Bau Mulut

Kita selalu saja menghindar bau mulut orang lain, apalagi kalau orang itu baru saja mengkonsumsi petai dan sebagainya. Meskipun dalam agama ada hadist yang mengatakan bau mulut orang yang berpuasa itu seperti minyak kesturi. Tapi toh, tetap saja bau. Dan minyak kesturi seperti apa itupu sampai sekarang kita tidak ketahui eksistensinya.

Tapi ada yang lain di saya. Saya suka sekali bau mulut Bumi. Pas dia bangun tidur, saya hirup dalam-dalam bau mulutnya. Pas baru mimik susu, saya cium mulutnya. Habis makan pendukung ASI, saya kembali lagi menghirup bau mulutnya.

Dan memang berbeda. Tetap wangi. Bisa jadi karena mungkin belum makan apa-apa. Tapi sebenarnyapun sudah makan apa-apa. Tapi kenapa tetap wangi dan baunya enak?

Bisa jadi juga, bayi tidak pernah serakah. Dia memakan hanya kebutuhannya saja. Teratur dan beradab. Cukup berbeda dengan kita yang dewasa yang makan apa saja tidak tahu aturan. Sehabis makan sate kambing lantas minum jus alpukat, cemilannya mendoan. Pulang dari warung mampir beli martabak dan es cincau atau milkshake.

Kalau demikian, mana yang lebih beradab? Padahal katanya kita sudah cukup dewasa.
Sedang untuk menahan diri saja sulit bukan main.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Bunyi Berbunyi

Salah satu sesi workshop kemarin adalah membahas strategi yang akan digunakan untuk para musisi Purbalingga untuk gerakan Maiyah. Pak Toto menjelaskan bahwa, yang utama pemusik itu sanggup memberikan nuansa pada setiap acara yang diiringinya. Melalui musik itu, bisa tercipta kekhusyukan, kedalaman, kesegaran, hiburan hingga humor. Itu semua harus bisa dilakukan. Tugas utama musisi melayani pendengar.

Dan bentuk konkritnya, mereka diminta mendengarkan musik yang diberikan oleh Pak Toto sebanyak 5.7 Giga. Atau sekitar 1000 lagu dengan file mp3. Dicari nuansanya. Adaptasikan dalam musik sendiri. Bukan mencontoh secara letter lux, tapi ambil saja nuansanya.

Ini semua yang dilakukan Kiai Kanjeng selama ini.

Pada Bumi, pelan-pelan saya mengkayakan hati telinganya. Nuansa pendengarannya. Pagi ini bisa saya dengarkan Queen, "Don't Stop Me Now", esok Michael Bubble, "Home", beberapa kali gitaran etniknya Dewa Budjana dan Balawan. Pernah Gugun Blues tapi agak ritmik juga. Kadang Norah Jones, biar agak lompat nge-jazz n trendy. Lebih sering tentunya Kiai Kanjeng, sama Wiridannya Simbah.

Eh, salah satu threatment saja. Mengkayakan ruang dengarnya.

Dan kalau itu suara dibikin-bikin, atau buatan, lebih substansi juga mengenalkan suara ayam belakang, suara air kala hujan turun, suara air mengalir disawah, suara burung milik kakung, suara traktor disawah pinggir rumah.

Dan pelan-pelan itu mengantarkan telinga batinnya mendengarkan suara yang Sejati.
Dia Yang Sejati.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Motivasi

Diam-diam yang membaca blog saya, ada juga. Mungkin tak banyak, tapi ada. Padahal, saya sendiri malah ndak pernah membukanya, melihat tampilannya, edit layout, tambah widget, atau malah menganalisis pengunjungnya. Saya cukup asyik dengan fasilitas blogger yang bisa mengirim tulisan atau posting melalui email.

Meski pembaca blog saya bisa dijadikan motivasi saya untuk terus menulis, tapi saya juga musti menemukan motivasi paling dalam di diri saya. Masa iya, manusia cuma bisa semangat kalau ada faktor eksternal, sedang faktor internalnya tidak kuat. Wah, kok payah sekali saya.

Akhirnya ya, ketemu juga. Saya memang sedang serius menstrukturkan kembali cara berfikir saya melalui tulisan. Ssya mau merangkum semua hasil baca, melihat kondisi, diskusi dengan istri dan teman, berguru kepada sesepuh dalam bentuk tulisan, meski masih pendek-pendek.

