kaos keren

paling juga sama saja

paling juga sama saja,
sekarang ingat,
esok lupa,
sekarang senggang,
esok sibuk kembali,
ah,
harusnya kau memang tak berharap.

jadilah

jadilah salah satu,
penasehat atau pemimpin dalam satu organisasi!

kedua duanya adalah punya wibawa kepemimpinan...



kata Om Sys Maryono Teguh

Speed Of Sound




How long before I get in
Before it starts before I begin
How long before you decide
Before I know what it feels like
Where to, where do I go?
If you never try, then you'll never know
How long do I have to climb
Up on the side of this mountain of mine

Look up, I look up at night
Planets are moving at the speed of light,
Climb up, up in the trees
Every chance that you get is a chance you seize
How long am I gonna stand
With my head stuck under the sand
I'll start before I can stop
Before I see things the right way up.

All that noise and all that sound
All those places I had found
And birds go flying at the speed of sound
To show you how it all began
Birds came flying from the underground
If you could see it then you'd understand

Ideas that you'll never find
All the inventors could never design
The buildings that you put up
Japan and China all lit up
A sign that I couldn't read
or a light, that I couldn't see
Some things you have to believe
But others are puzzles, puzzling me

All that noise and all that sound
All those places I had found
And birds go flying at the speed of sound
To show you how it all began
Birds came flying from the underground
If you could see it then you'd understand
Oh, when you see it then you'll understand


All those signs I knew what they meant,
Some things you can invent
Some get made and some get sent ooh-ooh

And birds go flying at the speed of sound
To show you how it all began
Birds came flying from the underground
If you could see it then you'd understand
Oh, when you see it then you'll understand.

masuk surga

Kemarin ada kajian menjelang tarawih bareng Ustadz Muhibin Bahrun Lc. Beliau bercerita hal yang menarik yang pernah disampaikan Nabi, "Kita masuk surga, itu sebenarnya bukan karena amal-amal kita, tapi karena rahmat-Nya",
Bener banget nih. Amal kita mah gak ada apa-apanya. Kalopun masuk surga, harus banyak nebus dosa yang terus menerus kita lakukan tiap hari yang kadang kita gak sadar. belum amal kita yang pas-pasan. Surga gak kebayar deh.

Nabi Adam aja ngelakuin satu kesalahan dikeluarin dari surga. Apalagi kita? Ngelakuin banyak banget kesalahan n dosa tiap hari. Hufh, Irhamna Ya Rohman..,

Dan yang menarik lagi, ketika Nabi menyampaikan berita ini para sahabat bertanya, "Bagaimana dengan anda Ya Rasul?",
dan Nabipun menjawab,"Termasuk aku".

Irhamna Ya Rahman.

Tak ada hal yang lebih baik daripada kita muhasabah dan memperbaiki diri kita setiap waktu. Insya Allah...

yang

Yang sekuat Aisha, yang sesabar Nayla, atau bahkan yang sepatuh Anna..


mana?

mana resensinya hil?

berat banget kayaknya mau mulai nulis.
gak mesti haru bagus dulu.
yang penting nulias dulu.
perkara bagus nggaknya sih proses.
yang penting ditulis dulu.
kalo gak ditulis ya gak bakal tau kan?
bagus nggaknya...

Daftar Partai-Partai Yang Akan Memangkas Kewenangan KPK

Note :
Maaf, artikel ini agak keras. Tulisan ini berdasarkan referensi artikel Harian Kompas, Kamis 17 September 2009, "Demokrat Berubah sikap". Apabila ada diantara anda yang kurang setuju dengan tulisan ini atau memiliki argumen yang berbeda, silakan tuliskan komentar anda sepuasnya di link Comments di bawah artikel. Salam.


"Korupsi, sudah menjadi seni dan bagian budaya bangsa"
Bung Hatta, 1970

Di pemilihan Ketua KPK 2007-2011 di DPR 2007 lalu ada dua calon ”terkuat”.

Pertama, Chandra Hamzah, pengacara yang lebih banyak mengurus masalah perdata, dan yang kedua, Antasari Azhar. ”Terkuat” karena merekalah yang diduga akan dipilih DPR, justru karena dianggap paling lemah visinya untuk pemberantasan korupsi. Calon ”terkuat” lainnya adalah Bibit Samad Rianto, polisi yang samasekali tidak pernah menangani kasus korupsi dan malah diduga pernah menerima ”pemberian” untuk pembangunan rumahnya.

