hari #31 : tentang proposal hidup



#tentang proposal hidup

Proposal hidup sudah kutulis sejak 2009.

Ya Allah, Ya Rabb kami,

Inilah proposal hidupku. Apabila dengan ini Engkau semakin dekat cinta kepadaku bantulah aku. Jika dengan ini keberadaanku menjadi jalan kebaikan dan manfaat kepada banyak orang bantulah aku. Akan tetapi jika dengan proposal hidup ini Engkau menjauh dariku dan keberadaanku membebani orang-orang yang berada di sekitarku, berilah aku petunjuk kepadaku. Jangan tinggalkan aku, ya Rabb..

Ya Allah, bantulah aku untuk mampu mewujudkan Proposal hidup ini sebab tanpa bantuan dan pertolongan-Mu aku pasti tak akan mampu merealisasikan Proposal Hidup ini.

Dengan pertolongan Allah, aku yakin bisa meraih apapun yang aku inginkan. Aku izinkan diriku untuk berhasil. Aku izinkan diriku untuk berubah. Aku izinkan nasibku untuk terus membaik. Saat ini dan selamanya aku selalu mengizinkan semua yang aku inginkan untuk hadir didalam hidupku dengan mudah dan menyenangkan…

Ya Allah, kabulkanlah…

Amin..

130211
21:55
spirit carries on - dreamtheatre
berusaha meninggalkan ego.

hari #30 : tentang malam


#tentang malam

Malam, kupersahabati dengan damaimu.
Bulan, kupersembahkan setia untukmu.
Bintang, kusertakan cahaya selalu menemanimu.
Matahari, kurelakan tak selalu bersamamu.
Udara, kuantarkan dingin padamu.
Gelap, sesekali saja, aku menikmatimu.

Kali ini aku ingin dia datang.
Malam-malam,
Duduk lengang, di kursi panjang, ujung gang.

130211
21:24
sudah malam,
mandi!

hari #29 : tentang kota impian


Manusia hidup di dunia ini tidak bisa milih mau jadi orang seperti apa. Mau jadi laki-laki atau perempuan, mau jadi anak orang kaya atau orang kere. Mau jadi orang pinter bawaan lahir atau goblok luar biasa sejak bayi. Dan juga kita tak bisa milih, mau dimana kita lahir.

Tapi berita gembiranya adalah kita bisa menyikapinya. Dan ketika dewasa kita diberi kehendak, untuk menentukan diri kita mau jadi apa hingga mau tinggal dimana.

Nah, ini yang aku sukai. Berkhayal. Dan khayalan kali ini adalah tentang tempat-tempat impian mana saja yang ingin ku tinggali.

So, cekidot boi!

- Jogja
Aku punya teman SMK, namanya Henny, anak magelang. Anaknya tomboi habis. Dan dia lah yang membukaan pikiranku tentang ingahnya tinggal di desa. Jogja salah satu pilihanku untuk ini. Aku berharap bisa tinggal di jogja, di desa, tidak di kotanya yang sudah penuh, sesak dan sumpek. Aku membayangkan kebun-kebun luas berisi pohon kelapa dan kolam ikan lele. Haha. Jogja, kota budaya, jawa masih terasa di dalamnya. Cukup didesanya saja ya.

- Malang
Jika ada kota yang belum kujelajahi tapi ingin kutinggali, maka Malang adalah jawabannya. Kota ini ekstentrik didalam pikiranku. Entah kenapa. Entah kenapa. Dan memang entah kenapa. Inilah yang disebut chemistry. Cukup aku dan Tuhan saja yang tahu. Bahkan malaikatpun tidak! Hahaha.

- Magelang
Di Kabupaten Magelang tentunya. Sama sekali aku sudah tak ingin tinggal di kota-kota yang padat huni. Magelang masih hijau, subur dan bersahaja. Banyak candi disana. Pariwisata berkembang pesat. Kultur jawa masih kental.

- Bogor
Untuk wilayah priangan, aku memilih Bogor saja. Di Kabupatennya juga. Bogor hijau. Meski bahasa sundanya termasuk bahasa kasar, tapi aku cukup menikmati tinggal disini. Aku pernah satu tahun di Bogor.

