Tuhan memang luar biasa.
Belum setengah tahun, sudah 70% resolusiku tercapai.
Apa karena resolusiku terlampau sederhana?
Semakin tua aku semakin realistis. Banyak pertimbangan.
Lebih banyak mengukur daripada sebuah spontanitas.
Ah, apapun itu, au wajib bersyukur.
tumbuh
Membuka blog ini, rasanya seperti mencium aroma petualangan semasa muda yang menggoda dan menggairahkan. Cinta monyet kala remaja. Kegalauan setengah-setengah masalah asmara. Pertentangan batin urusan Tuhan dan agama. Kegemaran menunjukkan minat baca. Atau bahkan sumpah serapah entah apa.
Disitu aku malu-alu. Tertawa kecil membaca semuanya. Namun itulah pentingnya dokumentasi, arsip dan sejarah.
Kita tahu bahwa kita tumbuh dan berkembang.
to be
Menjadi perangkat desa tak pernah ada dalam pikiranku. Urusan pekerjaan sosial dalam angan hanya sampai pada organisatoris massa, atau pendamping masyarakat. Menjadi birokrat? Pantang ada dalam pikiran.
Tapi nyatanya sekarang berubah. Menjadi tua dan berkebutuhan itu sebuah kepastian. Mempuyai keluarga dan tiga anak kecil menuntutku untuk banyak meninggalkan cita-cita, untuk sementara.
Menjadi perangkat desa. Menemukan apa yang tergariskan Tuhan untukku.
Tapi nyatanya sekarang berubah. Menjadi tua dan berkebutuhan itu sebuah kepastian. Mempuyai keluarga dan tiga anak kecil menuntutku untuk banyak meninggalkan cita-cita, untuk sementara.
Menjadi perangkat desa. Menemukan apa yang tergariskan Tuhan untukku.
bergegas
Lama aku tak bermain blog. Sibuk meluis cahaya dan pamer kepada dunia melalui Instagram. Atau lelah meracau di dunia kicauan Twitter. Sedang menulis, menjadi keahlianku yang lama-lama hilang. tertelan sang bayu.
Alasan tentu beagam. Laptop rusak. Sibuk kerjaan. Ada handphone canggih. Kegiatan di luar. Dan lain sebagainya. Padahal, semua bisa dimanajemeni.
Aku ingat dulu,bisa menulis blog begitu panjang hanya dengan handphone sederhana, semacam sony walkman w800, nokia n gage, dan lain sebagainya. Waktu itu, segalanya menjadi tak ada alasan. Semua tampak optimis di depan mata. Hidup realistis masih jauh rupanya.
Dan sekarang. Pelan-pelan, ku disiplinkan diri. Keras terhadap diri. Kejam terhadap pikiran. Ku tempa, hingga membentuk. Mumpung masih ada waktu.
Alasan tentu beagam. Laptop rusak. Sibuk kerjaan. Ada handphone canggih. Kegiatan di luar. Dan lain sebagainya. Padahal, semua bisa dimanajemeni.
Aku ingat dulu,bisa menulis blog begitu panjang hanya dengan handphone sederhana, semacam sony walkman w800, nokia n gage, dan lain sebagainya. Waktu itu, segalanya menjadi tak ada alasan. Semua tampak optimis di depan mata. Hidup realistis masih jauh rupanya.
Dan sekarang. Pelan-pelan, ku disiplinkan diri. Keras terhadap diri. Kejam terhadap pikiran. Ku tempa, hingga membentuk. Mumpung masih ada waktu.
