#10 : Surabaia



Surabaya bisa menjadi akhir perjalanan yang hebat. Pagi itu aku datang. Naik Kereta Penataran dari Malang. Kereta penuh oleh anak-anak Pasuruan dan Surabaya, seusai nonton konser musik semalam di Malang. Bau badan mereka mengalahlan bau badanku yang sama-sama tak mandi juga. Ya, mereka lebih busuk.

Tapi aku selalu tertarik dengan orang lokal. Kursi kamipun penuh. Tiga-tiga kami saling berhadapan. Aku suka mengamati cara berbicara mereka. Aku suka mengamati orang lain, apalagi di daerah baru. Di daerah yang baru pernah kujejaki. Gaya biacara mereka lucu. Mungkin karena aku jarang mendengarkannya. Pelan-pelan aku menterjemahkannya dalam diriku. Seakan ada kamus internal dalam diriku. Biar saja. Mata mereka kadang melirikku yang sedang asyik memperhatikan mereka. Anak-anak usia sekolah menengah, pikirku.

Oh ya, toh hari itu hari minggu. Bisa saja mereka menonton konser malam minggu, kemudian minggu pagi pulang, dan senin kembali ke sekolah.

Kereta Penataran memang murah. Malang-Surabaya ditempuh dengan perjalanan 2,5 jam dengan membayar tiket cukup 4000 rupiah. Sayang, dipagi itu aku capek bukan main. Semalam jalan bersama Adin hingga larut. Jadi, aku tak banyak melihat kanan kiri jalan. Tapi, pemandangan porong takkan terlewati. Ini yang penting, kata Azis.

Surabaya bisa jadi titik tolakku. Menuju ke sebuah sesuatu. Apa itu? Entah. Aku tak mau bercerita disini.

10 Mei 2011
06:04
Creep'in - Norah Jones
Rasanya ingin terbang saja! Cek Imel!

2 kata-kata:

yuanita handoko mengatakan...

nonton konsernya siapa?

Hilmy Nugraha mengatakan...

@nita, aku lagi maen aja nit..