- Banyumas
Tentu saja, ini adalah wilayah jajahanku sekarang. Haha.

Kenapa aku tidak mencantumkan kota-kota diluar jawa. Terus terang, aku belum pernah keluar jawa. Hehe. Jadi memang belum tahu karakter kota disana. Mungkin jika aku sudah pernah keluar jawa, pandangan dan impianku bisa berubah lagi. Dari beberapa alasan yang ada, kebanyakan adalah alasan sentimentil. Jadi harap maklum saja, aku bukan ahli perkotaan maupun sosiolog. Hehe.

13 Februari 2011
21:05
Menjelang malam, aku ingin tidur.

hari #28 : tentang kebencian


Aku sudah berjanji, menandatangani kontrak seumur hidup, menyatakan diri, bersumpah kepada diri sendiri, untuk tidak membenci siapapun. Untuk tidak membenci sifat kemanusiaannya. Siapapun dia.

Karena menurut Cak Nun, kebencian itu hanya berjodoh dengan kematian.

Sebenci apapun orang kepada dirimu, bersyukurlah. Dengan itu kamu bisa menunjukkan sesungguhnya cinta kepada orang yang benar-benar membencimu. Itulah cinta yang sebenarnya.

Dan jangan sekalipun membenci orang lain. Itu bisa menghapus semua penilaian baik kepada orang lain. Mengikis semua potensi kebaikan kita kepada orang tersebut. Sungguh merugikan...

Sesungguhnya, setiap manusia itu indah, apabila kita bisa menerimanya dengan tulus. Belajarlah menerima!


130211
21:30
You make my world so colorful - daniel sahuleka
sms datang, aku hilang.

hari #27 : tentang ibu


#tentang ibu

bolehkah aku berpuisi tentangmu?

tentang matamu yang Indah
tentang alismu yang Indah
tentang hidungmu yang Indah
tentang bibirmu yang Indah
tentang senyummu yang Indah
tentang lentik jarimu yang Indah
tentang ramahmu yang Indah
tentang sopanmu yang Indah
tentang tawamu yang Indah
tentang sedihmu yang Indah
tentang segarmu yang Indah
tentang sakitmu yang Indah
tentang namamu yang Indah
tentang dirimu, yang memang
benar-benar Indah

nb : Ini untuk ibuku. Yang pandai memasak, dan tak pernah lelah menyuruhku mandi sore. Makasih bu, bakti seumur hidupkupun takkan mampu membayar satu detik pengorbananmu untukku. Sungguh.

130211
21:34
together again - dave koz
banyak nyamuk.

hari #26 : tentang rejeki

#tentang rejeki

rejeki adalah sistem sebab akibat, yang sebabnya harus jelas, tapi yang akibatnya sebagian besar ghaib
-- mtgw

Ikhlaslah. Tidak semua sesuatu yang kita dapatkan dari sesuatu hal yang kita kerjakan. Ini bukan berarti Tuhan tidak adil. Justru inilah adil yang sebenarnya. Dan kesabaran memainkan perannya disini.

Terkadang, kita sudah berusaha mati-matian bekerja, berusaha, berjualan, atau apapun istilahnya, namun tak jua mendapatkan titik cerah pendapatan dari situ. Apa yang salah?

Bisa jadi kita kurang sabar dalam berikhtiar. Atau memang tidak semua yang kita dapatkan berasal dari yang kita usahakan.

Yang harus kita lakukan adalah meluruskan niat dalam menjemput rejeki, serta memaksimalkan ikhtiar kita.

Ini adalah nasihat untuk diriku sendiri. Agar senantiasa ikhlas dan sabar. Semoga aku berkenan.

130211
21:19
if you're not the one - daniel bedingfield
ah, aku jadi ingat.

Menulis Kesia-siaan

Aku terdiam. Kembali menggali. Bercermin. Ratusan tulisanku selama ini hanya sampah. Sampah kepala yang mengalir melalui tangan dan tuts-tuts keyboard laptopku. Jadilah ribuan huruf yang tergabung menjadi kalimat, lalu jadi paragraf dan membentuk satu tulisan. Itupun hanya sampah.

