res

Tuhan memang luar biasa.

Belum setengah tahun, sudah 70% resolusiku tercapai.

Apa karena resolusiku terlampau sederhana?
Semakin tua aku semakin realistis. Banyak pertimbangan.
Lebih banyak mengukur daripada sebuah spontanitas.

Ah, apapun itu, au wajib bersyukur.

tumbuh

Membuka blog ini, rasanya seperti mencium aroma petualangan semasa muda yang menggoda dan menggairahkan. Cinta monyet kala remaja. Kegalauan setengah-setengah masalah asmara. Pertentangan batin urusan Tuhan dan agama. Kegemaran menunjukkan minat baca. Atau bahkan sumpah serapah entah apa.

Disitu aku malu-alu. Tertawa kecil membaca semuanya. Namun itulah pentingnya dokumentasi, arsip dan sejarah.

Kita tahu bahwa kita tumbuh dan berkembang.

ya!

filipina
kuala lumpur
singapura
bangkok
jeddah
mekkah
madinah
dubai

to be

Menjadi perangkat desa tak pernah ada dalam pikiranku. Urusan pekerjaan sosial dalam angan hanya sampai pada organisatoris massa, atau pendamping masyarakat. Menjadi birokrat? Pantang ada dalam pikiran.

Tapi nyatanya sekarang berubah. Menjadi tua dan berkebutuhan itu sebuah kepastian. Mempuyai keluarga dan tiga anak kecil menuntutku untuk banyak meninggalkan cita-cita, untuk sementara.

Menjadi perangkat desa. Menemukan apa yang tergariskan Tuhan untukku.

bergegas

Lama aku tak bermain blog. Sibuk meluis cahaya dan pamer kepada dunia melalui Instagram. Atau lelah meracau di dunia kicauan Twitter. Sedang menulis, menjadi keahlianku yang lama-lama hilang. tertelan sang bayu.

Alasan tentu beagam. Laptop rusak. Sibuk kerjaan. Ada handphone canggih. Kegiatan di luar. Dan lain sebagainya. Padahal, semua bisa dimanajemeni.

Aku ingat dulu,bisa menulis blog begitu panjang hanya dengan handphone sederhana, semacam sony walkman w800, nokia n gage, dan lain sebagainya. Waktu itu, segalanya menjadi tak ada alasan. Semua tampak optimis di depan mata. Hidup realistis masih jauh rupanya.

Dan sekarang. Pelan-pelan, ku disiplinkan diri. Keras terhadap diri. Kejam terhadap pikiran. Ku tempa, hingga membentuk. Mumpung masih ada waktu.

#13 : Tentang Puisi

Puisi adalah ular kundalini yang semayam dalam diri setiap manusia. Adalah anugerah yang tidak ternilai. Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya

Wayan Sunarta

#12 : Sajak Entah

Dan kupingit malam,

mematri bayangmu dalam do’a-do’a panjangku

mentasbihkan namamu di tiap serpihan kata,

membiarkanmu merebahkan diri dalam dzikirku,

menghalau galau yang menawan jiwamu,

agar kilau,

senantiasa terpendar di beningnya matamu

Aku dan Ahmad Tohari

"Agama adalah hasil penafsiran atas wahyu"
- Ahmad Tohari

#10 : kami


jalan kita masih panjang.

Derai Pinus di Limpakuwus


Perempuan pencari rumput
Lelaki tua pembawa kayu bakar
disiang itu matahari tak panas
menembus daun-daun pinus

tanah usai hujan semalam
rumput tumbuh tak terkendali
menuju sore kita bercengkeramungan hutan pinus limpakuwus

oh ya, segarnya aroma bunga pinus
ada bebas di dalamnya
ah ya, nikmatnya teduh derai pinus
ada sejuk di bawahnya

tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi

jika

jika rindu adalah samudra
aku ingin tenggelam karenanya
jika dendam adalah api
aku ingin memburu padamnya
jika cinta adalah langit senja
aku ingin mengejar ujungnya
jika sabar adalah cakrawala
aku ingin menyentuh batasnya
jika ikhlas adalah matahari
aku ingin menerima hangatnya
dan jika hidup adalah hutan belantara
aku ingin menjelajahi rimbanya


tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi

asumsi

asumsi

ku baca koran hari ini
isi berita dalam negeri
tak ada judul yang tak ngeri
nampaknya negeriku sedang frustasi

ku buka akun media sosial
banyak orang bicara membual
semua postingan membuatku mual
oh, negeriku menjadi hilang akal

saat ini kami berada di abad informasi
tapi untuk menyaringnya butuh yang jeli
saat ini kami bermandi asumsi-asumsi
tapi untuk membersihkannya perlu yang suci

ku temui orang-orang di pinggiran
mereka tersingkir tak terdepan
kata mereka, hidup semakin tak karuan
duh, negeriku tambah berantakan


tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi

menanam

sawah-sawah yang terurai
menjadi bangunan kokoh
tanah-tanah yang melapang
perlahan hilang

kebun-kebun di desa
ditanami beton
ladang-ladang yang luas
tumbuhlah gedung

oh, dimana kita harus menanam
sebiji jagung, kacang dan juga padpa iya, esok kita tak lestari
menanam itu harus di bumi

sungai-sungai mengalir
tercemar sampah kota
mata air dari gunung
surutlah sudah


tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi

kita bersama



ke pantai kita bersama
mencari kebijaksanaan
dari setianya angin dan ombak
meraba pasir dan batuan karang
mengajakku bermain riang

ke hutan kita bersama
memetik ide-ide segar
yang bergelayutan di pucuk daun
meringkuk manja menggeliat
mengintipku dari kejauhan

ke danau kita bersama
menggali ketenangan
pada air yang diam dalam sunyi
memahami takdir yang tersisa
meresapi arti keberadaan

ke sabana kita bersama
menikmati cakrawala
di ujung-ujungnya yang tak terbatas
meluaskan batin memandang
memungut serpih hamparan



tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi

sampah

kantong plastik bungkus apa saja
dibuang dienyah dengan sengaja
bercampur dengan dedaunan
dan sisa-sisa makanan semalam

wadah-wadah bahan dari plastik
mengisi tong sampah komplek
asal berbaur tak bisa didaur
berteman residu dari dapur

oh, sampah
semakin bertambah
lupa dipilah
tambah masalah

yang hijau bisa terurai
yang plastik takkan pernah usai
semua bisa mengaturnya
asal mau mempelajarinya


tabik,

Hilmy Nugraha

sent from my Mi