelas. Mereka pasti mau mengajari kurikulum hidup kita. Supaya lulus dari ujian dari Dia.

25 Juni 2015

Tuhan Aku Berguru

Tuhan aku berguru kepadaMu
Tidak tidur di kereta waktu
Tuhan aku berguru kepadaMu
Meragukan setiap yang ku temu

Kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan
Buta mata menganugerahi penglihatan

Jika aku tahu terasa betapa tak tahu
Waktu melihat betapa penuh rahasia
Gelap yang dikandung oleh cahaya


#EAN
Tabik,
Hilmy Nugraha
sent from smartphone


Bayi Dalam Sarung


Pernah suatu ketika dimana, bayi ini hanya bisa tidur kalau diayun didalam sarungnya Kakeknya. Bahkan ketika mudik ke Jogjapun, harus pakai sarung ini. Entah apa mantra dan sihir didalamnya. Sepertinya sih doa keamanan dan kedamaian.

*adegan diatas tanpa peran pengganti. Dilakukan oleh pemeran utama, Bumi.

Frustasi Berbuat Baik

Anda yang pernah hidup di daerah Singapura, Jepang atau Korea pasti tahu betapa tertibnya negara mereka. Tidak merokok sembarangan, antri jika menunggu sesuatu, bisa berhenti pada haltenya, bahkan yang ekstrim mereka tidak meludah sembarangan. Mereka negara tertib. Percaya betul bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Yakin betul bahwa setiap keburukan akan dibalas dengan keburukan. Sekecil apapun. Bukankah ini firman Tuhan?

Karena negara melindunginya. Negara menjamin orang yang berbuat baik, jujur dan kerja keras mendapatkan apa yang menjadi haknya. Disana mereka yang berbuat baik akan mendapatkan pelayanan terbaik oleh negara. Orang jujur pasti aman dan akan dicari-cari untuk diminta bekerja. Orang yang kerja keras dijamin oleh negara, mereka akan mendapatkan hak terbaik atas gaji, tunjangan dari negara.

Nah, disini? Jangankan jaminan. Orang berbuat baik sekarang malah dicurigai. Menyapa orang di angkot di kota besar bisa jadi modus kejahatan. Orang-orang terbaik negeri ini dibuang. Orang jujur malah hancur. Yang dijaga adalah mereka yang bisa membayar semuanya. Sekeras apapun kita bekerja, tidak akan dihargai oleh negara. Itu urusanmu sendiri. Tidak pengaruh. Ada tidak ada negara menjadi tidak ada bedanya. Apa tujuan ada negara? Kalau urusan ini saja tidak bisa mengurus.

Lalu orang-orang menjadi frustasi berbuat baik. Rajin berbohong. Malas bekerja keras. Apatis. kejahatan dimana-mana. Cara berfikir sehat kita terbalik sudah. Negara yang seharusnya menjamin ini semua menjadi malah berlawanan.

Tapi kalau kita hanya mengharap kepada negara ini, pasti jadinya hanya frustasi, putus asa dan kemenyerahan hidup. Sedang kalau kata Bung Karno diatas kekuasaan negara ini ada kekuasaan rakyat, dan diatasnya lagi ada kekuasaan Tuhan. Kita sering lupa ada Tuhan. Maka menjadi pasrah dalam kefrustasian.

Yakin saja, bahwa bisa jadi negara kita tidak menjamin balasan kebaikan yang kita perbuat, tapi Tuhan menghitung dengan teliti, menyimpan semua file perbuatan kita dengan detail dan membalasnya satu persatu dikondisi dan waktu yang paling tepat yang dirasakan oleh umat manusia. Itu kalau kita tidak atheis dan masih percaya ada Tuhan.


23 Juni 2015
Mendangarkan Swami.

Hadir

Niat yang kuat bisa mengantarkan kita untuk berpuasa 3 hari 3 malam, tapi sepiring nasi sebenarnya tidak akan cukup untuk jadi tenaga 1 hari.