Dua tokoh yang dianggap paling berani, Amien Sunaryadi, Wakil Ketua KPK sebelumnya, pilihan ICW dan pernah menjabat Senior Manager di PricewaterhouseCoopers, dan Surachmin, Inspektur pengawasan BPK yang mengusulkan koruptor diatas 1 Milyar dihukum mati, justru langsung terdepak dari pemilihan Ketua KPK di DPR tahun 2007 itu.

Yang paling kontroversial tentu saja adalah Antasari Azhar, berkaitan dengan tindakannya yang tidak mengeksekusi 32 anggota DPRD Sumbar yang telah divonis bersalah korupsi oleh MA, juga kelambanannya dalam eksekusi Tommy Suharto yang menyebabkan Tommy kabur. Tapi justru karena itulah banyak pihak menduga Antasari akan dipilih oleh partai-partai besar di DPR itu.

Dan betul saja, akhirnya, dua partai terbesar bahu-membahu memilih karakter yang paling kontroversial itu. Partai besar yang mengangkat Antasari itu adalah :

1. Partai Golkar.
2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, PDIP.

Source : Republika, "Skenario Pembubaran KPK Sejak Antasari Terpilih".

Seperti diketahui umum, banyak kader dari partai-partai terbesar itu yang ditangkap karena diduga korupsi. Misi mereka sukses, Antasari terpilih menjadi pemimpin KPK. Tapi lucunya, Antasari justru jadi begitu aktifnya memberantas korupsi. Dan partai-partai yang memilihnya pun beranggapan Antasari sudah tidak sesuai dengan visi dan misi DPR karena "terlalu aktif" memerangi korupsi.

Di tahun 2009 ini, setelah serangan bertubi-tubi terhadap KPK dari lembaga-lembaga yang dinilai paling korup di mata masyarakat, DPR juga berusaha untuk memotong lagi wewenang KPK, yaitu wewenangnya melakukan penuntutan (RUU Pengadilan Tipikor).


Dan partai-partai yang mendorong pemotongan wewenang strategis KPK itu adalah :

1. Partai Golkar.
2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, PDIP.
3. Partai Amanat Nasional, PAN
4. Partai Damai Sejahtera.
Sumber : Kompas Cetak, "Demokrat Berubah Sikap", 17 September 2009.

Sedangkan Partai-Partai Yang Menolak penghapusan wewenang penuntutan KPK :

1. Partai Keadilan Sejahtera.
2. Partai Demokrat.
3. Partai Kebangkitan Bangsa.



http://imperiumindonesia.blogspot.com/2009/09/daftar-partai-partai-yang-akan.html

kata Bang Dik

kamu harus kenali dulu dirimu, tahu apa yang kamu lakukan. dan kamu musti mengenali tempat dimana kamu berada


sip bang!

laksanakan....

Kangen Neysa

besok pulang

insya Allah,

ibu, bapak, mbak, mas, Neysa..

aku pulang..

rinduku tak tertahankan...

Semoga tak hilang...

banyak sekali ilmu kemarin,
Ustadz Toha, Ustadz Sofyan, Ustadz Saarif, Ustadz Heru, Akh SAlim, Mas Anif,

hm.
belum sempat kurekam.

Semoga tak hilang...

Sergapan Rasa Memiliki

..milik nggendhong lali..
rasa memiliki membawa kelalaian
-peribahasa Jawa-

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

***

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.
Ya. Di jalan cinta pejuang, hakikat ini akan kita asah. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya..

taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/ Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki/…

by Salim A. Fillah




nb : Ya Rabb, berikanlah kesabaran padaku sama seperti Salman Al Farisi....

Hampir Berlalu

Banyak hal yang memang harus berlalu, seperti hal ini juga. Berasa dipondok rasanya. Bergabung dengan banyak teman. Dari Purwokerto saja, Brebes, Solo, Aceh, Riau, Purbalingga dan sekitarnya. Yang menarik bagi saya selalu saja semangat merak yang menyala-nyala mencari ridhaNya. Padahal saya liat mereka sudah berumur. Diatas 40 tahun. Ya, iman harus terus dipupuk. SUpaya kita percaya, atau lebih tepatnya "lebih" percaya akan janji-janjiNya. Yang akan memeberi kebahagiaan duni akhirat jika kita bertaqwa padaNya. Ah, selalu saja aku ingin semua tak berlalu. Tapi sebentar lagi lebaran. Gak ada jaminan tahun depan saya bisa seperti ini lagi.


Semoga Allah selalu memelihara niat saya. Niat saya bercerita, niat saya menulis dan niat saya berbagi...

10 hari ini

insya Allah, menambah saudara, guru, dan kekuatan hidup...