energi


Energi pertemanan itu luar biasa. Sejak 2002 kami bersama, meski beda jurusan, namun sekarang bisa berpadu, ngopi dan diskusi hingga berjam-jam. Beragam topik dibahas. Dari masa lalu, masa sekarang sampai cita-cita masa depan.

Yang menarik tentu masa lalu. Bahas pas SMK, pacar-pacaran, pelajaran yang selalu minggat, pengalaman berkelahi, tidak lulus ujian, diputus pacar, ngajak makan dan lain sebagainya. Dikumpulkan menjadi obrolan romansa yang asyik. Tentu tak ada baper. Karena hanya sebagai bahan tertawaan bersama. Selain itu, masing-masing biar mengambil inti sarinya.

Kalau bahas masa sekarang tentunya perihal  anak istri. Nggolet upa, nyekolahna bocah, kegiatan kerja, kehidupan sosial bertetangga. Menjadi topik yang hangat dibahas. Kekinian dan semua mengalami. Sedang 'In'.

Kalau cita-cita, ya ada saja yang dibahas. Ini itu tentang masa depan. Harapan-harapan.

Paseduluran ini menjadi energi. Bertemu cukup sebulan sekali, tapi energinya membekas lama. Sisa-sisa penderitaan bersama sewaktu SMK, menjadi bahan bakar utama dalam pertemuan ini. Ya kami pernah berjuang melawan penderitaan bersama...

para jejaka di jamannya


Memilih

Salah satu anugerah terbesar yang dimiliki manusia adalah kemampuan memilih. Disinilah beda manusia dengan makhluk lain. Dengan hewan, tumbuhan, jin dan iblis. Mereka tidak bisa memilih. Dan manusia bebas memilih.

Tentunya seusai manusia memilih, ada konsekuensi dibaliknya. Tak ada pilihan yang tanpa mengikutsertakan konsekuensi. 

tempat di desa

Di desa, aku merindukan sebuah tempat dimana pemuda bisa berkumpul, berdiskusi dan bergerak untuk kemajuan desanya. Disitu bisa menjadi penghubung dari segala penjuru. Pemuda desa. Kasepuhan. Akademisi. Praktisi. Penggiat komunitas. Dan lain sebagainya.

Ada yang muda, ada yang tua. Perpaduan utama.

Yang muda yang bergerak. Yang tua memberikan garis pagar gerak yang tetap leluasa namun aman. Pengalaman orang tua tetap dibutuhkan sebagai nasehat agar yang muda tidak salah arah. Meskipun kalaupun salah arah, pemuda bisa belajar dari situ.

Tempat itu tidak hanya tongkrongan. Tapi sumber inspirasi. Lahir gagasan-gagasan untuk kemajuan bersama.

Tempat itu bukan sekedar jagongan. Tapi ladang kreatif. Apa yang ada bisa diolah menjadi suber daya produktif yang mengarah ke karya sejarah.

Tempat itu bukan sekedar juguran. Tapi tempat penghubung. Mana pihak yang perlua bertemua, bisa diketemukan agar terjalin hubugan kerjasama yang apik pada semuanya.

Alangkah indanhnya.

Pelang-pelan, kami mau menuju kesitu.

harapan

Boelahkan aku menulis harapan disini. Di sebuah tempat yang asing, jarang terbuka oleh manusia. Ibarat panggonan, sudah penuh sawang dan sarang laba-laba.

Aku malu, mau pamer di Instagram. Sudah jelas kalah tenar. Malu mau posting di twitter. Sudah pasti kalah cerdas.

Ya disini saja. Sebagai terapi. Sebagai refleksi.

main air


pagi main air. siang main air. sore main air. oh ya lupa, siang main air dua kali.
ya, namamu saja air. lahir di air.
pantas.

semoga, bisa menjadi mata air yang terus mengalir dan berguna bagi sekelilingmu.

sendang mili migunani.

keputusan

Kadang aku mempertanyakan kembali keputusanku akan hal ini.

