Ajar Kiri

Saya kira, beliau manusia paling angker yang ada di panggung Maiyah. Paling disegani. Beberapa jamaah bahkan alergi. Atheis dan sosialis. Melekat kuat di reputasi nama hidupnya.

Umurnya selisih sedikit dibawah Mbah Nun, tapi usia prosesnya hampir sama. Wajahnya sepuh, tapi kokoh dihantam proses berliku. Interest dalam hal sosial kemasyarakatan.

Tak mengira, beliau sudi hadir ke kami. Memberikan ilmunya. Menitiskan satu-satunya wahyu pergerakan kepada kami. Siapa yang tidak hormat?

Jauh dari kesan diatas itu semua. Beliau seorang bapak, family man. Pencari keadilan. Spiritualis sejati. Penggali hal yang tidak umum. Dan suka bercanda.

Toto Rahardjo, 20 tahunan lebih.membuang dirinya ke masyarakat diseluruh pelosok desa nusantara. 30 tahunan lebih membersamai Mbah Nun.

Saya bangga, kami hormat!
Maturnuwun Pak Toto!

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Membeli Petani

Pak Onos, seorang teman dekat saya tinggal di sebuah desa di Kroya, Cilacap. Dia memiliki sawah yang luas, begitupun keluarga. Bersama keluarganya yang tinggal didesa itu, Pak Onos mengolah sawah untuk penghidupan. Hampir 14 hektare total semua tanah itu. Luas. Sangat luas.

Agak menyedihkan mendengarkan cerita terakhirnya, beberapa petak sawahnya tidak bisa ditanam. Bukan karena musim, bukan karena kurang modal, bukan karena kurang bibit. Semata-mata tidak mendapatkan jatah buruh tani tandur. Buruh tani yang hanya menggarap nandur sawah ini sudah sulit dicari.

Tetangganya bahkan indent 2 bulan hanya untuk mendapatkan jatah buruh tani tandur bisa bekerja di tanahnya. Tanah Pak Onos bahkan sudah hampir 2 bulan tak ditanami. Semata-mata hanya menunggu buruh tani tandur yang free.

Buruh tani tandur, sudah langka. Urbanisasi, kurang kaderisasi, moderenitas, bisa kita salahkan cuma-cuma. Lalu, apa iya kita musti impor buruh dari Vietnam, padahal mereka sendiri belajar ke Kita?
Ah. Sedihnya.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Kartu Pos dari Finlandia

Ini mungkin menjadi barang terjauh yang saya miliki, selain gantungan kunci dari Belanda. Kartu pos dari Finlandia.

Melyn, adik saya sedang belajar entah apa di sana. Patut ku acungi jempol, karena dia memilih tempat yang strategia untuk belajar. Orang bilang, Finlandia adalah tempat di dunia ini yang memiliki sejarah pendidikan terbaik di dunia.

Dalam pesan di kartu pos, Melyn sedikit menceritakan deskripsi kesenian di sana. Saya jadi membayangkan, apa iya Bumi perlu sekolah jauh, sampai Finlandia, untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik selama hidupnya?

Saya rasa ini perlu di dekonstruksikan lagi pemikirannya.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Kalender Jayabaya

Saya sengaja pesan 3 eksemplar tanggalan Jayabaya ini ke saudara saya di Jogja. Di Purwokerto tidak ada yang menjual kalender unik ini. Di Jogja pun hanya di Mirota Batik. Kalender ini unik. Saya mulai kenal ketika pertama kali cek kesehatan Rini untuk kehamilan Bumi di klinik Bidan Tantri, Cilacap. Pertama kali melihat langsung jatuh hati. Saya putuskan 2013 mulai menggunakannya.

Selama 2013, saya hanya suka melihat gambar-gambar di kelendernya saja. Terus terang. Gambar wayang dengan suasana yang berbeda hampir memenuhi separuh halaman kalender.

Padahal, tulisan disamping kanan layout kalender itu tak kalah penting. Ada sistem penanggalan Jawa yang sangat detail menjelaskan waktu dari Hari, Pasaran, Minggu, Bulanan, Tahun, Windu, dan seterusnya. Menarik.