Lalu, dimana energi itu sebenarnya hadir?

Tabik,

sent from smartphone

Niat Leyeh-leyeh

Kalau saya pergi bekerja, biasanya tujuan terbesar saya adalah santai setelah bekerja. Leyeh-leyeh sambil minum kopi, ngobrol ngalor ngidul, dan mendengarkan keroncong. Bahkan kalau bisa tidak bekerja malah santai sepanjang waktu. Ini mental terburuk manusia jaman ini. Saya sering mengalaminya.

Lantas apa yang salah? Ya salah. Karena kita belum bisa mengolah diri kita. Kenapa yang disebut leyeh-leyeh itu menjadi tujuan, sedang bekerja tidak? Dan yang terjadi adalah, ketika kita mendapat pekerjaan yang sebenarnya saat kita berniat santai, pikiran kita ruwet menggerundel tidak karuan. Niatnya apa dapatnya apa. Mau santai malah disuruh ini itu. Tidak sesuai keinginan.

Mengapa tidak bisa kita temukan kebahagiaan pada saat melakukan sesuatu? Mengapa tidak bisa kita temukan keindahan pada saat berkeringat? Mengapa tidak bisa kita temukan kenikmatan pada saat kelelahan bergerak? Mengapa tidak bisa kita temukan kesejatian pada saat menghadapi pekerjaan?

Saya rasa ini akar permasalahan etos kerja kita selama ini. Berjuta orang berniat santai untuk menjadi tujuannya. Akhirnya mati-matian bekerja tidak dengan menikmati pekerjaannya, tapi dengan angan-angan santai setelah itu. Lalu dibangunlah impian bahwa pekerjaan itu menyiksa, santai itu nikmat luar biasa. Jika ini berlaku, etos kerja manusia turun seturun turunnya.

Kalau hidup ini kita anggap pekerjaan dari Tuhan, apa iya kita diciptakan di bumi ini untuk santai? Sedang pekerjaan didepan mata, menata peradaban, mengatur bumi dan isinya, sesuai gelar kita, Khalifah di muka bumi.

Berat kan? Iya, kalau niatnya leyeh-leyeh.

23 Juni 2015
Sendiri di rumah. Sepi.

Puasa Internet

Kalau sudah mulai berseluncur di internet, rasa-rasanya kok tidak puas berseluncur saja. Bahkan kayaknya seperti mau menyelam saja. Tidak puas mencari hal yang seharusnya kita cari, malah merembet-rember hal-hal yang tak guna. Apalagi jika pakai paket internet yang unlimited. Apa-apa maunya dibuka, apa-apa maunya di klik, apa-apa maunya didownload.

Saya sering demikian. Ketika sedang searching tentang sesuatu, malah merambah ke hal-hal yang tidak berguna. Tiba-tiba membuka portal berita dengan isi kabar picisan. Berpindah ke youtube, musti download musik yang entah apa. Mampir ke torrent untuk download aplikasi yang gunanya buat apa saja tak tahu. Lalu tak lupa blogwalking tidak beraturan. Nah, yang dicari justru tidak ketemu, malah ketemu hal-hal yang lain. Yang tentunya tidak berguna. Atau bahkan jika berguna, itu sedikit sekali. Tidak signifikan dengan tujuan awal.

Lalu musti gimana kalau sudah seperti ini?

Kata Simbah sebenarnya gampang. Mung angel ngelakonine. Puasa Internet. Puasa disini bukan berarti tidak menggunakannya, tapi membatasi diri. Kalau memang butuh informasi tentang perang suni syiah ya tidak perlu merembet ke Denzel Washington atau Emma Watson. Kalau memang perlu untuk mendownload tutorial Cajon di Youtube ya tidak perlu membuka video National Geographic. Jika mengejar berita tentang Politik kok rasa-rasanya tidak penting mampir untuk lihat mobilnya Syahrini itu apa sekarang.