Semakin tua umurku, semakin sedikit keputusan besar yang ku ambil. Padahal sejatinya, disitu letaknya perubahan. Baik dalam diri, maupun perubahan alam semesta.

Keputusan-keputusan besar di depan mata. Radikal. Dan Revousioner.


Logo Karanggintung


Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Jatuh dan tersungkur di tanah akuBerselimut debu sekujur tubuhkuPanas dan menyengatRebah dan berkaratYang patah tumbuh, yang hilang bergantiYang hancur lebur akan terobatiYang sia-sia akan jadi maknaYang terus berulang suatu saat hentiYang pernah jatuh ‘kan berdiri lagiYang patah tumbuh, yang hilang bergantiDi mana ada musim yang menunggu?Meranggas merapuhBerganti dan luruhBayang yang berserahTerang di ujung sanaYangyang patah tumbuh, yang hilang bergantiYang hancur lebur akan terobatiYang sia-sia akan jadi maknaYang terus berulang suatu saat hentiYang pernah jatuh ‘kan berdiri lagiYang patah tumbuh, yang hilang bergantiYang patah tumbuh, yang hilang berganti

Kalau ada lagu yang mewakiliku hari ini. Ya ini.
Maturnuwun, Bandaneira.

sebuah terapi.

Kubombardir blog ini.

Bagiku ini terapi.

Menstrukturkan pikiran kembali. Menuliskan apa yang ada dalam diri. Terpendam tak pernah digali.

res

Tuhan memang luar biasa.

Belum setengah tahun, sudah 70% resolusiku tercapai.

Apa karena resolusiku terlampau sederhana?
Semakin tua aku semakin realistis. Banyak pertimbangan.
Lebih banyak mengukur daripada sebuah spontanitas.

Ah, apapun itu, au wajib bersyukur.

tumbuh

Membuka blog ini, rasanya seperti mencium aroma petualangan semasa muda yang menggoda dan menggairahkan. Cinta monyet kala remaja. Kegalauan setengah-setengah masalah asmara. Pertentangan batin urusan Tuhan dan agama. Kegemaran menunjukkan minat baca. Atau bahkan sumpah serapah entah apa.

Disitu aku malu-alu. Tertawa kecil membaca semuanya. Namun itulah pentingnya dokumentasi, arsip dan sejarah.

Kita tahu bahwa kita tumbuh dan berkembang.

ya!

filipina
kuala lumpur
singapura
bangkok
jeddah
mekkah
madinah
dubai

to be

Menjadi perangkat desa tak pernah ada dalam pikiranku. Urusan pekerjaan sosial dalam angan hanya sampai pada organisatoris massa, atau pendamping masyarakat. Menjadi birokrat? Pantang ada dalam pikiran.

Tapi nyatanya sekarang berubah. Menjadi tua dan berkebutuhan itu sebuah kepastian. Mempuyai keluarga dan tiga anak kecil menuntutku untuk banyak meninggalkan cita-cita, untuk sementara.

Menjadi perangkat desa. Menemukan apa yang tergariskan Tuhan untukku.

bergegas

Lama aku tak bermain blog. Sibuk meluis cahaya dan pamer kepada dunia melalui Instagram. Atau lelah meracau di dunia kicauan Twitter. Sedang menulis, menjadi keahlianku yang lama-lama hilang. tertelan sang bayu.

Alasan tentu beagam. Laptop rusak. Sibuk kerjaan. Ada handphone canggih. Kegiatan di luar. Dan lain sebagainya. Padahal, semua bisa dimanajemeni.

Aku ingat dulu,bisa menulis blog begitu panjang hanya dengan handphone sederhana, semacam sony walkman w800, nokia n gage, dan lain sebagainya. Waktu itu, segalanya menjadi tak ada alasan. Semua tampak optimis di depan mata. Hidup realistis masih jauh rupanya.

Dan sekarang. Pelan-pelan, ku disiplinkan diri. Keras terhadap diri. Kejam terhadap pikiran. Ku tempa, hingga membentuk. Mumpung masih ada waktu.