Di tahun 2014, saya kembali memakainya. Dan saya bahkan membelikan untuk markas besar komunitas saya, L22. Kekaguman saya bertambah. Kalender ini jadi bacaan unik untuk para pembaca pertamanya. Kukuh jadi semakin bersemangat membaca tanggalan. Mengepas-ngepaskan hari baik. Menghindari hari buruk.

Ah, jadi banyak gunanya ini kalender. Selain gambar wayangnya yang apik, tentunya.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

'Ilm

Untuk apa ilmu setinggi langit kalau saja tetap tidak bisa melihat Tuhan? Untuk apa biologi, fisika, matematika kalau saja belum bisa mengurai kehidupan? Untuk apa segala jenis pengetahuan kalau saja belum bisa menyelami dirimu sendiri?


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Tepung Persahabatan

Seorang kawan saya datang dari Kota Pelajar Jogja. Ia sedang menjalankan usaha menjual emping melinjo dan tepung tapioka. Tapi levelnya ekspor. Datanglah dia bersama dua kawannya, seolah-olah ingin berkonsultasi pada saya. Ah, saya saja masih gagap. Tapi tentu takkan saya tolak semua niat baiknya. Saya jawab setahu saya.

Dia mengingatkan perjalanan persahabatan kita sejak kuliah. Dimulai dengan proyek organisasi dalam mengembangkan unit bisnis. Berjualan beras, berjualan jaket, berjualan kaos. Macam-macam sudah. Tapi selalu berujung gagal.

Ah ya, kami sama-sama sudah melangkah, meskipun sendiri-sendiri tapi hakikatnya sama tujuannya, pengabdian.

Bagi saya ini proses yang panjang, bisa jadi dahulu kita masih singkong, dan sekarang sedang menjadi tepung tapioka. Esok entah menjadi apa, bisa jadi kue basah atau es krim. Tapi bahan baku asalnya tetap sama.

Ini jangan sampai lupa.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

Tega Tidak Tega

Rini memutuskan sejenak tidak bekerja lagi di Sekolah Alam. Semata-mata karena anak. Iya, si Bumi. Meskipun demikian, hubungan kami dengan sekolah tetap baik. Beberapa kalo event kami masih dapat berpartisipasi.
Bagi Rini, pekerjaan ibu tidak bisa disambi, untuk sambilan. Total katanya. Ah, kalau saya sih bebas saja. Nanti ketemu sendiri formula terbaiknya, mau bekerja diluar atau tetap di rumah.

Dan memang benar. Rini tidak tega meninggalkan masa-masa Bumi sedang tumbuh dengan cepat. Hari ini bisa memegang nasi 1 butir, besok bisa-bisa sudah bertepuk tangan. Apa iya, kita mau anak kita besar, dan tahu-tahu sudah besar saja? Kita tak mengikuti prosesnya.

Ah, merugi. Tak ada kesempatan kedua.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

Akhirnya

Akhirnya saya tiba disuatu masa, dimana saya mencari asal usul keluarga saya. Leluhur saya. Saya bertanya ke om saya, dijelaskannya macam-macam. Kedekatan saya dengan om saya, terlebih karena metode dan cara pandang hidup yang hampir satu frekuensi. Dan inipun belum membuat saya puas.

Saya kembali ke rumah mbah lik saya, tanya detail asal usul keluarga. Dijelaskannya macam-macam. Satu hal yang membuat saya senang, saya menemukannya. Kakek nenek saya dahulu seorang apa dan apa.

Ah, memang sudah saatnya saya mengunjungi mereka satu persatu. Silaturahmi. Dan ini yang dilakukan om saya 12 tahun yang lalu. Mencari jati diri. Nedak sunggi, kata orang Jawa.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

Hanya Alasan

Sekedar alasan saya untuk tidak menulis blog selama ini adalah ketika menulis di laptop semua blank. Saya mengalami kemandegan bercerita. Meskipun selama ini saya tidak pernah berhenti berdiskusi dengan Rini, Rizky, Azis, Kusworo dan Mas Agus. Ini alasan yang terlalu dibuat-buat sebenarnya.