Meski disatu sisi aku percaya, sampah pikiran mesti harus dibuang. Daripada menggumpal keras dikepala dan berubah menjadi jerawat-jerawat mungil di wajah.

Aku memasuki frase. Dimana aku harus lebih banyak menulis. Dimana aku harus lebih banyak menghasilkan tulisan. Enak dibaca dan bermanfaat bagi orang lain. Tak hanya menambah kerutan dahi dan cibiran mulut para pembaca.

Ini berarti pula aku harus menambah banyak diskusiku dengan orang lain. Menambah buku bacaanku. Dan tentu saja blogwalking.

Aku harus merubah diri, dari menulis kesia-sian, menjadi menulis kebermanfaatan. Dan aku memulainya dengan mendaftar puluhan judul unik yang akan aku tulis. Memandang segala sesuatunya lebih luas. Menyadarkan diri. Mengambil sudut pandang dari sisi yang berbeda.

Baru saja kumulai.

100211
15:01
Endah n Rhesa - I Dont Remember
jerawat muncul di bawah mulut,
semoga sabtu sudah hilang.

Kecanggihan Manusia Dulu


Siapa bilang orang jaman dulu itu orang yang bodoh-bodoh? Dan orang jaman sekarang itu pintar-pintar?

Lihat saja peninggalan-peninggalan jaman udlu yang masih tersisa. Ambil contoh Candi Borobudur. Apa yang kalian lihat? Eksotis? Luar biasa? Bangunan super rumit? Ya, aku sependapat dengan kalian. Borobudur itu luar biasa. Jangan dibayangkan bahwa orang jaman dulu itu membangun Borobudur sama seperti Sangkuriang membuat perahu besar yang penuh dengan dongeng itu. Atau masih percaya dengan dongeng Roro Jonggrang pada Prambanan? Hm...

Aku melihat bahwa Borobudur itu mungkin diciptakan dengan teknologi yang canggih, bahkan mungkin lebih canggih dari jaman sekarang. Lihat saja akurasi dan presisi dalam pembangunan Candi. Bayangkan cara menumpuk ratus ribuan batu hingga menjadi bangunan yang sangat indah itu. Lihat juga arti filosofi yang ada pada setiap inchi batu Borobudur. Luar biasa. Aku bisa membayangkan bahwa jaman dulu orang itu luar biasa cerdas dan canggih. Bisa jadi jaman dulu sudah ada Crane yang bisa mengangkat batu-batu seperti itu.

Kemudian lihatlah Piramida di Mesir, Stonege di Eropa. Bisa kalian bayangkan, bisa jadi mereka tidak menggunakan teknologi manual seperti yang kita bayangkan. Bisa jadi teknologi mereka sangat canggih. Namun takdir Tuhan meniadakan generasi mereka karena sombong. Bisa jadi. Sama seperti Atlantis, dimana jaman sudah sedemikian canggih, tapi karena kesombongannya hancurlah seketika atas kehendak Tuhan.

Ini semakin membuktikan, bisa jadi teknologi jaman dulu tidak kalah canggihnya dengan jaman sekarang. Apa sekarang kita mampu membuat candi Borobudur kembali? Aku rasa memang sudah tidak relevan. Namun bukan berarti manusia berhenti berkarya dan membuktikan kecerdasan serta kecanggihan mereka. Lihat saja, menara Dubai, lihat pula jembatan Suramadu, atau lihat rancangan terowongan di selat Bosporus yang menakjubkan itu. Bisa jadi itu adalah bangunan-bangunan hebat dimasa kini.

Dan, akan dikenang oleh orang-orang dimasa mendatang sebagai peninggalah bersejarah.

Akalku masih terbatas, membayangkan seperti apa kecanggihan teknologi jaman dahulu. Aku masih yakin, bahwa mereka tidak bekerja secara manual, seperti apa yang kita bayangkan selama ini.

Bisa jadi.

070211
22:03
papuaku kini - dewa budjana
warnet, malam ini penuh.