#13 : Tentang Puisi
Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnyaWayan Sunarta
ditulis oleh
Hilmy Nugraha
Labels:
2011,
kompetisi blog,
puisi,
quote,
sastra,
wayan sunarta
0
kata-kata
#12 : Sajak Entah
Dan kupingit malam,
mematri bayangmu dalam do’a-do’a panjangku
mentasbihkan namamu di tiap serpihan kata,
membiarkanmu merebahkan diri dalam dzikirku,
menghalau galau yang menawan jiwamu,
agar kilau,
senantiasa terpendar di beningnya matamu
mematri bayangmu dalam do’a-do’a panjangku
mentasbihkan namamu di tiap serpihan kata,
membiarkanmu merebahkan diri dalam dzikirku,
menghalau galau yang menawan jiwamu,
agar kilau,
senantiasa terpendar di beningnya matamu
Derai Pinus di Limpakuwus
Perempuan pencari rumput
Lelaki tua pembawa kayu bakar
disiang itu matahari tak panas
menembus daun-daun pinus
tanah usai hujan semalam
rumput tumbuh tak terkendali
menuju sore kita bercengkeramungan hutan pinus limpakuwus
oh ya, segarnya aroma bunga pinus
ada bebas di dalamnya
ah ya, nikmatnya teduh derai pinus
ada sejuk di bawahnya
tabik,
Hilmy Nugraha
sent from my Mi
jika
jika rindu adalah samudra
aku ingin tenggelam karenanya
jika dendam adalah api
aku ingin memburu padamnya
jika cinta adalah langit senja
aku ingin mengejar ujungnya
jika sabar adalah cakrawala
aku ingin menyentuh batasnya
jika ikhlas adalah matahari
aku ingin menerima hangatnya
dan jika hidup adalah hutan belantara
aku ingin menjelajahi rimbanya
tabik,
Hilmy Nugraha
sent from my Mi
asumsi
asumsi
ku baca koran hari ini
isi berita dalam negeri
tak ada judul yang tak ngeri
nampaknya negeriku sedang frustasi
ku buka akun media sosial
banyak orang bicara membual
semua postingan membuatku mual
oh, negeriku menjadi hilang akal
saat ini kami berada di abad informasi
tapi untuk menyaringnya butuh yang jeli
saat ini kami bermandi asumsi-asumsi
tapi untuk membersihkannya perlu yang suci
ku temui orang-orang di pinggiran
mereka tersingkir tak terdepan
kata mereka, hidup semakin tak karuan
duh, negeriku tambah berantakan
tabik,
Hilmy Nugraha
sent from my Mi
menanam
sawah-sawah yang terurai
menjadi bangunan kokoh
tanah-tanah yang melapang
perlahan hilang
kebun-kebun di desa
ditanami beton
ladang-ladang yang luas
tumbuhlah gedung
oh, dimana kita harus menanam
sebiji jagung, kacang dan juga padpa iya, esok kita tak lestari
menanam itu harus di bumi
sungai-sungai mengalir
tercemar sampah kota
mata air dari gunung
surutlah sudah
tabik,
Hilmy Nugraha
sent from my Mi
kita bersama
ke pantai kita bersama
mencari kebijaksanaan
dari setianya angin dan ombak
meraba pasir dan batuan karang
mengajakku bermain riang
ke hutan kita bersama
memetik ide-ide segar
yang bergelayutan di pucuk daun
meringkuk manja menggeliat
mengintipku dari kejauhan
ke danau kita bersama
menggali ketenangan
pada air yang diam dalam sunyi
memahami takdir yang tersisa
meresapi arti keberadaan
ke sabana kita bersama
menikmati cakrawala
di ujung-ujungnya yang tak terbatas
meluaskan batin memandang
memungut serpih hamparan
tabik,
Hilmy Nugraha
sent from my Mi
sampah
kantong plastik bungkus apa saja
dibuang dienyah dengan sengaja
bercampur dengan dedaunan
dan sisa-sisa makanan semalam
wadah-wadah bahan dari plastik
mengisi tong sampah komplek
asal berbaur tak bisa didaur
berteman residu dari dapur
oh, sampah
semakin bertambah
lupa dipilah
tambah masalah
yang hijau bisa terurai
yang plastik takkan pernah usai
semua bisa mengaturnya
asal mau mempelajarinya
tabik,
Hilmy Nugraha
sent from my Mi
Langganan:
Postingan (Atom)

