Aku mencari batu di sela-sela Tuhan
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
aku membaca karena aku mewajibkan diriku untuk menulis
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Istri saya bercerita tentang gaya hidup dengan pola makan 'raw food'. Dimana pelakunya memakan makanan mentah, baik sayuran maupun buah-buahan. Ini dikarenakan tempat mereka tinggal, jauh dari sayur-sayuran dan buah-buahan segar. Mahal luar biasa. Makan daging setiap saat, dan makanan instan sebagai cemilan. Hancurlah itu pencernaaan dan rusaklah itu antibodi tubuh. Pada akhirnya, mereka perlu detoksifikasi dengan pola makan 'raw food' ini.
Disini? Hampir setiap hari kita bisa makan sayuran segar setiap saat, dan murah pula. Pencernaan kita kuat, tubuh kita kebal penyakit. Baru akhir-akhir ini kita melemah. Berbagai penyakit aneh muncul dimasyarakat. Padahal, jaman leluhur kita dahulu, itu tidak ada.
Diam-diam, orang barat mempelajari gaya hidup dan pola makan kita dan serius mengaplikasikannya di keseharian. Pelan-pelan pula, kira dijejali berbagai macam makanan instan yang justru menciptakan penyakit-penyakit aneh saat ini. Kalau seperti ini, apa bukan konspirasi global namanya?
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Dan tadi, sewaktu di pasar, saya ketemu beliau kembali. Masih dengan muka lucu dan rambut semi botaknya, berjalan bergaya seperti biasa. Tidak ngobrol tidak apa. Hanya saling tegur sapa.
Pak Ratno seorang sekuriti di lingkungan kampus saya. Saya kenal beliau sejak saya duduk SMK. SMK dan kampus saya satu lingkungan, bisa dibayangkan, 8 tahun tak beranjak dari suatu tempat yang notabene tempat mencari ilmu. Tapi tidak bosan bagi saya, kalau bertemu orang seperti Pak Ratno.
Dia manusia. Sangat manusia biasa. Itu mungkin yang jarang saya temui di kampus. Banyak orang berat menjadi manusia. Sibuk menjadi dosen, bangga menjadi kaprodi, asyik sendiri menjadi laboran. Dan lupa menjadi manusia biasa.
Saya bisa menghabiskan berjam-jam ngobrol dengan Pak Ratno, dan itu tak tentu temanya. Kuncinya satu. Saya jadi manusia dan diapun jadi manusia. Bukan anak kampus dengan sekuriti.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Raden Wisanggeni berwatak jujur, sederhana dan apa adanya. Ia juga berwatak pemberani, bersuara lantang tentang kebenaran dan keadilan.
Nama lainnya Raden Jajahsengara, Bambang Pulungganadewa, Raden Pangruwatdewa. Tidak mempunyai pusaka apapun. Kesaktian Raden Wisanggeni adalah kebal terhadap api dan senjata apapun. Tempat tinggalnya di Kahyangan Duksinageni atau Hargadahana.
Ayahnya adalah Raden Arjuna, ibunya Bathari Dresnala. Cucu dari Prabu Pandhu dan Bathara Rama. Teman dekatnya adalah Raden Antasena. Akhir hidupnya adalah dengan cara mokswa, mati bersamaan dengan hilangnya raga.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Kondisi petani makin memprihatinkan. Untuk mendapatkan pupuk itu sulit. Hanya toko-toko tertentu yang menjualnya. Dan hanya petani daerah itu saja yang boleh membelinya. Syaratnya KTP daerah tersebut. Yang repot pas di toko itu sedang tidak ada kiriman pupuk, lha ini musti mupuk pakai apa? Itu adalah pupuk subsidi negara. Kalau beli yang bukan subsidi harganya selangit bukan main. Pemerintah niat membantu, tapi pelaksanaannya tetep saja menyusahkan petani.
Pak Tani yang saya ajak ngobrol itu, musti cari pupuk sampai Purbalingga, biar tanamannya tetap terpelihara dan tumbuh subur. Harga tinggi, distribusi tidak merata, kapitalisasi subsidi. Semua ditimpakan ke petani. Hebat memang sistem ekonomi kita. Petani dibuat tergantung sedemikian rupa, sampai tak berdaya kalau pemerintah tidak memberikan bantuan. Kemandirian yang ditiadakan.
Lantas, negara ngapain aja? Ketemu petani 5 tahun sekali.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Saya musti mengulang lagi pelajaran 15 tahun silam. Menyeimbangkan otak dengan otot. Intuisi dengan respon. Reflek dengan keputusan. Saya mengulang kembali.