Butuh ini ya cari ini. Sudah dapat, selesai, tutup. Waktu tidak terbuang. Tenaga tidak terforsir. Pikiran tidak terbagi. Kalau sudah merembet-rembet itu main nafsu saja. Nah, pada dasarnya manusia hidup itu memang menahan. Ngempet. Disini letak puasa sebenarnya. Tahu proporsi, mana yang musti ditelan, mana yang harus tidak kita makan. Puasa Internet sepertinya gampang, tapi sebenarnya susah luar biasa. Apalagi bagi kita yang sudah [unya kebiasaan melampiaskan.

22 Juni 2015

Dalam Kesesatan


Saya masih belum paham. Mengapa orang begitu mudahnya menyesat-nyesatkan orang lain. Hal ini terjadi kepada beberapa golongan Islam yang mungkin mengaku dirinya paling benar. Atau mungkin mereka adalah teman baik Kanjeng Nabi sekaligus keponakannya Gusti Allah. Saya kurang paham. Tapi yang pasti, fenomena ini jelas adanya. Menganggap sesat, kafir, bid'ah, jahil, musyrik, sudah seperti sapaan harian saja.

Padahal dalam logika sederhana, orang kenyang tidak akan pernah meminta makanan. Orang yang meminta makanan adalah orang yang lapar. Logika kecil yang sangat sederhana. Jika diperluas kembali ke analogi yang lain, maka orang yang benar tidak akan pernah meminta diluruskan jalannya. Orang sesatlah yang meminta diluruskan jalannya. Sederhana?

Dan dalam ibadah setiap hari (saya rasa mereka juga beribadah juga), kita selalu meminta diluruskan jalannya. Dalam sholat, setiap Al Fatihah kita membaca "Ihdinas sirathal mustaqim", yang artinya tunjukilah kami jalan yang lurus. Dalam logika tadi, apa iya kalau kita sudah benar jalannya tetap minta diluruskan? Sama seperti orang yang kenyang tetap minta makanan?

17 kali dalam satu hari kita mengucapkan itu. Apa belum mengaku juga bahwa memang benar-benar kita dalam kesesatan? Atau masih bersombong juga bahwa kita sudah benar. Jika demikian adanya, tak usah lagi meminta jalan yang lurus, toh sudah benar. Dan tidak perlu sholat. Buat apa.

Saya memilih sibuk dalam kesesatan saya. Daripada sibuk memikirkan kesesatan orang lain. 17 kali sehari tetap bentuk evaluasi paling nyata atas potensi keburukan kita. Tapi jika mengapa mereka belum juga paham, lalu apa yang menimpa mereka? Bisa disebut tidak beruntung secara intelektual. Pelajaran logika saja tidak lulus.

22 Juni 2015

foto bersama


eyang, manah jembar membumi dan neyra kashfila zalikha adhisa

Fajar Hari

Ada bagian dari Indonesia yang sedang sedang memasuki senja dan siap tenggelam dalam di kegelapan malam, ada yang sedang memancarkan matahari baru di fajar hari.

Ada bagian dari Indonesia gegap gempita memuncaki kehancuran, ada bagian lain dari Indonesia yang tak kentara sedang menata kebangkitan.

Ada bagian dari Indonesia yang sedang riuh-rendah menyempurnakan kepalsuan, ada bagian lain dari Indonesia yang tersembunyi dari pemberitaan sedang merintis kesejatian.

Ada bagian dari Indonesia yang habis-habisan menyebarkan sihir, takhayul dan halusinasi, ada bagian lain dari Indonesia yang menaburkan kasunyatan kebenaran.

Ada bagian dari Indonesia yang mati-matian menyebarkan kecemasan, kesedihan dan pertengkaran, ada bagian lain dari Indonesia yang berkelana menyemarakkan persaudaraan, kesatuan dan kegembiraan.

