#18 : Pada Sebuah Majelis


Orangnya tinggi, besar. Hidung mancung. Bersih parasnya. Kumis dan jenggotnya rapi. Jambangnya menyatu dengan kumis dan jenggot, tertata. Jubah putihnya bersih. Peci kecil menutupi kepalanya.

Ku dekati beliau. Kusalami. Kucium tangannya. Tetap wangi, meski sudah ratusan orang melakukan hal yang sama denganku. Bicaranya teduh. Santun. Kadang diselingi sedikit candaan yang membuat tertawa kami yang mendengar. Forum kami memang tidak formal sekali. Namun juga tidak hilang kekhusyukannya.

Suaranya merdu nian. Berkali-kali beliau membaca syair dan shalawat. Ah, nikmat sekali mendengarnya. Kali ini beliau membaca syair Burdah, karangan Imam Al bushiri. Melantunkan shalawat berulang kali. Imamar Rusli, Burdah, Padang Bulan, Ahmad Ya Habibi.

Kami seperti tak bosan mendengarkan lantunan ini. Seperti suara surga, kata mas Tufa disebelahku. Aku hanya tersenyum. Surga seperti apa juga aku belum tahu. Kata orang, harus mati dulu supaya bisa masuk surga, itupun jika nama kita ada di daftar absennya. Kami ikut bershalawat, melantunkan apa yang kuhafal. Teman-teman yang lain sudah hafal diluar kepala, ada beberapa yang membaca buku berisi catatan shalawat rutin.

Seusai hampir 2 jam kami melantunkan shalawat, kemudian snack datang. Bukannya apa-apa, ini bagian yang saya tunggu-tunggu dari tadi. Ya, sampai jam 10 malam ini, perutku belum terisi apapun dari pagi. Salahku juga sih. Beliau berbaik hati dan selalu berbaik hati. Menyediakan makanan ringan untuk tamu yang datang, meski yang datang jumlahnya ratusan. Sungguh, memuliakan tamu sekali.

Sambil menikmati santap kecil, kami mendengarkan isi tafsir dari Burdah. Menarik sekali. Banyak hikmah disini. Tentang nasihat, kebarokahan, teladan, dan lain sebagainya. Orang-orang yang hadir disini tak hanya dari sekitar daerah sini. Tapi juga dari mana-mana. Ada bahkan perlu 4 jam perjalanan untuk bisa menghadiri majelis ini. Dan kami, perlu 7 jam untuk sampai disini. Semata-mata karena undangan khusus dari beliau.

Ya, kami hadir di Majelis Rutin Mingguan, Habib Syeh bin Abdul Qadir Assegaf. Semanggi, Solo. Sungguh, sebuah pengalaman yang menyenangkan. Banyak hikmah.

4 kata-kata:

Anonim mengatakan...

ada acara bagus nggak ngajak2 nih.

Rizky mengatakan...

aku dijaki ora kiyeh?

dhay mengatakan...

Kata orang, harus mati dulu supaya bisa masuk surga, itupun jika nama kita ada di daftar absennya. --> favorit

Hilmy Nugraha mengatakan...

@dhay : retweet.