Pernah saya bayangkan, kalau 10 tahun kemudian saya membaca alur berfikir saya dahulu dalam tulisan blog saya ini, saya bakal ketawa ketawa sendiri. Pernah juga saya berfikir demikian. Dan itu tertuliskan semua.

Sebuah proses berfikir.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Film

Puluhan judul film sudah saya kopi. Ah, banyaknya. Tak cukup setengah tahun menghabiskannya.

So, memproduk juga dong, jangan hanya mengkonsumsi. Minimal menulis resensi, refleksi, apresiasi atau apalah.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

mematematika

Simbah bilang, matematika itu ilmu paling suci, paling jujur, paling tauhid.

Bagaimana tidak, didalamnya semua harus dijawab dengan jujur. Satu tambah satu sama dengan dua. Empat pangkat dua sama dengan enam belas. Dan kita tidak bisa mereka-reka jawabannya.

Jujur itu suci.

Lantas, jika demikian, apa iya matematika bukan pelajaran agama? Pelajaran tauhid?


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Belum Masuk Akal

Saya tidak tahu, kalau sebenarnya ada beberapa sajian seperti teh pahit, wajik, kembang, rokok klobot dipojok warung Asli, kutowinangun itu adalah kesukaannya leluhur yang punya warung.

Saya juga tidak tahu, kalau ada rokok mild, jenang n kembang disamping rumah kang Jumad, karanggambas juga merupakan sajian klangenan leluhur yang punya rumah.

Sesaji, sajen. Apa ini sebenarnya? Klenik?

Apa iya, sesuatu yang tidak bisa kita wadahi lantas kita tiadakan eksistensinya? Apa iya, kalau sesuatu belum masuk akal bagi kita, lantas kita tidak percaya kebenarannya? Kenapa kita percaya benar rumus matematika, meski kita enggan membuktikannya?

Jangan-jangan, wadah kita yang memang belum mampu menampung semua logika berfikir atas apa yang kita anggap belum atau tidak masuk akal. Ini yang selalu Tuhan katakan. Kita diminta untuk berfikir. Mencari tahu.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Perut Buncit

Perut Buncit

Seharian ini saya ngendong ke sebuah instansi pemerintahan. Dan kemudian saya mengaplikasikan dengan cepat sebuah pelajaran yang kemarin dititiskan langsung oleh Pak Toto, yaitu riset.

Diam-diam, saya meriset pegawai-pegawai disana. Dan lebih spesifik perutnya. Alhasil, saya menghitung, lebih dari 70 persen pegawai mereka berperut buncit.

Ada apa ini? Sebenarnya?
Teman saya pernah bilang, kalau pegawai berperut buncit itu cenderung melakukan korupsi. Ah, siapa bilang. Saya belum percaya.

Mungkin ini bisa jadi riset berikutnya. Apa hubungan perut buncit dengan korupsi. Wong saya saja juga agak membuncit juga. Lha piye?


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Door!

kita dan Tuhan itu seperti permainan petak umpet. Tuhan maunya tidak ketahuan, meskipun dekatnya minta ampun. maunya ngumpet, sembunyi dibalik kejadian. tugas kita sebenarnya mencari dia, dimanapun, sampai ketemu. Tuhan menghargai orang yang mencari dan terus mencari.

Tuhan nongol ketika kita putus asa.
Door!

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Pura-pura Beragama

Diam-diam kita pura-pura beragama. Ngomongnya menyembah, padahal beli pahala. Ngomongnya cinta pada Rasul, padahal cari untung uang. Ngomongnya peduli sesama, padahal mau menikam dari belakang.

Sholat masih cari pahala, apa ini keikhlasan? Ini dagang. Mengikuti shunah biar dibilang islam, apa ini cinta? Ini materi. Bantu orang lain biar hidupmu juga enak, apa ini pengabdian? Ini transaksi.