Saya kembali melihat produktivitas tulis teman baik saya, Rizky. Wuih. Salut tenan. Lihat lagi Cak Nun, diusianya yang muda dahulu dia menulis belasan buku. Satu hari bahkan hampir 3-4 essai ia tulis. Kalau ditanya sekarang, alasannya hanyalah untuk bertahan hidup.

Ah, ini seharusnya menjadi alasan yang tetap untuk saya agar tetap menulis. Dan saya mulai lagi menulis. Dimulai dari paragraft-paragraft pendek. Semoga istiqomah.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

Pasang-pasangan

Waktu teman baik saya menanyakan, kenapa akhirnya saya memilih Rini (istri saya) menjadi pasangan hidup saya, setelah menjalani petualangan yang panjang? Saya menjawab singkat. Dia antitesis saya. Dalam banyak hal.

Buku, selera musik, selera makanan, tempat piknik, cara pandang, pola asuh, masa kecil, hingga pola mandi tak ada yang sama. Cenderung membelakangi. Tapi seiring waktu, saya merubah cara pandang saya. Dalam teori antitesis, kecenderungan yang dipakai adalah saling melawan. Maka, perlahan saya ganti, pasangan hidup itu bukan sebagai antitesis, tetapi komplementer.

Lebih menarik dan bersinergi bagi saya. Iya, pasangan hidup itu adalah segala hal yang melengkapi kekurangan dan kelebihan kita. Jadilah sempurna!

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

Samben

Beberapa orang menghabiskan waktunya untuk bekerja mencari uang. 90% waktunya bisa jadi. Beberapa kawan saya melakukan hal demikian. Entah hanya 'sedang' atau memang 'selalu' melakukan. Entah.

Saya membongkar pikiran nakal saya. Lha ya, apa iya, hidup hanya mencari uang? Kita kerja dari pagi sampai malam, hanya untuk uang. Perkara untuk keluarga ya emang iya, bentuk ikhtiar untuk rasa pekewuh menghidupi keluarga kita. Wong sejatinya rejeki sudah ada yang mengatur.

Kalau ditilik dalam khasanah Jawa, ada sebuah ungkapan menarik, 'kerjo iku mung samben'. Selama ini kita salah mengartikan, kita pontang panting bekerja, menghasilkan uang tapi lupa bahwa itu hanya sambilan. Ada tugas-tugas kita yang lain sebagai manusia yang belum kita kerjakan.

Ada pekerjaan kemanusiaan, pencarian, pengabdian, pengayoman, yang itu semua saya rasa jauh dari unsur mencari uang. Selalu musti kita tanyakan pada setiap aktivitas kita, ini 'kerjo', 'nyambut gawe', atau 'makaryo'?
Kita musti kaji ulang semuanya.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

Putus Leluhur

Pohon tidak akan kuat kalau tidak nyambung dengan akarnya. Sebesar apapun batangnya, serimbun apapun daunnya, sebanyak apapun buahnya, kalau akar tidak ada ya matilah itu tanaman.

Demikianpun hidup. Apa yang kita ibaratkan akar, itu adalah pendaran-pendaran diri kita di masa lalu, serpihan kecil berupa memori genetika berupa garis leluhur.

Kalau kita seolah berdiri sendiri, tidak merasa ada yang melandasi hidup kita ini, tidak ada wasilah atas hidup kita melalui tirakat leluhur, maka secara hakikat kita hidup dalam kematian.