Fokus


Fokus itu bukan soal seberapa banyak yang kita kerjakan, tapi sejauh mana kemampuan kita mengoptimalkan hasil dalam satu waktu. Misal begini mas, kita kan bisa saja membakar 2 buah kertas dengan sinar matahari dalam waktu yang bersamaan dengan catatan kita punya 2 kaca lup dan kita mampu mengkondisikan 2 kaca lup itu agar sinar matahari terpusat di satu titik dengan kakuatan yang sama.

-- mas Arif RH
050111
12:43

Sudah Februari

Oh ya, sudah februari. Lekas sekali. Nampaknya baru kemarin aku melihat orang-orang pulang pagi, berhura-hura, meniup terompet sepanjang jalan, dan melihat kembang api di langit. Rasanya baru kemarin aku menulis resolusi hidupku untuk 2011, eh sekarang Februari datang begitu saja. Lekas sekali.

Waktu terasa begitu cepat. Cepat sekali. Apa karena aku menikmatinya? Atau karena aku tak merasakannya sebagai hal yang penting?

Banyak penyeselan, kenapa aku belum melakukan ini, kenapa aku belum melakukan itu. Yang mungkin seharusnya kulakukan di bulan Januari.

Menunda-nunda, itu mungkin kesalahanku. Dan aku tak bisa menyalahkannya kepada sifat Pleghmatisku.

So, bagaimana dengan Februari? Ini sudah hampir separuh jalan. Ayo, bergegaslah kawan! Bergegaslah hil.

070211
20:09
thomas (gigi) - alone
perut melilit, ingin mandi lagi.

Pemerintah adalah Buruh Rakyat!


"Sebejat-bejatnya buruh adalah buruh yang sombong,
Semulia-mulianya majikan adalah majikan yang sabar."


Aku rasa masih ada banyak upaya untuk memperbaiki pemerintah yang super bobrok ini. Ya benar, pemerintahnya yang bobrok, bukan Indonesia. Mungkin harus kita pisahkan baik-baik, bahwa pemerintah itu orang-orang yang duduk di kursi kuasa, sedang Indonesia adalah masyarakat jelata macam kita ini.

Pemerintah pada dasarnya dungu bukan main. Membutakan mata hari mereka sendiri. Menutup telinga mereka sendiri. Berpura-pura tak melihat, berpura-pura tak mendengar kami, rakyat jelata. Pemerintah beranggapan bahwa mereka adalah orang atas, sedang kita orang bawah. Mereka tidak merasa bahwa kehidupan mereka sebenarnya ditopang oleh kita. Dalam ilmu ekonomi, inilah yang disebut buruh dan majikan. Siapa yang membayar dan siapa yang dibayar. Pemerintah hidup karena bayaran dari rakyat. Pemerintah bisa beli mobil, rumah, hingga pulau (mungkin) itu karena rakyat yang membelikannya, bukan semata-mata uang mereka. Nah, inilah yang bisa disebut dengan "Pemertintah adalah Buruh Rakyat".

Apalagi memang benar, tugas pemerintah adalah bekerja kepada rakyat, bukan kepada kepentingan mereka sendiri. Rakyat membayari hidup mereka, rakyat menjamin kehidupan mereka, tapi seolah-olah mereka buta, tuli dan tidak merasa, bahwa karena rakyatlah mereka bisa hidup.

Mereka beranggapan rakyat itu orang kecil, orang tertindas, orang bodoh, atau orang yang tidak tahu apa-apa. Sedang mereka orang pintar, orang yang tahu segala hal, orang yang berkuasa dan orang yang menguasai.

Buruh seharusnya bekerja dengan profesional kepada majikannya. Buruh seharusnya hormat kepada majikannya. Jika kewajiban terlaksana, pasti hak akan tercukupi. Apalagi majikannya begitu sayang kepada buruh, sehingga buruh suka mencuripun masih diampuni baik-baik oleh majikannya. Apakah ini bukan kasih sayang namanya?

Pemerintah tidak sadar, atau mungkin pura-pura tidak sadar?

080211
08:02
sudahlah - padi
memahami sedikit, tentang makna.