Saya agak lupa melempar bola. Sedikit lambat reflek menangkap bola. Dan berkurang kesaktiannya dalam hal melompat. Terlebih melihat ukuran perut saya yang semakin berkembang.
Tapi setengah jam selepas itu, saya gembira bukan main. Saya masih diberi kesempatan bergerak bebas. Tanpa rasa sulit. Saya masih bisa bermain basket, meski terakhir kali bermain itu 5 tahun yang lalu.
Saya mantapkan. Musti rajin-rajin bergerak. Kata orang untuk menjaga kesehatan. Bagi saya yang utama, agar tak gampang sakit. Sama saja.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Tirakat. Kuncinya cuma satu. Mbedal, nekad. Mengiba ke Tuhan, jalan prihatin. Bisa lewat puasa, sholat malam, ziarah, tapa kungkum, dan sebagainya.
Keprihatinanmu itu setoran ke Gusti Allah. Nek wes setoran, kowe lewih gampang lhe njaluk.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Pasar diciptakan benar-benar bebas. Tak ada regulasi. Hanya ada satu aturan. Yang bermodal bisa menguasai pasar. Asal punya kertas bergambar pahlawan cukup banyak. Pasar bisa dikondisikan.
Hari ini bisa ramai obat cacing, besok orang-orang menyerbu handphone layar sentuh, lusa dibuat saja motor sporty jadi tak sepi. Semua bisa diatur. Obat cacing, handphone, motor sporty tiba-tiba jadi barang primer. Mengalahkan beras dan ikan asin.
Orang-orang yang menguasai pasar cukup itu-itu saja. Hanya akar dibawah banyak. Dibuat banyak. Agar ramai dan kelihatan banyak. Padahal, mau beli kemanapun, yang untung tetap orang itu-itu saja.
Pembeli musti bekerja mati-matian mendapatkan kertas bergambar pahlawan. Diilusikan, tanpa kertas itu mereka tidak bisa hidup. Karena hidup itu adalah gaya, gengsi, eksis dan nomor satu. Setelah kerja setengah mati, dapat kertas, lalu segera tukar dengan hidup itu tadi. Termakan gambar-gambar menarik yang sudah diolah sedemikian oleh penjual.
Lalu dimana letak pangreh praja? Pemerintah?
Tidak ada pemerintah. Yang ada panitia pasar bebas. Ambil untung sedikit dari penyelenggaraan kegiatan. Lalu diam diujung ruangan, minum kopi dan baca koran.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Tanggung jawab jadi ibu berat sekali. Musti pegang anak 24 jam. Ngurus kebutuhan rumah, suami dan anak. Masak, bebersih rumah. Melayani rumah. Saking beratnya, enak kerja di kantor. Pulang beres.
Apa yang mereka cari? Pelarian hidup? Gengsi gaya hidup? Jenuh dirumah? Sayang akan titel sarjana? Ibu dirumah tidak keren? Karir adalah segalanya? Kemandirian?
"Tapi kamu lupa Hil, hidup itu berlapis-lapis. Itu kamu hanya satu lapis saja melihatnya. Bagaimana jika memang ibu harus bekerja, karena suaminya tidak bisa diandalkan? Gugur sudah semua teorimu.", kata teman saya.
Iya, bisa jadi.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Momentum apa artinya? Saya sendiri masih mencari jawabnya.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Selain itu juga tentukan apa yang mau saya tanam. Wortel, sawi, kangkung, bayam, tomat, brokoli, kembang kol, caisim, terong, cabai atau semuanya. Masing-masing berbeda sentuhannya.
Pilih juga mau belajar dengan siapa. Lewat buku? Internet? Atau pakarnya langsung? Bisa pilih salah satu atau kombinasi.
Yang terpenting justru malah motivasinya. Mau apa?
Yang jelas, penghematan, kemandirian dan saya percaya menanam itu menghaluskan hati, memdekatkan diri ke Tuhan.
Melihat tunas tumbuh, batang memanjang, daun menjulur, akar menancap, buah berkembang. Apalagi kalau tidak melihat Tuhan?
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Tapi kita iseng melihat keseriusan Tuhan.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Jakarta sudah habis.
Hilmy Nugraha
@hilmyhilmyx
- sent from my Lenovo Android
Copyright © menjadi Hilmy Nugraha
Theme by BloggerThemes & | Design by awfy