Mau kemana? Ya entah kemana. Kemana-mana boleh.
Tabik,
Hilmy Nugraha
aku membaca karena aku mewajibkan diriku untuk menulis
Mau kemana? Ya entah kemana. Kemana-mana boleh.
Tabik,
Hilmy Nugraha
Kedip mata, pegang sendok, rambatan, ambil air pakai wadah, usap-usap lantai, tiduran di lantai, mindahin kerikil, buka buku.
Belum lengkap, tapi tiap harinya tambah-tambah terus.
Tabik,
Hilmy Nugraha
Lalu, apa iya kita tak perlu ngapa-ngapain? Diam saja, menunggu hidayah datang, karena yang sejati memang Dia yang mengantar.
Ya kalau anda minta air minum tanpa membawa gelas, mau ditaruh dimana itu air? Sama, mau ditaruh dimana hidayah pemahaman kalau akal pikiran kita tidak terbuka dengan sesuatu yang baru.
Tabik,
Hilmy Nugraha
Jadilah sekarang saya gondrong, bukan main. Saya jarang keramas. Itu yang membuat istri saya ngomel-ngomel. Ibu saya tak kalah pula. Ikut-ikutan saja. Terlebih mungkin harga dirinya sebagai tukang cukur ternoda. Melihat anak lelaki satu-satunya berambut panjang tak terawat.
Padahal saya juga sudah berusaha mencari literatur bagaimana cara merawat rambut secara tepat. Tapi lagi-lagi, ilmu memang kalah dengan tindakan. Saya kalah oleh kemalasan saya sendiri.
Tapi saya memang berjanji, saya mau cukur rambut jadi pendek bila perlu cepak, kalau nantinya istri saya hamil anak kedua. Ini sudah dua tahun lebih setelah pernikahan. Kalau nanti anda bertemu saya sudah berambut pendek, anda sudah tahu jawabannya.
Dan ibu saya akan senang melihat anaknya rapi kembali. Istri saya juga tak ngomel-ngomel lagi. Dan Bumi bisa pangling lihat ayahnya. Adiknya kelak, mendapati ayahnya rapih.
Mungkin sebentar lagi.
Tabik,
Hilmy Nugraha
Kita harus tahu dan memahami peta fikir dan perasaan kita. Kalau mampu kita olah, baru bisa kita di sebut khalifah. Khalifah atas diri kita sendiri.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Lalu, apa menulis bukan bekerja?
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Ada sebuah tempat bagus di pinggiran kota Purbalingga. Cukup bagus, cukup strategis. Pelan, saya sudah bisa menempatinya.
Selanjutnya tinggal menyasar saja, siapa target pasar dari kafe ini. Selain tempat minum, nantinya mau ada diskusi rutin, bedah buku, live music sampai nonton film bareng.
Niatnya bernama "perdikan, coffee and tea".
Sepertinya bisa berjalan. Ini sudah langkah pertama.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Dingin. Penuh orang bersarung. Lalu lalang kendaraan bak terbuka membawa sayuran dari lereng gunung. Ojek bersliweran membawa para pembeli pasar.
Ada soto Kang Roni di pojok pasar. Ada kios kopi dan rokok di seberangnya. Warung-warung berderetan. Penjual emperan tak kalah ramai.
Ramai ini karena hari pasaran. Semua orang turun ke pasar. Membawa komoditas terbaiknya.
Saya seperti ada di depan sebuah toko kelontong, menikmati sarapan nasi sayur waluh dan kerupuk mireng. Duduk di kursi santai karena memang sedang santai.
Belik tanah leluhurku. Dan tiba-tiba aku merindukannya. Udara dingin, mirip sekali.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Kalau Anda ingin menjadi masyarakat informasi, Anda juga harus jadi sumber dari informasi. Pokoke upload-upload terus tanpa Anda membuka lagi informasi yang Amda sebarkan. Hal itu saya lakukan dengan Kiai Kanjeng. Itu baru Anda disebut sebagai subjek informasi, bukan korban informasi.
Pokoknya upload kebaikan-kebaikan, tanpa perlu peduli dan tahu apa respon dari komentator.
Muhammad Ainun Nadjib
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Apalagi?
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Copyright © menjadi Hilmy Nugraha
Theme by BloggerThemes & | Design by awfy