Lalu seperti apa cara menyambungnya?
Sapa saja dengan mesra mereka yang sudah mendahului perjalanannya ke terminal berikutnya.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

#8 : indera keseribu

Mengenali Indera
Seorang mekanik sekali melihat sekilas dan mendengarkan suara motor dapat langsung mengerti apa kerusakan yang sedang terjadi. Ya, dalam sekali waktu saja. Beberapa orang diberi daya yang menurut orang lain itu sebuah ‘linuwih’ untuk dapat memahami cuaca dan pergerakan alam. Bahkan sampai ada orang yang bisa membaca tulisan dalam kegelapan. Kalau ini dimasukkan ke dalam kemampuan dasar manusia atau ‘indera’, maka masuk indera yang manakah ini?
Ketika tidur, kita memejamkan mata. Gelap mata kita, tak bisa melihat apapun. Tapi dalam mimpi, kita bisa melihat banyak sekali hal. Bahkan sangat jelas hingga mempunyai warna pula. Apakah kita menggunakan mata jasad kita yang terpejam ini? Tentu bukan. Lalu apa yang sebenarnya membuat kita melihat? ‘Indera’ ke berapa ini?
Pembunuhan Indera
Selama ini orang hanya berfikir bahwa indera manusia itu hanya berjumlah lima. Paling banter ya nam, itupun tidak semua orang punya. Padahal, aslinya ya semua orang diberi kemampuan yang luar biasa canggih. Nenek moyang kita bisa meramal cuaca hanya dengan melihat langit. Simbah kita mampu membaca watak seseorang hanya dengan melihat raut mukanya.
Tapi sekarang, indera-indera yang kita miliki pelan-pelan memudar kemampuannya.  Terjebak kita oleh nafsu emosi, sampai kita tidak bisa mendengarkan suara nurani. Terperosok kita ke dalam jurang duniawi, sampai kita tidak bisa berjalan menuju sejati. Terjerembab kita ke lubang kepraktisan, sampai kita tidak bisa bangkit bersandar yang proses panjang penemuan diri. Manusia menjadi sangat bodoh dan kuno, padahal sejatinya kita ini makhluk yang cerdas dan begitu canggih. Sama saja seperti kita punya handphone canggih terbaru, tapi kita hanya menggunakannya untuk telephone dan SMS saja. Apa gunanya?
Tugas Indera
Manusia dilahirkan bukan semata-mata selesai saja tugasnya menjadi manusia. Ada tugas-tugas selanjutnya yang sangat penting menunggu kita. Misi-misi kehidupan. Itulah mengapa ada tingkatan Makhluk-Insan-Abdullah-Khalifatullah. Bukan saja menjadi manusia, tapi kita bergerak meningkatkan diri menjadi Abdullah hingga ke Khalifatullah. Dan tak ada peningkatan pribadi jika kita tidak mengenal diri kita sendiri. Dibekali apa saja kita oleh Dia. Dan untuk apa bekal itu kita terima.
Khalifah itu adalah manusia dengan tingkat mampu mengenali, mengidentifikasi, hingga menggunakan secara tepat ‘indera-indera’ pemberian Tuhan yang kita punya. Sejatinya dengan saham Tuhan yang ditaruh dalam diri kita, kita bisa membaca semua yang ada di dunia ini. Inilah tugas indera. Membaca Tuhan, alam dan manusia.
Meng-Indera-i

Besar-besaran manusia dibodohkan secara sistematis. Menumpulkan indera-indera yang sebenarnya kita miliki. Hingga untuk memilih pemimpin kita sendiri saja belum bisa bersandar pada suara yang sejati. kita tergiur oleh citra-citra buatan karya manusia. Untuk yang sederhana ini saja kita belum mampu, apalagi untuk bisa mengidentifikasi siapakah juru selamat, Messiah kita sebenarnya? Jangan-jangan kalau kita hidup di jaman nabi, kita tidak bisa membedakan mana Nabi mana perampok jalanan.