Berpetualang


Bagiku, petualangan tidak selalu harus ke tempat yang indah, jauh dan eksotis. Kadang kala kita sendiri yang menyempitkan makna ini.

Pernahkah kalian berfikir bahwa setiap perjalanan yang kalian lalui itu adalah bagian dari petualangan? Atau kita merasa sudah bosan dengan ratusan kali perjalanan dengan melewati jalan yang sama, hingga kita hafal dimana lobang jalan tiu ada, hafal jam berapa saja lampu akan menyala merah, hafal suasana ketika kita melewati jalan tersebut. Ah, yang ini memang membuat penat.

Aku banyak membaca dari beberapa tulisan teman tentang petualangan. Bahwa petualangan adalah perjalanan. Dan setiap perjalanan tidak selalu harus ke tempat yang kita belum pernah datangi sebelumnya, tempat yang kita harus bersusah payah menujunya, atau tempat yang sudah banyak direkomendasikan penulis perjalanan karena ke-surga-annya.

Setiap petualangan yang sesungguhnya bagiku adalah setiap perjalanan dimana kita bisa mengerahkan semua panca indera kita untuk mencerna apa yang terjadi disekeliling kita. Kita bisa melihat keindahan alam, atau bahkan kerusakan alam. Kita bisa mendengarkan suara burung di alam liar, atau bahkan suara bising motor di jalan macet. Kita bisa mengecap sedapnya makanan mahal bintang lima, atau bahkan pahitnya jamu gendong di pasar tradisional. Kita bisa mencium wanginya melati di kebun bunga, atau bahkan bau busuk di TPA. Kita bisa merasakan dinginnya hawa pegunungan, atau bahkan teriknya matahari di lapangan bola.

Percuma jauh-jauh ke Wakatobi, kalau kita memang tidak menikmati setiap meter jalan yang dilalui. Sayang kalau sudah jauh ke Sabang, kalau kita sendiri tidak mendapatkan apapun disana kecuali foto narsis yang memenuhi harddisk. Sungguh terlalu kalau kita pergi ke Flores, tapi tidak ada hikmah sedikitpun yang mampu kita tangkap. Sangat disayangkan benar-benar, kalau kita bisa pergi ke Belitung, tapi hanya bangga dengan diri kita yang sudah pernah kesana, tapi hasilnya nol besar.

Masih banyak destinasi indah, disekeliling kita yang bisa kita eksplor. Purwokerto masih luas, Cilacap masih belum terjelajahi, Purbalingga indah sekali, Banjarnegara tetap mempesaona dan Kebumen beriman. Ayo, yang dekat-dekat kita eksplor dulu. Yang jauh tentunya juga tetap kita list menjadi "the place i wanna go".

Semua itu petualangan. Dan nikmat tidak nikmat itu tergantung kitanya. Bagaimana kita mempersepsikannya, dan mampu mencerna apa yang ada, menjadikan itu sebagai sebuah petualangan hidup yang berharga.

Selamat Berpetualang!

070211
19:43
barry likumahuwa - mi angelita
terkadang, berjalan ke pasar saja sudah cukup menyenangkan.

Dialog Imajiner Dengan Mas Willy


Berbicara Dengan Tubuh Kita Sendiri, Tak Hanya Pikiran.


Siang itu aku tergagap. Mas Willy datang tergopoh-gopoh mendatangiku. Dengan sontak dia membentakku tanpa mula.

"Hei Cung, apa yang kau ketahui tentang sastra?", bentak Mas Willy.

Sacung, itu panggilan darinya untukku. Hanya untukku.

"Sastra itu membelitkan makna pada kata Mas...", aku jawab seadanya.

Pikiranku belum menyatu dengan tubuhku. Aku masih terkaget-kaget dengan kedatangannya yang seperti petir.

"Bodoh! Kau pikir sastra itu hanya kiasan makna? Haha, bukan main dungunya kau!", Mas Willy menimpali. Dia masih tertawa keras terbahak.

"Asal kau tahu, sastra itu adalah bahasa kepada diri kita. Cara berkomunikasi kita terhadap diri kita sendiri, itulah sastra!", Mas Willy masih berbicara.

