Ada dua nama yang selalu hadir bersamaan dalam benakku ketika berbicara tentang kemanusiaan yang sejati — Ahmad Tohari dan Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Cak Nun. Keduanya lahir dari rahim yang sama: tradisi, tanah Jawa, dan kepedulian yang dalam terhadap manusia-manusia kecil yang sering luput dari perhatian sejarah.
Tapi jalan yang mereka tempuh sungguh berbeda.
Perkenalan itu tidak datang dari bangku kuliah, tidak dari rekomendasi guru, tidak dari daftar bacaan wajib. Ia datang dari seorang kawan — teman SMK-ku yang dengan santainya menjejali tanganku dengan sebuah novel. "Baca ini," katanya. Ronggeng Dukuh Paruk. Aku kelas satu SMK waktu itu, dan sama sekali tidak siap untuk apa yang menungguku di balik halaman-halamannya.
Ahmad Tohari memilih kesunyian. Ia duduk di Banyumas, jauh dari hiruk pikuk ibu kota, dan menulis. Dengan sabar, dengan teliti, dengan kasih sayang yang tak pernah terasa menggurui. Ronggeng Dukuh Paruk bukan sekadar novel — ia adalah kesaksian. Tentang Srintil, tentang Rasus, tentang sebuah dukuh kecil yang dihempas oleh sejarah yang terlalu besar untuk mereka pahami. Tohari tidak pernah berteriak. Ia berbisik. Tapi bisikannya menembus dinding-dinding yang paling tebal. Dan dari novel itulah aku pertama kali benar-benar percaya — bahwa sastra sungguh indah, dan bahwa ia bisa memanusiakan siapa saja yang mau membacanya dengan hati.
Kawan yang sama pula yang membawaku ke dunia Cak Nun. Kali ini bukan buku, tapi musik. "Coba ini, boi. Keren sekali." Kiai Kanjeng. Alunan yang aneh tapi menyentuh, memadukan gamelan dan hal-hal yang tidak terduga, membawa suasana yang terasa seperti doa sekaligus perayaan. Aku tidak langsung paham semua yang ada di dalamnya — tapi aku merasakannya. Dan perasaan itu cukup untuk membuatku ingin tahu lebih jauh.
Sampai akhirnya kami pergi ke Jakarta bersama — menonton Teater Nabi Darurat Rasul Adhoc dan konser musik Kiai Kanjeng. Malam itu adalah salah satu malam yang tidak mudah aku lupakan. Cak Nun hadir bukan sebagai orang yang berdiri di atas panggung untuk dilihat, tapi sebagai seseorang yang turun ke tengah — berbicara, bercanda, menohok, memeluk semuanya sekaligus dengan kata-kata. Ia berbicara bersama rakyat, bukan tentang rakyat. Dan di ruangan itu, tidak ada yang merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain.
Di sinilah persentuhan itu terjadi — bukan dalam sebuah pertemuan fisik antara Tohari dan Cak Nun, bukan dalam sebuah kolaborasi yang tercatat, tapi dalam sesuatu yang jauh lebih dalam: kesamaan keyakinan bahwa manusia biasa layak untuk didengar, dirayakan, dan dibela.
Tohari melakukannya dengan kalimat-kalimat yang pelan dan cermat, membangun dunia dari detail-detail kecil yang orang lain anggap tak penting — cara seorang perempuan desa berjalan, bagaimana bau tanah setelah hujan, getaran batin seseorang yang sedang patah tapi tidak tahu cara mengatakannya. Cak Nun melakukannya dengan energi yang meluap, dengan humor yang tiba-tiba berbalik menjadi renungan, dengan keberanian untuk mengatakan hal-hal yang orang lain enggan ucapkan di depan umum.
Satu sunyi, satu riuh. Tapi keduanya menolak satu hal yang sama: menganggap manusia biasa sebagai latar belakang.
Bagi Tohari, petani, ronggeng, dan orang-orang pinggiran adalah protagonis — bukan simbol, bukan alat propaganda, tapi manusia utuh dengan luka dan harapan yang nyata. Bagi Cak Nun, wong cilik bukan objek belas kasihan — mereka adalah subjek peradaban, pemilik kearifan yang sering kali lebih jujur dari mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Dari keduanya aku belajar bahwa kemanusiaan yang mendalam tidak selalu lahir dari retorika yang besar. Ia lahir dari kesediaan untuk turun — turun ke dalam kehidupan orang-orang yang tidak punya panggung, tidak punya suara yang didengar, tidak punya nama yang diingat. Dan dari sana, menyuarakan mereka — entah lewat halaman-halaman novel yang sunyi, entah lewat malam-malam panjang di bawah langit terbuka.
Dan aku — yang pertama kali mengenal keduanya bukan dari ruang kelas tapi dari seorang kawan yang dengan caranya sendiri juga menyuarakan hal-hal yang baik — bersyukur bahwa persentuhan itu terjadi. Bahwa ada orang-orang seperti Tohari dan Cak Nun di dunia ini. Dan bahwa ada kawan-kawan yang mau berbagi dunia mereka denganmu, bahkan ketika kamu belum tahu betapa berharganya pemberian itu.
Dua jalan yang berbeda. Tapi muaranya sama: manusia, dalam segala keperihan dan keindahannya, adalah hal yang paling layak untuk diperjuangkan.

0 kata-kata:
Posting Komentar