Kalimat itu terdengar sederhana, tapi efeknya pelan dan dalam. Ia tidak berteriak, tidak menghakimi, hanya berdiri sebagai pengingat bahwa waktu berjalan tanpa peduli seberapa sibuk hidup kita. Banyak orang tua muda merasa masih punya ruang untuk menunda. Hari ini fokus kerja, besok menemani anak. Minggu ini capek, minggu depan diganti. Rasanya masuk akal. Padahal, di saat yang sama, anak tetap tumbuh, tetap berubah, tetap melangkah ke fase berikutnya tanpa menoleh ke belakang.
Dalam keseharian, anak sering terlihat baik-baik saja. Ia bisa bermain sendiri, menonton, atau sibuk dengan dunianya. Dari luar, semuanya tampak aman. Namun di balik itu, ada kebutuhan sederhana yang tidak selalu terucap. Anak ingin ditemani belajar, bukan karena ia tidak mampu, tapi karena ia ingin merasa ditemani. Ia ingin orang tuanya duduk di dekatnya, mendengar cerita acak, dan memberi perhatian utuh. Bukan setengah badan, bukan sambil menatap layar, tapi hadir sepenuhnya.
Bermain bersama juga bukan sekadar pengisi waktu luang. Bagi anak, bermain adalah bahasa cinta. Di sana ada tawa, ada imajinasi, ada rasa diterima. Saat orang tua ikut masuk ke dunia itu, anak merasa dipilih dan diprioritaskan. Pengalaman sederhana seperti memasak bersama, membersihkan rumah, atau membuat proyek kecil keluarga sering kali jauh lebih membekas daripada hadiah mahal. Begitu juga perjalanan bersama. Tidak harus jauh atau mewah. Yang penting kebersamaan terasa utuh, tanpa perhatian terbagi.
Quality time sering disalahartikan sebagai soal durasi. Padahal yang paling diingat anak adalah kualitas kehadiran. Beberapa menit dengan perhatian penuh bisa lebih bermakna daripada berjam-jam tanpa keterlibatan. Anak tidak menunggu orang tua siap secara mental, finansial, atau emosional. Ia tumbuh sekarang, di depan mata. Masa anak-anak itu singkat, tidak bisa diulang, dan tidak bisa diminta kembali. Ketika kita sadar, sering kali waktunya sudah lewat.