"Apa yang sudah kau lakukan untuk dirimu sendiri? Apa kau selalu mengajak dirimu berbicara? Apa kau sudah kau lakukan, hah?", Mas Willy setengah berteriak.

"Aku suka merenung Mas, mengolah kata pada pikiran kemudian menuangkannya pada kertas. Aku sudah mewakili pikiranku pada huruf yang kutulis.", aku membela diri.

"Cung, aku sudah katakan, sastra itu adalah bahasa kepada diri kita. Apa aku harus mengulanginya puluhan kali agar kau mengerti? Bodoh!", Mas Willy sedikit meradang.

"Dan apa kau kira, dirimu hanya pikiran itu sendiri? Dan bagian yang lain bukan? Sempitnya kau!", lagi-lagi Mas Willy berbicara sedikit keras.

"Dirimu bukan sebatas pikiran. Kau masih punya jantung, tangan, kaki mata, hidung dan lain sebagainya. Dan juga kemaluan. Apa kau punya? Atau jangan-jangan kau tak punya satupun! Hahahaha...", Mas Willy tertawa. Dan aku masih mendengarkan ucapannya meski masih belum juga kupahami.

"Ajaklah dirimu berbicara. Ajaklah setiap bagian dari tubuhmu berbicara. Ucapkan terimakasih pada mereka. Tanpa mereka, kau hanya jiwa tak berbentuk. Tanpa mereka, kau hanya gelombang tak kentara. Kau tentu sudah sering berdiskusi dengan ratusan orang, mengobrol dengan ribuan orang, atau apapun bentuk komunikasi dengan orang lain. Tapi sudah seringkah kau berkomunikasi dengan dirimu sendiri? Kau sudah menerima banyak sesuatu dari orang lain. Hadiah, jabatan, pangkat, atau apapun bentuknya. Tapi, sudahkah kau berterimakasih pada dirimu sendiri? Hingga kau merasa harus berterimakasih pada Tuhan? Bahwa sebenarnya dirimulah yang menopang semuanya, bahwa Tuhan yang memberikan kekuatan pada dirimu?", kali ini mas Willy melembut. Aku sedikit agak tenang. Mencerna perlahan semua kata-kata langitnya.

"Cung, ingat kataku. Sejatinya, semua jawaban permasalahan hidup itu, ada dalam diri kita. Apapun itu. Tinggal kita mampu mencarinya ke dalam diri, atau enggan memancingnya keluar. Dan itulah yang disebut dengan sastra. Berbahasa dengan diri sendiri.", tutur Mas Willy.

Mas Willy mengeloyor pergi. Sama tiba-tibanya ketika dia datang. Tanpa sapa, tanpa salam, tanpa pertanda apapun.

Aku masih mengunyah pelan-pelan sabdanya. Ah, aku ini terlalu bodoh. Atau terlalu malas? Jutaan hikmah keluar dari mulutnya, tapi aku bebal menerimanya. Dasar Sacung!

10 februari 2011
09:57
San Disco Reaggefornia - jason mraz
berbicaralah, dan ucapkan terimakasih, pada dirimu sendiri.

Tantangan Tahun Ini

Sudah 2011. Tapi nampaknya minat bacaku begini-begini saja. Banyak buku di rumah tapi cuma sekedar ditumpuk di pojokan meja. Banyak pinjam buku tapi tetap saja malas membaca. Suka ke perpus tapi hanya habis mengobrol dengan Pak Roso. Pergi ke toko buku tapi cuma liat-liat majalahnya. Beberapa kali ke bookfair tapi cuma mampir saja.

Di Goodreads, salah satu situs favoritku, ada sebuah tantangan menarik. Intinya, seberapa banyak buku yang akan kita baca di tahun ini.

Hahai, terang saja aku harus berpikir banyak-banyak. Berapa bilangan yang harus kutuliskan, apalagi melihat semangat bacaku yang kendur naik seperti ini. 10? 50? 100? 300? hoe....