#7 : niat beli

istri teman saya menjadi distributor dari sebuah produk kesehatan, bernama kangen water. produk ini berbentuk air, air minum. adapula yang disemprotkan ke tubuh. air ini dipercaya bisa banyak memperbaiki sistem tubuh, karena tubuh kita yang cenderung banyak asamnya, diseimbangkan dengan air ini yang berlarutan basa.
entah bagaimana teori kesehatannya, intinya, saya juga tertarik dengan konsep bisnis ini. saya kemudia meng-invite bbm salah seorang distributor besar mesin yang bisa membuat kangen water ini. jadi dia tidak hanya menjual airnya, tapi yang menguntungkan adalah menjual alat mesinnya.
awal mula tertariknya adalah ketika saya berfikir 'lumayan juga nih, buat sampingan'. bisa buat tambah penghasilan. apalagi produk ini kan juga nolong orang. simpel pikiran saya seperti ini.
saya terus mengikuti update bbm dari distributor ini. setiap hari, ada saja berita bombastis muncul dari update statusnya. ada yang bilang 'baru 10 hari omset sudah 10 juta', '3 bulan beli mesin kangen water, sudah bisa ganti mobil xenia ke mobilio', dan sebagainya. intinya adalah hal-hal yang sangat memikat secara dunia, dan instan tentunya.
lama-kelamaan saya bosan. dan cenderung berfikir ulang, lebih rumit lagi. kalau memang tujuan saya ingin membeli mesin ini untuk menambah penghasilan, jangan-jangan malah nanti bisa salah niat, untuk bisa cari ini cari itu, beli ini beli itu. hanya sekedar materi? sepertinya rendah sekali niatnya. level paling bawah.
hm, jadi serba salah.
saya mesti rampungin dulu urusan niat ini. dan belum jadi membelinya.

#6 : warisan

suatu kali saya bersilaturahim di rumah seorang kawan. rumahnya bagus. luar biasa bagus. tempatnyapun strategis. iya, saya memang sedang membahas tampilan fisik rumah ini. rumah ini berlantai dua. saya melihat lantainya dari granit dengan ukuran 40 cm X 40 cm. saya bisa membayangkan harganya. kayu kusennya pun bagus. kayu keras dan terbaik. besi-besi aksesorisnya tak kalah bagus. untuk letak rumah, bisa dibilang rumah ini ada ditengah kota. bisa terbayangkan berapa harganya.
saya sedang membayangkan, rumah ini tentu bukan milik kawan saya. secara kepemilikan, rumah ini adalah milik orangtuanya. orang tuanya termasuk pedagang sukses. memulai dari bawah sekali, hingga kini bisa menikmati hasil perjuangannya selama ini. saya kembali berfikir, tentunya orang tuanya pasti berjuang mati-matian untuk mencari ini semua. kesuksesan, kejayaan, hidup mapan, rumah, mobil, kehidupan yang terjamin, dan sebagainya. dan tidak lain tidak bukan hanya untuk anak cucu kelak. tentu saja ini semua tidak salah.
saya tidak sedang nyinyir terhadap kekayaan, tidak sedang iri terhadap hidup mapan. hanya saja, saya berfikir, saya sudah sebagai orang tua sekarang, mampukah saya memberikan warisan berharga kepada anak saya? jika mampu, apa bentuk warisan itu?
saya takut sekali, terhadap pencapaian materi. yang saya takutkan adalah, pencapaian yang tidak berimbang dengan kebesaran jiwa. saya membayangkan jika hati dan jiwa saya tidak mampu menerima materi materi yang diberikan Tuhan, sudah pasti saya lupa bahwa itu semua dariNya.
saya ingin sekali kemudian mewariskan kepada anak cucu, tidak melulu materi. tapi justru prinsip hidup yang lebih penting. ada yang disebut dengan idealisme. ada juga sistem tata nilai.
saya ingin anak cucu saya mengetahui, bahwa dibalik semua hasil, ada proses yang lebih penting. kesetiaan diri kita kepada proses yang sedang berjalan. ada semangat produktifitas dan kemandirian. ketidaktergantugan pada warisan materi. sikap ketepatan pengambilann keputusan dalam hidup. prihatin dan mau terus belajar.
saya jadi ingat, bahkan untuk selevel soichiro honda, pendiri pabrik honda, dia tidak mewariskan perusahan dan kekayaannya ke anak cucunya, melainkan menyuruh mereka untuk berusaha sendiri.
kejam? bagi saya inilah esensi pendidikan karakter hidup.