Ada bagian dari Indonesia yang melemparkan sebagian bangsanya ke masa silam, ada bagian lain dari Indonesia yang merintis pembuatan fondasi dan batubata masa depan.

Di bagian fajar hari itulah saya hadir.

Yangon, 11 Oktober 2014.


Emha Ainun Nadjib

nyamuk yang ondol


dirumahku banyak sekali nyamuk. ada puluhan nyamuk yang datang setiap malam. aku sangat yakin tidak sampai seratus. aku anggap ini sebagai tamu istimewa. cuma kalau terkadang sudah kebangetan, aku tepuk satu persatu. yang kubunuh tidak sampai tiga puluh.

aku tidak suka obat nyamuk. dari namanya saja sudah salah. baunya aku tak suka, keampuhannya masih diragukan. untuk yang ampuh, baunya menyengat. untuk yang wangi, malah cenderung aroma terapi.

aku cenderung membasmi dengan cara radikal. membunuh satu persatu dengan tepukan. kukejar sambil lompat-lombat. kalau bumi melihat, dia suka dan tertawa. dikira aku sedang bermain dengannya. padahal aku sangat serius membasmi nyamuk. tapi, kuanggap juga ini bagian dari bermain-main dengan bumi.

anehnya, mereka seperti telat respon. segala gerakanku seperti tidak terbaca. reflek nyamuk mulai berkurang. aku dekati mereka, mereka diam saja. jadi, begitu mudahnya aku menepuk mereka. "ah, nyamuknya ondol", kata istriku. iya benar, dulu tidak seperti ini. tapi biarlah.

dua tujuan aku lakukan dalam membasmi nyamuk, melindungi bumi dari gigitan nyamuk dan mengajaknya bermain hingga tertawa.

#tulisanlama

Anak

Anak-anak jangan diatur sesuai dengan pikiran anda. Mereka bukan milik anda, mereka adalah milik Tuhan. Tuhan punya rencana kepada mereka. Kewajiban orang tua adalah meneliti apa kehendak Tuhan terhadap anak, dan mengawalnya supaya akhlak baik mereka terbentuk.

#EAN

Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone

Kontemplasi

Ketika disuatu forum, kita semua ditanya satu persatu. Apa pikiran yang sedang sering melintas di otak kita akhir-akhir ini? Perenungan apa yang sedang kita endapkan? Buah pikiran apa yang sedang kita pelihara beberapa waktu terakhir?

Saya terdiam. Saya tidak terbiasa memelihara gagasan. Sering saja pikiran-pikiran orisinil saya pergi begitu saja seiring jeleknya saya mendokumentasikannya. Saya gagap. Lalu mengatakan "Pass, lanjut yang lain dulu.".

Lalu tiba giliran teman saya. Dalam lantangnya, dia berkata bahwa dia sedang mencari ketepatan-ketepatan dalam wilayah apapun. Tetiba bohlam kepala saya menyala cerah. Nah, ini pula yang sedang sering berjalan di kepala saya.

Iya, mencari ketepatan. Ini dia. Saya memang sedang berusaha mati-matian dalam mencari ketepatan. Dalam hal apapun.

Mencari yang tepat antara, saya harus lekas pulang atau musti diskusi asyik dengan kawan. Antara saya pergi ke suatu tempat atau berdiam diri dirumah. Antara mengerjakan yang ini atau mengoprek yang itu. Antara kesana atau kemari.

Nah, perjalanan batin ini yang saya butuhkan adalah latihan berlama-lama. Bersering-sering. Peka terhadap efek konsekuensi apa yang terjadi setelah mengambil keputusan itu. Apa kita mengambil keputusan dengan emosional atau dengan akal sehat? Apa kita terburu-buru penuh nafsu? Atau sudah mampu mengendalikan diri kita sendiri.

Latihan ini yang sedang terus menerus saya jalani. Begitu juga teman-teman saya.

Sebenarnya, ini perenungan kami bersama.


Tabik,

Hilmy Nugraha

sent from smartphone