Kumantapkan menuliskan 100 buku. Itu artinya aku harus membaca 1 buku maksimal 4 hari sekali. Buset dah! Luar biasa boi! Kalo terlaksana. Hahaha...

Dan menambah targetku kembali, tak hanya membaca, tapi menuliskan kembali reviewnya, sinopsisnya atau mungkin resensi ala kadarnya.

Bisa to Hill? Bismillah.

080211
09:19
Lelaki dan Rembulan - Franky n Jane
kalau kau, mau baca berapa banyak, Kawan?

Maksum

Namanya Maksum. Umurnya mungkin 40 tahunan. Pakaiannya tak pernah tak rapi. Necis. Rambut selalu disisir. Klimis. Namun yang mengherankan adalah dia selalu pergi bolak balik Banyumas Sokaraja. Mungkin sehari bisa 2-4 kali. Bukan untuk berdagang di pasarnya, namun memang hanya itu yang bisa dia lakukan. Setiap jalan dia menyapa orang dengan senyum ramah. Seluruh penduduk di pinggir jalan Banyumas Sokaraja sudah hafal akan dirinya. Maka jika orang asing melihat, tak ada yang tahu bahwa dia bisa dibilang 'tidak waras' oleh orang-orang disekelilingnya.

Sering aku menjumpai dia sedang berdialog akrab dengan tukang becak diperempatan. Atau sedang bercengkerama mesra dengan Polisi di sudut tikungan. Kadang juga aku melihatnya menyapa ibu-ibu di pasar. Siapapun dia sapa. Atau kadang yang menyedihkan, dipukuli oleh preman-preman pasar yang suka iseng.

Aku tahu, dia tak pernah mengganggu orang. Justru malah kadang suka membantu. Aku pernah melihat sesekali dia ikut membantu tukang sampah di pasar hingga dia harus membersihkan dirinya kembali, untuk menjadi klimis. Terlihat juga sewaktu dia membantu ibu-ibu membawa barang belanjaanya, namun sering ditolak karena takut merusak. Aku tahu, niatnya baik.

Berita tak menggembirakan datang dari kawan dekatku. Maksum tertabrak truk di Kaliori. Tubuhnya remuk, tak tertolong. Entah kenapa, seketika itu juga mataku berkaca. Entah. Hatiku leleh mendengar berita ini. Aku menangis untuk orang yang dianggap 'gila' oleh lingkungannya.

Aku belum sempat belajar banyak kepadanya. Pertemuan kita sebatas lemparan senyum dan balasan sapa seadanya. Aku belum sempat banyak berdialog dengannya. Aku belum sempat menimba ilmu padanya. Belajar tentang keikhlasan, belajar tentang suka membantu, belajar ramah kepada orang lain dan mungkin yang paling berat adalah belajar menerima olok-olokan orang lain.

Yang dianggap gila justru malah tidak pernah mengganggu orang lain. Yang dianggap tidak waras justru malah tidak pernah merusak milik orang lain. Yang dianggap sinting justru malah tidak pernah mencuri barang orang lain. Yang dianggap tidak dianggap justru malah tidak pernah, sekali-kalipun menyakiti hati orang lain.

Aku masih tertegun, membaca kepingan-kepingan ilmu yang tersisa. Mengais-ngais sisa hikmah dari semua ini.

Maksum, lelaki 'beda' yang terpinggirkan. Korban pemikiran masa sekarang. Bisa jadi dia lebih mulia dari para politisi senayan, meski sama necis klimisnya. Bisa jadi dia lebih mulia dari para pejabat pengumbar janji, meski sama-sama suka senyum. bahkan, bisa jadi dia lebih mulia dari kita, yang mengaku beriman tapi suka menyakiti.

Ukuran kemuliaan bukan dengan seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa banyak yang kita ikhlaskan hanya untuk-Nya. Dan aku pelajari dari seorang Maksum, meski ku tahu dia tak pernah sembahyang. Tapi aku tahu dan yakin, Dia Maha Adil.

terinspirasi dari cerpen : Wangon Jatilawang - Ahmad Tohari

080211
07:32
mendengarkan King of Convenience
ah, pagi ini, rasanya indah sekali.