Kepercayaan kita terhadap gelar kini rapuh. Banyak orang menatap seorang “pakar” dengan skeptis, karena nyatanya sebagian gelar dibeli, bukan diperoleh dari perjuangan dan penguasaan ilmu. Ironis. Apa artinya gelar kalau hanya hiasan di dinding, tanpa makna dalam tindakan nyata?
Fenomena ini tak hanya soal akademisi. Influencer, public figure, dan opini populer sering dipuja-puji, meski mereka tak memiliki kepakaran mendalam. Popularitas menjadi standar baru. Banyak yang lebih percaya kata-kata yang viral, bukan argumen yang berbasis keilmuan. Masyarakat tersesat dalam gemerlap citra, lupa menimbang substansi. Akibatnya, opini dangkal kadang lebih berpengaruh daripada ilmu sejati.
Matinya kepakaran ini membawa konsekuensi serius. Informasi mudah dipoles, fakta diputarbalikkan, dan masyarakat kehilangan referensi yang dapat diandalkan. Orang sulit membedakan antara ahli yang benar-benar menguasai bidangnya dan yang hanya tampil meyakinkan di layar. Kepakaran tak lagi menjadi cahaya penuntun, tapi kadang hanya latar belakang hiasan bagi popularitas semata.
Di sinilah ilmu Maiyah menawarkan perspektif berbeda. Kepakaran sejati bukan sekadar gelar atau pengakuan publik. Menjadi ahli adalah fadhilah: kemampuan yang lahir dari ilmu dan pengalaman, yang digunakan untuk menguasai rahmatan lil alamin. Seorang manusia all season bukan hanya pandai bicara, tapi mampu memberi manfaat nyata. Kepakaran sejati melahirkan kontribusi, bukan sekadar wacana. Ilmu yang diamalkan menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebaikan bagi banyak orang.
Kita perlu refleksi: apakah kita mengejar kepakaran untuk status atau untuk manfaat? Kepakaran yang bermanfaat tidak selalu populer. Tapi kepakaran yang diamalkan akan meninggalkan jejak. Gelar hanyalah simbol; fadhilah adalah bukti. Masyarakat yang menghargai kualitas, integritas, dan kontribusi nyata akan lebih selamat daripada yang tersihir popularitas semata. Kepakaran bukan sekadar prestise, melainkan tanggung jawab sosial dan spiritual—menjadi cahaya bagi orang lain, bukan hanya sorotan diri sendiri.

0 kata-kata:
Posting Komentar