Lah yang bener gimana?
Cari agama baru?
Yang salah bukan agamanya, tapi diri kita sendiri.
Kita terlampau sibuk beragama, tapi lupa bertuhan.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Pesen Simbah Nggawe Semangat

'Silaknas' Maiyah spt di Purwokerto ini sudah bbrp kali diselenggarakan (di Kaliurang, Yogya, Menturo, Puncak dll) dengan pola pandang yg berbeda atau berkembang, di tengah era zaman yg juga berbeda2. Salah satu dimensi pemikiran yg belum tuntas dan 'bersih' adalah mindset yg mengandaikan sukses/gagalnya Maiyah diassosiasikan atau diidentikkan dg yg dicapai oleh Munas Parpol, Muktamar Ormas, Rapat Gelap Revolusi, dst -- di kutub lain ada yg berpandangan sebagaimana konsep Ratu Adil atau Tukang Sulap Pengubah Peradaban.
( Mbah Nun )


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Nggaya

Jebul-jebul, saya ini ndak bisa gambar beneran. Padahal kalau di deskripsi twitter atau yang lain saya ini "membaca, menulis dan menggambar". Sebuah slogan menarik untuk pendidikan dasar. Haha, jadi selama ini cuma omong doang. Corat coret pinsil tak pernah berbentuk. Doodle ora telaten. Milih warna kacau. Desain lebih acakadut.

Dan jebul-jebul lagi, saya ini ndak bisa nyanyi. Padahal gaya sudah macam vokalis Letto, rambut gondrong, selalu pakai jins n kaos oblong. Pakai aksesoris tanbahan. Tapi yo, nek nyanyi suaranya blero. Musiknya ngalor, vokal saya ngidul. Nada tinggi rendah ndak pernah pas. Masuk lagu salah. Lah yo piye ki?

Tapi terus, apa saya musti putus asa dalam hidup?

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Uang Masjid

Apakah anda bisa menyebutkan kas masjid di daerah anda? Berapa ratus ribu? Berapa juta? Berapa puluh juta? Atau bahkan berapa ratus juta?

Hebat? Luar biasa? Keren? Fantastik? Atau bahkan memprihatinkan?

Coba lihat radius 100 meter disekitarnya. Sudah beres semua?

Ah. Masih banyak PR, nampaknya.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Takhayul Modern

Orang jaman dulu bisa menganggap duduk di pintu membuat jodoh sulit bertemu, atau bisa juga menunjuk gunung dengan jari telunjuk membuat gunung meletus. Bagi mereka itu sebuah keyakinan pasti. Tapi bagi kita sekarang, itu adalah takhayul.

Takhayul adalah kita percaya dengan dongeng-dongeng yang diciptakan oleh orang yang berkepentingan agar kita yakin terhadapnya.

Jika dengan semua dongeng di atas kita tidak percaya karena itu tidak logis, lantas apakah semua yang terjadi di zaman modern ini lebih logis untuk dipercayai?

Kita melihat shampo, apa iya barang tersebut membuat kita lebih tampan lebih cantik? Kita melihat krim pemutih, apa iya barang itu membuat kita menarik? Apa yang menarik itu yang kulit putih? Apa yang cantik itu yang rambut lurus? Itu hanya contoh kecil.

Apa ini bukan takhayul namanya? Lantas, siapa sebenarnya yang berkepentingan menciptakan dongeng-dongen ini?

Tugas kita mencari, niteni. Dan mematahkan takhayul modern ini.


Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Hari Kesembilan

Melihat presentasi Pak Toto Rahardjo kemarin tentang Suku Boti, ada baiknya, kita bikin hari sendiri. Dan bikin planning perencanaan apa yang akan dikerjakan besok, serta evaluasi apa yang sudah kita kerjakan kemarin.

Nampaknya ini konsep bagus. Apalagi bisa diterapkan ke keluarga. Ya ya ya.

Bisa dicoba.

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android

Bung Sambung

Tersambungnya Mas Jumad, toko material, orang kaya di Karanggambas, Abdurahman bin Auf-nya Maiyah Purbalingga dengan Pak Toto, atas Difa-nya. Teknologi penstabil tanah, membuat jalan tanpa pasir, membuat bata tanpa dibakar.

Tersambungnya Mas Nael, tokoh pemuda Karangklesem, pembaharu pendidikan di desa dengan Pak Toto melalui konsep pendidikan manusianya. Memanusiakan manusia, belajar meriset kasunyatan.

Teraambungnya Pak Onos, pemilik sawah 14 hektare di Kroya dengan Pak Toto melalui Cak Dil, Jamaah Residu Nol, ahli silaturahim, ribuan ide ada dalam pikirannya.

Tersambungnya kita semua, Maiyah Juguran Syafaat dengan Pak Toto, suhunya pergerakan Indonesia.

Apalagi yang lebih membahagiakan?

Hilmy Nugraha

@hilmyhilmyx

- sent from my Lenovo Android